Kamis, 19 Desember 2013

FAL'LOVE IN LOST Parts 05

.............
Setelah menghabiskan waktu seharian di luar rumah kemarin,kini saatnya kembali beraktifitas menjalankan kewajiban yang menjadi seorang karyawan.
    Pagi ini aku merasa berat meninggalkan Dwi dirumah sendirian tapi aku memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaanku,jadi mau tidak mau aku harus meninggalkannya di rumah.Aku yakin Dwi bisa menjaga dirinya sendiri selama aku tak ada dirumah.
      Aku mendekati Dwi yang sedang berdiri didekat pintu sambil menunggu kepergianku.
    Kuambil hp yang ada di dalam kantong celanaku dan kuserahkan kepadanya.
“Kamu pegang ini!,kalau ada sesuatu sms nomor dengan nama Nia!.Dia temanku!”seruku sambil menggengamkan hpku didalam genggamannya.
    Aku segera pergi setelah memberikan hp itu dan Dwi tak mengatakan apa apa.Padahal aku ingin ia mengatakan sesuatu padaku.
    Aku menutup pintu depanku dan kulihat Dwi masih berdiri ditempatnya sedang melihatku,membuatku tak tega untuk meninggalkannya.
    Setelah menutup pintu Aku melangkah beberapa meter dari depan rumahku aku merasakan ada yang mengganjal dalam hatiku.Aku berbalik dan kembali membuka pintu rumahku dan kulihat Dwi terduduk,masih ditempatnya.Melihat diriku ia bangkit dari tempatnya dan menghampiriku.
“Ada apa?”tanyanya.
Aku hanya menghela nafas dan diam,tidak bisa mengutarakan apa yang ada di dalam hatiku.
“Tidak papa!”jawabku kemudian.
“Ya sudah sana pergi,nanti telat!”Serunya mengusirku dengan senyuman.
“Emmmmmm......,selama aku pergi,jangan pernah bukakan pintu untuk orang lain,kecuali aku!”Seruku mengingatkan.
“Iya!,aku tahu apa yang harus aku lakukan,dan aku bukan anak kecil lagi!”serunya mengingatkan.
“Tapi aku khawatir!”seruku kemudian mengutarakan hal yang selalu menghinggapi perasaanku.
“Untuk hal apa?”
“Entahlah aku tidak tahu pasti!”jawabku yang juga tidak mengerti.
Dwi berjalan mendekatiku dan menatapku sejenak.
    Aku terkejut ketika tiba tiba Dwi memeluku dengan sangat erat.Sementara aku hanya terdiam mematung.
 “Semua akan baik baik aja!,kamu jangan takut.jangan pernah membuka pintu untuk siapapun!”pintaku mengulang ucapanku sambil melepaskan pelukannya,yang terasa sangat tidak membuatku merasa nyaman.
  Kulihat matanya berkaca kaca,ketakutan terlihat dimatanya,membuatku tak tega untuk meninggalkannya.
     Kutatap wajahnya dan kuhapus airmatanya.
“Jangan nangis dong!”seruku sambil menghapus airmatanya.
    Perlahan kudekatkan wajahku kewajahnya dan perlahan kucium keningnya dan kupeluk dia dengan perasaan sedikit ragu,tapi terasa lebih nyaman.
    Dwi terdiam dan menundukan wajahnya.
“Maaf!”seruku yang tak sadar telah melakukan hal itu.
    Dan tanpa berkata lagi aku pergi meninggalkannya tanpa berpaling lagi untuk melihatnya.
      Di tempat kerjaku aku terus memikitkan Dwi yang berada dirumah sendirian,pikiranku terus khawatir,bagaimana jika orang orang itu kembali kerumahku,bgaimana jika Dwi mereka temukan,bagaiman !bagaimana!.
    Semua memenuhi pikiranku tapi aku tak dapat berbuat apa apa,kecuali gelisah dan tak dapat berkonsentrasi pada pekerjaanku,untungkah keadaan tempat kerjaku tidak terlalu ramai,sehingga aku lebih banyak diam dan memikirkan keadaan rumah.Dwi Dwi dan dwi.
    Menjelang sore ketika toko akan tutup aku melihat Dua orang yang aku lihat beberapa kali melintas didepan tempat kerjaku,Kedatangan mereka membuta hatiku terusik,akan kemana mereka?,apa dia akan kerumahku!,atau mereka sudah datang kerumahku!
    Dan dengan menuruti rasa penasaranku akhirnya aku memutuskan untuk meminta ijin untuk pulang duluan walaupun hanya beberapa menit lebih awal dari toko tutup.
    Diam diam aku mengikuti dua orang itu kemanapun mereka berada.Mulai dari mereka masuk Cafe sekedar mengobrol,lalu kemudian ketempat yang aku sendiri belum pernah masuk.Kesebuah perumahan elit yang hanya ada rumah rumah dengan luas halamanyang super luas.
    Kulihat mereka masuk kesebuah rumah yang mungkin ukurannya paling besar diantara rumah rumag disana.
   Didepan rumah itu aku menunggu mereka,untunglah dekat rumah itu ada sebuah pertokoan yang bisa dibilang sebuah warung kopi.disanalah aku menunggu mereka.Sambil menikmati secangkir kopi yang aku sendiri kadang tak selalu meminumnya.Tapi paling tidak aku ada alasan untuk berada berlam lama di warung itu.
  Aku berada Di warung itu culup lama sampai habis 3 cangkir kopi.
“Rumah yang besar itu rumah siapa ya bu!”tanyaku basa basi ketika aku hanya sendirian di warung kopi itu.
“Pengusaha sukses,perusahaannya ada dimana mana!”jawab pemilik warung itu.
 Sedikit banyak aku mengetahui tentang pemilik rumah besar itu.walau aku sendiri belum mengerti apa hubungannya antara Pemilik rumah itu,Dwi, dan orang orang yang ada didalam rumah itu,yang menurut Dwi adalah para penculik dirinya.
   Atau mungkin Pemilik rumah itu adalah otak dari penculikan Dwi.
   Pertanyaan dalam otaku terus bermunculan sampai pada akhirnya aku melihat dua orang itu keluar dari rumah besar itu.
   Aku menunggu mereka berjalan agak jauh agar aku bisa mengikuti mereka tanpa mereka curigai.
   Dari jarak hanya beberapa meter aku mengikuti mereka sampai mereka masuk kedalam sebuah Bar.
   Tempat yang asing untuku tapi aku penasaran dan akhirnya aku memutuskan untuk masuk.
    Didepan bar aku bertemu dengan dua penjaga dengsn tubuh besar besar dan sepertinya aku mengenal mereka.
    Dengan ragu aku mendekati mereka dan ternyata Aku mengenal mereka.Dia adalah Dirga dan Ato,teman yang aku kenal di toko tempatku kerja.
    “Halo Bro!tempat gaul loe di tempat kayak gini juga?”tanya mereka yang ternyata memang benar benar mengenalku.
    “Nyoba nyoba!”seruku sambil tersenyum dan mata terus mencari dua orang yang aku ikuti itu.
“Ayo masuk!,umurnya udah diatas 20 tahun kan!”ledek Dirga.
   Aku memukul lengan Dirga dan kemudian masuk kedalam.Sampainya didalam pertama kali yang aku dengar adalah musik yang berdetak sangat kencang dan orang orang yang sedang berdisko.
“Eka!”seru seseorang yang memanggilku di hentakan musik yang begitu kencang.
   Aku mencari cari asal suara yang memanggilku dan dari pojokan aku melihat segerombolan orang sedang menikmati acara mereka.
    Dengan ragu aku mendekati mereka sambil mengamati siapa mereka mereka itu.
“Eka!,sedang apa kamu disini!”seru orang bernama Dimas itu,orang yang aku kenal di tempat kerjaku juga.
“Cari suasana!”seruku.
    Dimas mengajaku untuk bergabung dengan mereka,dan karena aku juga tak memiliki teman aku ikut juga.Mataku terus mencari cari mereka yang aku ikuti sejak tadi,walaupun mulutku terus mengikuti apa yang Dimas katakan.
    Makin malam aku makin mengikuti permainan Dimas,dan melupkaan Mereka berdua, yang tampaknya akan berada lama juga disana.
    Awalnya setengah gelas,lalu kemudian satu dan seterusnya,sampai aku merasaakan pusing dikepalaku,tapi aku masih sadar.
    Dimas bersedia mengantarkanku pulang dengan mobilnya.Dimobil aku masih mendengarkan mereka mengobrol dan sampai mobil memasuki area rumahku.Aku tersadar,tidak boleh ada satu orangpun yang boleh mengetahuiku keberadaan Dwi dirumahku.
“Kamu yankin bisa jalan sendiri!”seru Dimas yang melihatku keluat dari mobilnya dengan agak sempoyongan.
“Iya!”seruku meyakinkan.
“Kamu payah baru minum dua gelas udah teler!”serunya sambil tertawa.
    Aku tak menhiraukan ucapannya dan aku menunggu mobilnya pergi sebelum aku membuka pintu rumahku.
    Aku tak tahu pukul berapa sekarang tapi pasti sudh malam,dan mungkin Dwipun sudah tidur.
   Untunglah aku membawa kunci serep sehingga aku tak perlu mengganggu Dwi untuk membukakan pintu.
    Aku membuka pintu denagn setengah sadar,sepertinya kunci belum sempat aku masukan kedalam lubangnya tapi suara pintu dibuka aku dapat mendengarnya.
“Kakak!”seru Dwi yang melihatku dalam keadaan mabuk.
   Aku tak menjawab apa apa,yang aku tahu kepalaku begitu berat dan aku masuk dengan sempoyongan.
                                            ***
    Aku tak tahu dimana aku berada yang aku tahu kini dihadapanku ada Dwi yang tanpak begitu cantik malam ini,sepertinya ia berdandan malam ini,mungkin bereksperimen dengan make up yng aku belikan kemarin.
“Kamu cantik sekali!”sepertinya kata kata itu yang keluar dari mulutku.
   Dwi hanya terdiam menatapku,membuatku tak mengerti.
    Perlahan kucondongkan tubuhku padanya,kuperhatikan wajahnya yang tampak begitu cantik walau ada garis garis kasar disana.Kutatap bibirnya yang tipis lalu kutekannkan bibirku pada bibirnya.Dan tubuhku makin condong padanya,aku tak dapat mengimbangi dan tubuhku terjatuh menimpa tubuhnya.
“Brakkkkkkkkk!!!!!!!!!!”
      Aku terbangun dengan terkejut,terkejut karena aku terjatuh dari tempat tidurku,tubhku terasa sakit karena menghantam ubin.
    Seketika aku teringat dengan apa yang baru terjadi,ternyata hanya mimpi,mimpi yang terasa begitu nyata.
    Aku mencium Dwi,untunglah hanya dalam mimpi,seandainya itu benar terjadi,entah apa yang akan terjadi.Aku akan sangat malu jika benar benar melakukan hal itu padanya.
    Perlahan kulihat pintu kamar terbuka dan aku baru sadar aku berada didalam kamar Dwi.Dari balik pintu kulihat Dwi datang dengan membawa segelas teh panas,hal itu bisa kutebak karena asap masih mengebul diatasnya.
    Dwi tersenyum,menunjukan senyumannya yang manis.
“Kenapa aku disini?”tanyaku sambil bangkit dari tempatku dan menerima teh dari Dwi.
   Dwi tidak langsung menjawab,ia duduk disampingku dan menatapku,tatapan yang membuatku bertanya tanya.
“Kakak,semalam mabuk dan masuk kekamarku!”serunya kemudian.
    Aku membelalakan mata dan tak percaya.
“Apa aku melakukan sesuatu kepadamu?”tanyaku langsung.
    Dwi menggeleng dan membuatku lega.

“Tidak,Sampainya di kamar kakak langsung tidur,Dan aku tidur diluar,”seru Dwi kemudian.
    “oh!”seruku sambil bangkit dari tempatku dan beranjak meninggalkan kamar Dwi untuk mandi.
    Aku masih memikirkan mimpiku,hal itu terasa sangat begitu nyata,tapi itu hanya mimpi.dan mungkin jika hal itu terjadi,pasti Dwi akan menghindariku.tapi semalam dalam mimpiku Dwi diam saja,dan pastilah itu hanya mimpi.
   Aku berangkat kerja dengan perasaan masih sedikit was was,biar bagaimanapun Dwi masih dalam keadaan trauma,apalagi ia teringat dengan masa lalunya yang ternyata dia adaah korban penculikan.
Tapi apakah ia hanya ingat penculikan itu,ia tak mengingat yang lainnya!,ia tak ingat siapa dirinya,atau mungkin dari mana ia datang,atau mungkin ia memiliki keluarga,yang harus dihubungi ataupun ia memiliki kekasih yang harus ia hubungi.
 Tapi Dwi adalah seorang yang istimewa,ia cantik,ia begitu sempurna dengan kelebihan dan kekurangan yang ia miliki.
Aku memiliki tanggung jawab terhadapnya,aku harus menjaganya sampai ia ingat terhadap semua memorinya yang ia lupakan.Dan jika perlu aku akan mengantarkannya pulang jika ia telah igat dengan semua ingatannya.
    Aku bekerja seperti biasa,tapi mimpi semalam masih membayangiku hingga saat ini,seperti sebuah kenangan yang tak boleh dilupakan,tapi itu hanya mimpi,bukanlah kenyataan.
Jadi untuk apa aku harus mengingatnya terus,sementara hal itu tak akan terjadi,walaupun naluriku sebagai pria normal ingin melakukannya,tap aku takan melakukan itu terhadap Dwi,apalagi ia adalah tanggung jawabku,aku harus menjaganya,sebisa aku mampu,karena semua fantasiku akan merusAk bentuk tanggung jawabaku terhadapnya.
 Tapi seandainya aku memiliki pacar secantik Dwipun aku takn menolak,ia cantik walaupun wajahnya sedikit cacat,tapi apalah arti wajah sempurna jika hatinya busuk,bukankah lebih baik baik hati tapi wajah sederhana.
    Tapi memang tak dapat dipungkiri pria tertarik pada wanita memang dimulai dari bentuk fisik mereka yang selalu menarik jika dijadikan obyek untuk berfantasi.
    Tapi aku selalu mengalihkan perhatian alam bawah sadarku jika Dwi datang dialam bawah sadarku,aku selalu melarangnya untuk datang,walau ia datang tak pernah permisi.
    Di tempat kerjaku yang tenang tiba tiba aku teringat Dwi,Aku teringat dia,sedang apa dia!,sebaiknya aku mengajaknya jalan jalan lagi,mungkin ia akan merasa lebih segar jika banyak banyak menghirup udara luar.Mungkin juga itu bisa membutanya akan ingat siapa dirinya.
   Cepat cepat aku menghampiri Nia yang sedang duduk disamping etalase sambil mengelus elus perutnya yang buncit.
“Halo ibu hamil!”sapaku basa basi.
   Nia menatapku sekilas dan ia tersenyum sinis,seperti tahu apa yang akan terjadi.
“Pasti ada maunya!”serunya menebak
   Aku tersenyum sambil menggaruk garuk kepalaku yang tak gatal.
“Ada apa?”tanyanya.
“Anu,kayaknya hpku ketinggalan dirumah deh,aku pinjem boleh ga buat miscoll,n nelpon temen,ntar kalo gajian aku ganti deh!”seruku sambil mengimingi imbalan.
“Ga usah,ni pake aja,tapi kalo pulsa abis isiin ya!”seru Nia sambil mengeluarkan hpnya dari dalam kantong.
“Itu mah sama aja!”seruku sambil mengambil hp dari tangan Nia dan buru buru pergi.
    Di gudang aku menelepon Dwi.Walau aku tahu Dwi tidak akn bisa menjawab teleponku,tapi paling tidak ia bisa mendengarkan suaraku dan mengerti pesanku.
   Beberapa saat menghubungu aku tak mendapatkan jawaban darinya hanya suara nada tersambung.Dengan sabar aku menunggu dan mengulanginya kembali.
    Kesempatan terakhir,kutulis sebuah pesan singkat untuk memberitahunya.
       INI AKU,EKA!ANGKAT TELEPONKU,AKU MAU BICARA!
    Tulisku,mungkin jika Dwi membaca sms ini ia akan merasa aneh,dan cepat cepat aku hapus,Dan setelah itu baru aku menghubunginya kembali.
    Baru pertama tersambung kutahu teleponku langsung diangkatnya,
“Halo,Dwi!,Ini aku Eka Malam ini kamu ga usah masak!aku akan ajak kamu makan diluar,jadi kamu siap siap ya!”seruku lalu kemudian menutup teleponnya.
    Ketika sore menjelang aku tak sabar untuk cepat cepat sampai rumah,aku ingin sekali mengajak Dwi pergi,mungkin ia kan senang seperti beberapa hari yang lalu.
    Sampainya dirumah kulihat Dwi sudah mandi dan ia tampak rapi,dengan kaos yang kutahu itu adalah kaos yang ia punya.
“Aku mandi dulu ya!,ga lama!”seruku sambil mengambil handuk dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari rasa lengket akibat keringat yang menempel seharian ditubuhku.
    Selesai mandi aku mencari pakaian yanga menurutku cocok untuk pergi....Apa ini sebuah kencan!.Tiba tiba pertanyaan itu mendatangi otaku dan aku tersenyum sendiri.
   Kuambil kemeja hitam yang masih bisa dibilang paling baru dari waktu yang aku beli.Dan aku memakai topi,entahlah untuk apa,tapi aku sedang ingin menggunakannya.
   Aku keluar kamar dan aku melihat Dwi berdiri di dekat pintu,rambutnya terurai panjang menutupi sebagian wajahnya,ia mengunakan rok panjang selutut dan kaos oblong.Ia terlihat sangat santai.
    Aku kembali kedalam kamarku dan kembali membuka lemari bajuku,aku mencari sesuatu tapi entah apa itu.Sampai akhirnya aku menemukan kemeja warna merah terpadu dengan warna biru laut bergaris.Segera kuambil dan aku keluat kamarku.
   Dwi menyapaku dengan senyumnya yang manis,sepertinya ia berdandan,mungkin sejak tadi,dan mungkin aku tidak menyadarinya.
    Aku mendekatinya dan tersenyum padanya.
“Pakai ini,mungkin kita akan pulang agak malam,dan pasti udara malam akan sangat dingin!”seruku sambil membukakan kancing kemejaku lalu aku pakaikan kebadannya.
     Kancinh krmrja aku biarkan terbuka agar terlihat seperti jaket,dan lengannya sedikit aku lipat agar tidak terlalu panjang.
    Sore itu,kuajak Dwi ke mall lagi,tapi kali ini berbeda,aku mengajaknya untuk makan di Foodcourt dan mungkin kita bisa berbelanja sesuatu.
    Seperti beberapa hari yang lalu aku mengajak Dwi jalan jalan dengan  menggunakan bus umum.Didalam  bus,Dwi memandangi pemandangan luar yang gelap dan hanya terang tersorot lampu jalan.
“Kamu senang malam ini?”tanyaku pada Dwi.
“Ya,aku sangat senang!,aku bosan dirumah terus!”jawabnya tanpa melihatku.
“Kenapa kamu ga bilang!,aku kan bisa mengajakmu kapanpun kamu mau!”seruku.
“Kakak terlalu sibuk,aku takut mengganggu!”jawab Dwi kemudian.
“Pulang kerja kan bisa!”balasku
“Apa kalau aku minta tiap hari kakak akan menurutiku?”
“Kalau aku mampu mungkin iya!”
Kulihat Dwi menatapku dalam gelapnya bus malam dan dapat kulihat ia tersenyum.
Setelah beberapa lama,aku dan Dwi turun di halte dan dengan berjalan kaki beberapa meter kami sudah sampai didepan Mall yang ukurannya lebih besar dari mall yang kami kunjungi beberapa hari lalu.
Dwi berjalan disampigku,jarak kami sangat dekat,mungkin orang orang akan menganggap kami adalah orang yang sedang berpacaran.
“Kamu cantik sekali malam ini!”Bisiku diatas kepala Dwi yang tingginya tidak lebih tinggi dariku.
    Atau mungkin aku bisa menggombalinya tiap hari,tapi aku tak melakukannya,kasihan jika aku harus memanfaatkan untuk kesenanganku.
“Kita kelantai atas!”seruku pada Dwi.
  Dwi menganguk menurut,
  Dengan menggunakan escalator akau dan Dwi naik kelantai tiga dimana Foodcourts berada.
 Sampainya dilantai tiga aku dan Dwi memesan makanan yang akan kami makan.Dan selama kami menunggu kami mengobrol,bertanya sesuatu,yang mungkin Dwi ingat pernh ketempat ini.
    Setelah pesanan kami datang aku dan Dwi menghentikan acara “ngobrol”kami dan kami saling melahap makanan masing masing.Aku memakan cumi saus tiram dan Dwi memakan udang bakar saus madu.
    Dwi tampak begitu lahap memakan makanannya mungkin itu adalah makanan kesukaannya sebelum amnesia dulu.
   Dwi menusuk satu udang besar dan kemudian disodorkannya kepadaku,mungkin ia ingin menyuapiku.
   Aku membuka mulutku lebar dan benar saja,ia langsung memesukan udang besar itu kedalam mulutku.
    Rasanya enak,gurih dan ada rasa manis manisnya.Kini giliran aku,aku mengambil satu cumi yang sudah dipotong potong hingga menyerupai lingkaran yang sudah dilumuru saus.
   Dengan mengulurkan garpuku aku menyodorkan garpuku pada Dwi dan ia membuka mulutnya dan memakannya.
“Bagaimana enak!”tanyaku
    Mungkin orang orang yang melihat kami menganggap kami adalah pasangan yang sedang pacaran,tapi terserahlah orang berkata apa.
    Kami serius menghabiskan makanan kami sampai pada saat ketenanganku terusik,ketika kulihat Dua orang yang selama ini aku curigai muncul dari lift yang berada tak jauh dari escalator,dibelakang mereka berdiri seorang yang tampak lebih muda,berpakaian rapi,menggunakan jas,dan sepertinya ia adalah bos mereka.
    Dengan buru buru aku menghbiskan makananku,dan kulihat Dwi tampak aneh melihat cara makananku.
     Tatapannya mungkin bertanya tanya apa yang sedang aku lalukan.
“Ayo habiskan!”seruku memintanya.
   Dwi tak menghabiskan makanannya tapi ia menaruh sendok dan garpunya dan mungkin itu menandakan ia sudah selesai makan.
    Dwi menatapku dengan tatapan bertanya tanya,tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan.Hal utama dan yang terpenting adalah aku harus membawa pergi Dwi sebelum mereka menemukan kami.
    Aku menarik tangan Dwi dan membawanya pergi dari tempat kami,sebelum mereka menemukan kami.
     “Ada apa?”tanya Dwi yang tidak aku jawab.
    Aku hanya menunjukan jari telunjuku didepan bibirku menyuruhnya untuk berhenti bertanya dan tetaplah diam.
    Aku menjauhi tempat itu,mencoba mencari tempat yang aman,agar kami bebas bergerak,tapi entahlah tempat mana yang aman karen aku kira sekarang setiap sudut tempat ini menjadi tidak aman.
    Kuajak Dwi masuk kesebuah toko baju,mungkin disana tempat yang aman,paling tidak untuk beberapa saat sebelum mereka menemukan kami atau kami bertemu dengan mereka.Lagi pula Dwi mengatakan ia senang saat ini,dan aku tak mau membuat kebahagiaannya lenyap hanya karena kehadiran mereka.Toh mereka belum menemukan kami.
“Kamu mau baju baru!”tanyaku
“Ya!”jawabnya polos.
    Dwi mengangguk dan kupastikan ia tahu apa yang aku katakan tadi.Dari matanya kulihat ia begitu senang.
    Biar bagaimanapun ia adalah wanita,dan tentu saja ia juga suka dengan yang namanya berbelanja.
    Satu demi satu pakaian yang dipajang ia lihat lihat dan sesekali ia tunjukan padaku untuk dimintai pendapat,aku hanya tersenyum dan mengangguk.Dan setiap mendapatkan jawabanku Dwi seperti kecewa,mungkin ia kecewa karena aku tak memberi jawaban pasti atas pilihannya.
   Karena menurutku apapun yang ia gunakan akan selalu terlihat bagus,karena ia cantik dan orang cantik akan selalu pas menggunakan apapun.
“Kamu pilih aja,yang menurut kamu pas,dicoba,kalau kamu cocok ambil!”seruku dan ia memperhatikan gerakan bibirku.
      Dwi mengannguk,dan setelah itu ia berkeliling melihat lihat pakaian yang terpajang,sementara aku sibuk dengan urusanku,sambil sesekali melihat keluar untuk melihat apakah mereka disekitar kami.
    Mataku kualihkan kederetan baju wanita yang penuh dengan model model berbeda,tak seperti pakaian pria yang hanya satu model saja.kemeja atau kaos dipasangkan dengan celana panjang ataupun celana pendek.
    Tiba tiba mataku tertarik pada satu baju yang menurutku sedang dibutuhkan Dwi saat ini.Aku menghampirinya dan mengambilnya satu dari teman temannya dan mengangkatnya,Ada banyak pilihan warna disana,dan semua warna begitu mencolok,mulai dari orange,biru,hijau toska,merah,pink,dan warna warna yang lainnya.
    Kuambil satu yang berwarna Pink,karena warna itu adalah warna kesukaan kebanyakan perempuan.
    Kubawa pakaian itu mendekati Dwi yang sibuk melihat lihat tapi belum ada satupun yang ia ambil.
“Kamu mau yang mana?”tanyaku yang melihatnya masih tampak kebinggungan.
“Aku tidak tahu!”Serunya.
   Dwi menggeleng,dan tebakanku benar.
“Coba ini!”seruku sambil menyodorkan baju yang aku pilih.
     Dwi menerima pemberianku dan melihatnya aneh.
“Kenapa?”tanyaku.
“Tidak papa!”Jawabnya singkat.
   Dwi menggeleng dan membuka risletingnya dan mencopotnya dari gantungan.
    Dwi memakainya dan aku membantu untuk merapikannya,sebuah jaket yang aku tebak ia sanga membutuhkannya.
“Bagaimana?pas!.kamu suka?”tanyaku sambil menaikan risleting jaketnya.
    Dwi mengangguk dan tersenyum.
“Oke,kita ambil ini!”seruku.
     Dwi melepas jaketnya tapi aku menahanya,menyuruhnya untuk tetap memakainya.
“Pakai aja!”seruku sambil sambil menarik bandrol harga dari jaket yang dipakai Dwi.
“Kamu mau ambil apa lagi?,mana yang kamu suka!”tanyaku smbil melihat tangannya yang masih kosong.
     “Ini saja!”jawab Dwi menunjuk jaketnya dan tersenyum kemudian pergi.
“Itu aja!’seruku sambil berjalan dibelakangnya.
    Aku kekasir untuk membayar jaket yang kubeli,sementara  Dwi berdiri didepan pintu keluar sambil melihat lihat keluar.
   Selesai membayar kutarik tangan Dwi dan kuajak ia pergi.
“Kita mau belanja apa lagi?”tanyaku.
   Dwi mengambil hpku yang dari tadi disampannya dan mengetik sesuatu.
“BELANJA KEBUTUHAN RUMAH!”serunya dengan mantap.
    Aku mengangguk dan kami langsung meluncur ketempat yang kita tuju.
   Dan di tempat itu baru aku tahu betapa kalapnya perempuan kalau sedang belanja.
    Dwi mengambil semua barang yang menurutnya kebutuhan rumah,menurutku juga iya,tapi ia terlalu banyak mengambil barang barang itu,mungkin untuk stok,tapi sepertinya meneng terlalu banyak.
   Sambil membawa keranjang belanjaan aku mendekai  Dwi yang sedang memilih milih barang.Perlahan kutepuk punggungnya dan ia menoleh menatapku bingung.
“Belanjaannya terlalu banyak!”seruku sambil menunjukan keranjang yang hampir penuh.
   Dwi melirik keranjang belanjaan dan kemudian tersenyum.
    Dengan pelan pelan dan hati hati aku membantunya memilih barang barang yang kira kira perlu dikembalikan atau tidak.
     Akusibuk mengembalikan barang barang yang ia ambil,sesuai dengan intruksinya malah ia sedang asyik dengan dirinya,memandangi aquarium besar yang penuh dengan ikan ikan dengan berbagai macam dan jenis.
    Aku menghembuskan nafas melalui mulutku,capek dan sedikit kesal.Baru kali ini aku merasa kesal padanya,ternyata cewek cantik seperti dia juga bikin kesel juga.
     Aku berjalan menghampirinya dan berjongkok,menyamainya,Kulihat ia begitu serius dan senang melihat ikan ikan itu,membuatku menjadi tak bisa kesal lagi.
“Kamu suka ikannya?”tanyaku.
     Dwi mengangguk senang.Seperti aku akan membelikan untuknya.
    Aku bangun dari tempatku dan menarik tangannya.Kulihat Dwi tampak terkejut,raut kebahagiaannya tiba tiba hilang.
“Ayo kita pulang!’seruku sambil menarik tangannya dan seperti menarik anak kecil yang sedang ngambek.
    Dwi menunggu di luar,sementara Aku mengantri untuk membayanr dikasir,kulihat Dwi tampak masih memasang wajah seperti tadi,kecewa.mungkin aku terlalu memberi harapan tadi,membuatnya berfikir  aku akan membelikannya.
   Dalam hatiku seperti ada yang mengganjal setiap melihat wajah Dwi,yang tak berubah,selama aku mengantri.
    Kuputuskan untuk kembali ketempat itu dan membelikannya beberapa,mungkin bisa juga untuk hiburanny selama aku pergi.dan merelakan tempatku untuk mengantri diambil orang.
                                      ***
    Selesai berbelanja aku mengajak Dwi berkeliling kecounter hp,aku berencana membelikannya hp,agar kami bisa berkomunikasi dengan mudah,walau hp yang yang hanya bisa untuk sms dan telepon paling tidak aku bisa tahu keadaannya.
“Kakak beli apa?”tanya Dwi yang melihatku membawa kotak yang lumayan besar.
“Ini,kebutuhanku!”seruku sambil mencoba menyembunyikan kotak itu.
 “Kamu mau hp yang kayak apa?”tanyaku sambil menunjuk beberapa model hp yang ada di counter didepan kami.
    Dwi menggeleng dan menulis sesuatu.
“Aku mau hp ini saja!”jawabnya sambil menunjukan hp miliku yang dipegangnya.
    Aku tersenyum melihatnya yang kembali tersenyum.
“Cewek bodoh!”seruku hanya dalam bibir saja.
   Dwi tiba tiba melototiku,dan aku terkejut karena Dwi melihatnya.
“Maaf!”seruku sambil melihat lihat hp yang terpajang di etalase.
   Aku memutuskan untuk membeli hp second,yang hanya bisa sms,telepon,dan radio saja.Yang penting bisa untuk berkomunikasi,dan aku bisa menghubungi dan tahu keadaan Dwi saat aku tak ada didekatnya.
     Setelah membayar aku dan Dwi pergi,dan berencana untuk pulang karena hari sudah malan juga.
   Dwi menarik tangannku dan meniliskan sesuatu.
“Kakak,aku ingin ke toilet!’serunya.
    Aku memberi tanda dan Dwi segera pergi.mungkin ia sudah sangat kebelet.
    Sambil menunggu Dwi selesai dengan urusannya aku memutuskan untuk menunggu di banggku dekat escalator,tempat yang strategis agar Dwi gampang menemukanku.
     Aku mencoba hp baruku yang belum sempat kubelikan nomor.
    Sejenak aku berfikir aku menjalani semua ini pasti akan ada akhirnya,akhirnya akan seperti apa aku tak tahu,tapi sepertinya aku nyaman di keadaan ini,disaat ini,nyaman terus bisa menjaga Dwi,nyaman bisa terus membuat Dwi Tersenyum,walau aku mungkin terlalu egois yang selalu menyuruhnya untuk terus berada didalam rumah tanpa memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan yang asing baginya.
    Mungkin suatu hari aku harus memberi kebebasan untuk Dwi,memberi kebebasan untuk dia jalan jalan sendiri tanpa aku temani,mungkin saja itu bisa membuat ia mengingat masa lalunya.
    Akupun merasa hari hariku bersamanya semakin sedikit saja,sepertinya ia aknan bertemu dengan keluarganya lagi.Itu pasti akan terjadi tapi entah kapan,tapi pasti dan aku harus melepasnya.
      Lama aku menunggu,tapi Dwi tak juga datang.Membuatku khawatir.Apa dia mencariku?,ah tapi sepertinya tak mungkin,tempatku tak jauh dari dia meninggalkanku,atau mungkin ia sedang mengantri di toilet,maklum saja udaranya dingin membuat orang orang ingin selalu ke toilet.
    Aku mencoba berfikir positif,dan menjauhkan otak dari pikiran negatif agar aku tidak khawatir tapi aneh juga kalau ia pergi ketoilet selama ini.
    Aku bangkit dari tempatku dan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat dua orang yang sejak tadi aku hindari berjalan di escalator tepat disampingku,hanya saja tubuhku tertutupi tiang tinggi yang menjadi pembatas escalator dengan lantai yang aku pijak.
    Pikiranku langsung teringa pada Dwi.Dimana Dwi!.
    Aku langsung pergi mencari sekaligus menghindari mereka,agar mereka tak mengetahuiku,
   Tempat pertama yang aku tuju adalah toilet wanita yang ada dilantai itu,ternyata tempatnya sepi dan tak mungkin Dwi mengantri.Atau mungkin Dwi pergi ketoilet lain.Atau jangan jangan salah satu dari mereka menangkap Dwi kembali,karena diawal aku lihat mereka bertiga dan tadi aku lihat mereka hanya berdua,mumgkinkah satu dari mereka mendapatkan Dwi kembali.
    Aku makin kalap dan khawatir,pikiran pikiran negatif trus menerorku.Ingin aku adukan pada pusat orang hilang,tidak mungkin karena Dwi tidak bisa mendengar jika  kabar itu disiarkan,bisa bisa merekalah yang akan menemukan Dwi terlebih dahulu dengan mendengarkan ciri ciri Dwi.
   Dwi membuatku frustasi seketika dan apakah ini salah satu sifat jelekanya yang membuatnya diculik.
      Beberapa saat berlalu,aku masih terus mencarinya dengan membawa barabg belanjaan yang lumayan berat,aku ingi turun kelantai bawah atau naik kelantai atas tapi aku takut Dwi masih  satu lantai denganku,dan aku takut ia juga mencariku.
       Aku berjalan dan terus mencari,berharap kau cepat menemukannya bahkan sampai ruko ruko yang tutupun aku telusuri,berharap Dwi disana,mungkin Dwi juga melihat orang yang menculiknya sehingga ia berusaha bersembunyi agar tidak ketahuan.
    Aku berharap dapat menemuknnya walaupun aku tak yakin.
    Keringat Dingin sepertinya sudah membasahi tubuhku tapi Dwi tak juga aku temukan.Sepertinya nafasku hampir habis untuk aku hirup.
     Aku terkejut ketika tiba tiba seseorang menyentuh punggungku dan dengan segera aku membalikan badan dan kulihat Dwi berada dibelakangku dengan Dua cup es cream.
       Aku terdiam sebentar dan dengan perasaan lega,kuletakan belanjaanku dilantai dan dengan segera aku menarik tubuh Dwi dan memeluknya erat.
        Aku merasa sangat bahagia dan sepertinya aku menangis,karena berhasik menemukannya,Tapi tiba tiba perasaan kesal dan dongkol menghampiriku dan dengan cepat cepat aku melepaskan pelukanku.
“Kamu dari mana saja!,aku hampir mati mencarimu!”seruku kesal dan juga geregetan.
    Dengan polosnya Dwi menyodorkan satu cup es cream yang dibawanya tadi.
Aku menerima es cream pemberian Dwi dengan rasa kesal.
“Apa?,kamu membeli ini dan hampir membuatku mati kelelahan!”seruku kesal,sambil melemparkannya ketempat sampah yang kebetulan ada didekat kami.
     Kulihat Dwi menatap ketempat sampah,apakah aku sudah keterlaluan,atau aku terlalu khawatir padanya.
“Kakak,kenapa?kenapa kakak jadi seperti ini!”seru Dwi merasa heran.
     Aku tak menjawab pertanyaanya,aku kembali menarik tubuh Dwi dan memeliknya lagi,lebih erat dan mungkin jika bisa takan aku lepaskan.
“Jangan bikin aku khawatir terus!”bisiku.
    Dwi melepaskan pelukanku dan ia mendongakan kepalanya menatapku.
    Tangan kecilnya mengusap airmataku yang ternyata sudah menalir diwajahku.
   Dwi memberikan isyarat padaku dan aku tak mengetahuinya yang aku tahu ia meletakan kedua tangannya menupuk didadanya.
“Aku mencari kakak!”serunya
      Aku tertawa kecil dan menganggapnya lucu,ternyata kami saling mencari satu sama lain.
“Aku khawatir padamu!”seruku lagi.
    Tanpa membuang waktu aku menarik Lengan Dwi dan mengajaknya pulang,karena sudah tidak aman lagi,aku berharap mereka belum menemukan kami,agar kami bisa lepas dari mereka.
    Agar tak terlihat oleh mereka aku dan Dwi menggunakan Lift  Awalnya didalam lift itu hany ada aku dan Dwi saja,tapi tiba tiba seseorang  datang dengan terburu buru menerobos masuk sebelum pintu lift tertutup.   
    Tiba tiba tubuhku menegang ketika aku tahu siapa mereka mereka yang satu lift dengannku.Aku langsung melepaskan topiku dan kupakaikan dikepala Dwi,awalnya Dwi menolaknya tapi aku paksa,dan dengan emaksaan pula aku mendorong Dwi untuk berdiri dipojokan,aku berusaha menutupi tubuh Dwi dengan tubuhku,agar mereka tidak melihat wajah Dwi.
    Dari dinding dinding lift yang seperti terbuat dari aluminium,aku melihat wajah wajah mereka,mereka tidak terlalu sangar tapi perbuatan mereka kenapa terlalu kejam.
    Aku menundukan kepala agar mereka tidak mengenaliku,Dan dengan perlahan kutarik tangan Dwi,memeluk tangannya yang terasa dingin,dan basah,mungkin ia sudah menyadarinya.Kurasajkan Tangan Dwipun menggenggam erat tanganku,seolah olah memintaku untuk melindunginya.
    Perlahan kutolehkan kepalaku dan kulihat Dwi,ia membalas menatapku,dan mtanya kulihat berkaca kaca.Kuanggukan kepalaku pelan memberitahunya untuk tidak khawatir dan tetap percaya kepadaku aku akn menjaganya dan melindunginya dengan cara apapun.
     Perlahan pintu lift terbuka tapi kami belum keluar.Aku hendak keluar duluan tapi orang orang didepanku belum juga bergerak dan menghalangi jalan kami.Aku memberanikan diri untuk bergerak dan kurasakan Dwi masih membatu,kugenggam tangannya lebih erat dan memintanya untuk percaya padaku bahwa semua akn baik baik saja.
    Dengan langkah pelan Dwi mengikutiku melewati orang orang itu,wajagnya ia tundukan dan sebagian rambutnya menutupi wajahnya.
    Selama melewati orang orang itu aku menahan nafas,dan sangat menegangkan.
     Kami berhasil melewati orang orang itu dengan sukses.Dan dengan segera aku mengelus dadaku karena tegang ketika pintu lift tertutup kembali.
    Kami belum beranjak dari tempat kami ketika lift kembali terbuka dan kulihat mereka bertiga masih berada didalammya.Aku terkejut bukan main dan aku mematung seperti batu,jika untuk berlaripun kami sepertinya sudah terlambat.
“Mas,sepertinya ini barang belanjaan anda!”seru salah seorang dari mereka.
    Salah satu dari mereka menghampiri kami dan menyerahkan barang belanjaan kami dn kulihat mata orang itu melirik kearah Dwi yang terus menunduk tadi.
“Terima kasih!”seruku sambil menerima pemberian orang itu dan cepat cepat membawa pergi Dwi.
   Aku mengajak Dwi untuk tak langsung pulanh,aku mengajaknya untuk beristirahat sejenak ditrotoar dekat kami menungu bis.Rasanya aku sangat lelah sekali beradu emosi dan tenaga,Kulihat Dwi juga seperti itu sejak kejadian di dalam lift tadi tiba tiba membuat Dwi menjadi pendiam dan ia seperti melamun memikirkan sesuatu.
    Perlahan kutolehkan kepalanya agar bisa melihatku dan kutatap wajahnya yang tak begitu jelas katena lampu tidak begitu terang.
“Kamu kenapa?”tanyaku.
   Dwi hanya menggeleng dan kemmali tertunduk,
“Kamu masih memikirkan hal tadi?”tanyaku memastikan.
    Lagi lagi Dwi mengeleng dan membuatku khawatir.
   Perlahan kutarik tangannya dan kugenggam erat,tangannyayang dingin dan kecil kini teras dingin.
“Jangan khawatir aku akan melindungimu dari apapun!”seruku meyakinkannya.
    Tapi sepertinya ucapannku tidak membuatnya terhibur,malah tiba tib ia menyenderkan kepalanya kepundaku,untunglah saat itu tempat kami sepi sehingga aku tidak terlalu malu.
“Kamu kembali mengingat sesuatu”tanyaku.
Tiba tiba Dwi mengangkat kepalanya dan menatapku cukup lama, Aku menggeleng pelan dan aku tidak mengerti apa maksudnya.Dwi cemberut dan kecewa.
     Kami naik bus yang baru datang,untungkah keadaan dalam bus lengang sehingga kami bisa duduk.
   Bus baru beberapa saat melaju tapi kulihat Dwi tampak menyandarkan kepalanya kedekat kaca dan sepertinya ia tidur.Kulihat ia dan ternyata benar ia tertidur,mungkin ia terlalu lelah untuk saat ini,perlahan kualihkan kepalanya agar bersandar kebahuku,tapi tiba tiba ia terbangun dengan sedikit terkejut.
“Maaf!”seruku yang mungkin sudah membangunkannya.
    Dwi menggeleng dan sepertinya akan melanjutkan tidurnya,kulihat ia akan menyandarkan kepalanya lagi kedekat kaca bus tapi dengan cepat kutarik bahunya dan dan kutarik pelan kepalanya agar bersandar dibahuku.
“Disini saja,nanti kepalamu sakit!’seruku.
    Dwi menurutinya dan menyandarkan kepalanya dibahuku dan tertidur.
Seharusnya jarak yang kami tempuh untuk pulang tak selama ini,tapi kemacetan yang melanda membuat kami harus terjebak didalam bus untuk beberapa menit,dan sepertinya cukup membuat Dwi tidur panjang.
Selama itu banyak hal yang aku pikirkan,hal hal yang aku takutkan.
Tak henti hentinya aku menilik wajah Dwi yang begitu polos ketika sedang tidur,wajahnya yang putih dengan sedikit gurat kasar akibat luka beberapa waktu lalu tak membuat kecantikannya hilang.ia memang cantik,bagaimanapun luka sudah membuat wajahnya tampak cacat tapi ia tetap cantik.
Hatiku,sepertinya sudah memerasakan sesuatu yang berbeda padanya.Hatiku sepertinyatelah menyediakan tempat untuknya,tapi aku belum mengijinkannya dan sepertinya seandainya aku mengijinkannya,belum tentu ia mau menempatinya.
“Aku ingin kita seperti ini untuk beberapa lama lagi,karena aku tahu kita tidak akan mengalami hal seperti ini lagi.”seruku lirih berbisik diatas kepala Dwi yang bersandar dipundaku.
   Kurasakan kepala Dwi bergesar dan dengan cepat kutahan agar tidak jatuh,dan ternyata gerakanku yang kasar membuatnya terbangun dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya menatapku.
    Mata kami saling bertemu dalam gelapnya bus yang tak terlalu terang,jaraknya hanya beberapa senti,untuk beberapa detik  kami terdiam,tapi segera kutarik kepalaku dan kualihkan pandanganku kedepan.
    Seketika jantungku berdetak menjadi begitu cepat dan aku tak bisa mengontrolnya,sesaat kemudian kulirik Dwi yang juga sedang menatap kedepan dan kemudian pandanganya ia alihkan keluar kaca bus.
“Apa aku benar benar menyukainya!”tanyaku dalam hati.
Tiba tiba Dwi menolehkan kepalanya dan menatapku,lalu ia tersenyum dan aku membalasnya,tiba tiba saja rasa canggung menghinggapi kami,tak ada kata ataupun kalimat yang bisa aku katakan untuk mencairkan suasana diantara kami.
“Apa kamu lapar?”tanyaku mencoba mencairkan  suasana.
   Pertanyaan bodoh.Bagaiman bisa aku tanyakan hal itu padanya jelas jelas kami pergi untuk makan diluar.
“Ya,aku lapar,tadi aku makan hanya sedikit!”jawabnya jujur.
    Nanti kita cari makan lagi!”seruku.
                                         ***
    Kami turun dari bus dan menuju sebuah warung untuk membeli sesuatu,dan tak lupa aku membeli nomor perdana,tapi sayang counter ada disebrang jalan kereta sementara kami ada disebrangnya.
“Kamu disini dulu ya!”seruku sambil berlari meninggalkan Dwi diwarung tempat kami membeli snack.
 Aku segera mendatangi counter dan kudengar sayup sayup sirine tanda kereta akan lewat,kulihat Dwi masih menungguku sesebrang sambil melihat hpnya.
   Dengan cepat aku memilih nomor yang kira kira mudah diingat dan ingin segera berlari menuju tempat Dwi.
  Setelah membayar aku mencoba sesegera mungkin untuk  menyebrang dan menemui Dwi,tapi sepertinya aku terlambat baru saja akan melangkah aku melihat lampu dari Kereta mendekat dan bertanda kereta sudah dekat.Aku melambaikan tangan pada Dwi dan sepertinya ia melihatku dan sepertinya akan melambikan tangan juga padaku tapi pemandangan itu tak dapat kusaksikan karena kereta sudah memotong pandanganku untuk melihatnya.
Entah apa yang  terjadi tiba tiba aku merasakan sesuatu,sepertinya aku akan kehilanganya,melihat aku berada jauh dari Dwi,seperti sebuah firasat,mungkinkah ia akan meninggalkanku.
  Setelah kereta lewat aku segera berlari menuju Dwi yang masih berada ditempatnya.
Sesampainya disebrang ternyata kereta melintas dari arah yang berlawanan,Kulihat Dwi tampak terkejut melihat kenekatanku,begitu juga aku yang tak tahu menahu jika  masih ada kereta yang melintas.
Wajah kesal Dwi menyambutku,dan dengan kesal ia memukul lenganku dan sepertinya ia mengomel.
“Aku ga papa!”seruku meyakinkan.
Kami kembali melanjutkan perjalanan,menelusuri jalan setapak yang menujunrumah kami.Seanjang jalan kami memakan snack yang kami,untuk mengganjal perut kami yang sudah kembali lapar.
“Berhadiah langsung!”seruku membaca tulisan yang ada di bungkus snack,dan dengan rasa penasaran aku mencari hadiah itu.
Setelah beberapa saat mencari akhhirnya aku menemuknya,sebuah cincin plastik berwarna pink,terbungkus plastik transparant.
“Bagus juga!”seruku,dan sebuah ide iseng muncul diotaku.
“Dwi!”panggilku,sambil menarik lengan tanganya.
Sejenak kami berhenti dan Dwi menatapku aneh dan bertanya tanya.
Perlahan aku tarik tangannya kirinya yang kosong dan dengan segera kumasukan cincin plastik pada jari manis Dwi.
Kulihat Dwi tersenyum Malu malu,dan begitu juga denganku.
“Lain kali kubelikan yang asli!”seruku sambil cengar cengir tak jelas.
Dwi hanya tersenyum dan sepertinya tanpak senang.Dan kami melnjutkan perjalanan kami.
Kami berjalan beriringan tak henti hentinya aku memikirkan tentang pikiran yang melintas tadi.
Rasanya aku ingi kenggenggam tangan Dwi yang mengayun di samping badannya.
Dan dengan keberanianku kutarik tangan Dwi dan mengandengnya,seketika Dwi tampak terkejut dan melihatku,kurasakan ia akan menarikanya tapi kutahan sebelum ia benar benar menriknya.
“Ayo cepat,hari sudah makin malam!”seruku tanpa menatapnya.
Kugenggam tangannya yang kecil dengan erat,terasa dingin dan basah.Dengan hati hati kulirik dia yang diam.Aku merasa Dwi tampak beda,ia menjadi lebih banyak diam.Ia tak seperti yang aku kenal,ia begitu berbeda sejak tadi,ia seperti banyak memiliki hal yang perlu dipikirkan.
Aku masih menggengam tangan Dwi,menggengamnya erat.Entah apa yang terjadi dengan hatiku,kali ini aku merasa ada yang berbeda,aku merasa lebih tenang,damai,dan nyaman.
Kurasakan tangaku digenggam,tak seperti beberapa saat lalu,aku merasakan hanya aku yang menggenggam tangannya.Perlahan kutolehkan kepalaku untuk melihatnya.dan kulihat Dwi menatapku.
Kuhentikan langkahku dan kutatap wajahnya dalam kegelapan jalan.
“Kamu kenapa?,kenapa liat aku seperti itu.”tanyaku sambil menatap wajahnya.
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi pada Dwi,tiba tiba ia memeluku dan diam.
“Kamu kenapa?”tanyaku yang menjadi begitu bingung.
Dwi tak mengubah posisinya dan terpaksa aku menjauhkan tubuh Dwi dari tubuhku,walaupun aku merasa nyaman dengan keadaan kami tadi.
“Kamu kenapa?”tanyaku sambil menatap wajahnya,kulihat ada kilatan kecil diwajahnya dan sepertinya ia menangis,perlahan kusapu airmatanya dan mencoba mencari tahu apa yang membuatnya menangis.
“Kamu kenapa?”tanyaku lagi masih menunggu jawabanya.
Dwi menggeleng “Tidak papa!”.
 Menariku tanganku dan mengajaku untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Aku tak dapat berbuat apa apa dan sepertinya aku harus melupakan hal yang baru terjadi tadi.
                                    ***
Sampainya dirumah aku menyuruhnya untuk berganti pakaian ataupun jika ia ingin mandi silahkan.
Dan selama ia melaksanakan perintahku,aku diam diam membuatkan kejutan untuknya.Akuarium yang aku beli diam diam aku mulai buka dan aku mempersiapkan semuanya,mulai dari menghias dalamnya yang diisi batu batu berwarna dan pepohonan air.Air dan beberapa ikan hias yang berisi beberapa macam jenisnya.
Dan yang terakhir adalah memasang mesinnya yang berupa mesin pembuat gelembuang agar Ikan bisa bertahan hidup.
Ternyata mesin airnya cukup berisik dan mungkin mengundang perhatian.
Selesai menghias semuanya aku duduk didipan dan menunggu Dwi datang dan mengejutkannya dengan mengadirkan akuarium itu dirumah.
Aku menunggu Dwi keluar dari kamarnya sambil mengaktifkan nomor yang aku beli kedalam hp yang aku beli tadi.
Tiba tiba Dwi menepuk punggungku yang memang sejak tadia aku membelakangi akuarium,ataumungkin aku terlalu fokus pada alat yang sedang aku pegang.
Kulihat Dwi berdiri dihadapanku dan menatapku tanpa berkedip.
Aku tak tahu apa yang terjadi padanya tapi pandanganya cukup aneh dan membuatku cukup merasa aneh.
Sejenak aku terdiam menikmati kecantikan wajahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari wajahku.Tapi akal sehatku menyadarkannku,dan dengan segera aku bergeser dan buka suara.
“Kamu sudah melihatnya!”tanyaku sambil tersenyum,karena tiba tiba aku menjadi merasa canggung padanya dengan jarak kami yang menjadi begitu dekat.
Dwi hanya menoleh dan tersenyum,lalu ia menulis sesuatu di hpnya.
Aku menungunya dengan perasaan yang tiba tiba menjadi berbeda,sepertinya akan terjadi sesuatu terhadap kami.
“AKU AKAN MELAKUKAN SESUATU PADA KAKAK YANG AKU YAKIN KAKAK TIDAK AKAN MELAKUKANNYA JIKA DALAM KEADAAN SADAR!!”Tiba tiba Dwi berseru.

Aku cukup terkejut dengan ucapan Dwi itu,dan membuatku berfikir apa aku pernah melakukan sesuatu pada Dwi bebrapa hari lalu saat aku mabuk.
Selesai aku membaca pesan itu kulihat Dwi melai mendekatiku,makin dekat dan ia mencondongkan wajahnya padaku seperti akan menciumku,aku terpaku,dan bingung apa yang harus aku lalukan,menghindarinya ataupun membiarkannya,lagipula aku pun  terkadang ingin melakukannya.
“Kamu ingi mencium kakakmu?”tanyaku mengodanya.ketika wajah kami sudah sangat dekat.
Dwi berhenti sejenak dan menatapku,tapi tidak menggubris candaanku,bahkan ia semakin mendekat,jantungku makin terpacu ketika kurasakan bibir kami saling menempel tapi tak ada pergerakan.
Dwi menarik diri dariku dan dengan cepat kutarik dia.Sepertinya aku ingin menciumnya lagi.
Belum sempat aku menciumnya untuk yang kedua,ataumungkin untuk yang ketiga kali,tiba tiba lampu mati dan membuatku terkejut.Kurasakan Dwi kaget dan aku tahu ia takut gelap.
“Tenang,aku akan cari lilin!”seruku sambil bangkit dari tempatku.
Sayup sayup kudengar suara pintu rumahku dibuka paksa dan sepertinya ada yang masuk.
“Jangan bergerak!!!”
Tiba tiba lampu menyala dan kulihat Dua orang berdiri dihadapanku sambil menodongkan pistol kepada diriku.
“Siapa kalian ?”tanyaku terkejut dn kulihat Dwi berlai berlindung dibelakangku.Aku menoleh pada Dwi dan memintanya untuk tetap tenang dan tetap bersamaku.
“Angkat tangan kamu!”seru orang itu padaku.
Aku mengangkat tangan dan begitu pula dengan Dwi mengikutiku.
Tiba tiba beberapa orang menyusul masuk dan kulihat mereka adalah orang orang yang aku lihat di mall tadi sore.
“Apa mereka mengikutiku!”tanyaku dalam hati.
Kulihat salah satu dari mereka mendekatiku dan tiba tiba menarik Dwi dari belakangku.Dwi meronta tapi mereka lebih kuat.
“Jangan sentuh Dwi!”teriaku sambil menarik tangan Dwi tapi tiba tiba orang yang memegang pistol itu mendekatiku dan menahanku dan memiting tanganku dan memborgolku.
Aku tak bisa berbuat apa apa aku hanya bisa melihat Dwi dibawa paksa dan aku hanya diam saja dengan borgol mengikat tanganku.
Aku digiring paksa oleh mereka yang mengaku sebagai polisi.Dengan langkah berat aku masuk kedalam mobil polisi,dan dari balik kaca mobil kulihat Dwi bersama dengan laki laki berpenampilan rapi itu,Dwi tanpak diam saja dan tiba tiba laki laki itu memeluk Dwi.Seketika rasa cemburu masuk kedalam hatiku dan membuatnya sesak.
Dan mobil melaju meninggalkan halaman rumahku dan juga Dwi bersama laki laki itu yang aku sediri tak tahu,dan apa hubungannya dengan laki laki yang disebetkan Dwi adalah penculiknya.
...........

Tidak ada komentar :

Posting Komentar