.............
Setelah menghabiskan waktu seharian di luar rumah
kemarin,kini saatnya kembali beraktifitas menjalankan kewajiban yang menjadi
seorang karyawan.
Pagi ini aku merasa berat
meninggalkan Dwi dirumah sendirian tapi aku memiliki tanggung jawab terhadap
pekerjaanku,jadi mau tidak mau aku harus meninggalkannya di rumah.Aku yakin Dwi
bisa menjaga dirinya sendiri selama aku tak ada dirumah.
Aku mendekati Dwi
yang sedang berdiri didekat pintu sambil menunggu kepergianku.
Kuambil hp yang ada di dalam
kantong celanaku dan kuserahkan kepadanya.
“Kamu pegang ini!,kalau ada sesuatu sms nomor dengan
nama Nia!.Dia temanku!”seruku sambil menggengamkan hpku didalam genggamannya.
Aku segera pergi setelah memberikan
hp itu dan Dwi tak mengatakan apa apa.Padahal aku ingin ia mengatakan sesuatu
padaku.
Aku menutup pintu depanku dan
kulihat Dwi masih berdiri ditempatnya sedang melihatku,membuatku tak tega untuk
meninggalkannya.
Setelah menutup pintu Aku melangkah
beberapa meter dari depan rumahku aku merasakan ada yang mengganjal dalam
hatiku.Aku berbalik dan kembali membuka pintu rumahku dan kulihat Dwi
terduduk,masih ditempatnya.Melihat diriku ia bangkit dari tempatnya dan
menghampiriku.
“Ada apa?”tanyanya.
Aku hanya menghela nafas dan diam,tidak bisa
mengutarakan apa yang ada di dalam hatiku.
“Tidak papa!”jawabku kemudian.
“Ya sudah sana pergi,nanti telat!”Serunya mengusirku
dengan senyuman.
“Emmmmmm......,selama aku pergi,jangan pernah bukakan
pintu untuk orang lain,kecuali aku!”Seruku mengingatkan.
“Iya!,aku tahu apa yang harus aku lakukan,dan aku
bukan anak kecil lagi!”serunya mengingatkan.
“Tapi aku khawatir!”seruku kemudian mengutarakan hal
yang selalu menghinggapi perasaanku.
“Untuk hal apa?”
“Entahlah aku tidak tahu pasti!”jawabku yang juga
tidak mengerti.
Dwi
berjalan mendekatiku dan menatapku sejenak.
Aku terkejut ketika tiba tiba
Dwi memeluku dengan sangat erat.Sementara aku hanya terdiam mematung.
“Semua akan
baik baik aja!,kamu jangan takut.jangan pernah membuka pintu untuk siapapun!”pintaku
mengulang ucapanku sambil melepaskan pelukannya,yang terasa sangat tidak
membuatku merasa nyaman.
Kulihat matanya berkaca kaca,ketakutan
terlihat dimatanya,membuatku tak tega untuk meninggalkannya.
Kutatap wajahnya dan
kuhapus airmatanya.
“Jangan nangis dong!”seruku sambil menghapus airmatanya.
Perlahan kudekatkan wajahku
kewajahnya dan perlahan kucium keningnya dan kupeluk dia dengan perasaan
sedikit ragu,tapi terasa lebih nyaman.
Dwi terdiam dan menundukan
wajahnya.
“Maaf!”seruku yang tak sadar telah melakukan hal itu.
Dan tanpa berkata lagi aku
pergi meninggalkannya tanpa berpaling lagi untuk melihatnya.
Di tempat kerjaku
aku terus memikitkan Dwi yang berada dirumah sendirian,pikiranku terus
khawatir,bagaimana jika orang orang itu kembali kerumahku,bgaimana jika Dwi
mereka temukan,bagaiman !bagaimana!.
Semua memenuhi pikiranku tapi
aku tak dapat berbuat apa apa,kecuali gelisah dan tak dapat berkonsentrasi pada
pekerjaanku,untungkah keadaan tempat kerjaku tidak terlalu ramai,sehingga aku
lebih banyak diam dan memikirkan keadaan rumah.Dwi Dwi dan dwi.
Menjelang sore ketika toko
akan tutup aku melihat Dua orang yang aku lihat beberapa kali melintas didepan
tempat kerjaku,Kedatangan mereka membuta hatiku terusik,akan kemana mereka?,apa
dia akan kerumahku!,atau mereka sudah datang kerumahku!
Dan dengan menuruti rasa
penasaranku akhirnya aku memutuskan untuk meminta ijin untuk pulang duluan
walaupun hanya beberapa menit lebih awal dari toko tutup.
Diam diam aku mengikuti dua
orang itu kemanapun mereka berada.Mulai dari mereka masuk Cafe sekedar
mengobrol,lalu kemudian ketempat yang aku sendiri belum pernah masuk.Kesebuah
perumahan elit yang hanya ada rumah rumah dengan luas halamanyang super luas.
Kulihat mereka masuk kesebuah
rumah yang mungkin ukurannya paling besar diantara rumah rumag disana.
Didepan rumah itu aku menunggu
mereka,untunglah dekat rumah itu ada sebuah pertokoan yang bisa dibilang sebuah
warung kopi.disanalah aku menunggu mereka.Sambil menikmati secangkir kopi yang
aku sendiri kadang tak selalu meminumnya.Tapi paling tidak aku ada alasan untuk
berada berlam lama di warung itu.
Aku berada Di warung itu culup lama sampai
habis 3 cangkir kopi.
“Rumah yang besar itu rumah siapa ya bu!”tanyaku basa
basi ketika aku hanya sendirian di warung kopi itu.
“Pengusaha sukses,perusahaannya ada dimana mana!”jawab
pemilik warung itu.
Sedikit banyak aku mengetahui tentang pemilik
rumah besar itu.walau aku sendiri belum mengerti apa hubungannya antara Pemilik
rumah itu,Dwi, dan orang orang yang ada didalam rumah itu,yang menurut Dwi
adalah para penculik dirinya.
Atau mungkin Pemilik rumah itu
adalah otak dari penculikan Dwi.
Pertanyaan dalam otaku terus
bermunculan sampai pada akhirnya aku melihat dua orang itu keluar dari rumah
besar itu.
Aku menunggu mereka berjalan agak
jauh agar aku bisa mengikuti mereka tanpa mereka curigai.
Dari jarak hanya beberapa meter aku
mengikuti mereka sampai mereka masuk kedalam sebuah Bar.
Tempat yang asing untuku tapi aku
penasaran dan akhirnya aku memutuskan untuk masuk.
Didepan bar aku bertemu dengan
dua penjaga dengsn tubuh besar besar dan sepertinya aku mengenal mereka.
Dengan ragu aku mendekati
mereka dan ternyata Aku mengenal mereka.Dia adalah Dirga dan Ato,teman yang aku
kenal di toko tempatku kerja.
“Halo Bro!tempat gaul loe di
tempat kayak gini juga?”tanya mereka yang ternyata memang benar benar
mengenalku.
“Nyoba nyoba!”seruku sambil
tersenyum dan mata terus mencari dua orang yang aku ikuti itu.
“Ayo masuk!,umurnya udah diatas 20 tahun kan!”ledek
Dirga.
Aku memukul lengan Dirga dan
kemudian masuk kedalam.Sampainya didalam pertama kali yang aku dengar adalah
musik yang berdetak sangat kencang dan orang orang yang sedang berdisko.
“Eka!”seru seseorang yang memanggilku di hentakan
musik yang begitu kencang.
Aku mencari cari asal suara yang
memanggilku dan dari pojokan aku melihat segerombolan orang sedang menikmati
acara mereka.
Dengan ragu aku mendekati
mereka sambil mengamati siapa mereka mereka itu.
“Eka!,sedang apa kamu disini!”seru orang bernama Dimas
itu,orang yang aku kenal di tempat kerjaku juga.
“Cari suasana!”seruku.
Dimas mengajaku untuk
bergabung dengan mereka,dan karena aku juga tak memiliki teman aku ikut
juga.Mataku terus mencari cari mereka yang aku ikuti sejak tadi,walaupun
mulutku terus mengikuti apa yang Dimas katakan.
Makin malam aku makin
mengikuti permainan Dimas,dan melupkaan Mereka berdua, yang tampaknya akan
berada lama juga disana.
Awalnya setengah gelas,lalu
kemudian satu dan seterusnya,sampai aku merasaakan pusing dikepalaku,tapi aku
masih sadar.
Dimas bersedia mengantarkanku
pulang dengan mobilnya.Dimobil aku masih mendengarkan mereka mengobrol dan
sampai mobil memasuki area rumahku.Aku tersadar,tidak boleh ada satu orangpun
yang boleh mengetahuiku keberadaan Dwi dirumahku.
“Kamu yankin bisa jalan sendiri!”seru Dimas yang
melihatku keluat dari mobilnya dengan agak sempoyongan.
“Iya!”seruku meyakinkan.
“Kamu payah baru minum dua gelas udah teler!”serunya
sambil tertawa.
Aku tak menhiraukan ucapannya
dan aku menunggu mobilnya pergi sebelum aku membuka pintu rumahku.
Aku tak tahu pukul berapa
sekarang tapi pasti sudh malam,dan mungkin Dwipun sudah tidur.
Untunglah aku membawa kunci serep
sehingga aku tak perlu mengganggu Dwi untuk membukakan pintu.
Aku membuka pintu denagn setengah
sadar,sepertinya kunci belum sempat aku masukan kedalam lubangnya tapi suara
pintu dibuka aku dapat mendengarnya.
“Kakak!”seru Dwi yang melihatku dalam keadaan mabuk.
Aku tak menjawab apa apa,yang aku
tahu kepalaku begitu berat dan aku masuk dengan sempoyongan.
***
Aku tak tahu dimana aku berada
yang aku tahu kini dihadapanku ada Dwi yang tanpak begitu cantik malam
ini,sepertinya ia berdandan malam ini,mungkin bereksperimen dengan make up yng
aku belikan kemarin.
“Kamu cantik sekali!”sepertinya kata kata itu yang
keluar dari mulutku.
Dwi hanya terdiam
menatapku,membuatku tak mengerti.
Perlahan kucondongkan tubuhku
padanya,kuperhatikan wajahnya yang tampak begitu cantik walau ada garis garis
kasar disana.Kutatap bibirnya yang tipis lalu kutekannkan bibirku pada
bibirnya.Dan tubuhku makin condong padanya,aku tak dapat mengimbangi dan
tubuhku terjatuh menimpa tubuhnya.
“Brakkkkkkkkk!!!!!!!!!!”
Aku terbangun
dengan terkejut,terkejut karena aku terjatuh dari tempat tidurku,tubhku terasa
sakit karena menghantam ubin.
Seketika aku teringat dengan
apa yang baru terjadi,ternyata hanya mimpi,mimpi yang terasa begitu nyata.
Aku mencium Dwi,untunglah
hanya dalam mimpi,seandainya itu benar terjadi,entah apa yang akan terjadi.Aku
akan sangat malu jika benar benar melakukan hal itu padanya.
Perlahan kulihat pintu kamar
terbuka dan aku baru sadar aku berada didalam kamar Dwi.Dari balik pintu
kulihat Dwi datang dengan membawa segelas teh panas,hal itu bisa kutebak karena
asap masih mengebul diatasnya.
Dwi tersenyum,menunjukan
senyumannya yang manis.
“Kenapa aku disini?”tanyaku sambil bangkit dari
tempatku dan menerima teh dari Dwi.
Dwi tidak langsung menjawab,ia duduk
disampingku dan menatapku,tatapan yang membuatku bertanya tanya.
“Kakak,semalam mabuk dan masuk kekamarku!”serunya
kemudian.
Aku membelalakan mata dan tak
percaya.
“Apa aku melakukan sesuatu kepadamu?”tanyaku langsung.
Dwi menggeleng dan membuatku
lega.
“Tidak,Sampainya di kamar kakak langsung tidur,Dan aku
tidur diluar,”seru Dwi kemudian.
“oh!”seruku sambil bangkit
dari tempatku dan beranjak meninggalkan kamar Dwi untuk mandi.
Aku masih memikirkan
mimpiku,hal itu terasa sangat begitu nyata,tapi itu hanya mimpi.dan mungkin
jika hal itu terjadi,pasti Dwi akan menghindariku.tapi semalam dalam mimpiku
Dwi diam saja,dan pastilah itu hanya mimpi.
Aku berangkat kerja dengan perasaan
masih sedikit was was,biar bagaimanapun Dwi masih dalam keadaan trauma,apalagi
ia teringat dengan masa lalunya yang ternyata dia adaah korban penculikan.
Tapi apakah ia hanya ingat penculikan itu,ia tak
mengingat yang lainnya!,ia tak ingat siapa dirinya,atau mungkin dari mana ia
datang,atau mungkin ia memiliki keluarga,yang harus dihubungi ataupun ia
memiliki kekasih yang harus ia hubungi.
Tapi Dwi adalah seorang yang istimewa,ia cantik,ia
begitu sempurna dengan kelebihan dan kekurangan yang ia miliki.
Aku memiliki tanggung jawab terhadapnya,aku harus
menjaganya sampai ia ingat terhadap semua memorinya yang ia lupakan.Dan jika
perlu aku akan mengantarkannya pulang jika ia telah igat dengan semua
ingatannya.
Aku bekerja seperti biasa,tapi
mimpi semalam masih membayangiku hingga saat ini,seperti sebuah kenangan yang
tak boleh dilupakan,tapi itu hanya mimpi,bukanlah kenyataan.
Jadi untuk apa aku harus mengingatnya terus,sementara
hal itu tak akan terjadi,walaupun naluriku sebagai pria normal ingin
melakukannya,tap aku takan melakukan itu terhadap Dwi,apalagi ia adalah
tanggung jawabku,aku harus menjaganya,sebisa aku mampu,karena semua fantasiku
akan merusAk bentuk tanggung jawabaku terhadapnya.
Tapi seandainya aku memiliki pacar secantik
Dwipun aku takn menolak,ia cantik walaupun wajahnya sedikit cacat,tapi apalah
arti wajah sempurna jika hatinya busuk,bukankah lebih baik baik hati tapi wajah
sederhana.
Tapi memang tak dapat
dipungkiri pria tertarik pada wanita memang dimulai dari bentuk fisik mereka
yang selalu menarik jika dijadikan obyek untuk berfantasi.
Tapi aku selalu mengalihkan
perhatian alam bawah sadarku jika Dwi datang dialam bawah sadarku,aku selalu
melarangnya untuk datang,walau ia datang tak pernah permisi.
Di tempat kerjaku yang tenang
tiba tiba aku teringat Dwi,Aku teringat dia,sedang apa dia!,sebaiknya aku
mengajaknya jalan jalan lagi,mungkin ia akan merasa lebih segar jika banyak
banyak menghirup udara luar.Mungkin juga itu bisa membutanya akan ingat siapa
dirinya.
Cepat cepat aku menghampiri Nia yang
sedang duduk disamping etalase sambil mengelus elus perutnya yang buncit.
“Halo ibu hamil!”sapaku basa basi.
Nia menatapku sekilas dan ia
tersenyum sinis,seperti tahu apa yang akan terjadi.
“Pasti ada maunya!”serunya menebak
Aku tersenyum sambil menggaruk garuk
kepalaku yang tak gatal.
“Ada apa?”tanyanya.
“Anu,kayaknya hpku ketinggalan dirumah deh,aku pinjem
boleh ga buat miscoll,n nelpon temen,ntar kalo gajian aku ganti deh!”seruku
sambil mengimingi imbalan.
“Ga usah,ni pake aja,tapi kalo pulsa abis isiin
ya!”seru Nia sambil mengeluarkan hpnya dari dalam kantong.
“Itu mah sama aja!”seruku sambil mengambil hp dari
tangan Nia dan buru buru pergi.
Di gudang aku menelepon
Dwi.Walau aku tahu Dwi tidak akn bisa menjawab teleponku,tapi paling tidak ia
bisa mendengarkan suaraku dan mengerti pesanku.
Beberapa saat menghubungu aku tak
mendapatkan jawaban darinya hanya suara nada tersambung.Dengan sabar aku
menunggu dan mengulanginya kembali.
Kesempatan terakhir,kutulis
sebuah pesan singkat untuk memberitahunya.
INI
AKU,EKA!ANGKAT TELEPONKU,AKU MAU BICARA!
Tulisku,mungkin jika Dwi
membaca sms ini ia akan merasa aneh,dan cepat cepat aku hapus,Dan setelah itu
baru aku menghubunginya kembali.
Baru pertama tersambung kutahu
teleponku langsung diangkatnya,
“Halo,Dwi!,Ini aku Eka Malam ini kamu ga usah
masak!aku akan ajak kamu makan diluar,jadi kamu siap siap ya!”seruku lalu
kemudian menutup teleponnya.
Ketika sore menjelang aku tak
sabar untuk cepat cepat sampai rumah,aku ingin sekali mengajak Dwi
pergi,mungkin ia kan senang seperti beberapa hari yang lalu.
Sampainya dirumah kulihat Dwi
sudah mandi dan ia tampak rapi,dengan kaos yang kutahu itu adalah kaos yang ia
punya.
“Aku mandi dulu ya!,ga lama!”seruku sambil mengambil
handuk dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari rasa lengket
akibat keringat yang menempel seharian ditubuhku.
Selesai mandi aku mencari
pakaian yanga menurutku cocok untuk pergi....Apa ini sebuah kencan!.Tiba tiba
pertanyaan itu mendatangi otaku dan aku tersenyum sendiri.
Kuambil kemeja hitam yang masih bisa
dibilang paling baru dari waktu yang aku beli.Dan aku memakai topi,entahlah
untuk apa,tapi aku sedang ingin menggunakannya.
Aku keluar kamar dan aku melihat Dwi
berdiri di dekat pintu,rambutnya terurai panjang menutupi sebagian wajahnya,ia
mengunakan rok panjang selutut dan kaos oblong.Ia terlihat sangat santai.
Aku kembali kedalam kamarku
dan kembali membuka lemari bajuku,aku mencari sesuatu tapi entah apa itu.Sampai
akhirnya aku menemukan kemeja warna merah terpadu dengan warna biru laut
bergaris.Segera kuambil dan aku keluat kamarku.
Dwi menyapaku dengan senyumnya yang
manis,sepertinya ia berdandan,mungkin sejak tadi,dan mungkin aku tidak
menyadarinya.
Aku mendekatinya dan tersenyum
padanya.
“Pakai ini,mungkin kita akan pulang agak malam,dan
pasti udara malam akan sangat dingin!”seruku sambil membukakan kancing kemejaku
lalu aku pakaikan kebadannya.
Kancinh krmrja aku
biarkan terbuka agar terlihat seperti jaket,dan lengannya sedikit aku lipat
agar tidak terlalu panjang.
Sore itu,kuajak Dwi ke mall
lagi,tapi kali ini berbeda,aku mengajaknya untuk makan di Foodcourt dan mungkin
kita bisa berbelanja sesuatu.
Seperti beberapa hari yang
lalu aku mengajak Dwi jalan jalan dengan menggunakan bus
umum.Didalam bus,Dwi memandangi pemandangan luar yang gelap dan
hanya terang tersorot lampu jalan.
“Kamu senang malam ini?”tanyaku pada Dwi.
“Ya,aku sangat senang!,aku bosan dirumah
terus!”jawabnya tanpa melihatku.
“Kenapa kamu ga bilang!,aku kan bisa mengajakmu
kapanpun kamu mau!”seruku.
“Kakak terlalu sibuk,aku takut mengganggu!”jawab Dwi
kemudian.
“Pulang kerja kan bisa!”balasku
“Apa kalau aku minta tiap hari kakak akan menurutiku?”
“Kalau aku mampu mungkin iya!”
Kulihat Dwi menatapku dalam gelapnya bus malam dan dapat
kulihat ia tersenyum.
Setelah beberapa lama,aku dan Dwi turun di halte dan
dengan berjalan kaki beberapa meter kami sudah sampai didepan Mall yang
ukurannya lebih besar dari mall yang kami kunjungi beberapa hari lalu.
Dwi berjalan disampigku,jarak kami sangat
dekat,mungkin orang orang akan menganggap kami adalah orang yang sedang
berpacaran.
“Kamu cantik sekali malam ini!”Bisiku diatas kepala
Dwi yang tingginya tidak lebih tinggi dariku.
Atau mungkin aku bisa
menggombalinya tiap hari,tapi aku tak melakukannya,kasihan jika aku harus
memanfaatkan untuk kesenanganku.
“Kita kelantai atas!”seruku pada Dwi.
Dwi menganguk menurut,
Dengan menggunakan escalator akau dan Dwi
naik kelantai tiga dimana Foodcourts berada.
Sampainya dilantai tiga aku dan Dwi memesan
makanan yang akan kami makan.Dan selama kami menunggu kami mengobrol,bertanya
sesuatu,yang mungkin Dwi ingat pernh ketempat ini.
Setelah pesanan kami datang
aku dan Dwi menghentikan acara “ngobrol”kami dan kami saling melahap makanan
masing masing.Aku memakan cumi saus tiram dan Dwi memakan udang bakar saus
madu.
Dwi tampak begitu lahap
memakan makanannya mungkin itu adalah makanan kesukaannya sebelum amnesia dulu.
Dwi menusuk satu udang besar dan
kemudian disodorkannya kepadaku,mungkin ia ingin menyuapiku.
Aku membuka mulutku lebar dan benar
saja,ia langsung memesukan udang besar itu kedalam mulutku.
Rasanya enak,gurih dan ada
rasa manis manisnya.Kini giliran aku,aku mengambil satu cumi yang sudah
dipotong potong hingga menyerupai lingkaran yang sudah dilumuru saus.
Dengan mengulurkan garpuku aku
menyodorkan garpuku pada Dwi dan ia membuka mulutnya dan memakannya.
“Bagaimana enak!”tanyaku
Mungkin orang orang yang
melihat kami menganggap kami adalah pasangan yang sedang pacaran,tapi
terserahlah orang berkata apa.
Kami serius
menghabiskan makanan kami sampai pada saat ketenanganku terusik,ketika kulihat
Dua orang yang selama ini aku curigai muncul dari lift yang berada tak jauh
dari escalator,dibelakang mereka berdiri seorang yang tampak lebih
muda,berpakaian rapi,menggunakan jas,dan sepertinya ia adalah bos mereka.
Dengan buru buru aku
menghbiskan makananku,dan kulihat Dwi tampak aneh melihat cara makananku.
Tatapannya mungkin bertanya
tanya apa yang sedang aku lalukan.
“Ayo habiskan!”seruku memintanya.
Dwi tak menghabiskan makanannya tapi
ia menaruh sendok dan garpunya dan mungkin itu menandakan ia sudah selesai
makan.
Dwi menatapku dengan tatapan
bertanya tanya,tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk
menjelaskan.Hal utama dan yang terpenting adalah aku harus membawa pergi Dwi
sebelum mereka menemukan kami.
Aku menarik tangan Dwi dan
membawanya pergi dari tempat kami,sebelum mereka menemukan kami.
“Ada apa?”tanya Dwi yang
tidak aku jawab.
Aku hanya menunjukan jari
telunjuku didepan bibirku menyuruhnya untuk berhenti bertanya dan tetaplah
diam.
Aku menjauhi tempat
itu,mencoba mencari tempat yang aman,agar kami bebas bergerak,tapi entahlah
tempat mana yang aman karen aku kira sekarang setiap sudut tempat ini menjadi
tidak aman.
Kuajak Dwi masuk kesebuah toko
baju,mungkin disana tempat yang aman,paling tidak untuk beberapa saat sebelum
mereka menemukan kami atau kami bertemu dengan mereka.Lagi pula Dwi mengatakan
ia senang saat ini,dan aku tak mau membuat kebahagiaannya lenyap hanya karena
kehadiran mereka.Toh mereka belum menemukan kami.
“Kamu mau baju baru!”tanyaku
“Ya!”jawabnya polos.
Dwi mengangguk dan kupastikan
ia tahu apa yang aku katakan tadi.Dari matanya kulihat ia begitu senang.
Biar bagaimanapun ia adalah
wanita,dan tentu saja ia juga suka dengan yang namanya berbelanja.
Satu demi satu pakaian yang
dipajang ia lihat lihat dan sesekali ia tunjukan padaku untuk dimintai
pendapat,aku hanya tersenyum dan mengangguk.Dan setiap mendapatkan jawabanku
Dwi seperti kecewa,mungkin ia kecewa karena aku tak memberi jawaban pasti atas
pilihannya.
Karena menurutku apapun yang ia
gunakan akan selalu terlihat bagus,karena ia cantik dan orang cantik akan
selalu pas menggunakan apapun.
“Kamu pilih aja,yang menurut kamu pas,dicoba,kalau
kamu cocok ambil!”seruku dan ia memperhatikan gerakan bibirku.
Dwi mengannguk,dan
setelah itu ia berkeliling melihat lihat pakaian yang terpajang,sementara aku
sibuk dengan urusanku,sambil sesekali melihat keluar untuk melihat apakah
mereka disekitar kami.
Mataku kualihkan kederetan
baju wanita yang penuh dengan model model berbeda,tak seperti pakaian pria yang
hanya satu model saja.kemeja atau kaos dipasangkan dengan celana panjang
ataupun celana pendek.
Tiba tiba mataku tertarik pada
satu baju yang menurutku sedang dibutuhkan Dwi saat ini.Aku menghampirinya dan
mengambilnya satu dari teman temannya dan mengangkatnya,Ada banyak pilihan
warna disana,dan semua warna begitu mencolok,mulai dari orange,biru,hijau
toska,merah,pink,dan warna warna yang lainnya.
Kuambil satu yang berwarna
Pink,karena warna itu adalah warna kesukaan kebanyakan perempuan.
Kubawa pakaian itu mendekati
Dwi yang sibuk melihat lihat tapi belum ada satupun yang ia ambil.
“Kamu mau yang mana?”tanyaku yang melihatnya masih
tampak kebinggungan.
“Aku tidak tahu!”Serunya.
Dwi menggeleng,dan tebakanku benar.
“Coba ini!”seruku sambil menyodorkan baju yang aku
pilih.
Dwi menerima pemberianku
dan melihatnya aneh.
“Kenapa?”tanyaku.
“Tidak papa!”Jawabnya singkat.
Dwi menggeleng dan membuka
risletingnya dan mencopotnya dari gantungan.
Dwi memakainya dan aku
membantu untuk merapikannya,sebuah jaket yang aku tebak ia sanga
membutuhkannya.
“Bagaimana?pas!.kamu suka?”tanyaku sambil menaikan
risleting jaketnya.
Dwi mengangguk dan tersenyum.
“Oke,kita ambil ini!”seruku.
Dwi melepas jaketnya
tapi aku menahanya,menyuruhnya untuk tetap memakainya.
“Pakai aja!”seruku sambil sambil menarik bandrol harga
dari jaket yang dipakai Dwi.
“Kamu mau ambil apa lagi?,mana yang kamu suka!”tanyaku
smbil melihat tangannya yang masih kosong.
“Ini saja!”jawab Dwi
menunjuk jaketnya dan tersenyum kemudian pergi.
“Itu aja!’seruku sambil berjalan dibelakangnya.
Aku kekasir untuk membayar
jaket yang kubeli,sementara Dwi berdiri didepan pintu keluar sambil
melihat lihat keluar.
Selesai membayar kutarik tangan Dwi
dan kuajak ia pergi.
“Kita mau belanja apa lagi?”tanyaku.
Dwi mengambil hpku yang dari tadi
disampannya dan mengetik sesuatu.
“BELANJA KEBUTUHAN RUMAH!”serunya dengan mantap.
Aku mengangguk dan kami
langsung meluncur ketempat yang kita tuju.
Dan di tempat itu baru aku tahu
betapa kalapnya perempuan kalau sedang belanja.
Dwi mengambil semua barang
yang menurutnya kebutuhan rumah,menurutku juga iya,tapi ia terlalu banyak
mengambil barang barang itu,mungkin untuk stok,tapi sepertinya meneng terlalu
banyak.
Sambil membawa keranjang belanjaan
aku mendekai Dwi yang sedang memilih milih barang.Perlahan kutepuk
punggungnya dan ia menoleh menatapku bingung.
“Belanjaannya terlalu banyak!”seruku sambil menunjukan
keranjang yang hampir penuh.
Dwi melirik keranjang belanjaan dan
kemudian tersenyum.
Dengan pelan pelan dan hati
hati aku membantunya memilih barang barang yang kira kira perlu dikembalikan
atau tidak.
Akusibuk mengembalikan
barang barang yang ia ambil,sesuai dengan intruksinya malah ia sedang asyik
dengan dirinya,memandangi aquarium besar yang penuh dengan ikan ikan dengan berbagai
macam dan jenis.
Aku menghembuskan nafas
melalui mulutku,capek dan sedikit kesal.Baru kali ini aku merasa kesal
padanya,ternyata cewek cantik seperti dia juga bikin kesel juga.
Aku berjalan
menghampirinya dan berjongkok,menyamainya,Kulihat ia begitu serius dan senang
melihat ikan ikan itu,membuatku menjadi tak bisa kesal lagi.
“Kamu suka ikannya?”tanyaku.
Dwi mengangguk
senang.Seperti aku akan membelikan untuknya.
Aku bangun dari tempatku dan
menarik tangannya.Kulihat Dwi tampak terkejut,raut kebahagiaannya tiba tiba
hilang.
“Ayo kita pulang!’seruku sambil menarik tangannya dan
seperti menarik anak kecil yang sedang ngambek.
Dwi menunggu di luar,sementara
Aku mengantri untuk membayanr dikasir,kulihat Dwi tampak masih memasang wajah
seperti tadi,kecewa.mungkin aku terlalu memberi harapan tadi,membuatnya
berfikir aku akan membelikannya.
Dalam hatiku seperti ada yang
mengganjal setiap melihat wajah Dwi,yang tak berubah,selama aku mengantri.
Kuputuskan untuk kembali
ketempat itu dan membelikannya beberapa,mungkin bisa juga untuk hiburanny
selama aku pergi.dan merelakan tempatku untuk mengantri diambil orang.
***
Selesai berbelanja aku
mengajak Dwi berkeliling kecounter hp,aku berencana membelikannya hp,agar kami
bisa berkomunikasi dengan mudah,walau hp yang yang hanya bisa untuk sms dan
telepon paling tidak aku bisa tahu keadaannya.
“Kakak beli apa?”tanya Dwi yang melihatku membawa
kotak yang lumayan besar.
“Ini,kebutuhanku!”seruku sambil mencoba menyembunyikan
kotak itu.
“Kamu mau hp yang kayak apa?”tanyaku sambil
menunjuk beberapa model hp yang ada di counter didepan kami.
Dwi menggeleng dan menulis
sesuatu.
“Aku mau hp ini saja!”jawabnya sambil menunjukan hp
miliku yang dipegangnya.
Aku tersenyum melihatnya yang
kembali tersenyum.
“Cewek bodoh!”seruku hanya dalam bibir saja.
Dwi tiba tiba melototiku,dan aku
terkejut karena Dwi melihatnya.
“Maaf!”seruku sambil melihat lihat hp yang terpajang
di etalase.
Aku memutuskan untuk membeli hp
second,yang hanya bisa sms,telepon,dan radio saja.Yang penting bisa untuk
berkomunikasi,dan aku bisa menghubungi dan tahu keadaan Dwi saat aku tak ada
didekatnya.
Setelah membayar aku dan
Dwi pergi,dan berencana untuk pulang karena hari sudah malan juga.
Dwi menarik tangannku dan meniliskan
sesuatu.
“Kakak,aku ingin ke toilet!’serunya.
Aku memberi tanda dan Dwi
segera pergi.mungkin ia sudah sangat kebelet.
Sambil menunggu Dwi selesai
dengan urusannya aku memutuskan untuk menunggu di banggku dekat
escalator,tempat yang strategis agar Dwi gampang menemukanku.
Aku mencoba hp baruku
yang belum sempat kubelikan nomor.
Sejenak aku berfikir aku
menjalani semua ini pasti akan ada akhirnya,akhirnya akan seperti apa aku tak
tahu,tapi sepertinya aku nyaman di keadaan ini,disaat ini,nyaman terus bisa
menjaga Dwi,nyaman bisa terus membuat Dwi Tersenyum,walau aku mungkin terlalu
egois yang selalu menyuruhnya untuk terus berada didalam rumah tanpa memberinya
kesempatan untuk mengenal lingkungan yang asing baginya.
Mungkin suatu hari aku harus
memberi kebebasan untuk Dwi,memberi kebebasan untuk dia jalan jalan sendiri
tanpa aku temani,mungkin saja itu bisa membuat ia mengingat masa lalunya.
Akupun merasa hari hariku
bersamanya semakin sedikit saja,sepertinya ia aknan bertemu dengan keluarganya
lagi.Itu pasti akan terjadi tapi entah kapan,tapi pasti dan aku harus
melepasnya.
Lama aku
menunggu,tapi Dwi tak juga datang.Membuatku khawatir.Apa dia mencariku?,ah tapi
sepertinya tak mungkin,tempatku tak jauh dari dia meninggalkanku,atau mungkin
ia sedang mengantri di toilet,maklum saja udaranya dingin membuat orang orang
ingin selalu ke toilet.
Aku mencoba berfikir
positif,dan menjauhkan otak dari pikiran negatif agar aku tidak khawatir tapi
aneh juga kalau ia pergi ketoilet selama ini.
Aku bangkit dari tempatku dan
betapa terkejutnya aku ketika aku melihat dua orang yang sejak tadi aku hindari
berjalan di escalator tepat disampingku,hanya saja tubuhku tertutupi tiang
tinggi yang menjadi pembatas escalator dengan lantai yang aku pijak.
Pikiranku langsung teringa
pada Dwi.Dimana Dwi!.
Aku langsung pergi mencari
sekaligus menghindari mereka,agar mereka tak mengetahuiku,
Tempat pertama yang aku tuju adalah
toilet wanita yang ada dilantai itu,ternyata tempatnya sepi dan tak mungkin Dwi
mengantri.Atau mungkin Dwi pergi ketoilet lain.Atau jangan jangan salah satu
dari mereka menangkap Dwi kembali,karena diawal aku lihat mereka bertiga dan
tadi aku lihat mereka hanya berdua,mumgkinkah satu dari mereka mendapatkan Dwi
kembali.
Aku makin kalap dan
khawatir,pikiran pikiran negatif trus menerorku.Ingin aku adukan pada pusat
orang hilang,tidak mungkin karena Dwi tidak bisa mendengar
jika kabar itu disiarkan,bisa bisa merekalah yang akan menemukan Dwi
terlebih dahulu dengan mendengarkan ciri ciri Dwi.
Dwi membuatku frustasi seketika dan
apakah ini salah satu sifat jelekanya yang membuatnya diculik.
Beberapa saat
berlalu,aku masih terus mencarinya dengan membawa barabg belanjaan yang lumayan
berat,aku ingi turun kelantai bawah atau naik kelantai atas tapi aku takut Dwi
masih satu lantai denganku,dan aku takut ia juga mencariku.
Aku berjalan
dan terus mencari,berharap kau cepat menemukannya bahkan sampai ruko ruko yang
tutupun aku telusuri,berharap Dwi disana,mungkin Dwi juga melihat orang yang
menculiknya sehingga ia berusaha bersembunyi agar tidak ketahuan.
Aku berharap dapat menemuknnya
walaupun aku tak yakin.
Keringat Dingin sepertinya
sudah membasahi tubuhku tapi Dwi tak juga aku temukan.Sepertinya nafasku hampir
habis untuk aku hirup.
Aku terkejut ketika tiba
tiba seseorang menyentuh punggungku dan dengan segera aku membalikan badan dan
kulihat Dwi berada dibelakangku dengan Dua cup es cream.
Aku terdiam
sebentar dan dengan perasaan lega,kuletakan belanjaanku dilantai dan dengan
segera aku menarik tubuh Dwi dan memeluknya erat.
Aku
merasa sangat bahagia dan sepertinya aku menangis,karena berhasik
menemukannya,Tapi tiba tiba perasaan kesal dan dongkol menghampiriku dan dengan
cepat cepat aku melepaskan pelukanku.
“Kamu dari mana saja!,aku hampir mati
mencarimu!”seruku kesal dan juga geregetan.
Dengan polosnya Dwi
menyodorkan satu cup es cream yang dibawanya tadi.
Aku menerima es cream pemberian Dwi dengan rasa kesal.
“Apa?,kamu membeli ini dan hampir membuatku mati
kelelahan!”seruku kesal,sambil melemparkannya ketempat sampah yang kebetulan
ada didekat kami.
Kulihat Dwi menatap
ketempat sampah,apakah aku sudah keterlaluan,atau aku terlalu khawatir padanya.
“Kakak,kenapa?kenapa kakak jadi seperti ini!”seru Dwi
merasa heran.
Aku tak menjawab
pertanyaanya,aku kembali menarik tubuh Dwi dan memeliknya lagi,lebih erat dan
mungkin jika bisa takan aku lepaskan.
“Jangan bikin aku khawatir terus!”bisiku.
Dwi melepaskan pelukanku dan
ia mendongakan kepalanya menatapku.
Tangan kecilnya mengusap
airmataku yang ternyata sudah menalir diwajahku.
Dwi memberikan isyarat padaku dan
aku tak mengetahuinya yang aku tahu ia meletakan kedua tangannya menupuk
didadanya.
“Aku mencari kakak!”serunya
Aku tertawa kecil
dan menganggapnya lucu,ternyata kami saling mencari satu sama lain.
“Aku khawatir padamu!”seruku lagi.
Tanpa membuang waktu aku
menarik Lengan Dwi dan mengajaknya pulang,karena sudah tidak aman lagi,aku
berharap mereka belum menemukan kami,agar kami bisa lepas dari mereka.
Agar tak terlihat oleh mereka
aku dan Dwi menggunakan Lift Awalnya didalam lift itu hany ada aku
dan Dwi saja,tapi tiba tiba seseorang datang dengan terburu buru
menerobos masuk sebelum pintu lift tertutup.
Tiba tiba tubuhku menegang
ketika aku tahu siapa mereka mereka yang satu lift dengannku.Aku langsung
melepaskan topiku dan kupakaikan dikepala Dwi,awalnya Dwi menolaknya tapi aku
paksa,dan dengan emaksaan pula aku mendorong Dwi untuk berdiri dipojokan,aku
berusaha menutupi tubuh Dwi dengan tubuhku,agar mereka tidak melihat wajah Dwi.
Dari dinding dinding lift yang
seperti terbuat dari aluminium,aku melihat wajah wajah mereka,mereka tidak terlalu
sangar tapi perbuatan mereka kenapa terlalu kejam.
Aku menundukan kepala agar
mereka tidak mengenaliku,Dan dengan perlahan kutarik tangan Dwi,memeluk
tangannya yang terasa dingin,dan basah,mungkin ia sudah menyadarinya.Kurasajkan
Tangan Dwipun menggenggam erat tanganku,seolah olah memintaku untuk
melindunginya.
Perlahan kutolehkan kepalaku
dan kulihat Dwi,ia membalas menatapku,dan mtanya kulihat berkaca
kaca.Kuanggukan kepalaku pelan memberitahunya untuk tidak khawatir dan tetap
percaya kepadaku aku akn menjaganya dan melindunginya dengan cara apapun.
Perlahan pintu lift
terbuka tapi kami belum keluar.Aku hendak keluar duluan tapi orang orang
didepanku belum juga bergerak dan menghalangi jalan kami.Aku memberanikan diri
untuk bergerak dan kurasakan Dwi masih membatu,kugenggam tangannya lebih erat
dan memintanya untuk percaya padaku bahwa semua akn baik baik saja.
Dengan langkah pelan Dwi
mengikutiku melewati orang orang itu,wajagnya ia tundukan dan sebagian
rambutnya menutupi wajahnya.
Selama melewati orang orang
itu aku menahan nafas,dan sangat menegangkan.
Kami berhasil melewati
orang orang itu dengan sukses.Dan dengan segera aku mengelus dadaku karena
tegang ketika pintu lift tertutup kembali.
Kami belum beranjak dari tempat
kami ketika lift kembali terbuka dan kulihat mereka bertiga masih berada
didalammya.Aku terkejut bukan main dan aku mematung seperti batu,jika untuk
berlaripun kami sepertinya sudah terlambat.
“Mas,sepertinya ini barang belanjaan anda!”seru salah
seorang dari mereka.
Salah satu dari mereka
menghampiri kami dan menyerahkan barang belanjaan kami dn kulihat mata orang
itu melirik kearah Dwi yang terus menunduk tadi.
“Terima kasih!”seruku sambil menerima pemberian orang
itu dan cepat cepat membawa pergi Dwi.
Aku mengajak Dwi untuk tak langsung
pulanh,aku mengajaknya untuk beristirahat sejenak ditrotoar dekat kami menungu
bis.Rasanya aku sangat lelah sekali beradu emosi dan tenaga,Kulihat Dwi juga
seperti itu sejak kejadian di dalam lift tadi tiba tiba membuat Dwi menjadi
pendiam dan ia seperti melamun memikirkan sesuatu.
Perlahan kutolehkan kepalanya
agar bisa melihatku dan kutatap wajahnya yang tak begitu jelas katena lampu
tidak begitu terang.
“Kamu kenapa?”tanyaku.
Dwi hanya menggeleng dan kemmali
tertunduk,
“Kamu masih memikirkan hal tadi?”tanyaku memastikan.
Lagi lagi Dwi mengeleng dan
membuatku khawatir.
Perlahan kutarik tangannya dan
kugenggam erat,tangannyayang dingin dan kecil kini teras dingin.
“Jangan khawatir aku akan melindungimu dari
apapun!”seruku meyakinkannya.
Tapi sepertinya ucapannku
tidak membuatnya terhibur,malah tiba tib ia menyenderkan kepalanya
kepundaku,untunglah saat itu tempat kami sepi sehingga aku tidak terlalu malu.
“Kamu kembali mengingat sesuatu”tanyaku.
Tiba tiba Dwi mengangkat kepalanya dan menatapku cukup
lama, Aku menggeleng pelan dan aku tidak mengerti apa maksudnya.Dwi cemberut
dan kecewa.
Kami naik bus yang baru
datang,untungkah keadaan dalam bus lengang sehingga kami bisa duduk.
Bus baru beberapa saat melaju tapi
kulihat Dwi tampak menyandarkan kepalanya kedekat kaca dan sepertinya ia
tidur.Kulihat ia dan ternyata benar ia tertidur,mungkin ia terlalu lelah untuk
saat ini,perlahan kualihkan kepalanya agar bersandar kebahuku,tapi tiba tiba ia
terbangun dengan sedikit terkejut.
“Maaf!”seruku yang mungkin sudah membangunkannya.
Dwi menggeleng dan sepertinya
akan melanjutkan tidurnya,kulihat ia akan menyandarkan kepalanya lagi kedekat
kaca bus tapi dengan cepat kutarik bahunya dan dan kutarik pelan kepalanya agar
bersandar dibahuku.
“Disini saja,nanti kepalamu sakit!’seruku.
Seharusnya jarak yang kami tempuh untuk pulang tak
selama ini,tapi kemacetan yang melanda membuat kami harus terjebak didalam bus
untuk beberapa menit,dan sepertinya cukup membuat Dwi tidur panjang.
Selama itu banyak hal yang aku pikirkan,hal hal yang
aku takutkan.
Tak henti hentinya aku menilik wajah Dwi yang begitu
polos ketika sedang tidur,wajahnya yang putih dengan sedikit gurat kasar akibat
luka beberapa waktu lalu tak membuat kecantikannya hilang.ia memang
cantik,bagaimanapun luka sudah membuat wajahnya tampak cacat tapi ia tetap
cantik.
Hatiku,sepertinya sudah memerasakan sesuatu yang
berbeda padanya.Hatiku sepertinyatelah menyediakan tempat untuknya,tapi aku
belum mengijinkannya dan sepertinya seandainya aku mengijinkannya,belum tentu
ia mau menempatinya.
“Aku ingin kita seperti ini untuk beberapa lama
lagi,karena aku tahu kita tidak akan mengalami hal seperti ini lagi.”seruku
lirih berbisik diatas kepala Dwi yang bersandar dipundaku.
Kurasakan kepala Dwi bergesar dan
dengan cepat kutahan agar tidak jatuh,dan ternyata gerakanku yang kasar
membuatnya terbangun dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya menatapku.
Mata kami saling bertemu dalam
gelapnya bus yang tak terlalu terang,jaraknya hanya beberapa senti,untuk
beberapa detik kami terdiam,tapi segera kutarik kepalaku dan
kualihkan pandanganku kedepan.
Seketika jantungku berdetak
menjadi begitu cepat dan aku tak bisa mengontrolnya,sesaat kemudian kulirik Dwi
yang juga sedang menatap kedepan dan kemudian pandanganya ia alihkan keluar
kaca bus.
“Apa aku benar benar menyukainya!”tanyaku dalam hati.
Tiba tiba Dwi menolehkan kepalanya dan menatapku,lalu
ia tersenyum dan aku membalasnya,tiba tiba saja rasa canggung menghinggapi
kami,tak ada kata ataupun kalimat yang bisa aku katakan untuk mencairkan
suasana diantara kami.
“Apa kamu lapar?”tanyaku mencoba
mencairkan suasana.
Pertanyaan bodoh.Bagaiman bisa aku
tanyakan hal itu padanya jelas jelas kami pergi untuk makan diluar.
“Ya,aku lapar,tadi aku makan hanya sedikit!”jawabnya
jujur.
Nanti kita cari makan
lagi!”seruku.
***
Kami turun dari bus dan menuju
sebuah warung untuk membeli sesuatu,dan tak lupa aku membeli nomor perdana,tapi
sayang counter ada disebrang jalan kereta sementara kami ada disebrangnya.
“Kamu disini dulu ya!”seruku sambil berlari
meninggalkan Dwi diwarung tempat kami membeli snack.
Aku segera mendatangi counter dan kudengar sayup
sayup sirine tanda kereta akan lewat,kulihat Dwi masih menungguku sesebrang
sambil melihat hpnya.
Dengan cepat aku memilih nomor yang
kira kira mudah diingat dan ingin segera berlari menuju tempat Dwi.
Setelah membayar aku mencoba sesegera
mungkin untuk menyebrang dan menemui Dwi,tapi sepertinya aku
terlambat baru saja akan melangkah aku melihat lampu dari Kereta mendekat dan
bertanda kereta sudah dekat.Aku melambaikan tangan pada Dwi dan sepertinya ia
melihatku dan sepertinya akan melambikan tangan juga padaku tapi pemandangan
itu tak dapat kusaksikan karena kereta sudah memotong pandanganku untuk
melihatnya.
Entah apa yang terjadi tiba tiba aku
merasakan sesuatu,sepertinya aku akan kehilanganya,melihat aku berada jauh dari
Dwi,seperti sebuah firasat,mungkinkah ia akan meninggalkanku.
Setelah kereta lewat aku segera berlari
menuju Dwi yang masih berada ditempatnya.
Sesampainya disebrang ternyata kereta melintas dari
arah yang berlawanan,Kulihat Dwi tampak terkejut melihat kenekatanku,begitu
juga aku yang tak tahu menahu jika masih ada kereta yang melintas.
Wajah kesal Dwi menyambutku,dan dengan kesal ia
memukul lenganku dan sepertinya ia mengomel.
“Aku ga papa!”seruku meyakinkan.
Kami kembali melanjutkan perjalanan,menelusuri jalan
setapak yang menujunrumah kami.Seanjang jalan kami memakan snack yang
kami,untuk mengganjal perut kami yang sudah kembali lapar.
“Berhadiah langsung!”seruku membaca tulisan yang ada
di bungkus snack,dan dengan rasa penasaran aku mencari hadiah itu.
Setelah beberapa saat mencari akhhirnya aku
menemuknya,sebuah cincin plastik berwarna pink,terbungkus plastik transparant.
“Bagus juga!”seruku,dan sebuah ide iseng muncul
diotaku.
“Dwi!”panggilku,sambil menarik lengan tanganya.
Sejenak kami berhenti dan Dwi menatapku aneh dan
bertanya tanya.
Perlahan aku tarik tangannya kirinya yang kosong dan
dengan segera kumasukan cincin plastik pada jari manis Dwi.
Kulihat Dwi tersenyum Malu malu,dan begitu juga
denganku.
“Lain kali kubelikan yang asli!”seruku sambil cengar
cengir tak jelas.
Dwi hanya tersenyum dan sepertinya tanpak senang.Dan
kami melnjutkan perjalanan kami.
Kami berjalan beriringan tak henti hentinya aku
memikirkan tentang pikiran yang melintas tadi.
Rasanya aku ingi kenggenggam tangan Dwi yang mengayun
di samping badannya.
Dan dengan keberanianku kutarik tangan Dwi dan
mengandengnya,seketika Dwi tampak terkejut dan melihatku,kurasakan ia akan
menarikanya tapi kutahan sebelum ia benar benar menriknya.
“Ayo cepat,hari sudah makin malam!”seruku tanpa
menatapnya.
Kugenggam tangannya yang kecil dengan erat,terasa
dingin dan basah.Dengan hati hati kulirik dia yang diam.Aku merasa Dwi tampak
beda,ia menjadi lebih banyak diam.Ia tak seperti yang aku kenal,ia begitu
berbeda sejak tadi,ia seperti banyak memiliki hal yang perlu dipikirkan.
Aku masih menggengam tangan Dwi,menggengamnya
erat.Entah apa yang terjadi dengan hatiku,kali ini aku merasa ada yang
berbeda,aku merasa lebih tenang,damai,dan nyaman.
Kurasakan tangaku digenggam,tak seperti beberapa saat
lalu,aku merasakan hanya aku yang menggenggam tangannya.Perlahan kutolehkan
kepalaku untuk melihatnya.dan kulihat Dwi menatapku.
Kuhentikan langkahku dan kutatap wajahnya dalam
kegelapan jalan.
“Kamu kenapa?,kenapa liat aku seperti itu.”tanyaku
sambil menatap wajahnya.
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi pada Dwi,tiba
tiba ia memeluku dan diam.
“Kamu kenapa?”tanyaku yang menjadi begitu bingung.
Dwi tak mengubah posisinya dan terpaksa aku menjauhkan
tubuh Dwi dari tubuhku,walaupun aku merasa nyaman dengan keadaan kami tadi.
“Kamu kenapa?”tanyaku sambil menatap wajahnya,kulihat
ada kilatan kecil diwajahnya dan sepertinya ia menangis,perlahan kusapu
airmatanya dan mencoba mencari tahu apa yang membuatnya menangis.
“Kamu kenapa?”tanyaku lagi masih menunggu jawabanya.
Dwi menggeleng “Tidak papa!”.
Menariku
tanganku dan mengajaku untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Aku tak dapat berbuat apa apa dan sepertinya aku harus
melupakan hal yang baru terjadi tadi.
***
Sampainya dirumah aku menyuruhnya untuk berganti
pakaian ataupun jika ia ingin mandi silahkan.
Dan selama ia melaksanakan perintahku,aku diam diam
membuatkan kejutan untuknya.Akuarium yang aku beli diam diam aku mulai buka dan
aku mempersiapkan semuanya,mulai dari menghias dalamnya yang diisi batu batu
berwarna dan pepohonan air.Air dan beberapa ikan hias yang berisi beberapa
macam jenisnya.
Dan yang terakhir adalah memasang mesinnya yang berupa
mesin pembuat gelembuang agar Ikan bisa bertahan hidup.
Ternyata mesin airnya cukup berisik dan mungkin
mengundang perhatian.
Selesai menghias semuanya aku duduk didipan dan
menunggu Dwi datang dan mengejutkannya dengan mengadirkan akuarium itu dirumah.
Aku menunggu Dwi keluar dari kamarnya sambil
mengaktifkan nomor yang aku beli kedalam hp yang aku beli tadi.
Tiba tiba Dwi menepuk punggungku yang memang sejak
tadia aku membelakangi akuarium,ataumungkin aku terlalu fokus pada alat yang
sedang aku pegang.
Kulihat Dwi berdiri dihadapanku dan menatapku tanpa
berkedip.
Aku tak tahu apa yang terjadi padanya tapi pandanganya
cukup aneh dan membuatku cukup merasa aneh.
Sejenak aku terdiam menikmati kecantikan wajahnya yang
jaraknya tidak terlalu jauh dari wajahku.Tapi akal sehatku menyadarkannku,dan
dengan segera aku bergeser dan buka suara.
“Kamu sudah melihatnya!”tanyaku sambil
tersenyum,karena tiba tiba aku menjadi merasa canggung padanya dengan jarak
kami yang menjadi begitu dekat.
Dwi hanya menoleh dan tersenyum,lalu ia menulis
sesuatu di hpnya.
Aku menungunya dengan perasaan yang tiba tiba menjadi
berbeda,sepertinya akan terjadi sesuatu terhadap kami.
“AKU AKAN MELAKUKAN SESUATU PADA KAKAK YANG AKU YAKIN
KAKAK TIDAK AKAN MELAKUKANNYA JIKA DALAM KEADAAN SADAR!!”Tiba tiba Dwi berseru.
Aku cukup terkejut dengan ucapan Dwi itu,dan membuatku
berfikir apa aku pernah melakukan sesuatu pada Dwi bebrapa hari lalu saat aku
mabuk.
Selesai aku membaca pesan itu kulihat Dwi melai
mendekatiku,makin dekat dan ia mencondongkan wajahnya padaku seperti akan
menciumku,aku terpaku,dan bingung apa yang harus aku lalukan,menghindarinya
ataupun membiarkannya,lagipula aku pun terkadang ingin melakukannya.
“Kamu ingi mencium kakakmu?”tanyaku mengodanya.ketika
wajah kami sudah sangat dekat.
Dwi berhenti sejenak dan menatapku,tapi tidak
menggubris candaanku,bahkan ia semakin mendekat,jantungku makin terpacu ketika
kurasakan bibir kami saling menempel tapi tak ada pergerakan.
Dwi menarik diri dariku dan dengan cepat kutarik
dia.Sepertinya aku ingin menciumnya lagi.
Belum sempat aku menciumnya untuk yang
kedua,ataumungkin untuk yang ketiga kali,tiba tiba lampu mati dan membuatku
terkejut.Kurasakan Dwi kaget dan aku tahu ia takut gelap.
“Tenang,aku akan cari lilin!”seruku sambil bangkit
dari tempatku.
Sayup sayup kudengar suara pintu rumahku dibuka paksa
dan sepertinya ada yang masuk.
“Jangan bergerak!!!”
Tiba tiba lampu menyala dan kulihat Dua orang berdiri
dihadapanku sambil menodongkan pistol kepada diriku.
“Siapa kalian ?”tanyaku terkejut dn kulihat Dwi berlai
berlindung dibelakangku.Aku menoleh pada Dwi dan memintanya untuk tetap tenang
dan tetap bersamaku.
“Angkat tangan kamu!”seru orang itu padaku.
Aku mengangkat tangan dan begitu pula dengan Dwi
mengikutiku.
Tiba tiba beberapa orang menyusul masuk dan kulihat
mereka adalah orang orang yang aku lihat di mall tadi sore.
“Apa mereka mengikutiku!”tanyaku dalam hati.
Kulihat salah satu dari mereka mendekatiku dan tiba
tiba menarik Dwi dari belakangku.Dwi meronta tapi mereka lebih kuat.
“Jangan sentuh Dwi!”teriaku sambil menarik tangan Dwi
tapi tiba tiba orang yang memegang pistol itu mendekatiku dan menahanku dan
memiting tanganku dan memborgolku.
Aku tak bisa berbuat apa apa aku hanya bisa melihat
Dwi dibawa paksa dan aku hanya diam saja dengan borgol mengikat tanganku.
Aku digiring paksa oleh mereka yang mengaku sebagai
polisi.Dengan langkah berat aku masuk kedalam mobil polisi,dan dari balik kaca
mobil kulihat Dwi bersama dengan laki laki berpenampilan rapi itu,Dwi tanpak
diam saja dan tiba tiba laki laki itu memeluk Dwi.Seketika rasa cemburu masuk
kedalam hatiku dan membuatnya sesak.
Dan mobil melaju meninggalkan halaman rumahku dan juga
Dwi bersama laki laki itu yang aku sediri tak tahu,dan apa hubungannya dengan
laki laki yang disebetkan Dwi adalah penculiknya.
...........
Tidak ada komentar :
Posting Komentar