Siang Menjelang
malam aku masih dibuat penasaran dengan perkataan Nia,meskipun aku terus
menerus meyakinkan diri,itu hanya gurauan belaka.Dan jangan dipikirkan.tapi
tetap saja aku memikirkannya.
Aku masih duduk di depan toko yang sudah tutup sambil memandangi Ita dari
kejauhan yang sedang bekerja.Setiap lelaki yang berbicara dengannya menjadi
sasaran kecurigaanku.
“Apa
dia?,Mungkin dia?Atau dia?”
Aku jadi mencurigai semua orang yang dekat denganya.ini perasaan
cemburu,berlebihan atau normal!.Aku tak tahu.
Mungkin aku harus segera bertindak,atau aku akan menyesal seumur hidupku.Tetapi
keberanian didalam diriku belum terkumpul sepenuhnya.jangankan berbicara,kami
saling bertemu kontakpun aku sudah dibuat tak karuan.
Lagipula keadaan tempat itu terlihat ramai dan dia tampak sangat sibuk,jadi
mungkin bukan waktu yang tepat juka aku mengatakan hal itu sekarang.Atau
mungkin aku harus kembali kesini menunggunya untuk mengantarkannya pulang.
Dan akhirnya aku putuskan untuk kembali nanti malam,lagipula penampilanku saat
ini sangat berantakan jadi tak mungkin aku menemuinya dalam keadaan yang tak
memungkinkan seperti ini.
Aku mengayuh sepedaku menuju rumahku,dan keadaan sudah mulai gelap.Seperti
biasa sesampainya dirumah rumahku dalam keadaan gelap.
Setelah menyalakan lampu,aku egera mengambil handuk dan mandi,selesai mandi aku
tak makan,karena akau sengaja,agar aku bisa makan di tempat Ita,sebagai modus
gitu.
Kupilih baju yang akukira paling rapi dan layak untuk acara penting malam ini.
Dan aku siap untuk berangkat.Aku keluar dari rumah setelah kupastikan keadaan
rumahku sudah terkunci semua dan dalam keadaan aman.
Kukeluarkan kembali sepeda lipatku,kendaraan yang paling memungkinkan saat
ini,karena tidak mungkin aku meminjam motor atau mobil pada tetengga.
Aku mengecek semuanya dan sepertinya baik baik saja dan siap untuk diajak
berjuang dimedan perang.
Kukeluarkan sepeda dari rumahku dan segera aku mengunci pintu.
Sambil menarik nafas panjang aku naiki sepedaku itu.dan kukayuh meninggalkan
rumah.Aku melewati kebun ranbutan yang gelap dan pepohonan yang menjulang walau
tak terlalu tinggi.
Tiba tiba pandanganku teralih pada satu pohon rambutan yang terlihat ganjil
dibawah pohon itu tampak ada yang menyandar,entah apa itu,yang pasti ukurannya
besar,sebesar manusia yang sedang tidur menyandar.
Dengan perasaan takut tapi juga penasaran aku turun dari sepedaku,kucopot
senter tang sengaja aku pasang di sepeda untuk membantuku melihat dalam
kegelapan malam.
Makin dekat makin jantungku tak karuan,rasa takut menghinggapiku,tapi rasa
penasaran lebih besar membawaku menbawa,mendekati benda besar itu.
Bentuknya makin jelas,sebuah kantong dengan ukuran besar memenjang berwarna
hitam.Nyaliku menciut ketika aku berasumsi jika di dalam kantong itu adalah
mayat,tapi rasa penasaranku tetap yang merajaii,dan dengan keberanian yang
kumiliki aku mencoba untuk mendekatinya,lebih dekat dan lebih dekat.
Kini benda itu tepat dihadapanku,tak ada sesuatu ayng mencurigakan seperti
pergerakan,ataupun bau yang timbul.Dengan tangan bergetar aku mencoba membuka
kantong hitam itu.Dengan cara melubangi kantong itu.
Dan betapa terkejutnya aku,saking terkejutnya secara refleks aku seperti
terpental layaknya tersengat listrik dengan tegangan tinggi.
Aku seperti terpental beberapa meter dari tempat semula dan akupun melemparkan
senterku entah kemana.
“Apa benar
yang aku lihat tadi????’seruku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Kemudian aku mencubit lenganku dan aku merasaakan sakitnya dan ini nyata.Aku
mencari senterku yang tadi terpental dan mencoba mendekatinya kembali dan
meyakinkan diri untuk tidak kabur.
Dengan tangan gemetar,dan perasaan seperti setengah sadar aku melebarkan lubang
yang aku buat sebelumnya dan sosok yang ada didalam kantong itu makin
jelas,sesosok wajah yang berlumuran darah,seperti menonton film horor,aku sedang
berada di scene yang paling menegangkan.
Aku meyakinkan diri untuk tidak takut atupun berencana untuk kabur.
Dengan teori yang aku ketahui aku menempelkan jari telunjuku di hidung orang
itu,dan kurasakan masih ada nafasnya yang terasa begitu lemah.
“Dia
sekarat!”Seruku.
Tanpa rasa takut lagi aku membuka lebar kantong itu dan mengeluarkan orang itu
dari dalam kantong.Dia seorang wanita.Tubuhnya penuh luka dan darah pakaiannya
tampak lusuh,banyak yang sobek,dan tangannya masih terikat.Wajahnya pun penuh
darah dan luka dan sebuah kain melingkar di lehernya seperti bekas untuk
membungkam mulutnya.
“Dia,masih hidup,aku
harus menyelamatkannya!”seruku panik sambil mencoba membuka ikatan
ditanganya dan mencoba membopongnya.
“Apa dia
korban penculikan!”seruku sambil membopongnya.
Aku tak tahu harus aku bawa kemana wanita yang ada dalam gendonganku ini,yang
aku tahu aku harus segera dan cepat membawa wanita ini kerumah sakit agar
nyawanya bisa tertolong.
Pikiranku kalut dan tak bisa berfikir jernih .Aku terus menggendong wanita itu
mendekati rumah warga,sampai aku teringat pada pak Karto, beliau memiliki mobil
pick up yang biasa ia gunakan untuk mengangkut pasir.
Dengan perlahan aku menurunkan tubuh wanita itu ketanah dekat pohon.dan secepat
mungkin aku mendatangi rumah pak Karto,untunglah Saat aku sampai rumahnya pak
Karto sedang berada di teras sedang bersantai.
“De Eka!”ada
apa?Tumben malam malam main kesini!’sapa pak tua itu ramah.
“Anu pak,saya
sedang ada perlu,boleh saya pinjam mobilnya???”seruku to the point,dengan nafas
terengah yang kucoba aku sembunyikan agar tidak dicurigai.
Sejenak pak Karto terdiam dan memperhatikanku.Membuatku menjadi salah tingkah
dan takut ketahuan.
“Oh,silahkan!”serunya
sambil memberikan kunci mobil dari dalam kantong celananya.
“Mau malam
mingguan ya!”seru pak Karto yang sejak tadi melihatku.
Aku memperhatikan pakainanku yang mungkin tampak lebih rapi dari biasanya.Tapi
agak sedikit kotor,untunglah warnanya agak gelap jadi tidak begitu jelas.
Tanpa membuang waktu aku meningalkan rumah pak Karto menuju mobil pick up yqng
belum masuk garasi rumah.
Aku segera membawa mobil ketempat aku meninggalkan tubuh wanita itu,dan dengan
segera kunaikan tubuh wanita itu di bak belakang dan kututupi dengan terpal
yang memang sudah ada disana.Hal itu aku lakukan agar tidak ada yang mencurigai.
Aku mencoba membawa mobil ngebut agar nyawa wanita itu bisa tertolong,mungkin
saat ini ia sedang keritis dan aku tak tahu apakah dia bisa bertahan.
Sambil menyetir aku menghubungi dokter Reno,dokter yang aku kenal dan yang dulu
menangani orang tuaku dulu saat terjadi kecelakaan.
“Halo!,Ada apa Eka,malam malam menelepon!”seru dokter Reno santai.
“Dok,saya
butuh bantuan dokter,apa dokter ada di rumah sakit?”tanyaku cepat.
“Ya,saya masih
disini,ada apa?”
“Apa dokter
bisa menunggu saya di depan rumah sakit!,nanti saya ceritakan!”seruku dengan
nada tak karuan.
“Oke saya
tunggu!”seru dokter Reno.
“Baiklah”seruku
yang kemudian menutup telepon dan mengfokuskan kembali pada jalanan dihadapanku.
Sungguh hari ini adalah hari yang sagat melelahkan untuku,perasaanku,tenagaku
dan juga pikiranku.
Sungguh sial bagiku tiba tiba terjebak macet dan aku tak dapat
menghindarinya.Dengan perasaan tak sabar aku menunggu dan menunggu.Belum
selesai macet tiba tiba hujan datang tiba tiba,memeng bulan ini musim penghujan
tapi waktnya bagiku ini sangatlah tidak tepat.
Dengan cepat aku keluar dari mobil untuk menutupi tubuh wanita itu agar tidak
terkena hujan,dan sesekali aku memeriksa nafasnya yang menurutku semakin
lemah,dan itu membuatku makin frustasi.
***
Sampainya di rumah aku disambut oleh dokter Reno dan troli untuk membawa
korban.Aku menarik nafas panjang untuk mengurangi keteganganku,sementara dokter
Reno dan para suster menangani wanita itu.
Para pekerja medis membawa wanita itu kedalam rumah sakit sementara aku masih
berdiam di tempatku,sambil mengatur nafasku yang masih tak beraturan.
“Siapa
dia?”tanya dokter Reno menghampiriku dan menepuk pundaku.
“Ceritanya
panjang!”seruku masih terengah engah.
“Kamu mau
minum!”seru dokter Reno yaang tahu keadaanku saat itu.
“Tapi wanita
itu!!”seruku khawatir dengan nafas terengah engah.
“Di dalam ada
tenaga medis,yang akan menanganinya,dan sekarang kamu punya hutang untuk
menjelaskan hal ini.
Aku hanya menurut saja kemana dokter Reno membawaku.Beliau
membawaku keruangannya dan disanalah aku menjelaskan kronologi kejadian yang
baru aku alami itu.Yang aku kira itu seperti mimpi.
“jadi bagaimana sekarang?”tanyaku.
“kita lihat
kondisi pasien,setelah itu baru kami para dokter ambil kesimpulan!”seru
dokter Reno tenanga.
Dokter Reno adalah dteman ayahku,belau juga yang menangani kedua orang tuaku
dan adiku saat mereka mengalami kecelakaan tiga tahu yang lalu.jadi aku dan dia
sudah sangat dekat dan beliau sudah menganggaapku sebagai anaknya,walau kami
sangat jarang bertemu,lagipula siapa yang mau mendatangi rumah sakit,karena
hanya di rumah sakit saja aku bisa menemui beliau.
“Sebaiknya
kamu ganti pakaian kamu,nanti kamu masuk angin.!”seru dokter Reno yang melihatku
basah kuyup
Setelah aku berganti pakaian aku dan dokter Reno menuju ruang ICU,untuk
mengetahui keadaan wanita itu.Sudah setengah jam lebih aku menunggu tapi dakter
yang menangani wanita itu belum juga keluar.
Beberapa saat kemudian dokter keluar bersama dengan beberapa suster.Dokter itu
langsung menemui dokter Reno yang tak jauh dari tempatku berdiri,tapi biarpun
kami tidak terlalu jauh tetap saja ku tak mengerti dengan apa yang mereka
katakan.
Aku menunggu penjelasan dari dokter Reno yang tak kunjung datang nenghampiriku
untuk menjelaskan semua,sampai pada akhirnya aku amelihat wanita itu keluar
dari ruang ICU dengan pakaian yanag lebih pantas,dan tubuh penuh dengan
perban,terutama di wajahnya.
***
Dokter Reno mengajaku duduk di dekat ruang ICU.Untuk sesaat dokter Reno tak
mengatakan apa apa,ia masih terdiam dengan menatapku penuh pertanyaan didalam
otaku.
“Dia sudah
melewati masa kritisnya,untung saja kamu segera membawanya kerumah sakit,karena
dia banyak kehabisan darah,akibat luka sayatan disekujur tubuhnya.
“Dan Dia
membutuhkan banyak perawatan untuk mengembalikan kondisinya,jika kamu mau
merawatnya!”seru dokter Reno yang tak aku mengerti.
“Maksud dokter
apa?”tanyaku tak mengerti.
“Dia mengalami
banyak luka sayat disekujur tubuhnya.terutama dibagian wajahnya,yang bisa
mengakibatkan cacat,dan untuk menghindarinya dia harus menjalani operasi
plastik,dan kamu tahu biayanya ttidak sedikit.
“Tapi kalau
kamu mau menyelamatkannya tanpa mengeluarkan biaya yang besar,kamu harus
menghubungi keluarganya ataupun melaporkannya pada polisi sebagai kasus orang
hilang!”jelas Dokter Reno memberiku solusi!”
“Polisi!”seruku
sambil menelan air liur.
“ya
polisi,kamu harus berhubungan dengan mereka kembali!seru Dokter Reno yang tahu
seberapa bencinya aku pada polisi.
Aku masih trauma jika harus berurusan dengan polisi,semua itu disebabkan
semenjak kecelakaan orang tuaku,polisi menjadikanku saksi tapi hal itu
membuatku trauma karena polisi memaksaku untuk terus mengingat tentang kejadian
yang menyakitkan itu.Mereka tak tahu betapa memilukannya peristiwa itu yang
sangat menyakitkan sementara aku harus terus menerus mengingatnya,sementara
jiwaku mencoba untuk melupakannya.
Jika aku melaporkan wanita itu sebagai korban penculikan atau orang
hilang,mungkin akupun akan menjadi saksi lagi dan aku tak mau hal itu
terjadi,apalagi aku hanya menjadi orang yang tak tahu menahu,sementara aku yang
menemukannya.
“Sebaiknya
kita menunggu dia siuman!”seruku mencoba menenangkan pikiran.
Setelah berbicara beberapa hal Dokter Reno meninggalkanku sendiri di dekat
ruang ICU,Sementara aku masih terus berfikir apa kiranya yang harus aku lakukan
terhadapwanita itu,orang asing yang tiba tiba masuk kedalam hidupku yang rumit
dan menjadi begitu penting.
Aku bangkit dari tempatku dan aku berjalam menuju kamartempat wanita itu
dirawat.
Dokter Reno menaruh wanita itu entah di kelas berapa.tapi tampaknya tempat itu
sangat nyaman,aku mengintipnya dari balik kaca.Kulihat hampir seluruh wajahnya
tertutupi oleh perban,begitu juga dengan lengan dan kakinya.
“Apa dia
korban kekerasan yang dicoba untuk dibunuh,tapi ternyata masih hidup!”seruku
berasumsi.
“Siapa wanita
itu?,malang sekali nasibnya!”seruku sambil terus memperhatikannya.
***
Menjelang tengah malam aku kembali kerumahku sambil mengembalikan mobil yang
aku pinjam.Dan meninggalkan wanita itu dirumah sakit,sampai ia siuman dan
barulah aku akan melakukan introgasi pasanya.
Sampainya di rumah pak Karto,ternyata beliau belum tidur,dan masih bersantai di
depan rumahnya.
Aku langung memasukan mobil pak Karto kedalam garasi agar beliau tak usah repot
repot untuk melakukannya.
“Bagaimana
acara malam minggunya sukses??”tanya pak Karto dengan nada meledek.
Aku hanya tesenyum,sambil mengembalikan kunci mobilnya.
“Seperti
biasa!”seruku singkat.
“Pak saya mau
langsung permisi saja,sudah tengah malam,maaf kalau saya menggangu!”Seruku.
“Tidak
merepotkan,bapak juga sedang bermalam minggu dengan hujan!”seru pak Karto yang
seorang duda.
“Bapak
ini,bisa saja!”seruku yang kemudian pamit untuk pulang.
Dengan menyalakan senter aku menelusuri jalan menuju rumahku,dan aku bersyukur
sepedaku yang aku letakan sembarang masih berada dirempatnya,ini menamdakan tak
ada orang yang melewati jalan ini selama aku pergi.Tiba tiba aku teringat
dengan kantong plastik bekas yang digunakan untuk membungkus wanita malang itu.
Kuarahkan sinar senter ketempat dimana aku menemukan wanita itu,dan ternyata
masih ada di rempatnya,dengan segera kuambil kantong itu dan kuremas menjadi
bagian yang kecil dan kubawa pulang sambil mengayunkan sepedaku.
Sampainya di rumah ku kunci semua pintu dan kumasukan plastik itu disela sela
rak sepatu yang sudah aku gunakan lagi.
Aku langsung mengambil handuk dan bergegas mandi,tubuhku sudah lengker oleh
kringat dan air hujan malam ini.Dan aku tak sempat makan,dan semua rencanaku
gagal semua.
Selesai mandi aku mencoba menahan rasa laparku dengan membuat kopi,karena aku
tak lagi memiliki mie instan ataupun cemilan atau semacamnya.Sambil menunggu
air mendidih,aku iseng membuka internet dan mengecek berita tentang penculikan
itu,barangkali wanita itu dalah korbanya walaupun aku sangat tidak yakin,tapi
kalau tidak dicoba mana tahu,aku membaca setiap artikel yang aku temukan
tentang penculikan itu,mengenai ciri ciri wanita itu dan hal hal yang berkaitan
dengan korban penculikan itu.
Wajahnya oval,jika tersenyum akan muncul lesung pipit di pipinya,kulitnya
putih,dan matanya sipit,tingginya 165 cm,berusia 22 tahun dan sebagainya.
Aku dapat menghafal semua ciri ciri itu,tapi akan sangat susah karena wanita
yang aku tolomg belum sepenuhnya aku ketahui ciri cirinya.
Tiba tiba keheninganku terusik ketika sayup sayup kudengar suara seseorang
berbicara dari kejauhan,denganrasa penasaran yang begitu dalam,akhirnya aku
diam diam berjalan menuju ruang tamu dan menyibak sedikit goden jendela.Dari
tempatku berada aku tak dapat melihat dengan jelas kedepan tapi instingku
berkata ada seseorang diluar sana,entah itu satu ataupun dua,atau mungkin
tiga.Makin lama makin aku perhatijkan aku dapat melihat dengan jelas sosok yang
dari tadi tak tampak.
Dia seorang pria dengan tubuh tinggi besar dan seorang tenanya dengan tinggi
lebih pendek dari orang pertama.
“Mungkinkah
mereka mencari wanita itu!”seruku menebak.
Tapi entahlah,sesaat kemudian dua orang itu pergi dari tempat itu dengan
menghilangnya suara mereka dari pendengaranku.
Aku penasaran tapi aku juga tak mau ambil resiko,dengan mencari tahu tentang
mereka,yang penting mereka tidak menggangguku.Dan jika asumsiku benar maka
mereka akan mendapatkan masalah dariku.
Aku kembali keruang tengah dan mendapati air rebusanku sudah mendidih.
Aku cepat menyedu kopi yang aku hatap bisa mengurangi rasa laparku yang melanda
malam ini.
Setelah menikmati beberapa teguk kopi malam ini,mataku tak mengantuk lagi
apalagi pagi ini ada pertandingan bola yang tak mungkin aku lewatkan,sebenarnya
bisa saja aku lewatkan tapi sudah tanggung jika aku harus melewatkannya,toh
mataku juga belum mengantuk jadi apa salahnya jika aku menikmati pertandingan
bola malam ini.
Sambil mengecas hpku,aku menikmati pertandingan bola itu sampai akhirnya aku
terpulas dan tak tahu apa yang terjadi lagi.
***
Pagi ini aku dibangunkan oleh keterkejutan yang luar biasa,aku bangun pukul 8
pagi,ketika suara ringtone hpku berbunyi dan itu dari Nia teman satu kerjaku.
“Ka,kamu
libur?”tanya Nia dengan suara khasnys yang cempreng.
“Iya,tolong
bilangin ke bos,aku libur hari ini,aku sakit,kepalaku pusing semalam abis
keujanan!”seruku beralasan,walau lasanya sebenarnya karena aku telat bangun,dan
mungkin hujan semalam juga ikut ambil alih pusingku saat ini,atau mungkin hanya
pusing yang disebabkan oleh keterkejutanku pagi ini.
Setelah aku menutup telepon dari Nia aku bangun dari tempat tidurku,dan segera
menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku agar terasa lebih segar lagi.
Tapi belum sempat aku masuk kedalam kamar mandi kembali suara ringtone
teleponku berbunyi dan kali ini datang dari Dokter Reno. Cepat cepat aku
mengangkatnya.
“Halo!”seruku
cepat.
“Eka,hari ini
kamu sibuk?”tanya dokter Reno yang tumben menanyakan hal itu.
“Tidak,hari
ini aku libur!,ada apa dok?”tanyaku penasaran.
“Wanita itu
sudah sadar dan ternyata tak sesuai dengan tebakan kita,kamu biasa datang
kerumag sakit hari ini?sebaiknya kita bicara langsung supaya lebih jelas!”seru
dokter Reno,
“Oke dok,aku
segera datang!”seruku.
Setelah menutup telepon aku segera mandi,sebelumnya aku sudah menebak pasti
dokter Reno meneleponku mengabarkan tentang wanita itu,tapi yang membuatku
penasaran ada apa dengan wanita itu,hingga membuat dokter Reno mengajaku
bertemu dan berbicara empat mata.
Setelah selesai dan semua beresa ku segera pergi menuju rumah sakit,aku tak
membwa sepedaku,karena tidak akan efektf jika aku harus membawa sepeda kerumah
sakit yang jaraknya berkilo kilo meter,Bukan sepedaku tak mampu melaluinya tapi
aku sayang untuk menggunakannya.
Aku berjalan menuju jalan raya dan barulah aku naik bis menuju rumah sakit.Tak
membutuhkan waktu lama untuk sampai kerumah sakit itu,apalagi jalanan hari
minggu ini begitu lancar tanpa harus bertemu dengan yang namanya macet,mungkin
komo sedang liburan jadi jalanan tak macet.
Sampainya dirumah sakit aku langsung menuju ruangan dokter Reno,dan disanalah
beliau menjelaskan sesuatu ayng tak bisa beliau jelaskan lewat telepon.
”AMNESIA!!!!”
Aku terkejut setengah mati,bagaimana ini,bagaimana aku bisa mencari tahu
tentang keluarganya,kalau dia saja tidak tahu tentang siapa dirinya.
“Ini
disebabkan oleh benturan keras yang mengenai kepalanya,”seru dokter Reno.
“Lalu apa yang
harus aku lakukan?”tanyaku pada dokter Reno bingung.
“Cuma ada dua
pilihan Eka!,kamu rawat dia atau kamu laporkan pada polisi sebagai korban
penculikan ataupun orang hilang!”
Mendengar kata polisi tubuhku langsung mengkerut dan tak tahu harus berbuat apa
apa.
“Apa aku harus
merawatnya sampai ingatanya kembali?”tanyaku datar.
“Iya,kamu bisa
merawatnya dirumah sakit atau di rumah,kalau dirumah sakit mungkin biayanya
akan besar,tapi dia akan mendapatkan perawataan teratur terutama wajahnya,
“Saya yakin
dia sebagai wanita akan merasa minder jika mendapati wajahnya tak semulus
seperti semula.tapi tentu biaya akan besar,Sementara kalau kamu rawat sendiri
mungkin akan cepat pulih karena suasana rumah akan membantu pemulihan bagi
mereka yang sakit.tapi ya itu,dia akan mengalami cacat dan pasti cepat atau
lambat ia ingin melakukan operasi plastik.
“Tapi aku kan
bukan siapa siapa dia!”seruku protes.
“Untuk saat
ini jika kamu mengaku sebagai anggota keluarganya maka ia akan percaya dan
menganggap dirimu keluarganya.
Kabar itu sungguh membuat kesehatanku benar benar menjadi drop dan sepertinya
aku benar benar sakit.
Dengan ragu aku berjalan menuju kamar wanita itu yang belum aku ketahui siapa
namanya.Dari balik kaca aku melihatnya tampak kebingungan,matanya menatap
kosong,wajahnya tak dapat aku kenali,karena perban masih menempel diwajahnya.
Apa aku harus berpura pura menjadi anggota kelurganya?.jika tidak mungkin dia
akan terus menginap dirumah sakit ini dan tentu biaya akan sangat besar,tapi
jika ia kubawa kerumah,bagaimana dengan tetanggaa?.apa tanggapan mereka
terhadap kami.
Ini keputusan yang sangat sangat sulit untuk aku ambil banyak hal yang harus
aku pikirkan.
“Kamu
akan menemuinya sekarang?tanya dokter Reno sambil menepuk punggungku dan
membuatku terkejut.
“Aku bingung,dok!”seruku galau.
“Kamu tidak
akan tahu kalau kamu tidak mencobanya!”seru dokter Reno menyemangatiku.
“Tapi kita
akan tinggal satu rumah dan hanya berdua!”seruku beralasan
“Kamu takut
akan terjadi sesuatu pada kalian suatu saat nanti?”seru dokter Reno dengan nada
meledek.
“Bukan
itu,tapi tanggapan tetangga terhadap kami nanti,dan hal itu juga menjadi
pikiranku juga”seruku kemudian.
Dokter Reno menepuk punggungku dan kemudian berbisik.
“Tuhan akan
melindungi orang yang baik!’seru Dokter Reno.
Setelah beberapa lama dokter Reno meyakinkanku akhirnya aku memutuskan untuk
merawatnya di rumah dengan segala resiko yang mungkin akan terjadi.
Dengan langkah ragu aku melangkah mendekati pintu masuk,perlahan kubuka pintu
dan sambil menarik nafas panjang kudorong pintu itu dan ketika kubuka pintu
mata kami langsung bertemu,rasa yang luarbiasa menghampiriku dan rasanya aku
ingin berlari dari tempat itu,dari situasi ini.tapi sepertinya kakiku terlalu
lemah untuk berlari.
Kembali aku menarik nafas dan aku mulai mendekatinya menatap matanya yang terus
mengawasiku,menatapku dengan penuh pertanyaan dan aku akan menjawab semua
pertanyaan itu.
“Bagaimana
keadaanmu?”tanyaku basa basi dengan sikap sebiasa mungkin walau dalam diriku
gugup dan tegang luar biasa.
“Siiapa
kamu?”Tanyanya dengan nada seperti seorang yang sedang ketakutan.
“A...Aku,aku
saudaramu!”seruku gagap dan tak bisa menyembunyikan kegugupanku.
Tiba tiba saja wanita itu menariku dan memeluk pinggangku dan menangis.
“Jangan
tinggalkan aku lagi,aku sangat takut!!!”serunya dalam tangisnya.
Dengan perasaan canggung aku mencoba melepas pelukannya perlahan agar tidak
menyakitinya dengan keadaanya saat ini yang seperti mumi setengah jadi.
“Aku ga akan
meninggalkanmu,aku hanya pergi sebentar tadi!’seruku beralasan dan rasa
canggung dalam diriku perlahan mulai menghilang.
“Apa yang
terjadi denganku?,mengapa aku tak ingat apapun?”serunya sedih.
“Semua akan
baik baik saja!’kataku yang tak tahu harus berkata apalagi untuk menenangkannya.
Akhirnya perkenalanku berjalan lancar kebiasaanku yang selalu cangung jika
berhadapan dengan wanita sedikit berkurang setelah aku berinteraksi denagn
wanita itu.
“Siapa
namaku?”tanya wanita itu menataapku tajam.
Mataku terbelalak dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Nama kamu
Dwi!”seruku asal.
“Dwi, dan
kamu???”
“Eka!”jawabku
singkat.
Di tengah obrolan kami tiba tiba suara hpku berbunyi dan itu
panggilan dari Nia.
Aku segera bangkit dari tempatku menjauhkan diri dari Dwi,dan mengangkat
teleponku.
“Halo!”seruku
dengan suara lirih.
“Ka,bagaimana
kabar kamu,udah baikan?”tanya Nia yang selalu memberikan perhatian padaku,
“Lumayan!”jawabku
singkat.
“Kamu
dimana?,tadi suamiku kerumah kamu tapi rumah kamu di kunci!”
“Aku lagi di
rumah sakit!’jawabku jujur.
“Ya
ampun,sakit kamu parah?,kamu kesana sama siapa?”seru Nia yang terdengar
khawatir.
“Ga papa
kok.sebentar lagi aku pulang!”seruku agar tak membuat Nia khawatir.
“Kalau terjadi
apa apa kasih tahu aku yan,awas kalau enggak,kalau udah dapet obatnya di
minum”seru Nia yang lebih cerewet dari almarhum ibuku.
“Iya!’seruku.
Nia memang orang yang sangat perhtian,apalagi padaku,aku sudah dianggapnya
seperti adikya sendiri yang diberi perhatian penuh.
Setelah aku mematikan telepon,aku kembali menghampiri Dwi yang sudah menungguku
diatas tempat tidurnya.
Kulihat ia tersenyum dan aku balas tersenyum padanya walaupun masih terasa
canggung.
“Siapa?”tanyanya
penasaran.
“Temen
kerjaku,dia menanyakanku yang tidak masuk hari ini!”seruku jujur sambil duduk
disamping tempat tidurnya.
“Apa aku
menggangu waktu kakak!”serunya terdengar menyesal.
“Tentu
tidak,kebetulan hari ini aku juga ijin libur jadi ini bukan salah siapa
siapa!”seruku menenangkannya.
Kami mengobrol banyak hal tentang hal hal yang ia lupakan,dan jawaban yang aku
berikan semua adalah sebuah kebohongan belaka,karena aku memang benar benar
buta tentangnya,orang asing yang tiba tiba menjadi tanggung jawabku.
Ternyata benar jika kita membuat satu kebohongan,maka akan membuat kebohongan
berikutnya.Dan aku telah melakukannya.Dan mungkin itu akan terus berlanjut.
“Dwi,apakah
kamu sama sekali tidak ingat dengan apa yang terjadi padamu?”tanyaku,walau aku
tahu pertanyaan itu mungkin sangat sensitif.
Dwi tak menjawab ia hanya terdiam dan menatap tubuhnya yang dibalut oleh perban
dan kemudian ia menyentuh wajahnya.
“Apa aku
membuatmu sedih?”tanyaku yang tiba tiba menjadi merasa tak enak.
Perlahan aku mendekati Dwi,yang berada dihadapanku.Matanya tampak berkaca kaca
dan aku tahu ia seperti akan menangis.
“Maafkan
aku!”seruku
Dan tanpa aku duga tiba tiba Dwi memeluku lagi,dengan sangat erat dan ku tahu
kini ia menangis dalam pelukanku,perlahan kuangkat tanganku dan kuusap
rambutnya yang halus dan lurus.
Aku merasakan hal yang aneh,aku merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap
wanita yang sedang memeluku saat ini,Aku merasa harus melindungi dia,menjaganya
dan membuatnya merasa nyaman.
Dokter memberi tahuku jika semenjak Dwi siuman ia belum juga makan karena ia
masih syok dengan kondisinya yang sama sekali tak mengingat apa apa.
Dan dengan terpaksa aku harus memaksa,merayu,membujuknya untuk mau makan
makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
Aku tahu makanan dirumah sakit tak seenak makana dirumah ataupun di rumah
makan apapun menunya,tapi mau tidak mau pasien harus memakannya.
Dan akupun tahu keadaan Dwi saat ini mulutnya mungkin belum bisa mengunyah
makanan yang kasar,makannya pihak rumah sakit memberinya bubur.Melihat
bentuknya saja aku sudah merasa mual apalagi harus memekannya,aku kasihan pada
Dwi jika harus memakan makanan seperti bayi itu.
“Kamu mau
makan yang lainnya?”tanyaku menawari.sambil menaruh bubur yang sejak tadi ada
di tanganku,karena aku berencana untuk menyuapinya.
“Aku tidak
ingin makan apa apa!!!”jawab Dwi yang kukuh tidak mau makan apa apa.
“Kamu mau
minim sesuatu?”susu atau yang kainya???”tanyaku yang terus berusaha untuk
membujuknya.
Tanpa menjawab Dwi menggeleng dan aku makin frustasi,seperti sedang menghadapi
seorang anak kecil saja.
Baiklah kalau begitu,aku akan keluar sebentar karena aku juga ingin
makan!’seruku.
Tanpa menoleh aku pergi meninggalkan Dwi di tempatnya.dan aku pergi mencsri
kntin untuk aku mengisi perut yang sudah sejak tadi malam belum aku isi.
Setelah menyantap makananku aku berencana untuk kembali mememui Dwi dan mungkin
membujuknya kembali untuk mau makan.
Aku berjalan menuju rumah sakit dan ditengah jalan akau bertemu dengan tukang
es krim keliling dan tiba tiba saja sebuah ide muncul diotaku.
Aku membeli beberapa macam es krim dan dengan segera kubawa keruangan
Dwi.Disan aku masih mendapati mangkuk bubur itu masih utuh bertanda Dwi tidak
menyentuhnya sama sekali.
“Kamu benar
benar tidak mau makan?”tanyaku sambil menaruh bungkusan yang aku bawa diatas
meja.kulihat Mata Dwi melirik kearahnya dan dengan segera kuambil bungkusan itu
lalu aku buka.
Satu cup es cream rasa vanilla aku keluarkan dari bungkusan itu dan kulihat Dwi
tampak antusias.Dia seperti anak kecil,berapa usianya????.aku taktahu,
Perlahan kubuka penutupnya dan kuserahkan kepadanya untuk dimakan, Dengan
antusias ia menerima pemberianku dan mencoba untuk memakannya.
Kuperhatikan cara ia makan,tampak kesulitan dengan keadaan lengannya yang
hampir seluruh baguian di perban ditambah selang infus yang masih menancap
ditangannya.
“Sini,aku
suapi!”seruku sambil mengambil cup es cream yang ada di tangannya.
Dengan hati hati aku menyuapi Dwi,mulutnya belum bisa terbuka lebar,mungkin ini
pengaruh dari luka ,obat ataupun perban yang membalut wajahnya.
“Kamu benar
benar lapar dan menahannya!”seruku sedikit kesal.
Dengan lahap ia mehabiskan dua cup es cream dan tampaknya ia mulai bertenaga
lagi.
***
Hari ini aku masih meninggalkan Dwi dirumah sakit sampai dokter mengizinkannya
pulang,walau sebenarnya Dwi tak ingin aku tinggalkan tapi terpaksa haarus aku
tinggalkan,aku punya rumah dan aku punya tanggung jawab terhadap pekerjaanku
besok.
Dan sepertinya aku benar benar sakit hari ini,tubuhku terasa berat dan
pusing,mungkin karena banyak pikiran dan mandi air hujan semalam.
Sampainya dirumah aku merebahkan tubuhku di lantai ruang tamu,sambil
berbantalkan tikar.Sambil meahan rasa sakit dikepala akhitnya aku terpulas.
Entah berapa lama aku tertidur,tiba tiba aku terbangun oleh suara ketukan pintu
yang terdengar sangat menggangu dengan suara seseorang yang memanggilku.
Setengah sadar aku mencoba bangkit dari tempat aku tidur dan membuka pintu yang
hanya aku kunci slot.
Aku mengenali suara siapa yang memanggilku dan denangan malas kubuka pintu
rumahku.Dari balik pintu kulihat Nia dan......
“Ita!”
Aku terkejut bukan main ketika tahu ada Ita di depan rumahku,aku merasa sangat
berantakan saat itu,dan aku merasa tak nyaman dengan kondisiku saat ini.
“Kami ganggu
ya?”tanya Nia yang sadar diri.
“Kalau
ganggu,apa aku akan usir kalian untuk pulang!”seruku yang mencoba
menyembunyikan kegugupanku.
“Ayo
masuk!!!”seruku sambil membukakan pintu untuk mereka.
Mereka masuk kedalam rumahku yang sangat berantakan dan tak ada apa apa.
“Dokter
ngomomg apa tentang sakit kamu?”tanya Nia yang mengejutkanku.
“Dokter!”seruku
terkejut.
“Jangan bilang
yang kamu bilang tadi di telepon itu Cuma alasan!’seru Nia mengancam
Aku hanya tersenyum kecil dan malu,sementara kulihat Ita tanpak tersenyum geli.
“Aku kerumah
sakit,tapi bukan untuk berobat,aku kesana untuk berkunjung menemui saudaraku
yang sedang dirawat!”seruku beralasan dan satu kebohongan kembali telah aku
buat.
“Kamu punya
saudara?,kenapa ga bilang!”seru Nia sewot.
“Saudara
jauh!”jawabku asal.
“Jadi kamu
belum minum obat!”tebak Nia.
Aku mengangguk pelan seperti anak kecil dan seperti orang bodoh di depan Ita
yang sejak tadi hanya terdiam dan memperhatikan aku dan Nia.
Memperhatikan adegan seperti kakak yang sedang dimarahi oleh adiknya.
“Ya udah aku
beli obat dulu!”seru Nia yang langsung bangkit dari duduknya.
“Ga usah,aku
ga papa kok Cuma pusing!”seruku sambil ikut berdiri mengikuti Nia.
“Kamu kan lagi
hamil,jangan capek capek!”cegahku.
“Hamil aku
sehat jadi jangan khawatir.
“Ta,tolong ya
masakin air,semuanya ada di dapur,kamu masuk aja,anggap aja rumah sendiri,rumah
ini emang ga ada penghuninya kan!”seru Nia dengan nada meledek.
Nia memang sudah biasa keluar masuk kedalam rumahku,sudah bukan rahasia lagiia
tahu seluk beluk rumahku,dan kebiasaanku yang jarang sekali membersihkan rumah.
Nia telah pergi meninggalkan kami berdua,hanya aku dan Ita,Untuk beberapa saat
tak ada suara diantara kami,sampai akhirnya Ita duluan ayng membuka suara.
“Kalau sakit
seharusnya kamu minum obat bukan hanya dibawa tidur!”seru Ita yang mulai seperti
Nia.
“Aku tidak
sakit,hanya sedikit pusing!”seruku beralasan dengan rasa grogi luar biasa.Baru
kali ini aku bisa berbicara sedekat ini tanpa ada orang lain diantara
kami.biasanya ada pihak ketiga yang menjadi tempatku melarikan diri dari
kekikukan dalam menghadapi Ita.
“Awalnya
mungkin hanya pusing tapi kalau dibiarkan bisa jadi parah!”serunya yang begitu
membuatku menjadi salah tingkah.
Tiba tiba Ita bangun dari tempatnya dan memperhatikan kesekitar rumahku,
“Di
dapurnya?”tanya Ita.
“Kamu mau ngapain?”tanyaku
terkejut.
“Dimana?”tanya
Ita dengan nada sedikit meninggi.
Aku tak bertanya lagi dan segera aku antakan dia kedapurku yang tampak begitu
berantakan.
Sampainya didapur Ita melakukan hal yang sepertinya sudah ia ketehui apa yang
harus ia lakukan.
“Sebaiknya
kamu istirahat didepan,aku ga akan mencuri kok!”seru Ita yang secara tepat
menyentilku.
Sebenarnya bukan maksudku untuk mengawasi apa yang ia lakukan di dapurku,aku
hanya ingin memperhatikannya,memandanginya dari jarak yang begitu dekat seperti
saat ini.kesempatan yang menurutku sangat langka dan tak ada kesempatan kedua.
“Baiklah!”seruku
pasrah.
Aku kembali ke ruang tamu danmenyandarkan tubuhku diatas tumpukan tikar dan
sepertinya kepalaku memng benar benar sudah terasa sangat sakit dan aku kembali
terlelap.
Entah berapa lama aku kembali terlelap sampai akhirnya aku kembali terbangun
karena suara Nia membangunkanku.
Aku bangun dan kulihat satu piring nasi dengan lauk yang merupakan
kesukaanku,telur dadar dan opor ayam.Mungkin Nia membelikannya untuku.
“Ayo makan
dulu nanti baru minum obatnya.”seru Nia yang sudah menyiapkan obat yang dapat
menyembuhkan sakit kepala,flu,dan batuk.
Aku melahap makanan yang memang untuku,dan setelah itu barulah aku meminum obat
yang telah disediakan.
Harusnya aku memenfaatkan waktu yang mungkin sudah dituliskan untuku,waktu yang
harusnya aku gunakan untuk mengungkapkan perasaanku terhadap Ita,tapi sayang
aku telah menyia nyiakan waktu itu dan sepertinya aku menyesalinya.Dan kini
hanya rasa menyesal yang sedang aku rasakan.
Setelah aku memakan obatku,Nia dan Ita pamit untuk pulang dan dengan berat hati
aku melepas mereka pergi.Dan yang paling membertkan hatiku adalah,aku
melepaskan Ita tanpa aku memberitahunya kalau aku menyukainya.
Mungkinlah akan ada kesempatan kedua itu?apakah aku akan menemukan kesempatan
itu.Bodohnya aku,seharusnya aku lebih bisa menahan rasa sakit kepalaku dan
memanfaatkan moment untuk berbicara padanya.Bodohnya aku.
Setelah meratapi kesalahanku,aku kembali masuk kedalam rumahku dan mencoba
untuk menerima apa yang baru terjadi tadi.Menyesal pasti,dan mungkin
penyesalanku terbesar saat ini dan yang terbaru.
..................
Tidak ada komentar :
Posting Komentar