Senin, 16 Desember 2013

FAL'LOVE IN LOST Parts 02

  Siang Menjelang malam aku masih dibuat penasaran dengan perkataan Nia,meskipun aku terus menerus meyakinkan diri,itu hanya gurauan belaka.Dan jangan dipikirkan.tapi tetap saja aku memikirkannya.
     Aku masih duduk di depan toko yang sudah tutup sambil memandangi Ita dari kejauhan yang sedang bekerja.Setiap lelaki yang berbicara dengannya menjadi sasaran kecurigaanku.
“Apa dia?,Mungkin dia?Atau dia?”
     Aku jadi mencurigai semua orang yang dekat denganya.ini perasaan cemburu,berlebihan atau normal!.Aku tak tahu.
    Mungkin aku harus segera bertindak,atau aku akan menyesal seumur hidupku.Tetapi keberanian didalam diriku belum terkumpul sepenuhnya.jangankan berbicara,kami saling bertemu kontakpun aku sudah dibuat tak karuan.
     Lagipula keadaan tempat itu terlihat ramai dan dia tampak sangat sibuk,jadi mungkin bukan waktu yang tepat juka aku mengatakan hal itu sekarang.Atau mungkin aku harus kembali kesini menunggunya untuk mengantarkannya pulang.
    Dan akhirnya aku putuskan untuk kembali nanti malam,lagipula penampilanku saat ini sangat berantakan jadi tak mungkin aku menemuinya dalam keadaan yang tak memungkinkan seperti ini.
   Aku mengayuh sepedaku menuju rumahku,dan keadaan sudah mulai gelap.Seperti biasa sesampainya dirumah rumahku dalam keadaan gelap.
    Setelah menyalakan lampu,aku egera mengambil handuk dan mandi,selesai mandi aku tak makan,karena akau sengaja,agar aku bisa makan di tempat Ita,sebagai modus gitu.
    Kupilih baju yang akukira paling rapi dan layak untuk acara penting malam ini.
      Dan aku siap untuk berangkat.Aku keluar dari rumah setelah kupastikan keadaan rumahku sudah terkunci semua dan dalam keadaan aman.
      Kukeluarkan kembali sepeda lipatku,kendaraan yang paling memungkinkan saat ini,karena tidak mungkin aku meminjam motor atau mobil pada tetengga.
      Aku mengecek semuanya dan sepertinya baik baik saja dan siap untuk diajak berjuang dimedan perang. 
     Kukeluarkan sepeda dari rumahku dan segera aku mengunci pintu.
      Sambil menarik nafas panjang aku naiki sepedaku itu.dan kukayuh meninggalkan rumah.Aku melewati kebun ranbutan yang gelap dan pepohonan yang menjulang walau tak terlalu tinggi.
    Tiba tiba pandanganku teralih pada satu pohon rambutan yang terlihat ganjil dibawah pohon itu tampak ada yang menyandar,entah apa itu,yang pasti ukurannya besar,sebesar manusia yang sedang tidur menyandar.
    Dengan perasaan takut tapi juga penasaran aku turun dari sepedaku,kucopot senter tang sengaja aku pasang di sepeda untuk membantuku melihat dalam kegelapan malam.
     Makin dekat makin jantungku tak karuan,rasa takut menghinggapiku,tapi rasa penasaran lebih besar membawaku menbawa,mendekati benda besar itu.
      Bentuknya makin jelas,sebuah kantong dengan ukuran besar memenjang berwarna hitam.Nyaliku menciut ketika aku berasumsi jika di dalam kantong itu adalah mayat,tapi rasa penasaranku tetap yang merajaii,dan dengan keberanian yang kumiliki aku mencoba untuk mendekatinya,lebih dekat dan lebih dekat.
      Kini benda itu tepat dihadapanku,tak ada sesuatu ayng mencurigakan seperti pergerakan,ataupun bau yang timbul.Dengan tangan bergetar aku mencoba membuka kantong hitam itu.Dengan cara melubangi kantong itu.
     Dan betapa terkejutnya aku,saking terkejutnya secara refleks aku seperti terpental layaknya tersengat listrik dengan tegangan tinggi.
     Aku seperti terpental beberapa meter dari tempat semula dan akupun melemparkan senterku entah kemana.
“Apa benar yang aku lihat tadi????’seruku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
    Kemudian aku mencubit lenganku dan aku merasaakan sakitnya dan ini nyata.Aku mencari senterku yang tadi terpental dan mencoba mendekatinya kembali dan meyakinkan diri untuk tidak kabur.
      Dengan tangan gemetar,dan perasaan seperti setengah sadar aku melebarkan lubang yang aku buat sebelumnya dan sosok yang ada didalam kantong itu makin jelas,sesosok wajah yang berlumuran darah,seperti menonton film horor,aku sedang berada di scene yang paling menegangkan.
     Aku meyakinkan diri untuk tidak takut atupun berencana untuk kabur.
     Dengan teori yang aku ketahui aku menempelkan jari telunjuku di hidung orang itu,dan kurasakan masih ada nafasnya yang terasa begitu lemah.
“Dia sekarat!”Seruku.
    Tanpa rasa takut lagi aku membuka lebar kantong itu dan mengeluarkan orang itu dari dalam kantong.Dia seorang wanita.Tubuhnya penuh luka dan darah pakaiannya tampak lusuh,banyak yang sobek,dan tangannya masih terikat.Wajahnya pun penuh darah dan luka dan sebuah kain melingkar di lehernya seperti bekas untuk membungkam mulutnya.
“Dia,masih hidup,aku harus menyelamatkannya!”seruku panik sambil mencoba  membuka ikatan ditanganya dan mencoba membopongnya.
“Apa dia korban penculikan!”seruku sambil membopongnya.
    Aku tak tahu harus aku bawa kemana wanita yang ada dalam gendonganku ini,yang aku tahu aku harus segera dan cepat membawa wanita ini kerumah sakit agar nyawanya bisa tertolong.
     Pikiranku kalut dan tak bisa berfikir jernih .Aku terus menggendong wanita itu mendekati rumah warga,sampai aku teringat pada pak Karto, beliau memiliki mobil pick up yang biasa ia gunakan untuk mengangkut pasir.
     Dengan perlahan aku menurunkan tubuh wanita itu ketanah dekat pohon.dan secepat mungkin aku mendatangi rumah pak Karto,untunglah Saat aku sampai rumahnya pak Karto sedang berada di teras sedang bersantai.
“De Eka!”ada apa?Tumben malam malam main kesini!’sapa pak tua itu ramah.
“Anu pak,saya sedang ada perlu,boleh saya pinjam mobilnya???”seruku to the point,dengan nafas terengah yang kucoba aku sembunyikan agar tidak dicurigai.
   Sejenak pak Karto terdiam dan memperhatikanku.Membuatku menjadi salah tingkah dan takut ketahuan.
“Oh,silahkan!”serunya sambil memberikan kunci mobil dari dalam kantong celananya.
“Mau malam mingguan ya!”seru pak Karto yang sejak tadi melihatku.
   Aku memperhatikan pakainanku yang mungkin tampak lebih rapi dari biasanya.Tapi agak sedikit kotor,untunglah warnanya agak gelap jadi tidak begitu jelas.
      Tanpa membuang waktu aku meningalkan rumah pak Karto menuju mobil pick up yqng belum masuk garasi rumah.
     Aku segera membawa mobil ketempat aku meninggalkan tubuh wanita itu,dan dengan segera kunaikan tubuh wanita itu di bak belakang dan kututupi dengan terpal yang memang sudah ada disana.Hal itu aku lakukan agar tidak ada yang mencurigai.
     Aku mencoba membawa mobil ngebut agar nyawa wanita itu bisa tertolong,mungkin saat ini ia sedang keritis dan aku tak tahu apakah dia bisa bertahan.
    Sambil menyetir aku menghubungi dokter Reno,dokter yang aku kenal dan yang dulu menangani orang tuaku dulu saat terjadi kecelakaan.
     “Halo!,Ada apa Eka,malam malam menelepon!”seru dokter Reno santai.
“Dok,saya butuh bantuan dokter,apa dokter ada di rumah sakit?”tanyaku cepat.
“Ya,saya masih disini,ada apa?”
“Apa dokter bisa menunggu saya di depan rumah sakit!,nanti saya ceritakan!”seruku dengan nada tak karuan.
“Oke saya tunggu!”seru dokter Reno.
“Baiklah”seruku yang kemudian menutup telepon dan mengfokuskan kembali pada jalanan dihadapanku.
    Sungguh hari ini adalah hari yang sagat melelahkan untuku,perasaanku,tenagaku dan juga pikiranku.
     Sungguh sial bagiku tiba tiba terjebak macet dan aku tak dapat menghindarinya.Dengan perasaan tak sabar aku menunggu dan menunggu.Belum selesai macet tiba tiba hujan datang tiba tiba,memeng bulan ini musim penghujan tapi waktnya bagiku ini sangatlah tidak tepat.
    Dengan cepat aku keluar dari mobil untuk menutupi tubuh wanita itu agar tidak terkena hujan,dan sesekali aku memeriksa nafasnya yang menurutku semakin lemah,dan itu membuatku makin frustasi.
                                             ***
      Sampainya di rumah aku disambut oleh dokter Reno dan troli untuk membawa korban.Aku menarik nafas panjang untuk mengurangi keteganganku,sementara dokter Reno dan para suster menangani wanita itu.
     Para pekerja medis membawa wanita itu kedalam rumah sakit sementara aku masih berdiam di tempatku,sambil mengatur nafasku yang masih tak beraturan.
“Siapa dia?”tanya dokter Reno menghampiriku dan menepuk pundaku.
“Ceritanya panjang!”seruku masih terengah engah.
“Kamu mau minum!”seru dokter Reno yaang tahu keadaanku saat itu.
“Tapi wanita itu!!”seruku khawatir dengan nafas terengah engah.
“Di dalam ada tenaga medis,yang akan menanganinya,dan sekarang kamu punya hutang untuk menjelaskan hal ini.
     Aku hanya menurut saja kemana  dokter Reno membawaku.Beliau membawaku keruangannya dan disanalah aku menjelaskan kronologi kejadian yang baru aku alami itu.Yang aku kira itu seperti mimpi.
    “jadi bagaimana sekarang?”tanyaku.
“kita lihat kondisi pasien,setelah itu baru kami para dokter ambil  kesimpulan!”seru dokter Reno tenanga.
    Dokter Reno adalah dteman ayahku,belau juga yang menangani kedua orang tuaku dan adiku saat mereka mengalami kecelakaan tiga tahu yang lalu.jadi aku dan dia sudah sangat dekat dan beliau sudah menganggaapku sebagai anaknya,walau kami sangat jarang bertemu,lagipula siapa yang mau mendatangi rumah sakit,karena hanya di rumah sakit saja aku bisa menemui beliau.
“Sebaiknya kamu ganti pakaian kamu,nanti kamu masuk angin.!”seru dokter Reno yang melihatku basah kuyup
      Setelah aku berganti pakaian aku dan dokter Reno menuju ruang ICU,untuk mengetahui keadaan wanita itu.Sudah setengah jam lebih aku menunggu tapi dakter yang menangani wanita itu belum juga keluar.
   Beberapa saat kemudian dokter keluar bersama dengan beberapa suster.Dokter itu langsung menemui dokter Reno yang tak jauh dari tempatku berdiri,tapi biarpun kami tidak terlalu jauh tetap saja ku tak mengerti dengan apa yang mereka katakan.
   Aku menunggu penjelasan dari dokter Reno yang tak kunjung datang nenghampiriku untuk menjelaskan semua,sampai pada akhirnya aku amelihat wanita itu keluar dari ruang ICU dengan pakaian yanag lebih pantas,dan tubuh penuh dengan perban,terutama di wajahnya.
                                           ***
     Dokter Reno mengajaku duduk di dekat ruang ICU.Untuk sesaat dokter Reno tak mengatakan apa apa,ia masih terdiam dengan menatapku penuh pertanyaan didalam otaku.
“Dia sudah melewati masa kritisnya,untung saja kamu segera membawanya kerumah sakit,karena dia banyak kehabisan darah,akibat luka sayatan disekujur tubuhnya.
“Dan Dia membutuhkan banyak perawatan untuk mengembalikan kondisinya,jika kamu mau merawatnya!”seru dokter Reno yang tak aku mengerti.
“Maksud dokter apa?”tanyaku tak mengerti.
“Dia mengalami banyak luka sayat disekujur tubuhnya.terutama dibagian wajahnya,yang bisa mengakibatkan cacat,dan untuk menghindarinya dia harus menjalani operasi plastik,dan kamu tahu biayanya ttidak sedikit.
“Tapi kalau kamu mau menyelamatkannya tanpa mengeluarkan biaya yang besar,kamu harus menghubungi keluarganya ataupun melaporkannya pada polisi sebagai kasus orang hilang!”jelas Dokter Reno memberiku solusi!”
“Polisi!”seruku sambil menelan air liur.
“ya polisi,kamu harus berhubungan dengan mereka kembali!seru Dokter Reno yang tahu seberapa bencinya aku pada polisi.
   Aku masih trauma jika harus berurusan dengan polisi,semua itu disebabkan semenjak kecelakaan orang tuaku,polisi menjadikanku saksi tapi hal itu membuatku trauma karena polisi memaksaku untuk terus mengingat tentang kejadian yang menyakitkan itu.Mereka tak tahu betapa memilukannya peristiwa itu yang sangat menyakitkan sementara aku harus terus menerus mengingatnya,sementara jiwaku mencoba untuk melupakannya.
      Jika aku melaporkan wanita itu sebagai korban penculikan atau orang hilang,mungkin akupun akan menjadi saksi lagi dan aku tak mau hal itu terjadi,apalagi aku hanya menjadi orang yang tak tahu menahu,sementara aku yang menemukannya.
“Sebaiknya kita menunggu dia siuman!”seruku mencoba menenangkan pikiran.
    Setelah berbicara beberapa hal Dokter Reno meninggalkanku sendiri di dekat ruang ICU,Sementara aku masih terus berfikir apa kiranya yang harus aku lakukan terhadapwanita itu,orang asing yang tiba tiba masuk kedalam hidupku yang rumit dan menjadi begitu penting.
     Aku bangkit dari tempatku dan aku berjalam menuju kamartempat wanita itu dirawat.
    Dokter Reno menaruh wanita itu entah di kelas berapa.tapi tampaknya tempat itu sangat nyaman,aku mengintipnya dari balik kaca.Kulihat hampir seluruh wajahnya tertutupi oleh perban,begitu juga dengan lengan dan kakinya.
“Apa dia korban kekerasan yang dicoba untuk dibunuh,tapi ternyata masih hidup!”seruku berasumsi.
“Siapa wanita itu?,malang sekali nasibnya!”seruku sambil terus memperhatikannya.
                                       ***
    Menjelang tengah malam aku kembali kerumahku sambil mengembalikan mobil yang aku pinjam.Dan meninggalkan wanita itu dirumah sakit,sampai ia siuman dan barulah aku akan melakukan introgasi pasanya.
    Sampainya di rumah pak Karto,ternyata beliau belum tidur,dan masih bersantai di depan rumahnya.
    Aku langung memasukan mobil pak Karto kedalam garasi agar beliau tak usah repot repot untuk melakukannya.
“Bagaimana acara malam minggunya sukses??”tanya pak Karto dengan nada meledek.
    Aku hanya tesenyum,sambil mengembalikan kunci mobilnya.
“Seperti biasa!”seruku singkat.
“Pak saya mau langsung permisi saja,sudah tengah malam,maaf kalau saya menggangu!”Seruku.
“Tidak merepotkan,bapak juga sedang bermalam minggu dengan hujan!”seru pak Karto yang seorang duda.
“Bapak ini,bisa saja!”seruku yang kemudian pamit untuk pulang.
   Dengan menyalakan senter aku menelusuri jalan menuju rumahku,dan aku bersyukur sepedaku yang aku letakan sembarang masih berada dirempatnya,ini menamdakan tak ada orang yang melewati jalan ini selama aku pergi.Tiba tiba aku teringat dengan kantong plastik bekas yang digunakan untuk membungkus wanita malang itu.
     Kuarahkan sinar senter ketempat dimana aku menemukan wanita itu,dan ternyata masih ada di rempatnya,dengan segera kuambil kantong itu dan kuremas menjadi bagian yang kecil dan kubawa pulang sambil mengayunkan sepedaku.
    Sampainya di rumah ku kunci semua pintu dan kumasukan plastik itu disela sela rak sepatu yang sudah aku gunakan lagi.
    Aku langsung mengambil handuk dan bergegas mandi,tubuhku sudah lengker oleh kringat dan air hujan malam ini.Dan aku tak sempat makan,dan semua rencanaku gagal semua.
    Selesai mandi aku mencoba menahan rasa laparku dengan membuat kopi,karena aku tak lagi memiliki mie instan ataupun cemilan atau semacamnya.Sambil menunggu air mendidih,aku iseng membuka internet dan mengecek berita tentang penculikan itu,barangkali wanita itu dalah korbanya walaupun aku sangat tidak yakin,tapi kalau tidak dicoba mana tahu,aku membaca setiap artikel yang aku temukan tentang penculikan itu,mengenai ciri ciri wanita itu dan hal hal yang berkaitan dengan korban penculikan itu.
     Wajahnya oval,jika tersenyum akan muncul lesung pipit di pipinya,kulitnya putih,dan matanya sipit,tingginya 165 cm,berusia 22 tahun dan sebagainya.
     Aku dapat menghafal semua ciri ciri itu,tapi akan sangat susah karena wanita yang aku tolomg belum sepenuhnya aku ketahui ciri cirinya.
    Tiba tiba keheninganku terusik ketika sayup sayup kudengar suara seseorang berbicara dari kejauhan,denganrasa penasaran yang begitu dalam,akhirnya aku diam diam berjalan menuju ruang tamu dan menyibak sedikit goden jendela.Dari tempatku berada aku tak dapat melihat dengan jelas kedepan tapi instingku berkata ada seseorang diluar sana,entah itu satu ataupun dua,atau mungkin tiga.Makin lama makin aku perhatijkan aku dapat melihat dengan jelas sosok yang dari tadi tak tampak.
    Dia seorang pria dengan tubuh tinggi besar dan seorang tenanya dengan tinggi lebih pendek dari orang pertama.
“Mungkinkah mereka mencari wanita itu!”seruku menebak.
   Tapi entahlah,sesaat kemudian dua orang itu pergi dari tempat itu dengan menghilangnya suara mereka dari pendengaranku.
    Aku penasaran tapi aku juga tak mau ambil resiko,dengan mencari tahu tentang mereka,yang penting mereka tidak menggangguku.Dan jika asumsiku benar maka mereka akan mendapatkan masalah dariku.
    Aku kembali keruang tengah dan mendapati air rebusanku sudah mendidih.
   Aku cepat menyedu kopi yang aku hatap bisa mengurangi rasa laparku yang melanda malam ini.
    Setelah menikmati beberapa teguk kopi malam ini,mataku tak mengantuk lagi apalagi pagi ini ada pertandingan bola yang tak mungkin aku lewatkan,sebenarnya bisa saja aku lewatkan tapi sudah tanggung jika aku harus melewatkannya,toh mataku juga belum mengantuk jadi apa salahnya jika aku menikmati pertandingan bola malam ini.
     Sambil mengecas hpku,aku menikmati pertandingan bola itu sampai akhirnya aku terpulas dan tak tahu apa yang terjadi lagi.
                                        ***
      Pagi ini aku dibangunkan oleh keterkejutan yang luar biasa,aku bangun pukul 8 pagi,ketika suara ringtone hpku berbunyi dan itu dari Nia teman satu kerjaku.
“Ka,kamu libur?”tanya Nia dengan suara khasnys yang cempreng.
“Iya,tolong bilangin ke bos,aku libur hari ini,aku sakit,kepalaku pusing semalam abis keujanan!”seruku beralasan,walau lasanya sebenarnya karena aku telat bangun,dan mungkin hujan semalam juga ikut ambil alih pusingku saat ini,atau mungkin hanya pusing yang disebabkan oleh keterkejutanku pagi ini.
     Setelah aku menutup telepon dari Nia aku bangun dari tempat tidurku,dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku agar terasa lebih segar lagi.
     Tapi belum sempat aku masuk kedalam kamar mandi kembali suara ringtone teleponku berbunyi dan kali ini datang dari Dokter Reno. Cepat cepat aku mengangkatnya.
“Halo!”seruku cepat.
“Eka,hari ini kamu sibuk?”tanya dokter Reno yang tumben menanyakan hal itu.
“Tidak,hari ini aku libur!,ada apa dok?”tanyaku penasaran.
“Wanita itu sudah sadar dan ternyata tak sesuai dengan tebakan kita,kamu biasa datang kerumag sakit hari ini?sebaiknya kita bicara langsung supaya lebih jelas!”seru dokter Reno,
“Oke dok,aku segera datang!”seruku.
      Setelah menutup telepon aku segera mandi,sebelumnya aku sudah menebak pasti dokter Reno meneleponku mengabarkan tentang wanita itu,tapi yang membuatku penasaran ada apa dengan wanita itu,hingga membuat dokter Reno mengajaku bertemu dan berbicara empat mata.
    Setelah selesai dan semua beresa ku segera pergi menuju rumah sakit,aku tak membwa sepedaku,karena tidak akan efektf jika aku harus membawa sepeda kerumah sakit yang jaraknya berkilo kilo meter,Bukan sepedaku tak mampu melaluinya tapi aku sayang untuk menggunakannya.
    Aku berjalan menuju jalan raya dan barulah aku naik bis menuju rumah sakit.Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai kerumah sakit itu,apalagi jalanan hari minggu ini begitu lancar tanpa harus bertemu dengan yang namanya macet,mungkin komo sedang liburan jadi jalanan tak macet.
    Sampainya dirumah sakit aku langsung menuju ruangan dokter Reno,dan disanalah beliau menjelaskan sesuatu ayng tak bisa beliau jelaskan lewat telepon.
”AMNESIA!!!!”
     Aku terkejut setengah mati,bagaimana ini,bagaimana aku bisa mencari tahu tentang keluarganya,kalau dia saja tidak tahu tentang siapa dirinya.
“Ini disebabkan oleh benturan keras yang mengenai kepalanya,”seru dokter Reno.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”tanyaku pada dokter Reno bingung.
“Cuma ada dua pilihan Eka!,kamu rawat dia atau kamu laporkan pada polisi sebagai korban penculikan ataupun orang hilang!”
      Mendengar kata polisi tubuhku langsung mengkerut dan tak tahu harus berbuat apa apa.
“Apa aku harus merawatnya sampai ingatanya kembali?”tanyaku datar.
“Iya,kamu bisa merawatnya dirumah sakit atau di rumah,kalau dirumah sakit mungkin biayanya akan besar,tapi dia akan mendapatkan perawataan teratur terutama wajahnya,
“Saya yakin dia sebagai wanita akan merasa minder jika mendapati wajahnya tak semulus seperti semula.tapi tentu biaya akan besar,Sementara kalau kamu rawat sendiri mungkin akan cepat pulih karena suasana rumah akan membantu pemulihan bagi mereka yang sakit.tapi ya itu,dia akan mengalami cacat dan pasti cepat atau lambat ia ingin melakukan operasi plastik.
“Tapi aku kan bukan siapa siapa dia!”seruku protes.
“Untuk saat ini jika kamu mengaku sebagai anggota keluarganya maka ia akan percaya dan menganggap dirimu keluarganya.
    Kabar itu sungguh membuat kesehatanku benar benar menjadi drop dan sepertinya aku benar benar sakit.
     Dengan ragu aku berjalan menuju kamar wanita itu yang belum aku ketahui siapa namanya.Dari balik kaca aku melihatnya tampak kebingungan,matanya menatap kosong,wajahnya tak dapat aku kenali,karena perban masih menempel diwajahnya.
    Apa aku harus berpura pura menjadi anggota kelurganya?.jika tidak mungkin dia akan terus menginap dirumah sakit ini dan tentu biaya akan sangat besar,tapi jika ia kubawa kerumah,bagaimana dengan tetanggaa?.apa tanggapan mereka terhadap kami.
    Ini keputusan yang sangat sangat sulit untuk aku ambil banyak hal yang harus aku pikirkan.
 “Kamu akan menemuinya sekarang?tanya dokter Reno sambil menepuk punggungku dan membuatku terkejut.
    “Aku bingung,dok!”seruku galau.
“Kamu tidak akan tahu kalau kamu tidak mencobanya!”seru dokter Reno menyemangatiku.
“Tapi kita akan tinggal satu rumah dan hanya berdua!”seruku beralasan
“Kamu takut akan terjadi sesuatu pada kalian suatu saat nanti?”seru dokter Reno dengan nada meledek.
 “Bukan itu,tapi tanggapan tetangga terhadap kami nanti,dan hal itu juga menjadi pikiranku juga”seruku kemudian.
       Dokter Reno menepuk punggungku dan kemudian berbisik.
“Tuhan akan melindungi orang yang baik!’seru Dokter Reno.
    Setelah beberapa lama dokter Reno meyakinkanku akhirnya aku memutuskan untuk merawatnya di rumah dengan segala resiko yang mungkin akan terjadi.
     Dengan langkah ragu aku melangkah mendekati pintu masuk,perlahan kubuka pintu dan sambil menarik nafas panjang kudorong pintu itu dan ketika kubuka pintu mata kami langsung bertemu,rasa yang luarbiasa menghampiriku dan rasanya aku ingin berlari dari tempat itu,dari situasi ini.tapi sepertinya kakiku terlalu lemah untuk berlari.
   Kembali aku menarik nafas dan aku mulai mendekatinya menatap matanya yang terus mengawasiku,menatapku dengan penuh pertanyaan dan aku akan menjawab semua pertanyaan itu.
“Bagaimana keadaanmu?”tanyaku basa basi dengan sikap sebiasa mungkin walau dalam diriku gugup dan tegang luar biasa.
“Siiapa kamu?”Tanyanya dengan nada seperti seorang yang sedang ketakutan.
“A...Aku,aku saudaramu!”seruku gagap dan tak bisa menyembunyikan kegugupanku.
     Tiba tiba saja wanita itu menariku dan memeluk pinggangku dan menangis.
“Jangan tinggalkan aku lagi,aku sangat takut!!!”serunya dalam tangisnya.
    Dengan perasaan canggung aku mencoba melepas pelukannya perlahan agar tidak menyakitinya dengan keadaanya saat ini yang seperti mumi setengah jadi.
“Aku ga akan meninggalkanmu,aku hanya pergi sebentar tadi!’seruku beralasan dan rasa canggung dalam diriku perlahan mulai menghilang.
“Apa yang terjadi denganku?,mengapa aku tak ingat apapun?”serunya sedih.
“Semua akan baik baik saja!’kataku yang tak tahu harus berkata apalagi untuk menenangkannya.
     Akhirnya perkenalanku berjalan lancar kebiasaanku yang selalu cangung jika berhadapan dengan wanita sedikit berkurang setelah aku berinteraksi denagn wanita itu.
 “Siapa namaku?”tanya wanita itu menataapku tajam.
   Mataku terbelalak dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Nama kamu Dwi!”seruku asal.
“Dwi, dan kamu???”
“Eka!”jawabku singkat.
     Di tengah obrolan kami tiba tiba suara hpku berbunyi dan itu panggilan dari Nia.
     Aku segera bangkit dari tempatku menjauhkan diri dari Dwi,dan mengangkat teleponku.
“Halo!”seruku dengan suara lirih.
“Ka,bagaimana kabar kamu,udah baikan?”tanya Nia yang selalu memberikan perhatian padaku,
“Lumayan!”jawabku singkat.
“Kamu dimana?,tadi suamiku kerumah kamu tapi rumah kamu di kunci!”
“Aku lagi di rumah sakit!’jawabku jujur.
“Ya ampun,sakit kamu parah?,kamu kesana sama siapa?”seru Nia yang terdengar khawatir.
“Ga papa kok.sebentar lagi aku pulang!”seruku agar tak membuat Nia khawatir.
“Kalau terjadi apa apa kasih tahu aku yan,awas kalau enggak,kalau udah dapet obatnya di minum”seru Nia yang lebih cerewet dari almarhum ibuku.
“Iya!’seruku.
     Nia memang orang yang sangat perhtian,apalagi padaku,aku sudah dianggapnya seperti adikya sendiri yang diberi perhatian penuh.
     Setelah aku mematikan telepon,aku kembali menghampiri Dwi yang sudah menungguku diatas tempat tidurnya.
     Kulihat ia tersenyum dan aku balas tersenyum padanya walaupun masih terasa canggung.
“Siapa?”tanyanya penasaran.
“Temen kerjaku,dia menanyakanku yang tidak masuk hari ini!”seruku jujur sambil duduk disamping tempat tidurnya.
“Apa aku menggangu waktu kakak!”serunya terdengar menyesal.
“Tentu tidak,kebetulan hari ini aku juga ijin libur jadi ini bukan salah siapa siapa!”seruku menenangkannya.
    Kami mengobrol banyak hal tentang hal hal yang ia lupakan,dan jawaban yang aku berikan semua adalah sebuah kebohongan belaka,karena aku memang benar benar buta tentangnya,orang asing yang tiba tiba menjadi tanggung jawabku.
    Ternyata benar jika kita membuat satu kebohongan,maka akan membuat kebohongan berikutnya.Dan aku telah melakukannya.Dan mungkin itu akan terus berlanjut.

“Dwi,apakah kamu sama sekali tidak ingat dengan apa yang terjadi padamu?”tanyaku,walau aku tahu pertanyaan itu mungkin sangat sensitif.
     Dwi tak menjawab ia hanya terdiam dan menatap tubuhnya yang dibalut oleh perban dan kemudian ia menyentuh wajahnya.
“Apa aku membuatmu sedih?”tanyaku yang tiba tiba menjadi merasa tak enak.
    Perlahan aku mendekati Dwi,yang berada dihadapanku.Matanya tampak berkaca kaca dan aku tahu ia seperti akan menangis.
“Maafkan aku!”seruku
   Dan tanpa aku duga tiba tiba Dwi memeluku lagi,dengan sangat erat dan ku tahu kini ia menangis dalam pelukanku,perlahan kuangkat tanganku dan kuusap rambutnya yang halus dan lurus.
     Aku merasakan hal yang aneh,aku merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap wanita yang sedang memeluku saat ini,Aku merasa harus melindungi dia,menjaganya dan membuatnya merasa nyaman.
    Dokter memberi tahuku jika semenjak Dwi siuman ia belum juga makan karena ia masih syok dengan kondisinya yang sama sekali tak mengingat apa apa.
   Dan dengan terpaksa aku harus memaksa,merayu,membujuknya untuk mau makan makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
     Aku tahu makanan dirumah sakit tak seenak makana  dirumah ataupun di rumah makan apapun menunya,tapi mau tidak mau pasien harus memakannya.
     Dan akupun tahu keadaan Dwi saat ini mulutnya mungkin belum bisa mengunyah makanan yang kasar,makannya pihak rumah sakit memberinya bubur.Melihat bentuknya saja aku sudah merasa mual apalagi harus memekannya,aku kasihan pada Dwi jika harus memakan makanan seperti bayi itu.
“Kamu mau makan yang lainnya?”tanyaku menawari.sambil menaruh bubur yang sejak tadi ada di tanganku,karena aku berencana untuk menyuapinya.
“Aku tidak ingin makan apa apa!!!”jawab Dwi yang kukuh tidak mau makan apa apa.
“Kamu mau minim sesuatu?”susu atau yang kainya???”tanyaku yang terus berusaha untuk membujuknya.
   Tanpa menjawab Dwi menggeleng dan aku makin frustasi,seperti sedang menghadapi seorang anak kecil saja.
       Baiklah kalau begitu,aku akan keluar sebentar karena aku juga ingin makan!’seruku.
    Tanpa menoleh aku pergi meninggalkan Dwi di tempatnya.dan aku pergi mencsri kntin untuk aku mengisi perut yang sudah sejak tadi malam belum aku isi.
   Setelah menyantap makananku aku berencana untuk kembali mememui Dwi dan mungkin membujuknya kembali untuk mau makan.
   Aku berjalan menuju rumah sakit dan ditengah jalan akau bertemu dengan tukang es krim keliling dan tiba tiba saja sebuah ide muncul diotaku.
    Aku membeli beberapa macam es krim dan dengan segera kubawa keruangan  Dwi.Disan aku masih mendapati mangkuk bubur itu masih utuh bertanda Dwi tidak menyentuhnya sama sekali.
“Kamu benar benar tidak mau makan?”tanyaku sambil menaruh bungkusan yang aku bawa diatas meja.kulihat Mata Dwi melirik kearahnya dan dengan segera kuambil bungkusan itu lalu aku buka.
    Satu cup es cream rasa vanilla aku keluarkan dari bungkusan itu dan kulihat Dwi tampak antusias.Dia seperti anak kecil,berapa usianya????.aku taktahu,
   Perlahan kubuka penutupnya dan kuserahkan kepadanya untuk dimakan, Dengan antusias ia menerima pemberianku dan mencoba untuk memakannya.
    Kuperhatikan cara ia makan,tampak kesulitan dengan keadaan lengannya yang hampir seluruh baguian di perban ditambah selang infus yang masih menancap ditangannya.
“Sini,aku suapi!”seruku sambil mengambil cup es cream yang ada di tangannya.
    Dengan hati hati aku menyuapi Dwi,mulutnya belum bisa terbuka lebar,mungkin ini pengaruh dari luka ,obat ataupun perban yang membalut wajahnya.
“Kamu benar benar lapar dan menahannya!”seruku sedikit kesal.
    Dengan lahap ia mehabiskan dua cup es cream dan tampaknya ia mulai bertenaga lagi.
                                             ***
    Hari ini aku masih meninggalkan Dwi dirumah sakit sampai dokter mengizinkannya pulang,walau sebenarnya Dwi tak ingin aku tinggalkan tapi terpaksa haarus aku tinggalkan,aku punya rumah dan aku punya tanggung jawab terhadap pekerjaanku besok.
     Dan sepertinya aku benar benar sakit hari ini,tubuhku terasa berat dan pusing,mungkin karena banyak pikiran dan mandi air hujan semalam.
    Sampainya dirumah aku merebahkan tubuhku di lantai ruang tamu,sambil berbantalkan tikar.Sambil meahan rasa sakit dikepala akhitnya aku terpulas.
    Entah berapa lama aku tertidur,tiba tiba aku terbangun oleh suara ketukan pintu yang terdengar sangat menggangu dengan suara seseorang yang memanggilku.
     Setengah sadar aku mencoba bangkit dari tempat aku tidur dan membuka pintu yang hanya aku kunci slot.
    Aku mengenali suara siapa yang memanggilku dan denangan malas kubuka pintu rumahku.Dari balik pintu kulihat Nia dan......
“Ita!”
     Aku terkejut bukan main ketika tahu ada Ita di depan rumahku,aku merasa sangat berantakan saat itu,dan aku merasa tak nyaman dengan kondisiku saat ini.
“Kami ganggu ya?”tanya Nia yang sadar diri.
“Kalau ganggu,apa aku akan usir kalian untuk pulang!”seruku yang mencoba menyembunyikan kegugupanku.
“Ayo masuk!!!”seruku sambil membukakan pintu untuk mereka.
    Mereka masuk kedalam rumahku yang sangat berantakan  dan tak ada apa apa.
“Dokter ngomomg apa tentang sakit kamu?”tanya Nia yang mengejutkanku.
“Dokter!”seruku terkejut.
“Jangan bilang yang kamu bilang tadi di telepon itu Cuma alasan!’seru Nia mengancam
    Aku hanya tersenyum kecil dan malu,sementara kulihat Ita tanpak tersenyum geli.
“Aku kerumah sakit,tapi bukan untuk berobat,aku kesana untuk berkunjung menemui saudaraku yang sedang dirawat!”seruku beralasan dan satu kebohongan kembali telah aku buat.
“Kamu punya saudara?,kenapa ga bilang!”seru Nia sewot.
“Saudara jauh!”jawabku asal.
“Jadi kamu belum minum obat!”tebak Nia.
   Aku mengangguk pelan seperti anak kecil dan seperti orang bodoh di depan Ita yang sejak tadi hanya terdiam dan memperhatikan aku dan Nia.
   Memperhatikan adegan seperti kakak yang sedang dimarahi oleh adiknya.
“Ya udah aku beli obat dulu!”seru Nia yang langsung bangkit dari duduknya.
“Ga usah,aku ga papa kok Cuma pusing!”seruku sambil ikut berdiri mengikuti Nia.
“Kamu kan lagi hamil,jangan capek capek!”cegahku.
“Hamil aku sehat jadi jangan khawatir.
“Ta,tolong ya masakin air,semuanya ada di dapur,kamu masuk aja,anggap aja rumah sendiri,rumah ini emang ga ada penghuninya kan!”seru Nia dengan nada meledek.
    Nia memang sudah biasa keluar masuk kedalam rumahku,sudah bukan rahasia lagiia tahu seluk beluk rumahku,dan kebiasaanku yang jarang sekali membersihkan rumah.
    Nia telah pergi meninggalkan kami berdua,hanya aku dan Ita,Untuk beberapa saat tak ada suara diantara kami,sampai akhirnya Ita duluan ayng membuka suara.
“Kalau sakit seharusnya kamu minum obat bukan hanya dibawa tidur!”seru Ita yang mulai seperti Nia.
“Aku tidak sakit,hanya sedikit pusing!”seruku beralasan dengan rasa grogi luar biasa.Baru kali ini aku bisa berbicara sedekat ini tanpa ada orang lain diantara kami.biasanya ada pihak ketiga yang menjadi tempatku melarikan diri dari kekikukan dalam menghadapi Ita.
“Awalnya mungkin hanya pusing tapi kalau dibiarkan bisa jadi parah!”serunya yang begitu membuatku menjadi salah tingkah.
     Tiba tiba Ita bangun dari tempatnya dan memperhatikan kesekitar rumahku,
“Di dapurnya?”tanya Ita.
“Kamu mau ngapain?”tanyaku terkejut.
“Dimana?”tanya Ita dengan  nada sedikit meninggi.
   Aku tak bertanya lagi dan segera aku antakan dia kedapurku yang tampak begitu berantakan.
    Sampainya didapur Ita melakukan hal yang sepertinya sudah ia ketehui apa yang harus ia lakukan.
“Sebaiknya kamu istirahat didepan,aku ga akan mencuri kok!”seru Ita yang secara tepat menyentilku.
    Sebenarnya bukan maksudku untuk mengawasi apa yang ia lakukan di dapurku,aku hanya ingin memperhatikannya,memandanginya dari jarak yang begitu dekat seperti saat ini.kesempatan yang menurutku sangat langka dan tak ada kesempatan kedua.
   “Baiklah!”seruku pasrah.
      Aku kembali ke ruang tamu danmenyandarkan tubuhku diatas tumpukan tikar dan sepertinya kepalaku memng benar benar sudah terasa sangat sakit dan aku kembali terlelap.
    Entah berapa lama aku kembali terlelap sampai akhirnya aku kembali terbangun karena suara Nia membangunkanku.
    Aku bangun dan kulihat satu piring nasi dengan lauk yang merupakan kesukaanku,telur dadar dan opor ayam.Mungkin Nia membelikannya untuku.
“Ayo makan dulu nanti baru minum obatnya.”seru Nia yang sudah menyiapkan obat yang dapat menyembuhkan sakit kepala,flu,dan batuk.
    Aku melahap makanan yang memang untuku,dan setelah itu barulah aku meminum obat yang telah disediakan.
      Harusnya aku memenfaatkan waktu yang mungkin sudah dituliskan untuku,waktu yang harusnya aku gunakan untuk mengungkapkan perasaanku terhadap Ita,tapi sayang aku telah menyia nyiakan waktu itu dan sepertinya aku menyesalinya.Dan kini hanya rasa menyesal yang sedang aku rasakan.
      Setelah aku memakan obatku,Nia dan Ita pamit untuk pulang dan dengan berat hati aku melepas mereka pergi.Dan yang paling membertkan hatiku adalah,aku melepaskan Ita tanpa aku memberitahunya kalau aku menyukainya.
     Mungkinlah akan ada kesempatan kedua itu?apakah aku akan menemukan kesempatan itu.Bodohnya aku,seharusnya aku lebih bisa menahan rasa sakit kepalaku dan memanfaatkan moment untuk berbicara padanya.Bodohnya aku.
      Setelah meratapi kesalahanku,aku kembali masuk kedalam rumahku dan mencoba untuk menerima apa yang baru terjadi tadi.Menyesal pasti,dan mungkin penyesalanku terbesar saat ini dan yang terbaru.

..................

Tidak ada komentar :

Posting Komentar