Kamis, 31 Oktober 2013

PACARI AKU DONG ,MBAK! Parts 02

...........
    Menjelang malam hujan turun rintik rintik dan kemudian menjadi besar.dirumah Bian hanya bertiga antara Bian,Rere dan Brunie.sementara ibu Dian belum pulang dari kantornya..
  "Halo!,mama?udah malam kok belum pulang?"tanya Bian yang menghubungi mamanya via telepon.
  "Maaf Bian mama lagi meeting di kantor"jelas ibu Dian.
  "Jadi mama pulang kapan?"tanya Bian tampak emosi.
  "Sepertinya agak malam.kamu kan biasa dirumah sendiri.ga perlu nunggu mama.!"jelas ibu Dian.
  "Masalahnya mbak Rere belum pulang.disini ujan!"seru Bian dengan nada berbisik.
  "Ya kamu anterin dong,Ian!"seru ibu Dian."males ma.diluar ujan.Bian ga mau ujan ujanan."seru Bian beralasan.
  "Kalau begitu telepon taksi!"perintah ibu Dian.
   "Ya ya!"seru Bian sewot.
   Bian mematikan teleponnya.dan kemudian ia keluar dari kamarnya.dilihatnya Brunie tergeletak didepan pintu keluar.dan Rere duduk manis diruang tamu.
  "Bian saya harus pulang!"seru Rere yang langsung bangkit ketika Bian keluar dari kamarnya.
"Ga liat diluar masih ujan?"seru Bian.
   "Brunie...Brunie...!"panggil Bian maja.dengan cepat Brunie berlari menuju Bian dan Bian segera menggendongnya.
     Kemudian Bian duduk tak jauh dari Rere duduk.dan dengan seketika Rere menjauhkan diri.
   "Maaf mbak Rere takut Brunie ya?"seru Bian.
  "Cuma geli!"jawab Rere meralat.
   "Kenapa mbak Rere takut kucing?"tanya Bian membuka obrolan.
  "Saya geli dengan bulunya.!"jawab Rere.
   Bian mengobrol dengan Rere panjang lebar tak hanya soal kucing.teman teman keluarga dan hal yang lainnya
  ."Kalau boleh tahu Brunie itu jantan apa betina?"tanya Rere.
  Mata Bian terbelalak dan berfikir.
   "Ga tahu belom pernah liat!"seru Bian yang mengundang tawa.
  "Kalau begitu Brunie berarti banget buat kamu?"tanya Rere.
  "Tentu.kalau seandainya aku disuruh milih untuk pisah dari Brunie atau mutusin pacar.aku mending mutusin pacar."seru Bian.
  "Walaupun perempuan yang kamu sayang ga suka kucing?"tanya Rere.
  "Apapun!"seru Bian tegas.
  "Siapa yang memberikan Brunie sama kamu?".
  "Aku kasih tahu,mbak Rere ga akan tahu!".
"oh!".
.............
     Saat hujan mulai surut Bian mau tidak mau harus mengantarkan Rere pulang walau Rere menolak.tapi Btak menghiraukan.hal itu disebabkan karena telepon ibu Dian yang memaksanya.
  "Aku lapar!kita makan dulu ya!"seru Bian sambil menepikan motornya di dekat tukang nasi goreng.
    Rere turun dan kemudian Bian.
   "Mau makan ga?"tanya Bian sebelum masuk kedalam kedai.
   "Tidak terima kasih!"jawab Rere.
  "Masa sih ga laper?"ledek Bian.
   Bian tahu pasti Rere lapar seperti halnya dia yang sejak tadi siang hanya minum.
   "Bener nih ga mau?"tanya Bian lagi
   "Mas dua dibungkus ya!"seru Bian pada tukang nasi goreng.
  "Kamu ga jadi makan?"tanya Rere.
  "Ga enak bawa temen tapi makan sendirian."jawab Bian.
  "Saya punya alasan untuk menolak ajakan kamu!"seru Rere.
  "Saya tahu alasannya.mbak Rere menolak karena takut traktiran ini dipotong gaji mbak Rere mengajar saya!"jelas Bian.
   Rere tersenyum
  "Bukan itu Bian!"seru Rere yang masih tersenyum.
  "Lalu apa?"tanya Bian ingin tahu.
  "Nanti kamu juga tahu!"seru Rere.
"Siapa yang mau tahu urusan situ!"gumam Bian dalam hati.
  Setelah pesanannya datang Bian kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Rere.
  Reberapa saat berlalu dan motor Bian sampai di gang menuju rumah Rere.
  "Rumah mbak Rere dimana?"tanya Bian.
   "Ada didekan sini!.kamu mau mampir Bian?"tanya Rere menawarkan.
  "Ga deh makasih udah malam juga.nih nasi gorengnya!"seru Bian sambil memberikan bungkusan nasi gorengnya pada Rere.
  "Inikan buat kamu!"seru Rere.
  "Saya bisa beli lagi"seru Bian yang cepat cepat menggas motornya dan pergi.
...........
    Sampainya dirumah Bian bertemu dengan ibunya yang sudah pulang.
  "Mama udah pulang?.udah lama,ma?"tanya Bian.
  "Baru aja.kamu udah makan,Ian?".tanya ibu Dian perhatian.
  "Belom,tadi Bian beli nasi goreng.Rere aku ajak makan ga mau.aku bungkusin tapi males makan jadi aku kasih ke Rere semua."jelas Bian.
  "Pake mbak kalau panggil Rere.dia lebih tua dari kamu."seru ibu Dian menjelaskan.
  "Kamu beli nasi goreng cuma 2 bungkus?"tanya ibu Dian kemudian.
  "Iya.emang kenapa?mama marah ya.ini Bian yang beliin kok.pake duit Bian.jangan marah ya!"seru Bian mewanti wanti.
  "Bukan itu Bian.kamu ga tahu.Rere itu tinggal dipanti asuhan.masa kamu beli cuma 2 bungkus.kurang atuh."seru ibu Dian menjelaskan.
  "Panti asuhan?.kurang dong?.jadi itu alasan kenapa Rere ga mau makan."gumam Bian dalam hati.
  "Bian,kamu jadi mau makan apa?"tanya ibu Dian.
  "Apa aja!"seru Bian yang kemudian duduk dan dengan cepat Brunie duduk pangkuan Bian.
  "Brunie,kamu cewek apa cowok sih aku kok ga tahu?"seru Bian sambil memperhatikan Brunie.
..........
     Bian duduk merenung diatas gedung tertinggi sekolah.ditatapnya kebawah beberapa anak masih bersliweran hilir mudik masuk dan keluar gedung sekolah.untuk mengikuti ekskul sekolah.sambil memeluk kakinya Bian duduk diujung gedung.matanya menyipit memandang sembarang.
  "Kenapa harus seperti ini?.apa salah kalau cowok setia?apa aku sangat membosankan?.sampai sampai harus mereka yang mutusin aku?"seru Bian dalam hati yang meratapi nasibnya yang baru diputusin Aulia.
  "Males pulang.nginep disini aja kali ya??"seru Bian sambil merebahkan tubuhnya dan membiarkan terterpa angin.
"Aku ga mau pulang."seru Bian yang kemudian memejamkan mata.
............
   "Bian kemana sih,tumben tumbenannya ga ikut basket!"keluh Bias ketus.
  "Biasanya paling semangat.malahan kalo perlu ampe malem,biar ga ketemu guru lesnya!"sambung Arif.
  "Lagi menyendiri kali.diakan baru patah hati!"seru Toro yang membuat mata tertuju padanya.
  "Maksud kamu apa,Tor?tanya Dias penasaran.
  "Kalian ga tahu.kenapa kemaren Bian pulang ga bilang bilang karena apa?."tanya Toro.
   Arif dan Dias menggeleng hampir bersamaan.
  "Emang kenapa?."tanya Dias kemudian.
  "Aulia mutusin Bian!"seru Toro tegas.
  "Mampus kita!"seru Arif sambil mengepalkan tangannya.
"Kalian ingetkan waktu Bian putus dari Vina.sensitifnya setengah mampus.bawaannya marah melulu.kayak cewek lagi dateng bulan.!"cerita Arif.
  "Wah PR buat kita nih.kalian tahu kan si Bian itu gimana?.cowok kayak cewek.manja,lembut.untung aja gayanya ga alay kayak bencong.hey boo.eke cuco ga?"seru Dias menirukan gaya bencong.
  "Jangan begitu dong.biar bagaimanapun dia temen baik kita.tanpa dia kita ga dapet gratisan."seru Toro
  "Jadi kita harus apa nih?"tanya Arif.memandang kedua temannya.
  "Cariin pacar baru buat Bian.paling enggak supaya dia ga jadi pemarah aja!"seru Dias memberi saran.
  "Kok seolah olah Bian ga bisa idup tanpa cewek  ya?"celetuk Toro.
  "Dan untuk kali ini kita harus buat Bian sendiri yang nyatain cinta.jangan ceweknya terus.emansipasi si emansipasi.tapi kalo kayak gitu terus harga diri kita sebagai cowok bisa turun!"tambah Toro.
  "Setuju 1000 % aku setuju banget.masa pacaran 2 kali ceweknya terus yang nembak.untung Bian cakep,banyak penggemarnya."seru Dias.
  "Ya itukan karena Vina dan Aulia emang ceweknya rada agresif dan emang mereka sama sama suka.nah kalau seandainya next ceweknya kalem.Biannya kalem.kapan mereka jadiannya.apa perlu kita bantuin nembaknya?"tanya Dias.
  "Udah maen yuk.bian ga ikut kali!!"seru Arif sambil mengdribel bola dan menggiring bola ketengah lapangan menemui teman yang lainnya.
.............
    Bian terbangun saat titik titik hujan jatuh diatas wajahnya.Bian terkejut saat melihat langit yang ada diatasnya telah berubah warna menjadi hitam,gelap
   .Bian cepat cepat bangun dan mencari tempat untuk berteduh,saat titik titik hujan itu menjadi besar.
  "Gila gua ketiduran.jam berapa nih?"seru Bian sambil menilik jam tangannya.
  "Apa jam delapan!"teriak Bian terkejut.
  Bian menunggu sampai hujan mereda.namun tetap saja tubuhnya terkena hujan karena hujan datang bersama angin.
  "Aku harus pulang!"seru Bian yang kemudian berlari menuju pintu keluar.sambil berbasah basahan.
   Bian menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan hampir berlari.beberapa menit kemudian Bian sudah sampai di parkiran dan suasana sudah sangat sepi.hanya penjaga sekolah dan satpam yang menjaga motornya.
  "Mas kirain mau dititipin!"teriak satpam sekolah dari posnya.
  "Ga pak!,makasih ya!"seru Bian sambil mengegas motornya dan pergi.spido meter yang ditunjukan oleh motor Bian diatas rata rata.
  Bian mengebut menebus derasnya hujan agar cepat sampai kerumah.
  "Mudah mudahan dia masih ada!"gumam Bian dalam hati.
  Motor Bian sedikit melambat saat memasuki ga rumahnya.dari kejauhan dilihatnya sayup sayup sebuah payung terbuka dan seseorang berdiri di dalamnya.Bian menghentikan motornya tepat disamping orang yang berpayung itu.
  "mbak Rere belum pulang?"tanya Bian setelah membuka helmnya.
  "Iya,Bian ini sudah malam.toh kamu juga ga ada semangat untuk belajar.
  "saya minta maaf!.saya lupa!"seru Bian memelas.
  "Kamu udah sering minta maaf Bian atas keterlambatanmu itu!"seru Rere.
  "Tapi yang ini bener.dan lagipula sekarang masih ujan!"seru Bian mengingatkan.
  "Sebaiknya kamu masuk dan ganti baju supaya kamu tidak sakit dan membuat mama kamu cemas!"seru Rere lagi.
 "Mama belum pulang?"tanya Bian tampak terkejut.
"Jadi dari tadi sore mbak Rere nungguin diluar?"tanya Bian memastikan.
"Kenapa mbak Rere ga telepon aku?.dan mama juga ga telepon aku!"seru Bian tampak kesal
 "Seperti biasa saya menghubungi kamu.bukan jaringan sibuk seperti biasanya.tapi nomor kamu tidak dapat dihubungi"jelas Rere
 "Bian cepat cepat mengambil hpnya dari dalam kantong celananya yang basah.
  "Hpku mati"seru Bian.
 "Mbak,aku minta waktu sebentar nanti aku antar pulang.paling tidak aku punya alasan ke mama kalau aku bertemu mbak Rere hari ini"seru Bian sambil turun dari motornya.
  "Rere menuruti permintaan bian dan mereka kembali kerumah Bian.
............

Rabu, 30 Oktober 2013

PACARI AKU DONG ,MBAK!.Parts 01

........
     Hujan diluar sangat deras,angin memporak porandakan suasana.menerbangkan setiap benda yang dilaluinya.diruang tengah tampak Bian sedang asyik bermain dengan kucing persianya yang berwarna kuning kecoklat coklatan.
 "Brunie,kamu kucing apa anjing?"tanya Bian yang tidur tiduran dilantai sambil memainkan buntut Brunie yang panjang.
"Brunie!ayo lari ada mama!"seru Bian sambil menepuk nepuk punggung Brunie
   Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah mendekat dan dari sudut ruangan tampak seorang wanita berdiri dengan pakaian blusnya.
  "Sudah belajar Bian?"tanya wanita itu memecahkan suasana yang hanya berisi suara gemuruh angin dan hujan.
 "Bosen kali ma belajar melulu!"jawab Bian ketus.wanita itu mendekati Bian yang masih malas malasan diatas lantai berlapis permadani.
 "Ujian sebentar lagi.Bian.Bagaimana kamu bisa lulus,dapet nilai bagus kalau kamu malas belajar!?"gerutu wanita itu.
 "Mama,Bian baru aja belajar.Bian lagi istirahat."jelas Bian.
 "Kamu pikir mama percaya?"seru wanita itu.
 "Mama!"seru Bian sambil bangun dari tidurannya.
 "Mama ga ada alasan buat ga percaya ama Bian!"seru ian dengan nada merayu.
 "Mulai besok mama akan pangil guru private untuk ngelesin kamu dirumah!"seru wanita itu tegas.
"Mama!Bian bukan anak TK yang harus ikut les!"protes Bian."memang!umur anak SMA tapi kelakuan kayak anak SD!"seru wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan Bian yang tampak kesal.
 "Mama mah norak.masa anak SMA pake les segala.!"gerutu Bian.
 "Brunie!"panggil Bian.dan beberapa saat kemudian Brunie datang dan Bian menyambutnya.
...........
   Ditempat tongkrongannya,Bian menceritakaan semua yang dikatakan ibu Bian padanya.tentang rencana beliau untuk mengles private kan Bian dalam menunggu ujian nasional nanti.sontak membuat Toro,Dias,dan Arif tertawa terbahak bahak dan mengejeknya habis habisan.
 "Udah!ngeledeknya?"tanya Bian ketus.
"Ian,gue punya ide!.supaya guru les loe ga betah ngajarin loe!"seru Dias.
 "Apaan?"tanya Bian.
  Dias membisikan pada Bian agar teman temannya tak tahu.
 "Ah loe Ias!maen rahasia rahasiaan!"seru Toro sewot.
 "Udah udah!nanti kalau rencananya berhasil aku traktir kalian dan aku kasih tahu kamu Toro,Arif."seru Bian
   Tiba tiba hp Bian berbunyi dan cepat cepat Bian mengambil hpnya yang ada disaku celananya.dilihatnya nama orang yang menghubunginya.
 "Mama..!"seru Dias Toro dan Arif hampir bersamaan.
 "Rese deh!"seru Bian bangkit dari tempatnya dan mengangkat telepon dari ibunya.
 "Halo ma,ada apa?"tanya Bian.
 "Kamu dimana?cepat pulang.ada orang yang mau bertemu dengan kamu!".
 "Siapa?"tanya Bian penasaran.
 "Makannya cepet pulang!"paksa ibu Dian.ibu Bian.
 "Tapi disini ujan ma!"pake Taksi.bayar dirumah!".
 "Ya ya!"seru Bian sewot.
 Bian mematikan teleponnya.
 "Fren,mama nyuruh gua pulang nih,cabut dulu ya!"
 ."Kan lagi ujan Ian!".
 "Udah perintah si bos turuti!"celeteku Toro.
   Bian menembus hujan menuju parkiran motor untuk pulang.
............
     Dengan badan basah kuyup Bian masuk kedalam rumah yang kering.
  "Siapa sih yang datang.ampe aku disuruh pulang segala!"gumam Bian didepan teras.
  "Ya ampun Bian,kamu kayak anak kecil aja ujan ujanan.mama kan udah bilang.pake Taksi.motor kamu kan bisa dititipin ke temen kamu."omel ibu Dian.
  "Telat,Bian udah nyampe!"seru Bian ketus sambil melangkah.
 "Bian!tunggu disini!biar mama ambil anduk dulu!"perintah ibu Dian menghentikan langkah Bian.
  "Makasih ma!"seru Bian.sambil menunggu mamanya mengambil anduk.Bian melepaskan pakaiannya yang basah.
   Beberapa saat kemudian ibu Dian datang membawa anduk besar bergambar Garfield.
  "Keringkan badan kamu dan masuk kamar lewat pintu samping dan temui mama di ruang tengah!"seru ibu Dian memberi petunjuk.
  "Kenapa ga lewat pintu aja seh.kayak biasanya aja!"seru Bian yang langsung masuk lewat pintu utama.dengan menggunakan singlet dan boxer berwarna biru dongker basah dengan handuk yang menyelimuti punggungnya.
  Dengan santainya Bian berjalan melewati ruang tamu.
  "Ya ampun!"seru Bian terkejut ketika melihat ada wanita lain selain ibunya dirumahnya.tanpa berkata apa apa
  Bian berlari menuju kamarnya.
  "Itu anaknya calon murid kamu!"seru ibu Dian pada wanita yang ada diruang tamu.
    Didalam kamarnya setelah mandi Bian berpakaian sambil menggerutu.
  "Siapa sih tuh cewek?temennya mama?"tanya Bian bertanya tanya.selesai merapikan diri dan merasa dirinya wangi.
  Bian keluar dari kamarnya.menuju ruang tengah,sesuai perintah mamanya.
  "Brunie!kamu dimana sayang?"panggil Bian pada kucingnya.dan beberapa saat kemudian kucing Persia itu datang menghampiri sang majikan sambil mengibas ngibaskan buntutnya yang panjang.
  "Ayo sayang!"seru Bian sambil mengangkat Brunie menggendongnya dan membawanya menuju ruang tengah.
   Dengan berjalan pelan menuju ruang tengah.untuk menemui ibunya.
 "Halo mamaku sayang!"seru Bian sambil melirik orang yang duduk disamping ibu Dian.seorang wanita muda berjilbab warna biru langit.kalau dilihat dari wajahnya tidak mungkin dia adalah teman ibu Dian.Tapi kalau bukan.lalu siapa dia.
  Teman Bianpun bukan.Bian tak mengenal perempuan berkerudung itu.
  "Bian sini!"seru ibu Dian.
  Bian mendekat tapi tiba tiba raut ketakutan dan geli tampak terlihat diwajah perempuan berkerudung itu.
  "Mbak Rere kenapa?"tanya ibu Dian.
   Ibu Dian melirik Bian yang duduk disampingnya sambil menggendong Brunie.
  "Oh ini toh!Bian lepasin Brunie.Biarin dia main sendiri!"perintah ibu Dian.
   "Kenapa ma?.Brunie ga nakal kan?"tanya Bian.
  "Mbak Rere ga suka kucing.dia geli kalau liat."jelas ibu Bian.
"Oh!oh ya kita belum kenalan.aku Febrian tapi cukup pangil aja Bian."seru Bian yang memperkenalkan diri sendiri terlebih dahulu.
  "Saya Renata.cukup panggil Rere!"balas perempuan itu.
  "Oh ya Bian,Rere ini yang jadi guru les private kamu!"jelas ibu Dian.
  "Apa...!!"seru Bian sangat amat terkejut.ternyata ucapan ibunya benar benar terlaksana dalam waktu secepat ini.rasanya petir diluar rumah menyambar kepalanya.
...........
    Rere dengan seriusnya menerangkan jadwal mengajarnya pada Bian sementara Bian tampak cuek.Bian serius dengan pikirannya sendiri.
  "Bian!,bisa kamu perhatikan omongan saya?"tanya Rere yang tahu Bian tak memperhatikannya.
  "Maaf mbak,ucapan anda tidak bisa saya perhatikan tapi hanya bisa saya dengarkan."seru Bian sambil tersenyum geli.
  "Itu maksud saya.saya ulangi!dalam seminggu kita mengadakan 5 pertemuan.disetiap pertemuan menghabiskan waktu 2 jam.jam aktif antara 4 sore atau lebih.dan jadwal bisa berubah kita sesuaikan dengan keadaan."terang Rere panjang.
   "Banyak amat sih mbak!kapan istirahatnya?"keluh Bian.
  "Ga akan kebanyakan kalau kamu menikmati pelajarannya!"seru Rere.
 "Oke!"seru Bian yang melambai lambai pada Brunie yang ada didepan pintu.
   Dengan cepat Brunie berlari menuju Bian,dan naik keatas pangkuannya.
  "Sayang!kangen ya?"tanya Bian sambil mengelus punggung Brunie.
   "Bian,bisa minta tolong jangan kamu ajak belajar kucing kamu itu?!"seru Rere yang tampak menjauhkan diri dan menjaga jarak.
  "Dia juga pengen pintar mbak!"seru Bian tampak cuek.
  Brunie,maen diluar dulu ya!"seru Bian sambil menaruh Brunie dilantai.
"kenapa sih mbak rere takut kucing.kucingkan manis,imut!".jelas bian.
  "Saya juga aneh,kenapa cowok kayak kamu suka sama kucing.kucingkan identik dengan perempuan!"jelas Rere tak mau kalah.
  Bian tertunduk ia merasa kalah dengan ucapannya sendiri.
  "Oke,cukup perkenalannya.sekarang kita bisa mulai belajar.pelajaran apa yang tak kamu mengerti?"tanya Rere sambil membuka buku yang berisi materi pelajaran.
  "Perkenalan!.siapa yang mau kenalan.ini juga karena terpaksa!"gumam Bian dalam hati.
  "Mbak,boleh ngomong sesuatu ga?"tanya Bian sambil mengangkat tangannya.
  "Boleh.dan kamu ga perlu angkat tangan.karena kita cuma berdua."seru Rere tegas.
  "Iya!"seru Bian malu.
  "aAda apa?"suara Rere melembut
  "Saya disekolah kan jadwalnya padat dan pulang ga tentu waktu jadi sepertinya les ini banyak terganggu!"jelas Bian.
  "Jadwal kamu padat ya?".
  Bian mengangguk.
  "Bian,kamu bisa tanggung jawab dengan semua urusan kamu disekolah.dan les ini adalah tanggung jawab kamu dirumah.dan saya yakin kamu bisa mempertanggung jawabkannya.dan satu lagi.kalau tanggung jawab kamu di sekolah harus sesuai waktu.tapi untuk les ini saya beri kamu keringanan.kita bisa memulai belajar jika kamu merasa ada waktu dan itu memungkinkan.dengan catatan harus ada waktu untuk les ditiap harinya."jelas Rere.
  "Tiap hari?sesuai jadwal!"gumam Bian dalam hati.
  "Biarpun malam hari?"tanya Bian memastikan.
  "Ya.ayo kita mulai."
...........
   Selama beberapa hari les Bian selalu mengulur ngulur waktu agar telat pulang kerumah.tapi tetap saja Rere selalu menantinya dirumah.
  "Gila....gila....gila....!!!.masa gua kayak buronan tiap pulang ada yang nungguin.kayak orang disidang."keluh Bian pada teman temannya.
  "Tapi enak kan otak tambah encer!"seru Toro.
  "Encer apaan.makin butek otak gua.ga ada istirahatnya buat mikir."keluh Bian lagi.
  "Tapi gurunya killer ga?"tanya Arif.
  Bian menggeleng
  "Baik banget malah.justru itu yang ngebuat gua ga tega kalo ga ikut pelajarannya.males tapi susah nolak!"seru Bian
  ."Cewek.cowok?"tanya Toro.
  "Pengen tahu aja!"seru Bian masih merahasiakan identitas guru lesnya.
  "Ah loe dari kemaren pake rahasia rahasiaan segala"seru Dias.
   Sedang seru mengobrol tiba tiba datang seorang gadis berambut panjang
  "Bian bisa kita bicara!"kata gadis itu.
  "Udah Ian.datengin tuh Aulia.want speak 4 eyes with you."Seru Toro dengan nada meledek
   Dengan cepat Bian menghampiri Aulia dan mengajaknya pergi.setelah berjalan beberapa jauh Bian dan Aulia berhenti.
  "Ada apa?"tanya Bian memandang orang yang ada dihadapannya.
  "Bian,kayaknya kita harus break deh!"seru gadis itu pelan.
  "Break,maksud kamu apa?"tanya Bian langsung sewot.
  "Jadi bener gosip itu?.ada orang lain selain aku?.aku kurang apa sih.aku udah setia.tapi kamu tetep ga terima.oke kita putus!"seru Bian emosi tanpa memberikan kesempatan Aulia untuk bicara.
  "Dengerin aku dulu!"seru Aulia yang ingin menjelaskan.
  "Ga ada yang perlu dijelasin.ternyata aku udah salah.aku udah ga percaya sama temen temen aku yang ternyata bener.dan begonya aku kenapa aku bela mati matian kamu yang salah!"seru Bian yang kemudian pergi meninggalkan Aulia tanpa mendengar penjelasan Aulia.
...........
   Bian pulang tanpa berpamitan pada teman temannya.dan Bian pulang lebih awal bahkan sebelum Rere,guru lesnya datang.selama waktu menunggunya Bian menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Brunie kucing kesayangannya.
  "Lama banget sih tuh cewek!"gerutu Bian.sambil memainkan buntut Brunie.
  "Ditungguin ga dateng dateng.ga ditungguin nongol melulu!"lanjut Bian.
   "Brunie pergi sana!"usir Bian.
  Brunie berlari menuju pintu depan dan sesaat kemudian terdengar suara teriakan kecil seorang perempuan.dengan cepat Bian bangun dari tempatnya dan segera keluar.didepan dilihatnya Brunie dan Rere yang menjauh dari Brunie.
  "Udah datang."seru Bian melihat Brunie dan Rere bergantian.
  "Brunie!masuk!"perintah Bian sambil memberikan isyarat pada Brunie dengan tangannya.
  Brunie berlari menuju dapur.dan setelah itu barulah Rere mau masuk dan itupun masih waspada.ia berjalan dibelakang punggung Bian.
   Sesampainya diruang belajarnya,barulah Rere mampu berdiri tanpa harus bersembunyi di balik punggung Bian.
  "Maaf soal yang tadi!"seru Rere.
  "Ga papa.tapi ada satu hal yang yang ingin saya katakan!"seru Bian.
  "Tentang apa?"tanya Rere lembut.
  "Terlalu cengeng kalo saya ngaku tapi saya butuh temen.buat cerita!"seru Bian malu malu.
  "Cengeng?.kenapa cengeng.setiap orang punya hak untuk bercerita tidak memandang cewek atau perempuan.tapi sebelum cerita sebaiknya kita belajar dahulu!"seru Rere.
  "Ga bisa sekarang?"tanya Bian sewot.
  "Saya datang kesini karena perintah mama kamu.saya dibayar untuk mengajar kamu.dan itu kewajiban saya.jadi saya harus mengajar kamu baru saya bisa mendengarkan cerita kamu!"jelas Rere.
   Bian tampak sewot
  "Emangnya mama bayar kamu berapa sih?sampai sampai waktunya diganggu sedikit aja ga bisa!".
  "Waktu itu ga akan lama Bian.kalau kamu menikmatinya.kalau begitu bagaiman nanti waktu kita belajar dikurangi dan bisa diisi dengan curhatan kamu."seru Rere sebelum mengawali pelajarannya.
 "Oke!.mudah mudahan aja waktu cepet berlalu."seru Bian.yang kemudian membuka buku lesnya.
............

Selasa, 29 Oktober 2013

05:05 parts 19



............
Ken mengikuti Yas yang dibawa Ambulance,Kecemasan dan kekhawatiran di wajahnya tampak begitu jelas.Walaupun tim medis telah menghentikan darah yang keluar dari luka yang terdapat diperutnya.
Ken terus menggenggam tangan Yas yang tak sadarkan diri,tangannya terasa dingin dan rasa takut yang dalam begitu mendera hatinya.
Sampainya dirumah sakit Ken terus mengikuti Yas yang dibawa oleh para suster dan tim medis,tapi ketika sampai didepan sebuah ruangan Suster melarangnya untuk masuk dan Ken makin frustasi dibuatnya.
Didepan ruang UGD Ken hanya mampu mondar mandir dn berdoa untuk keselamatan Yas,dengan baju yang berlumuran darah.
Sesaat kemudian seorang dokter dan mencari keluarga pasien.DengAn cepat Ken menghampiri dokter itu dan menanyakan apa yang terjadi,dan harus dilakukan.
“Bagaimana keadaannya dok?”tanya Ken yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Anda keluarga pasien?”tanya Dokter.
“Ya!,apa yang terjadi?”
“Salah satu saluran rahimnya mengalami kerusakan akibat luka yang disebabkan karena kecelakaan itu,dan pasien harus menjalani operasi pengangkatan saluran rahim!”Seru Dokter itu menjelaskan.
“Apa saja!,lakukan saja!,asal dia selamat!”Seru Ken yang masih terus panik.
“Tapi operasi ini memiliki resiko,Pasien akan sulit memiliki anak!.”Lanjut Dokter.
Ken sejenak terdiam,dan bimbang.
“Apa hanya itu jalan satu satunya untuk menyelamatkannya?”tanya Ken putus asa.
“Ya!,karena pasien terluka parah dibagian itu!”
“Lakukan saja!”Seru Ken kemudian.
“Kalau begitu silahkan lakukan administrasi!”Seru Dokter sambil menunjuk Suster yang akan membantunya.
Ken mengikuti suster dan akan menyelesaikan semua ketentuan yang berlaku.
Ken kemudian menghubungi Tyas untuk datang kerumah sakit tanpa berkata apa apa tentang keberadaannya disana.
Beberapa saat kemudian Tyas datang sesuai dengan apa yang diperintahkan Ken.Tyas terkejut ketika melihat Baju Ken berlumuran darah.
“Apa yang terjadi?,kakak kecelakaan?,dimana Yas?”tanya Tyas berurutan.
“Dia sedang menjalani operasi!,dia yang terluka!,ini darahnya!”Seru Ken tanpa ekspresi.
“Ayo ganti bajumu!,aku akan menunggunya!”Seru Tyas sambil menyerahkan pesanan Ken.
Ken meninggalkan Tyas didepan ruang operasi dengan perasaan was was.
“Bagaimana bisa!”Seru Tyas tak percaya.
Sesaat kemudian tiga orang datang bersama dengan seorang suster yang menanyakan ruang operasi dimana Yas sedang menjalaninya.
Tyas berdiri ketika melihat salah satu dari orang yang datang.seseorang yang pernah dilihatnya beberapa hari yang lalu dirumag sakit.
Sesaat kemudian Ken datang ,dan melihat orang yang datang itu,ia segera menghampirinya,tapi dengan tiba tiba salah satu dari mereka datang menghampiri Ken dan mendorongnya ke tembok,membuat sedikit kekacauan,tapi dengan cepat Tyas melerainya.
“Apa yang kau lakukan pada kakakku?”tanya Kendar dengan nada marah yang tertahan sambil terus Menahan Ken ketembok.
“Lepaskan dia!”Seru Tyas yang terus berusaha untuk melepaskan Tangan Kendar dari baju Ken.
Sementara Ibu Kendar menahan putranya untuk menghentikan tindakannya.
“Semua terjadi begitu cepat dan aku tidak bisa menolongnya!”Seru Ken putus asa.
“Sudah Kendar!,lepaskan dia!,mari kita dengar penjelasannya!”Seru Ibu Kendar bijak.
Kendar melepaskan cengkraman tangannya dari baju Ken dan mencoba untuk tenang.Ibu Kendar mengajak putranya untuk duduk dan diikuti oleh Tyas dan Ken.
Ken mulai menceritakan apa yang terjadi,sesuai apa yang ia lihat sampai akhirnya mereka ada disana.
Mereka bertiga menunggu dalam kecemasaan.dan saling diam.Ken yang paling terpukul,ia tahu Yas sedang menjalani operasi apa,tapi ia tidak menceritakan  pada orang yang kini ada dihadapannya.
“Sebaiknya kakak istirahat!”Seru Tyas mengingatkan yang melihat wajah Ken tampak begitu lelah.
“Bagaimana mungkin aku bisa istirahat!”Seru Ken parau.dengan airmata yang sudah mengering.
“Atau mau aku belikan sesuatu?”tanya Tyas yang berdiri.
Ken menggeleng dan tanpa bertanya lagi Tyas pergi meninggalkan Ken dan keluarga Yas.
Tyas menghampiri keluarga Yas dan menanyakan sesuatu,karena ia akan ke kantin Rumah sakit.Sejenak Tyas memandang Kendar dengan tatapan kesal.
“Kakak boleh aku ikut?”tanya Raisha dengan nada akrab.
“Boleh!”Seru Tyas dengan nada yang juga mengakrabi.
“Raisha jangan bicara dengan orang asing!”Seru Kendar dengan nada ketus.
“Dia bukan orang asing!,dia keluarga Kak Ken!”Seru Raisha mengingatkan.
Kendar terdiam dan sejenak melirik pada Tyas dan kemudian membuang wajah.
“Ayo kita pergi!”Seru Tyas sambil menggandeng tangan Raisha.
..........
   Ken menunggu diluar ruangan sementara Kendar dan Ibunya menemui Yas yang belum sadar.
Ken terus mengepalkan kedua tangannya dan terus berdoa.Airmata tak tahan untuk tetap tertahan di pelapuk matanya hingga akhirnya airmata itu jatuh dan dengan cepat Ken menghapusnya ketika Ibu Yas keluar dari ruangan putrinya.
Ken bangkit dari tempat duduknya dan menemui Ibu Yas
   “Bagaimana keadaannya?”tanya Ken yang tampak begitu cemas.
“Dia belum siuman!,apa hubunganmu dengan Yas?”tanya Ibu Yas dengan tatapan curiga.
“Saya!,saya teman putri anda!”Jawab Ken hati hati dan kikuk.
“Teman seperti apa?”Ibu Yas ingin lebih jelas.
“Saya mencintai putri anda!”jawab Ken tegas.
Ibu Yas terdiam dan menatap Ken,memperhatikannya dengan serius.
“Sudah berapa lama hubungan kalian?”Tanya Ibu Yas untuk lebih meyakinkan.
Ken terdiam sejenak,sangat sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu,karena usia hubungan mereka belum ada 48 jam.
   “Kami baru menjalani hubungan ini sejak kemarin!,tapi saya serius dengan putri anda!,dan saya berencana untuk menikahinya!,bisakah ibu memberi restu pada kami!”Seru Ken meyakinkan,dan spontan.
Sikap tenang terus ditunjukan oleh Ibu Yas yang membuat Ken merasa serba salah.
   “Tetaplah bersamanya!,dia sudah terlalu menderita,terlalu banyak tuntutan!,dan jangan buat dia sakit lagi”Seru Ibu Yas kemudian buka suara.
  Ken terkejut dengan pengakuan Ibu Yas yang ternyata merestui hubungn mereka.
Sesaat kemudian keluarlah Kendar dan Raisha.Kendar menatap Ken sinis tapi tidak dengan Raisha,ia tampak masih bisa bersahabat dengan Ken.
“Boleh saya masuk?”tanya Ken yang sudah tidak sabar untuk menemui Yas.
“Masuklah!”Seru Ibu Yas yang ditolak oleh Kendar dengan bola matanya yang membesar.
Tanpa pikir dua kali Ken langsung masuk kedalam ruangan Yas dirawat,Melewati Kendar yang melihatnya benci.
Ken masuk kedalam kamar Yas dimana Yas terbaring tak sadarkan diri dengan selang yang menempel ditubunhya dan monitor yang memantau detak jantungnya.
Dengan langkah hati hati Ken mendekati tempat tidur Yas dan kemudian duduk disamping tempat tidurnya.Dengan pelan Ken menarik tangan Yas dan diganggamnya lembut.
“Maafkan aku!”Seru Ken yang kemudian menunduk.Ken masih menyesali keputusannya.
Jika seandainya ia mendengarkan ayahnya untuk membawa mobil mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu.Tapi semua sudah terjadi dan hanya penyesalan yang kini ia rasakan.
Ken terus berbicara sendiri seolah oleh ia sedang bicara dengan Yas.
Ken menemani Yas dengan sabar,sementara Keluarganya sendiri menunggu Diluar.
Kendar merasa gelisah diluar kamar kakaknya,ia tak tenang meninggalkan Yas dan Ken hanya berdua didalam.
Ibu Yas melihat tingkah anakanya seperti cacing kepanansan,dan kemudian menegurnya.
“Apa yang sedang kau lakukan Ken?”tanya Ibu Yas.
“Kenapa ibu membiarkan mereka hanya berdua!”Seru Kendar tak setuju.
“Bukan masalah kan!,dia adalah kekasih kakakmu!”Seru Ibunya enteng.
Kendar membulatkan matanya terkejut dan tak percaya.
“Apa maksud ibu?”tanya Kendar sambil duduk didepan ibunya.
“Mereka pacaran!”
“Tidak mungkin!”Seru Kendar tak percaya dan protes.
“Kenapa tidak mungkin!,usia kakakmu sudah cukup untuk menikah!,mungkin saja laki laki itu adalah pilihan kakakmu!”
“Tapi wanita yang tadi itu adalah kekasihnya!”Seru Kendar mengingatkan dan juga menebak.
“Siapa yang bilang!”Sebuah suara menggelegar memecahkan obrolan mereka.
Dan tak jauh dari tempat mereka berdiri Tyas dengan tentengan ditanganya.
Sejak awal pertwmuan merek Tyas sudah tidak suka dengan tingkah Kendar dan hal itu membuatnya makin tidak suka dengannya.
Tyas berjalan menghampiri mereka bertiga dan menyodorkan bungkusan yang dibawanya.
“Ibu!,ini saya bawakan makanan untuk kalian!,kalian belum makan kan!”Seru Tyas sambil mengambil satu bungkus untuk dipisahkan.
“Terima kasih nak Tyas!”Seru Ibu Kendar menerima dengan senang hati dan begitu juga dengan Raisha.
Tapi tidak dengan Kendar ia masih terdiam ditempatnya dan hanya mencuri curi pandang pada mereka bertiga.
“Kakak Ken dimana?”tanya Tyas yang melihat tidak ada diantara mereka.
“Dia ada dia ada didalam!”Seru Ibu Kendar sopan.
“Oh!”Seru Tyas yang kemudian mengambil satu lagi bungkusan makanan yang dibawanya,dan ia berjalan mendekati Kendar yang duduk menjauh dari mereka.
“Makanlah!”Seru Tyas sambil menyodorkan makanan pada Kendar.
Kendar diam saja,ia tak berniat untuk mengambinya tapi Tyas tetap bertahan dengan posisinya,Melihat hal itu Kendar tak tega dan akhirnya ia menerimanya.
“Terima kasih!”Seru Kendar tanpa menoleh dan dengan nada Cuek.
Tyas duduk disamping Kendar dan membuka Hpny.Ia asyik dengan hpnya sementara Kendar serius makan.Sesekali Tyas melirik Kendar yang makan dengan lahap,dan begitu guga dengan Kendar yang tetap gengsi walaupun ia kelaparan.
“Kenny bukan pacarku!,dia adalah kakak sepupuku!”Seru Tyas meralat tebakan Kendar.
“Siapa yang peduli!”Seru Kendar Tyas.
“Aku hanya meralat ucapanmu!,karena itu akan mengganggu hubungannya dengan kakakmu!”Seru Tyas yang tak kalah cuek.
Ken menghenetikan acara makannya dan menghadap Tyas untuk mencari tahu kanan ucapan Tyas.
“Apa maksudmu?”tanya Kendar dengan tatapan sinis dan ketus.
“Kau tidak tahu?,kasihan sekali!”seru Tyas dengan nada meremehkan.
“Kakakku!,akan menikahi kakakmu!,kau tak tahu itu!”Seru Tyas prihatin.
Kendar tak berkata apa apa ia hanya menyembunyikan kekesalannya dan kemudian melanjutkan makannya.
Hari makin larut sementara Ken masih berada didalam.Tyas bangkit dari tempat duduknya dan mencoba untuk menengok kedalam kamar Yas.
“Ibu!Raisha!,sebaiknya kalain pulang!,disini biarkan akau dan kak Kenny yang Menjaganya!”Seru Yas berinisiatif.tanpa menyebutkan nama Kendar untuk pulang juga.
Ibu Kendar terdiam sejenak dan berfikir,dan sesaat kemudian keputusan ia ambil.
Ibu Yas memutuskan untuk pulang,karena Esok hari Raisha sekolah dan begitu juga dengan Ken dar.Tapi Kendar langsung menolaknyadan beralasan ia akan pulang pagi pagi untuk bersekolah.
“Apa kau bisa pulang tepat waktu?”tanya Ibu Kendar sangsi.
“Tentu saja,bukankah Tyas hanya menyebutkan nama kalian untuk pulang!”Seru Kendar membela diri.
Tyas menggenggam tangannya gemas dan kesal melihat tingkah Kendar yang benar benar seperti anak Kecil.
“Kakakmu akan aman jika kami jaga!”Seru Tyas mengingatkan.
“Siapa yang bisa menjamin!”Seru Kendar dengan nada mengejek sambil melirik pada Tyas.
Tyas hanya mendesah penuh kekesalan.
“Maksudmu apa?,kau pikir kami akan berbuat tindakan kriminal pada kakakmu?”seru Tyas menebak.
“Selin cantik kau juga pintar!”Seru Kendar dengan nada mengejek.
“Sudah sudah!,baiklah!kau jaga Kakakmu dan jangan buat keributan!”Seru Ibu Kendar.
Tyas menengok kedalam kamar Yas,dan Ken mengetahinya dan kemudina ia keluar untuk bertemu dengan mereka.
Ibu Yas berpamitan,dan begitu juga dengan Raisha.Sementar Kendar memandang Ken sinis.
Setelah Ibu dan Raisha pergi Ken kembali masuk kedalam kamar Yas tapi tiba tiba di cegah oleh Tyas.
“Kakak.tunggu!.”Seru Tyas yang langsung menghampiri Ken
Ken menghentikan langkahnya dan menunggu Tyas menghampirinya.
“Ada apa?”tanya Ken tak bersemangat.
“Sebaiknya kakak makan dulu!,bukankah kakak belum makan dari tadi siang!”Seru Tyas mengingatkan.
“Aku tidak lapar!”Seru Ken tak bersemangat dan kemudian masuk.
Dengan cepat Tyas menarik lengan Ken dan menahannya.
“Kalau tidak makan nanti kakak sakit!”Seru Tyas memperhatikan.
Ken mendesah dan melihat minuman yang dibawa Tyas.Ken mengambilnya dan kemudian masuk.
“Hanya itu?”Tanya Tyas kecewa.
Ken hanya mengangguk pelan dan kemudian masuk kembali.
Kendar berjalan menghampiri pintu dan hendak membukanya tap dengan cepat Tyas menarik lengan Kendar dan menahannya.
“Ada apa?”tanya Kendar tak mengerti.
“Aku tidak ijinkan kau masuk jika hanya membuat keributan dengan Kenny!”Seru Tyas mengancam.
“Kau pikir seperti itu?,aku juga bis bersikap dewasa!”Seru Kendar mengingtakan.
“Oh ternyata kau bisa juga melkaukannya!”Seru Tyas mengejek.
Kendar mendesah dan merasa kesal karena Tyas begitu cerewet.
“Hey nona!,tidakah kau sadar,dirimulah pembuat keributan itu!”Seru Ken mengingatkan.
Tyas terdiam,dan Ken mencoba untuk membuka pintu lagi tapi sekali lagi Tyas menahannya.
“Biarkan mereka berdua!,biarkan Kenny bersamanya,dia terlihat sangat sedih!,dia menagis!,dan aku baru lihat ini untuk pertama kalinya selain saat ibunya meninggal!”Seru Tyas dengan nada lebih halus dan sopan.
Kendar menghela nafas dan menuruti perintah Tyas.Kendar duduk dibangku dan menunggu.Sementara Tyas masih berdiri didepan pintu.
Kendar duduk sambil menundukan kepalanya terlihat lelah dan putus asa.Sesaat kemudian Kendar mengangkat kepalanya lagi dan melihat kearah Tyas yang masih berdiri mematung.
“Hey!,apakah sekarang kau yang ingin masuk,dan melihat apa yang mereka lakukan?”tanya Kendar dengan nada meledek.
Tyas menoleh pada Kendar dan menggeleng.
“Tidak!”Jawab Tyas singkat.
“Kalau begitu duduklah!”Seru Kendar sambil mempersilahkan Tyas duduk di sampingnya.
Dengan ragu Tyas berjalan menghampiri Kendar dan duduk disana.Kembali Tyas mengeluarkan hpnya dan memilih untuk membuka Game untuk menghilangkan Kejenuhan.
“Seperti anak kecil saja!”seru Kendar dengan nada mengejek ketika melihat Permainan yang dimainkan Tyas .
“Da....”
Kalimat Tyas terhenti ketika Pintu terbuka dan munculah Ken.
“Kalian tidak pulang?”tanya Ken yang terkejut.
“Kami menemani kakak!”Seru Tyas dan Kendar hampir bersamaan.
Tyas dan Kendar saling melihat dan kemudian membuang muka,sementara Ken hanya mendesah.
“Kenapa tidak didalam saja!,didalam luas!”Seru Ken berinisiatif.Karena Ken mengambik kelas VIP.
Akhirnya Tyas,Ken,dan Kendar masuk kedalam kamar dan menunggu disana.Tyas tertidur tempat duduk yang memanjang.sementara Ken Dan Kendar memilih untuk duduk didekat tempat tidur Yas sambil duduk.
Kedua pria itu duduk di dua sisi yang bersebrangan ,tak ada kata diantara mereka,mereka hanya hanyut dalam pikiran masing masing.
“Apalah kau benar benar mencintai kakakku?,sejak kapan kau mencintainya?”tanya Kendar membuka obrolan.
“Apa aku harus mengatakannya padamu kapan itu?”tanya Ken yang tak ingin bicara.
Ken terus memperhatikan wajah Yas yang tenang dengan alat bantu nafas dihidungnya.
“Dia semakin cantik sejak pertama kalia aku melihatnya!”Seru Kendar yang secara tak sengaja bernostalgia.
“Ya!,dia memang cantik,itu yang membuatku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dengannya!”Seru Ken jujur yang kemudian melihat Yas dan Kendar bergantian.
“Jaga kakaku!,jangan buat dia menangis!”Seru Kendar yang secara tidak sengaja pula merestui mereka.
“Tentu saja itu akan aku lakukan!”Seru Ken mantap.
“Lalu bagaimana denganmu.Apakah kau sudah menemukan penggantinya?”tanya Ken yang merasa terbebani dengan pengakuan Kendar pada Yas beberapa waktu lalu.
Ken melirik Yas,Ken dan juga Tyas yang tampak tertidur pulas.
“Tentu belum,tapi aku sedang mencobanya!”
“Sebaiknya cepat karena aku akan terus diganggu rasa tidak nyaman terhadapmu!”suruh Ken dengan nada meledak.lalu menoleh pada Tyas.
........
Pagi menjelang Ken membuka matanya dan orang yang pertama dilihatnya adalah Yas,yang masih begitu tenang tenggelam dalam tidurnya.Lalu Ken mengangkat kepalanya ia sudah tak melihat Tyas maupun Kendar,mereka sudah pergi meninggalkan mereka.
Ken mendesah dan kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk mencuci mukanya.Selesai membersihkan tubuhnya Ken melihat ada bungkusan diatas meja dan ia menebak itu dari Tyas.Ken menghampiri bungkusan itu dan membukanya.
Ken langsung melahap sarapan yang dibawakan oleh Tyas,karena dari semalam ia belum makan dan pagi harinya cacing cacing didalam perutnya meronta minta diberi makan.Selesai makan Ken menemui dokter yang menangani Yas,untuk mengetahui keadaannya.
Dokter memberitahunya jika kondisi pasien dalam keadaan stabil walaupun sejak operasi pasien belum juga membuka matanya,Dan dokter mengatakan jika itu hanya pengaruh dari obat yang diberikan.
Ken belum bisa lega sepenuhnya atas kata kata dokter tapi ia berharap hal itu memang adalah hal yang baik.
Ken kembali keruangan Yas dan didepan kamar Yas ia melihat Ibu Yas yang berdiri didepan kamar Yas.Ken segera menghampiri wanita yang segera menjadi ibu mertunya itu.
“Ibu sudah datang!”Seru Ken berbasa basi.
“Ya!,Bagaimana keadaannya?”tanya Ibu Yas yang tampak begitu tenang.
“Saya sudah menemui dokter yang menangani Yas,dan dia bialng kalau Yas dlam keadaan stabil walaupun belum juga bangun.
Ibu Yas mengajak Ken untuk duduk didepan kamar Yas sebelum mereka masuk kedalam kamar Yas.
Ken duduk disamping Ibu Yas dan mencoba untuk mendengarkan apa yang ingin beliau katakan padanya.
“Jaga dia baik baik!”Seru Ibu Yas dengan nada yang begitu berharap.
Ken sejenak terdiam dan berfikir sejenak.
“Tentu!”Seru Ken yakin dan mantap.
“Dia anak yang tegar tai rapuh!,aku terlalu menekannya!,tapi ia tidak mengeluh ataupun membantah,tapi aku tahu ia menangis setelah itu!”Cerita Ibu sedih.
Ken hanya mengangguk dan membenarkan apa kata kata orang yang ada sdisebelahnya itu.
“Tapi menurut saya,anda sudh termasuk ibu yang sanagt baik,karena selama ini Yas tidak pernah bercerita yang buruk tentang anda!”
“Karena dia sangat pandai menyimpan perasaannya!”Seru Ibu Yas dengan tatapan menerawang.
       Ken tersenyum geli.
“Ya!,karena itu aku juga sedikit kesulitan untuk mengetahui perasaannya padaku!”Seru Ken malu.
Ibu Yas tersenyum sambil memandang calon mantunya itu.
“Lalu bagaiman aku melamarnya?”tanya Ibu Yas yang masih memandang Ken.
Ken terkejut senym sekolas hilsng didajahnya,wajahnya tampak bingung untuk menjawab pertanyaan itu.
“A...aku.sampai saat ini aku belum melamarnya!”seru Ken malu malu dan lalu menunduk.
Gurat kebingungan terlihat di wajah Ibu Yas tapi ia segera menghilangkannya dan menarik nafas.
“Aku berencana untuk melamarnya!,sebenarnya kemarin kami berniat untuk datang kerumag ibu,sampai musibah ini terjadi!”Seru Ken menyesal.
Ibu Yas tak mengatakan apa apa,ia hanya mengulurkan tangannya dan mengusap punggung Ken untuk menguatkannya.
...........
Tyas kembali kerumah sakit dengan membawakan baju ganti untuk Ken dan didepan Rumah sakit Tyas bertemu dengan Kendar yang baru memarkirkan motornya bersama dengan Raisha.Mengetahui ada Raisha Tyas menyapanya ramah,tapi tidak pada Kendar,Tyas tidak menunjukannya langsung tapi dari sikapnya terlihat ia mengacuhkannya.
“Hay kak Tyas!”Balas Raisha hangat.
Tyas menyambutnya dengan tersenyum lebar tapi tidak ketika melihat Kendar yang menyusul dibelakang Raisha.
Tyas hanya mendesah ketika melihat Kendar dan kemudian ia berjalan sambil mengajak Raisha untuk berjalan lebih cepat dari Kendar.
Tapi ternyata Kendar juga tidak mau kalah,ia mengejar mereka berdua dengan langkahnya yang panjang.
“Hey nona!,untuk apa buru buru!,kau ingin berolahraga?”Seru Kendar dengan nada meledek dan terus menyamakan langkah dengan Tyas.
“Aku ingin buru buru menemui Kenny!”Seru Tyas beralasan.
Kendar hanya mengerutkan keningnya dan kemudian membiarkan Tyas dan Riasha untuk duluan pergi.
Tyas memelankan langkahnya dan berbalik,ia melihat Kendar berjalan mengikutinya tapi tidak terlalu cepat langkahnya.Tidak berniat untuk mengejarnya lagi.
..............
Ken duduk disamping Yas yang masih belum sadarkan diri sementara Ibu Yas pergi entah kemana,Tapi ibunya mengatakan untuk tidak khawatir karena ia hanya akan berkeliling.Tapi Ken menebak hal itu dilakuaknnya agar ia bisa terus berduaan terus dengan Yas.
Ken tersenyum sendiri saat pikiran itu datang tiba tiba di pikirannya.
“Apa yang membuatmu tertawa!”Sebuah suara lemah mengejutkan Ken.
Ken terkejut dan denagn cepat melihat kearah Yas,Dan denagn terkejutannya Ken berdiri dan tanpa disadarinya airmatanya tiba tiba mengalir.
“Kau sudah bangun?”tanya Ken yang baru bisa mengumpulkan suara untuk berkata.
“Dimana aku?”tanya Yas lemah dengan pandangan Melihat kesekitar.
Ken tak menjawab,ia hanya tersenyum sambil terus mengeluarkan airmata.
“Rumah sakit!”Seru Ken kemudian.
“Rumah sakit!,kenapa?”tanya Yas yang mencoba untuk bangun tapi Ken menahanya.
“Ahh!!!”Terik Yas yang merasa kesakitan.
“Jangan bangun dulu!,kondisimu masih lemah!”Seru Ken yang masih menahan Yas untuk tidak bergerak.
“Apa yang terjadi padaku?”tanya Yas yang masih belum menegrti.
Ken kembali duduk ditempatnya dan dengan lembut ia membelai rambut Yas dengan sayang dan tersenyum tipis.
“Kau baru bangun?.Atau tidur terlalu lama!”seru Ken dengan nada bertanya.
Yas tak mengerti dengan kata kata Ken yang menurutnya masih bercanda sementara ia kebingungan.
“Kau tidur lama sekali!,dan aku pikir kau adalah wanita yang suka tidur!”Seru Ken yang masih membuat Yas bingung.
“Apa Yang terjadi padaku?’tanya Yas dengan sedikit Kesal karena Ken terus bergurau.
“Kau baru saja melewati masa kritismu!,dan kata kataku tadi hanya selinga karena aku merasa stress selam menunggumu dari tidur panjangmu!”seru Ken yang tak henti hentinya tersenyum bahagia.
“Harusnya aku memberimu ciuman sejak awal,suapaya kau cepat bangun!,dan tidak membauatku khawatir!”Seru Ken yang terus bicara.
“Disaat aku seperti ini kau bertingkah seperti anak kecil!”Seru Yas kesal dan kemudian ia memegangi perutnya karena merasa sakit.
“A.....!”seru Yas menahan rasa sakit.
“Ada apa?”tanya Ken yang kemudian panik kembali.
“Sakit sekali!”Keluh Yas sambil menunjukan ekspresi kesakitan.
Ken gelagapan ia kalut,ia tak dapat berfikit normal apa yang harus ia lakukan!,walaupun dalam otaknya ia tahu apa yang harus ia lakuakn yaitu memanggil dokter.
Ken  mondar mandir di depan kamar Yas ia merasa bersalah karena melakuakn hal hal yang tidak dewasa dalam keadaan yang tidak tepat.Sesaat kemudian datang Tyas,Raisha ,Kendar dan ibu Yas yang membawa bungkusan.
“Ada apa Kak?”Tanya Tyas yang langsung menghampiri Kenyang tampak begitu panik.
“Yas!,Yasmine sudah sadar tapi.....!”Ken tidak bisa melnjutkan kalimatnya karena ia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi didalam.
Sesaat kemudian dokter dan susuter keluar dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
“Bagaimana keadaanya Dok?”Sambar Ken tak sabar.
“Pasien baik baik saja!,rasa sakit yang dirtimbulkan terjadi karena ia melakukan gerakan yang sangat mendadak sehingga jahitannya sedikit mengalami gerakan sehingga menimbulkan rasa sakit!,tapi tidak papa!”Seru Dokter menemangkan.
Kekhawatiran sedikit hilang dari waajah Ken dan dengan segera ia masuk kekamar Yas yang diikuti oleh Ibu Yas dan Riasha,karena dokter menyarankan untuk tidak membuat Pasien kelelahan,mungkin dengan banyakanya pengunjung akan membuat pasien sedikit stres.
Dan dengan terpaksa Tyas dan Kendar mengalah,dan mereka menunggu didepan.
“Apa ini menurutmu adil?”tanya Kendar pada Tyas yang duduk disampingnya.
Tyas terdiam ia tak mengerti apa yang dikatakan Kendar,Tyas hanya mengerutkan kening dan mencoba untuk mencari tahu apa yang dikatakan Kendar padanya.
“Seharusnya aku yang ada didalam sana bukan Ken!”Seru Kendar yang meras tidak adik.
Tyas mendesah dan sedikit tersenyum tapi langsung ia sembunyikan.
“Kau merasa cemburu pada Kenny?”tanya Tyas dengan nada sedikit mengejek.
“Sepertinya ibumu lebih memilih Kenny daripada dirimu!”Seru Tyas yang makin menjadi!.
Sesaat kemudian Ken keluar dan menyuruh Kendar untuk masuk,Dan tanpa disuruh kedua kalinya Kendar masuk meninggalkan Tyas dan Ken.
“Bagaimana perasaan kakak sekarang?”tanya Tyas sambil terus menatap Ken yang sudah mulai tenang.
“Aku ingin menikahinya sekarang!”Seru Ken mantap dan membuat Tyas terkejut dan hanay bisa membuka mulutnya dan membulatkan matanya.
Ken hanya melihat Tyas dengan keterkejutannya,tanpa bertanya.Yang Ken pikirkan saat ini hanyalah kebahagiaan Yas,dan penjelasan dokter padanya.Untuk tetap membuat Yas kuat hanyalah tetap berada disampingnya dan meyakinkan dia untuk mengamnggap semua akan baik baik saja selama ia percaya kepadanya.
“Apa aku harus menghubungi Ayah?”tanya Tyas kemudian berinisiatif.
Ken terdiam dan ia menatap Tyas dan ia bisa mengeti apa maksud Tyas tadi.
“Baiklah!”Seru Ken setuju.
“Kalau begitu ganti bajumu!”Seru Tyas sambil menyerahkan tas berisi baju bersih pada Ken.
Sesaat kemudian Ibu Yas Keluar sementara Tyas pergi entah kemana.Dengan sedikit ragu Ken mendatangi Ibu Yas dan mengatakan maksudnya.Untuk sesaat Ibu Yas terdiam mendengar kata kata Ken tapi sesaat kemudian Ken menceritakan sesuatu yang membuat Ibu Yas mengeluarkan airmata dan restupun diberikannya.
...............
Ken masuk kedalam kamar Yas,dan disana Yas sudah terlihat lebih baik walaupun selang infus masih menempel di badannya.
Yas melihat Ken tampak berbeda ia terlihat lebih rapi dan segar.
“Hey!,anak muda kau terlihat rapi dan lebih tampan!”Seru Yas dengan nada meledek dan senyuman diwajahnya.
Ken hanya tersenyum tanpa bersuara,ia berjalan perlahan mendekati Yas dan kemudian duduk Disamping Tempat tidur Yas.
“Apa kau mengkhawatirkanku tadi?”tanya Yas yang mencoba untuk menenangkan.
“Ya!,dan aku merasa bersalah karena mengajakmu bercanda disaat yang tidak tepat!”Seru Ken penuh penyesalan sambil terus menatap Yas yang terus tersenyum padanya.
“Ini bukan dirimu!”Seru Yas yang tiba tiba mengusap wajah Ken.
Ken tersenyum dan ia meraih tangan Yas yang menempel diwajahnya dan menggenggamnya erat.
“Kakak.apapertanyaanku masih berlaku untuk kau jawab?”tanya Ken kemudian yang tak dimengerti Yas.
“Pertanyaan yang mana?”tanya Yas tak mengerti.
“Kata kata apa yang pantas untuk melamar seseorang!”Seru Ken mengingatkan.
Yas terdiam ia tiba tiba meras deg degan walau itu tak pasti.
“I...Itu terserah padamu!,kau yang akan memintanya!Seru Yas dengan nadagugup.
Ken dapat mendengar kegugupan dari suara Yas tapi ia diam saja.
“Kakak maukah kau menikah denganku?”seru Ken dengan nada bertanya.
“Kakak menikahlah denganku!”Seru Ken dengan nada meminta
"Kakak ayo kita menikah!"seru Ken dengan nada mengajak.
Yas terdimam matanya berkaca kaca dan tak bisa mengatakn apa apa.ingin rasanya ia bangun dari temaptnya tapi tidak bisa.ia hanya bisa terdiam dan menahan airmata di pelalukan matanya.
“Kau memintaku untuk jadi isrtimu sementara kau belum pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku!”Seru Yas yang tiba tiba mengubah suasana menjadi berbeda.
Ken mendasah dan menutup matanya.
“Benarkah akau tidak pernah mengatakannya aku rasa kakak saj yang tidak mendengarnya,karena sepanjang malam aku terus mengatakan kalimat itu padamu!”Seru Ken tidak mau disalahkan.
“Tapi aku tidak pernah mendengarnya secara langsung!”Bela Yas
Yas Kembali terdiam dan kemudian ia mengulaing kalimatnya yang pernah ia ucapkan saat mereka didalam bus.
Te amo!”(aku mencintaimu!).seru Ken yang kembali membuat Yas bingung.
  “Aku mencintaimu!”Seru Ken mengartikan.
    Yas tersenyum dan kemudian cemberut karena merasa dibodohi.
“Kau merendahkanku!”Seru Yas.
“Aku hanya ingin suasana yang berbeda bela Ken.
    “Lalu apa jawaban kakak?”Tanya Ken menagih.
    Yas terdiam ia berfikir .
   “Hey anak muda yang tampan!,maukah kau menikahiku!”Seru Yas dengan nada bertanya.
    Ken tersenyum dan ia berniat memeluk Yas tapi ia urungkan karena akan sangat sulit untuk melakuakannya.
Lalu Ken mencondongkan kepalanya dan berniat untuk mencium kening Yas,Yas hanya terdiam dengan perasaan berdebar.
“Apa itu tanya Ken ketika mendengar suara asing dan dilihatnya monitor yang menunjukan detak jantung Yas menunjukan aktifitas detak jantung diatas normal.
Ken mengerutkan keningnya dan memandang Yas.
“Apa jantung kakak berdebar debar?”tanya Ken dengan nada meledek.
“Tidak!”Seru Yas membela.
“Tapi alat itu mengatakan YA!”Seru Ken yang kemudian mencium kening Yas.
Satu jam kemudian dengan perasaan keterkejutan yang tidak terduga membuat Yas hanya bisa menangis bahagia dengan kedataangan orang orang yang di kenalnya.Dengan pembuktian kata kata Ken yang memintanya untuk menikah denganya.
Dan kehadiran orang tersebut adalah saksi pernikahan sederhana yang dilaksanakan secara sederhana di ruangan yang tidak bisa dibilang luas tapi juga tidak bisa dibilang sempit.
..........
Beberapa hari berlalu dan Yas sudah diizinkan untuk pulang karena bekas operasinya sudah lebih baik.Pengantin baru itu memilih untuk pulang kerumah mereka yaitu rumah Yas walaupun dengan tegas Ayah Ken menyuruh mereka untuk pulang Kerumahnya,hal itu dilakuakn agar ada orang yang bisa merawat Yas dengan baik,Tapi Ken berkeras untuk merawat istrinya sendiri dan dengan memegang janjinya sebagai suami yang bertanggung jawab Ken berhasil memenangkan kepercayaan ayahnya jika ai bisabertanggung jawab dan menjaga  terhadap istrinya sendiri.
Dengan menaiki mobil miliknya Ken membawa istrinya pulang dengan Tyas sebagai supir mereka.
Ken membopong istrinya masuk kedalam rumah ketika mereka sampai.Walaupun Yas sudah bisa berjalan,tapi Ken tetap melakuakn itu,hal yang membuat Yas harus menahan malu.Ken dan Yas masuk kedalam rumah dan sebuah kejutan menanti mereka,Kejutan yang dibuat oleh Ken untuk istri tercintanya.
Sementara Tyas memilih untuk kembali pulang karena tidak mau mengganggu pengantin baru itu
Sebuah mesin jahit baru menanti mereka di ruang tamu.Yas tak bisa mengatakan apa apa,ia hanya bisa menangis terharu dan memeluk suaminya dan menangis.
Ken mendudukan istrinya disofa di rumah mereka,sambil terus tersenyum Ken terus menggoda istrinya yang masih menangis karena terharu.
“Kau menagis untuk apa?”Tanya Ken yang berjongkok dihadapan Yas.
“Banyak hal yang harus ditangaisi didunia ini!”Seru Yas beralasan sambil menyapu airmatanya.
Ken membantu menyekanya!,itu hadiah untukmu !”Seru Ken mengingatkan
“Semoga dengan itu kita bisa membangun keluarga yang kita harapkan dengan usaha yang kita bangun sendiri!”Seru Yas senang.
“Ya!,tentu!”Jawab Ken yang masih tersenyum.
“Anak yang lucu!berlarian disekitar kita!,sepertinya akan sangat menyenangkan!”Seru Yas bahagia.
Sesaat senyum hilang diwajah Ken tapi ia mencoba untuk menutupinya dengan kembali tersenyum pada istrinya.
“Berapa anak yang ingin kau lahirkan?”tanya Ken dengan nada menggoda.
Yas tersenyum sambil memandang kelangit langit rumah.
“Ayahmu ingin cucu berapa?,aku ingin mengabulkannya!,karena aku tidak ingin anakku seperti ayahnya yang hanya menjadi anak tunggal dengan adik sepupunya!”Seru Yas dengan nada meledek dan terus tersenyum.
Ken terdiam dan menatap pada istrinya.
“Kau pikir anak itu baju yang bisa dipesan dalam jumlah banyak!”Seru Ken kemudian Dengan nada kesal.
“Hey kau marah?”tanya Yas yang menarik wajah suaminya untuk menatap padanya.
“Menurutmu?,”seru Ken tanya balik.
“Oke kita ikuti waktu!”Seru Yas yang tak ingin berdebat soal anak.
“Apa kau lapar?”tanya Yas yang berniat untuk bangun tapi kemudian Ken menahanya.
“Bukankah kita sudh makan tadi?”seru Ken mengingatkan.
“Aku pikir kau akan lapar lagi karena menggendongku tadi!”seru Yas beralasan.
“Kau tidak seberat itu hingga membuat tenagaku cepat habis!,Bagaimana kalau kita keatas!,aku ingin melihat bintang malam ini!,karena kemarin aku melihatnya sangat banyak!”Seru Ken yang langsung nagkit dari tempatnya dan berniat membopong Yas.Tapi Yas menolaknya dan memintanya untuk memapahnya saja.
Ken menuruti dan mereka menaiki anak tangga satu persatu sampai merka sampai di balkon tertinggi yaotu depan kamar Ken.
Ken dan Yas duduk santai dibalkon sambil menikmati bintang yang memang benar benar banyak malam itu bulan yang belum sepenuhnya bulat.
“Biasanya kalau banyak bintang udara akan terasa lebih dingin!”Seru Ken yang sedari tadi memeluk istrinya dari belakang.
“Ya memang seperti itu!”Jawab Yas tanpa melihat pada suaminya yang terus mendekatkan wajahnya.
“Ayo kita turun!,sudah malam!”Seru Yas mengingatkan.
“Bagaimana kalau malam ini kita tidur disini!,aku rindu tempat ini!”Seru Ken sambil melepaskan pelukannya dn bergeser menghadap Yas.
Kini mereka duduk berhadapan Ken memandangi wajah istrinya yang cantik sementara Yas mencoba untuk menghindari kontak mata dengan suaminya.
Ken mengangkat kedua tangannya dan menempelkannya pada wajah Yas,melakukan hal yang biasa ia lakuakn pada Yas.
Sementara Yas hanya terdiam tak berkata apapun.
“Apa lukamu masih terasa sakit?”tanya Ken memperhatikan.
“Tidak!,hanya saja jika melakuakn gerakan yang tiba tiba membuatnya terasa sedikit sakit!”Jelas Yas.
“Kalau begitu diam saja!”Perintah Ken dan Yas menurutinya patuh.
Pelahan Ken mendekatkan wajahnya dan dengan lembut ia mencium pipi istrinya.
“Aku mencintaimu!”Bisik Ken.
Ken kembali mencium kening Yas dan kembali berbisik
“Aku mencintaimu!”kata Ken Lagi.
“Aku menicntaimu!”Kata Ken lagi dan membuat Yas terkejut karena Ken tidak melakukan apa apa tidak seperti hal yang ia lakukan sebelumnya.
Dengan perlahan Ken mendekatkan wajahnya pada wajah Yas dan ia mencium bibir Yas dengan lembut dan kemudian lebih bergairah.
Beberapa saat berlalu dan Yas mengaduk kesakitan karena luka bekas operasi terasa perih.Dengan segera Ke memeriksanya dan dilihatnya ada darah yang keluar dari bekas jahitanya.Dengan sigap Ken menggendong istrinya untuk turun dan sampainya dibawah Ken mengganti kain yang digunkan untuk menutupi luka,sesuai dengan petunjuk yang disarankan dokter.
“Maafkan aku!”Seru Ken menyesal.
“Tidak papa!”Seru Yas melapangkan
“Sebaiknya kita tidur sekarnag!”Seru Yas yang berniat untuk bangun tapi Ken emncegahnya dan segera membawanya Ke Kamar.
.........
Yas duduk disudut tempat tidurnya sementara Ken duduk disudut yang lainya,sesaat kecanggungan menghampiri mereka karena berada di dalam kamar yang sama.Ken mengubah posisinya dan kemudian merebahkan tubuhnya ditempat tidur,sementara Yas masih duduk ditampatnya hanya melihat sekilas Ken yang sudah nyaman dengan keadaannya.
“Mari kita tidur!”Ajak Ken.
Dengan tanpa bersuara Yas menuruti dan menyamakan posisinya seperti Ken.Ken tiba tiba memiringkan badannya hingga menghadap Yas dan dengan kecanggungannya Yas menatap wakah suaminya yang kini sedang menatapnya.
Dengan perlahan Ken menjukurkan lengannya dan memasukannya kedalam celah yang ada bawah kepala Yas,memasuki lubang yang ada diantar kepala dan bahu  Yas,Ken meminta Yas untuk menjadikan lengannya untuk bantalnya.Yas menuruti dan bantal milik Yas Ken singkirkan.
“Aku tidak akan melakukan apa apa malam ini!,aku hanya ingin memelukmu,dan lebih dekat denganmu!”Seru Ken yang memang mendekatkan diri pada Yas hingga mereka begitu sangat dekat.
Yas hanya terdiam dan menggapai tubuh suaminya dan memeluknya.
“Aku sudah mengabulkan permintaanmu!”Seru Ken berbisik.
Yas tak menegrti kemudian ia mendongakan kepalanya dan menatap suaminya.
“Permintaan?”tanya Yas tak mengerti.
“Doamu ketika kita berulang tahun!,bukankah kau ingin menikah ditahun ini?,dan tahun baru tinggal 1 bulan lagi!”Seru Yas mengingatkan.
Yas tak berkata apa apa ia hanya tersenyum.
“Kini Kita hanya tinggal mengabulkan permintaanku!”
“Apa?”tanya Yas kemudian.
“Aku ingin mmebangun usahaku sendiri dan dengan keluarga baruku!”seru Ken sambil memeluk erat istrinya.
Sesaat Ken teringat kata kata dokter tentang kemungkinan Yas yang akan sulit untuk memiliki anak,mengingat hal itu membuat Ken tiba tiba mengeluarkan airmata.
“Kau menagis?”tanya Yas yang mengetahuinya.
Cepat cepat Ken menghapusnya,tapi Yas sudah mengetahuinya.Yas mencoba untuk melepaskan diri tapi Ken menahanya.
“Ada apa?,ceritakan kepadaku!”Seru Yas memaksa.
“Bukan apa apa!”Seru Ken menengkan dan terus memeluk istrinya.
Tapi Yas tidak percaya dan terus memaksa untuk menceritakannya.
“Jika aku bercerita kau janji untuk tenang!”Seru Ken
Mendengar kata kata Ken membuat Yas makin penasaran dan juga tak bisa tenang.
“Apa itu!”seru Yas yang berjanji.
Ken mendesah sebelum bercerita,baginya hal itu sangat berat untuknya,untuk bercerita tapi cepat atau lambat ia juga harus bercerita agar Yas tidak terus menaggung kesedihan.
“Kau tahu operasi apayang baru saja kau jalani?’tanya Ken membuka ceritanya.
Yas tak menjawab,ia hanya menggelengdan terus mendekap suaminya.
“Itu adalah operasi pengangkatan saluran rahim!”
“Dokter bilang operasi itu memiliki resiko,dan resikonya adalah pasien akan sulit memiliki anak!”Lanjut Ken.
Mendengar itu Yas tak bisa berkata apa apa,dengan cepat airmata keluar dari matanya,Dadanya terasa sesak kepalanya terasa sakit dan udara terasa sulit untuk dihirunya.
“Dokter harus melakukan itu untuk menyelamatkanmu!,kau tahu itu sangat sulit bagiku!,tapi nyawamu lebih penting daripada itu!,seandainya aku dapat memilih,aku mungkin akan menukarnya!”
Sejenak Ken terdiam,dan melihat istrinya yang tak berreaksi,ia mendongakan kepala istrinya untuk melihatnya.
“Kau tidak papa?”tanya Ken memastikan.
Yas melihat wajah suaminya yang berlinangkan airmata dan begitu juga dengan dirinya.
“Apa yang harus aku lakukan?,semua sudah terjadi!”Jawab Yas mencoba kuat.
“Kau tahu apa artinya itu?”tanya Ken.
“Apapun itu!,semua sudah terjadi dan aku tidak bisa memintanya kembali!”
“Yah!,apapun yang akan terjadi itu,aku harap bisa melewatinya bersamamu!”Seru Ken yang mencoba untuk memeluk istrinya lebih erat.
Yas menyembunyikan wajahnya kedalam dada Ken dan kemudian ia menangis.Yas tak bisa menyembunyikan kesedihannya.Ia terus menangis.Sementara Ken mencoba untuk menguatkannya dengan mengusap punggungnya dan mencium kepala istrinya.
“Aku akan selalu disampingmu!”Seru Ken lirih.
“Lalu bagaiman dengan ayahmu!,bukankah dia ingin memiliki banyak cucu dariku?”Tanya Yas mengingatkan.
“Dia akn mendapatkan banyak cucu dari Tyas!,jadi kita pikirkan kehidupan kita sendiri.Kita jalani hidup kita dan aku yakin apaun yang dikatakn dokter tidak semua benar karena masih ada Tuhan yang bisa menjadikan apapun menjadi mungkin!”seru Ken yang terus menguatkan Istrinya.
Yas kembali menangis dan lebih erat memeluk suaminya.
“Ayo kita tidur karena mulai besok kita akan memulai hari kita!”Seru Ken yang mencoba untuk memejamkan matanya.
Dan mereka melalui malam pertama mereka dengan airmata kesedihan.
...............
TAMAT