.............
Awalny aku
kira dengan adanya Dwi dirumahku akan menambah beban kehidupanku,karena harus
mengeluarkan biaya lagi untuk makan sehari hari kami,dan tak hanya itu
saja.pengeluaran kamar mandipun menjadi bertambah karena aku dan dia
menggunakan sabun dan samphoo yang berbeda.Tapi ternyata berbeda tak sama
seperti yang aku bayangkan sebelumnya.
Karena semenjak ada dirinya dirumah, aku malah jadi lebih hemat dan
teratur,seperti jatah makan siangku,yang biasanya selalu membeli,kini aku
membawa bekal dari rumah.Karena sejak pagi Dwi sudah menyiapkannya untuku,dan
sebagai imbalannya aku menyisihkan uang makanku untuk belanja sayuran dan
beras.Agak malu memang saat membelinya tapi segera uran maluku aku putuskan.
Untuk itupun aku harus membeli perabotan rumah tangga seperti
penggorengan,panci,baskom,ember dan barang barang yang seharusnya ada di rumah
yang tak pernah aku pedulikan sebelumnya.
Ternyata Dwi adalah seorang yang misterius,bagaimana tidak,ternyata dari
sosoknya yang seperti itu ia sangat pintar memesak,dan aku sangat suka masakan
buatannya,yang mengingatkanku pada masakan rumah yang sudah lama aku rindukan.
Semenjak ada dirinya rumahku menjadi selalu rapi dan bersih,Ia selalu
membersihkannya setiap hari.Ia sellu berada dirumah dan tidak pernah keluar
rumah dan itu aku yang menyuruhnya,aku tak ingin ada orang lain tahau tentang
keberadaannya dan aku tak mau ia mengalami kesulitan karenanya.
Kini hari hariku seperti cerah kembali,setelah sebelumnya selau ditemani dan
kesepian,kini semua hilang semenjak ada Dwi di rumah,ia selalu menjadi tempatku
untuk bercerita semua kegiatan dan hal yang baru atau hal yang sudah aku alami
saat bekerja,dan ia selalu menjadi pendengar yang baik.
Kadang aku merasa kasihan padanya,aku selalu menyuruhnya untuk tetap diam
dirumah selama aku pergi dan hanya boleh keluar saat bersamaku dan harus
denganku,dan dengan lugunya ia selelu menuruti semua kata kataku.Mungkin iapun
jenuh harus menungguku pulang dengan hanya menunggudidalam rumah sambil membaca
bacaan yang sama atau tidur.Mungkin ia butuh hiburan yang tak pernah aku berikan
padanya yaitu kebebasan untuknya.
Siang ini sambil melahap masakan buatan Dwi aku mememandangi rumah makan yang
ada diseberang sana,aku sudah lama tak memakan makanan dari sana,semenjak Ita
pergi.Sejak kepergiannya aku menjadi tak begitu bersemangat untuk selalu datang
kesana.Aku telah kehilangannya dan aku merindukannya.
Untunglah ada Dwi yang selalu menghiburku,bersamanya aku selalu
terhibur,senyumannya membuatku melupakan kesedihanku yang tlah kehilangan Ita.
Tak jarang aku curhat padanya,menunjukan sisi rapuhku yang mungkin selalu
tampak kuat diluar.Dan Dwi pun kadang selalu bertanya tentang banyak hal yang
mungkin ia pernah merasakannya tapi ia lupa.
Perlahan aku kadang selalu menyinggung tentang hubungan kami,yang memang tak
ada hubungan saudara sama sekali,tapi tampaknya Dwi tak mau mengerti,ia tatap
menganggapku sebagai kakaknya yang selalu melindunginya.dan satu hal yang
selalu ia katakan dan pinta padaku,’jangan pernah tinggalkan aku kakak!’kalimat
itu selalu terbayng diotaku dan membuarku makin kuat untuk selalu menjagnya dan
melindungunya bahkan mungkin sampai ingatannya kembali.
“Kayaknya
makanannya enak!”seru Nia yang lewat disamping tempatku makan.
“Mau
coba!”tanyaku menawari.
“Ga ah,pasti
rasanya aneh kayak orangnya!”seru Nia yang menganggap selama ini makanan yang
aku bawa adalah masakanku sendiri.
“Nyesel loh
kalo ga nyoba!”Seruku meledak.
“Beneran ga
uasah,aku nemenin kamu makan aja ya!ada hal yang pengen aku kasih tahu sama
kamu!”sru Nia sambil duduk di sampingku.
“Hal
apa???”tanyaku yang tiba tiba jadi penasaran.
“Abisin dulu
makanannya,nanti baru aku kasih tahu!”serunya berteka teki.
Cepat cepat aku melahap semua makanan yang aku bawa,untuk lebih cepat
mendengarkan cerita Nia yang membuat aku penasaran.
Setelah aku benar benar telah selesai dengan acara makan siangku,Nia tiba tiba
memberikas selembar kertas kecil padaku dengan berisikan sebuah angka yang bisa
aku tebak itu adalah nomor telepon.Dan mungkin milik seseorang.
“Apa
ini!”tanyaku sambil menerima pemberian Nia.
Nia memendangiku aneh dan membuatku tak mengerti.
“Itu nomor
telepom Ita!!!!”seru Nia mantap.
Entah apa yang terjadi tiba tiba aku terkejut bukan main,rasa yang pernah aku
rasakan seperti menyatu dengan tiba tiba,entah aku harus bagaimana,merasa
senang,sedih atau bagaimana,rasanya hatiku menghilang tubuhku tak bertenaga.
“Untuk
apa!!!”tanyaku binggung.
“Kamu bodoh
ya!!!”seru Nia terdengar Kesal.
“Aku ga tahu
apa yang harus aku lakukan!”seruku bingung.
Entah apa yang terjadi tiba tiba saja aku teringat Dwi yang ada dirumah,tiba
tiba aku memikirkannya,seperti ada perasaan bersalah yang telah aku perbuat
terhadapnya.
“Hubungi dia
dan ungkapkan semua yang kamu rasakan terhadap dia!”suruh Nia tegas.
“Bagaimana
kalau dia menolaku!”seruku pesimis.
“Bagaimana
kalau dia juga punya perasaan yang sama!”seru Nia yang tiba tiba langsung
berdiri dan meninggalkanku.
Aku terdiam dn tak tahu harus berbuat apa,otaku benar benar telah dipenihi oleh
Dwi.Tiba tiba aku jadi memikirkannya.Aku rindu dengannya.
Tapi bagaimana dengan Ita!,bukankah itu berita yang bagus,selama ini cintaku
tak bertepuk sebelah tangan,hanya saja aku yang terlalu pengecut dan bodoh.
“Nanti saja
aku menghubunginya!”seruku sambil memesukan Kertas berisi nomor telepon itu
kedalan saku celanaku.
“Sebenarnya
waktu kami kerumahmu tempo hari,dan aku meningalkan kalian agar kalian punya
ruang untuk saling bicara,tapi ternyata usahaku sia sia!”
Aku hanya tersenyum mendengar pengakuan Nia dan aku hanya terdiam.
Tapi entah mengapa aku jadi merindukn Dwi dengan begitu tiba tiba,bukan Ita.
Pulang kerja aku langsung pulang.Entah apa yang ada dalam pikiranku,yang aku
tahu aku ingin sekali bertemu dengan Dwi.Hanya Dwi.
Sampainya di depan rumah Pak Karto aku melihat dua orang yang sosoknya pernah
aku lihat beberapa hari yang lalu.
Aku melihat mereka baru saja melewati jalan yang menuju rumahku,Apa yang mereka
lakukan,apa mereka pemilik tanah yang ada disekitarku atau hanya skedar
lewat.Dari jarak yang tidak terlalu jauh aku menunggu mereka pergi jauh dari
tempat itu sambil menunggu agar mereka tidak melihatku masuk kedalam gang yang
hanya ada jalan menuju rumahku.
Setelah beberapa saat aku mulai mengayunkan sepedaku lagi dan berharap tak
terjadi apa apa pada Dwi.
Sampainya didepan rumah aku melihat pintu rumah tertutup tapi setelah aku buka
ternyata tak dikunci,dan segera aku masuk.
“Dwi!!!”Panggilku
tak sabar.
Jawaban tak kudapatkan dan aku makin panik ketika aku tak menemukannya
dikamarnya.
“Dwi!!!!!!!”panggilku
lagi sambil membuka pintu kamarku.Dan tiba tiba Kudapati Dwi keluar dan
langsung memeluku.
Tubuhnya gemetaran,ketakutan dan bajunya terasa basah.
“Kamu
kenapa????”tanyaku sambil mencoba melepaskan pelukannya.Tapi sepertinya ia
belum mau melepaskannya.
Aku membalas pelukannya dan mencoba menenangkannya.Rasanya perasaanku yang
sejak tadi memikirkannya adalah sebuah firasat.
“Kamu
kenapa????”tanyaku ketika semua terasa lebih tenang.
Kuajak Dwi duduk di atas tempat tidurku dan menunggunya untuk lebih santai.
“Mau
kuambilkan minum!”seruku sambil bangkit dari tempat duduku.
Namun tiba tiba Dwi menarik tanganku dan menahanku.
“Jangan
pergi!”serunya sambil menatapku dengan pandangan nanar dan hendak menangis.
“Sebenarnya
apa yang terjadi?,apa yang membuat kamu ketakutan seperti ini?”tanyaku menatapnya
, dengan nada mengintrogasi.
Dwi memelingkan wajahnya dan menunduk,ia memeluk keduakakunya dan sepertinya ia
menangis kembali.
Aku mendekatinya dan duduk kembali perlahan kuraih tubuhnya dan kubawa kedalam
pelukanku.
“Aku pernah
janji kan,aku akan melindungi kamu!”seruku mencoba menenangkannya.
“Aku mengingat
masa laluku!”serunya dengan nada parau.
Aku terkejut bukan main punggungku terasa panas dingin dan tangannku terasa
kaku dan tak dapat digerakan.
“Apa yang kamu
lihat?”tanyaku dengan suara yang mungkin bergetar.
“Aku korban
penculikan!!!!”
Pengakuan Dwi membuatku teramat sangat terkejut.Mungkin jika aku memiliki
riwayat penyakir jantung,mungkin aku akan sekarat saat ini.
“Kenapa kamu
bisa yakin!”tanyaku lagi.
“Tadi aku
melihat dua orang mondar mandir didepan rumah dan tiba tiba ingatanku langsung
teringat pada peristiwa penculikan yang sepertinya pernah aku alami!”
“Lalu!”lanjutku
lagi.
“Aku tak ingat
lagi tapi itu sangat mengerikan!”
“Semua akan
baik baik saja!”seruku menenangkannya.
***
Kulhat Dwi masih sangat ketakutan,ia terus ingin ditemani,dan aku tak boleh
pergi meninggalkannya,ia tampak seperti anak kecil yang begitu manja.Bahkan
seperti saat ini,ia kini terbaring ditempat tidurnya dan ia memintaku untuk
menemaninya.Walau hanya duduk disampingnya.
Untuk membuang jenuh aku bercerita tentang beberapahal padanya,tentang
perasaanku pada seseorang yang aku suka,dan akupun mengajaknya menonton tv
bersama walau layar tv di HP sangatlah kecil tapi paling tidak bisa membuatnya
terhibur.Dan menjelang tengah malam barulah ia tertidur.
Walaupun kini ia telah tertidur tapi aku tak bisa pergi dari sisinya,tangannya
terus memegangi lenganku,seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh
orang tuanya.
Perlahan aku mencoba untuk melepaskan cengkraman tangannya dari lenganku,tapi
tiba tiba ia seperti terbangun dan makin mempererat cengkramannya.
Aku hanya mampu meringis menahan sakit yang dihasilkan oleh cengkraman itu.
“Apa dia
begitu ketakutan!!!!,sebenarnya siapa mereka!,apakah mereka benar benar
penculik.dan apakah Dwi memang benar benar korban penculikan!.”
Pertanyaan itu terus ada dipikiranku sampai akhirnya aku terbangun kembali dan
ternyata aku tertidur di samping tempat tidur Dwi semalaman.
Kulihat Dwi sudah tidak ada di tempat tidurnya.Aku langsung bangun dan
mencarinya,dan ternyata ia sedang didapur sedang memasak.
“Kau baik baik
saja pagi ini?”tanyaku memastikan.
“Ya!”jawab Dwi
singkat sambil membersihkan sayuran yang ada.
Aku berjalan menuju kamarku,dan tak lupa kuambil hpku yang ada di kamar
Dwi.Kulihat ada sebuah pesan yang tertuliskan dari Nia.
“Hari ini libur!,bos ada perlu!
Sms Singkat Nia membuatku lega,paling tidak aku bisa melanjutkan tidurku yang
kurang,dan juga bisa menjaga Dwi hari ini.
Tanpa memberi tahu Dwi aku masuk kedalam kamarku dan aku melanjutkan tidurku.
Aku terbangun ketika kulihat suara alaram jamku berbunyi yang sengaja aku setel
untuk jam 10 pagi.Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera menuju kamar
mandi.Sebelum kekamar mandi aku mencari Dwi yang tak ada di depan atauun di
dapur,tetapi kamarnya tertutup,mungkin ia sedang berada di kamar.
Aku mandi untuk menyegarkan tubuhku dan juga pikiranku yang sedikit terasa
stres.
Selesai mandi kulihat pintu kamar Dwi terbuka,mungkin ia keluar dari
kamarnya.Aku segera menuju kamarku,karena saat ini aku hany mengenakan handuk
yang kulilitkan dipinggangku.
“Kakak!!!!!”seru
Dwi dari arah depan.
Aku terkejut bukan main apalagi dengan keadaanku yang seperti ini.
Tanpa menjawab aku berlagi menuju kamarku dan segera mengunci pintu.Selesai
berpakaian barulah aku keluar dan sambil membuka pintu kamarku aku melihat Dwi
sedang duduk di dekat jendela sambil membaca majalah bekas yang mungkin sudah
dibacanya berulang ulang kali.
“Dwi!,ayo kita
jalan jalan!!!!!”seruku
Kulihat Dwi tampak terkejut tapi wajah ceria tampak terlihat disana.
“Kemana!”tanyanya
antusias sambil bangkit dari tempatnya.
“Kemana kamu
mau!”seruku menantang.
Dwi segera menuju kamarnya dan sepertinya ia akan berganti
pakaian.setelah bebrapa saat kulihat ia keluar dari kamarnya dan benar saja ia
berganti pakaian dengan pakaian yang ia punya.Wajahnya tampak polos tanpa make
up tapi masih terlihat cantik walau ada bekas bekas luka disana.
“Kamu cantik!”
Aku segera menutup mulutku dan terkejut bukan main bagaimana bisa kata kata itu
meluncur dari mulutku begitu saja.
Kulihat Dwi hanya tersenyum sambil menundukan wajahnya dan rambutnya yang lurus
dan panjang menutupi wajahnya.
“Kita mau
kemana?”tanya Dwi lagi saataku menutup pintu rumahku.
Kembali aku melihat wajah Dwi yang kini tampak berbeda,bibirnya sedikit
berwarna merah seperti menggunakan lipstick.Apa ia menggigit bibirnya agar
tampak berwarna merah!
Ternyata wanita memiliki banyak hal kesibukan untuk dirinya sendiri,tapi wanita
juga bisa menghandle semuanya.
Aku mengajak Dwi kesebuah tenpat yang aku sendiri tak tahu kemana,yang aku tahu
aku ingin membuat Dwi hari ini bahagia dan menghilangkan jenuhnya setelah
beberapa hari terkurung terus dirumah.
Awalnya aku bingung akan aku bawa keman Dwi,sampai akhirnya kuajak Dwi ke
Bioskop.
Mungkin kami datang terlalu pagi,karena bioskop belum buka dan akan dibuka
nanti siang,Bingung mau kemana dulu,lalu kuajak Dwi berbelanja beberapa yeng
mungkin jadi kebutuhannya yang aku sendiri tak tahu,
Awalnya Dwi bingung mau membeli apa,sampai akhinya aku ang mengingatkannya.
“Kamu mau beli apa?”tanyaku yang melihat Dwi tampak bingung.ketika kami berada
di depan sebuah supermarket.
Aku melihat lihat kesekeliling dan sebuah counter mengingatkanku.
Tanpa bertanya lagi aku segera menarik tangan Dwi kecounter itu dan sampainya
disana kami dihadang oleh seles girl yang berpenampilan menarik dengan wajah
cantik mereka.
Dengan liwesnya seles girl itu menawari produk produknya pada
Dwi,sementara kulihat Dwi tampak masih bingung.
“Kamu pilih
aja yang cocok sama kamu,nanti aku bayar kok!”seruku menenangkannya.
“Tapi aku ga
tahu!”bisil Dwi.
Aku terdiam dan teringat,Dwi amnesia ,mungkin ia juga lupa kosmetik apa yang
dulu ia pakai,tapi menurutku tanpa make up pun ia tetap terlihat cantik,tapi
mungkin untuk sebagian wanita tanpa make up mereka tidak akan percaya diri.
“Mba tolong
bantu ya!,kira kira yang cocok untuk dia!”pintaku pada seles girl itu.
Kuliht seles girl itu tersenyum padaku dan lalu kemudian membawa Dwi untuk
memilih dan menentukan apa saja yang kira kira caocok untuknya.
“Pacarnaya
sudah cantik kok mas!”tiba tiba teman seles girl itu berpendapat.
Aku
terkejut lalu kemudian tersenyum.
Setelah membeli peralatan make up untuk Dwi,kami lalu mengunjungi toko buku,dan
membaca beberapa buku untuk menghilangkan kejenuhan kami dalam menunggu bioskop
buka.
Aku membaca beberapa majalah olahraga dan otomotif sementara Dwi kulihat ia
anteng dengan majalah gosip yang diambilnya.
Sepertinya aku harus membelikannya beberapa buku untuk menemaninya selama berada
dirumah selama aku tinggalkan.
Akhirnya waktu yang di tunggu tiba,setelah beberapa jam tiba aku dan Dwi masuk
kedalam bioskop untuk mengantri tiket.Ternyata film yang diputar hari ini
termasuk film yang ditunggu sehingga para penontonnya membludak.
Hanya ada 2 film hari ini dan semuanya diputar di dua studio sekaligus.Aku
termasuk buta dalam dua film ini,aku tak tahu apa jalan ceritanya.tapi
sepertinya dua film ini bertolak belakang dalam jalan ceritanya.Mungkin yang
satu drama romantis dan yang satu action
Mungkin Dwi akan suka jika aku ajak dia menonton Drama romantis itu tapi sayang
aku telat mengantrinya,dan hanya mendapatkan di bangku paling
depan.Hemmmm,daripada menonton paling depan aku lebih baik menonton film action
yang tempat duduknya masih bisa memilih.
Setelah mendapatkan tiket aku dan Dwi masuk kedalam studio,kami duduk berada
dipojok paling atas.
Nonton adalah hal yang tidak terencana olehku tapi akhirnya aku melakukannya
juga.saking tidak terencananya akupun tidak membawa jaket hanya kemeja yang
kupakai untuk melapisi kaos oblongku.Mungkin nyaman untuku tapi sepertinya
tidak untuk Dwi,ia hanya menggunakan baju lengan pendek dan kurasakan AC di
studio sangat dingin dan pasti Dwi kedinginan.
Cepat cepat kulepaskan kemejaku lalu kuserahkan pada Dwi untuk
dipakainya,walaupun tidak terlalu hangat tapi paling tidak bisa melindunginya
dari rasa dingin yang menusuk tulang.
Filmpun dimulai dan perlahan lampu dimatika,kurasakan tangan Dwi menyelusup
kebawah lenganku dan ia mencengkramnya erat.
“Kamu
kenapa?”bisiku terkejut.
Belum sempat Dwi menjawab tiba tiba ia menarik kembali tangannya dan sinar
mulai menyala dari layar bioskop dan filmpun dimulai.
Filmya seru tapi aku tak dapat berkonsentrasi,rasa dingin yang menyelimutiku
begitu terasa,membuat konsentrasiku buyar.Pertama tama aku menarik kakiku lalu
kusilangkan diantara dua pantatku dan ku duduki,Awalnya berhasil membuatku
sedikit hangat tapi rasa kesemutan datang dan kakiku menjadi mati rasa.Lalu aku
pindah posisi.kutarik kakiku lalu kupeluk didepanku.cukup lumayan tapi tidak
nyaman juga,seperti sedang menonton film layar tancep diatas rerumputan.
“Kakak
kenapa?”tanya Dwi yang mungkin heran melihat aku tak bisa diam sejak tadi.
“Oh,ga
papa!,Cuma posisi kurang nyaman!”jawabku.
Aku terus berusaha menghangatkan diri sampai akhirnya Film habis dan aku tidak
begitu mengerti dengan endingnya.
Tidak seperti biasanya suhu Dalam ruangan studio begitu dingin.Atau mungkin
karena aku hanya menggunakan kaos saja,bukan jaket!
“Kita mau
kemana lagi kak?”tanya Dwi terdengar antusias,dan sepertinya belum puas dengan
acara jalan jalan kami.
“Kamu maunya
kemana?”tantangku.
Dan Dwi hanya terdiam,sepertinya menungguku
untuk mengajaknya kemana aku mau.
..............
Tidak ada komentar :
Posting Komentar