Selasa, 17 Desember 2013

FAL'LOVE IN LOST Parts 03

........
Setelah menginap beberapa hari dirumah sakit akhirnya Dwi sudah bisa pulang.Dengan catatan dia harus kontrol memgenai luka luka yang dialaminya untuk mendapatkan perawatan agar tidak terlalu mengerikan.
      Mengenai biaya,sempat aku dibuat  kalang kabut karena jumlahnya yang melebihi jumlah serengah dari tabunganku.Tapi untungkah Dokter Reno membantukau setengah,untuk membayar biaya rumah sakit.
    Setelah biaya rumah sakit selesai ternyata masalahku tak selesai sampai disitu,Aku harus menyiapkan sesuatu untuk Dwi,dia yang asing membuat rumahku harus diisi dengan perabotan yang baru,mulai dari kasur,perlengkapan makan minum,pakaian ,dan keperluan yang seperti yang aku miliki.
     Besok adalah hari dimana Dwi akan pulang kerumahku,semua kebutuhan rumah sudah aku beli walau bukan yang berkualitas bagus tapi paling tidak layak untuk digunakan.
     Semua telah selesai ada satu kagi ayng penting tapi belum aku laksanakan yaitu membelikan Dwi baju.Ia tidak mempunyai sehelai bajupun kecuali piyama yang ia gunakan di rumah sakit,Selain baju aku juga harus membelikan pakaina dalam untuknya ,yang sama sekali tak aku ketahui ukurannya.
      Aku bingung harus bertanya pada siapa,selain bingung aku juga malu jika harus menanyakan hal itu karena aku seorang lelaki,yang tahu ukuran tapi tidak terlalu mendetail.
     Suah satu jam aku mondar mandir didalam pasar mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu,Ditentengan tanganku baru hanya ada kantong berisi Handuk dan masih banyak lagi daftar yang kutulis,tapi belum aku belikan dan salah satunya adalah pakaian dalam wanita.
    Mungkin para pelayan toko yang kulalui bingung melihatku yang hanya mondar mandir tanpa membeli barang dagangan mereka.Dan yang aku tahu pakaian wanita ternyata bagus bagus dan bermacam macam,tak seperti pakaian pria yang monoton hanya celana panjang atau pendek,kaos ataupun oblong.
“Eka!!!!!”
    Seseorang memanggilku dan aku segera mencari asal suara.Yang memanggilku dalam keramaian Pasar itu.
“Ita!”seruku terkejut.
      Cepat cepat ia memnghampiriku dan memperhatikanku,seperti ada yang aneah denganku.
“Kamu lagi ngapain di sini?”tanyaku gugup.
“Aku lagi nyari kerjaan!’Serunya yang membuatky terkejut.
    Seketika aku terkejut,sangat terkejut dan seperti ada sesuatu yang mengenai kepalaku.
“Kamu kenapa Ka?”tanya Ita yang ternyata setelah mendengar ucapannya aku terdiam
“Kenapa pindah????”tanyaku ingin tahu,sangat sangat ingin tahu.
“Aku ga bisa ngejelasin tapi intinya aku pengen keluar!’serunya yang tak mau memberi alasan keluarnya Ita.
“Oke!aku ga akan nanya!’seruku yang menandakan ku tak akan mengungkit lagi hal itu.
“Kamu ga kerja??tanyanya mengganti topik pembicaraan.
  “Aku ijin libur hari ini!”seruku pasti.
“Ijin mau belanja!!!!”serunyadengan nada meledek.
     Aku terdiam sejenak dan berfikir keras untuk memberikan alasan yang pasti pada Ita,agar tidak terdengar memalukan.
“Ada sesuatu ayng ingin aku beli!”seruku beralasan.
“Apa?,mungkin aku bisa bantuin memilih!”seru Ita menawarkan diri.
     Aku terkejut bukan main bagaimana mungkin aku akan melakukan hal konyol ini.Mencari pakaian dalam wanita bersama wanita yang disukai.Membeli pakaian dalam sendiri dengan wanita yang disukaipun kadang masih malu.ini harus dengan penggunanya.
“Mau beli apa?”tanyanya yang menyadarkanku yanag beberapa detik lalu kembali terdiam.
“Aku bilang tapi kamu jangan ketawa!”seruku ragu.
“OKE!”serunya sambil tersenyum.senyum yang sangat aku suka.
“ Pakaian dalam wanita!”jawabku hati hati.
      Dapat kulihat raut wajah Ita langsung berubah ketika mengatakan hal itu,tapi lebih malu lagi dalah aku.Aku yang mengatakan hal itu,aku yang seorang pria.
“Buat siapa?”tanyanya yanag benar benar menepati janjinya untuk tidak tertawa.
“Kamu ingat saudaraku yang dirawat tempo hari!dia memintaku untuk membelikan pakaian dalam untuknya.Dan bodohnya aku,aku tidak menanyakan berapa ukurannya!’seruku panjang .
“Boleh aku bantu!’serunya menawarkan diri.
      Aku terkejut bukan main,bagaimana tidak,aku berharap Ita akan meninggalkanku untuk memcari sendiri.tapi tanpa dugaan ia malah menawarkan diri untuk membantuku.
“Apa tidak merepotkan?”tanyaku.
“Tidak,aku kan lagi free,lagi pula kamu kan ga tahu ukuranya kan!,mungkinaku bisa bantu!”seru Ita menjelaskan.
     Aku berfikir sejenak dan memang ucapan Ita ada benernya sih,di lebih tahu segalanya tentang wanita,dan bukankah ini kesempatan untuku,untuk lebih dekat dengannya,paling tidak aku bisa ngobrol dengannya.Hal yang sulit aku lakukan tapi sangat ingin aku lakukan.
“Bagaimana?”tanya Ita yang kembali mengejutkanku.
“Boleh juga!’seruku pada akhirnya.
     Aku dan Ita berkeliling pasar untk mencari penjual pakaian dalam yang lumayang banyak,selama mencari aku lebih banyak diam sementara Ita fokus pada pencarian tokonya.
     Sebenarnya banyak yang ingin kau bicarakan denganya,terutama tentang hatiku,tapi mengapa semua terasa sangat sulit,ketakutanku yang terus bersuara.
     Bagaimana kalau setelah aku mengatakan isi hatiku hubungan kami jadi tak sedekat saat ini,dan pasti akan terganggu dan rasa canggunglah yang akan berdiri diantara kami.
      Akhirnya setelah beberapa lama berkeliling kami memasuki toko pakaian dalam yang cukup besar,pertama tama Ita mencari cari BH yang mungkin ia cari untuknya sendiri ditemani oleh pelayan toko,sedangkan aku masih berdiri didekat pintu masuk.Seperti menanti para wnita berdiskusi tentang pakaian dalam mereka.
“Eka!,sini!”panggil Ita mengejutkanku.
    Seketika panas dingin mrnyapa tubuhku,dan tentu perasaan mali apalagi pelayan itu memendangiku dengan pandangan yang tak bias.Mungkin wajahku sudah seperti Udang rebus yang memerah.
      Dengan langkah berat aku berjalan menghampiri Ita dan pelayan itu,yang memandangiku penuh curiga atau mungkin rasa geli.
“Kira kira ukurannya seberapa?”tanya Ita sesampainya disampingnya.
     Perlaha aku berbisik didekat telinganya.
“Maaf,tapi orangngnya kurang lebih seperti kamu!’bisiku malu malu,takut menyinggungnya.
     Seketika Ita mengalihkan pandanganya padaku dengan tatapan aneh dan membuatku tak enak.
“Tapi kan ukurannya beda!seru Ita yang tampaknya tak tersinggung denga ucapanku tadi.
 “Aku ga tahu tapi postur tubuhnya kayak kamu!”seruku meyakinkannya.
“Jadi ambil ukuranku aja!’serunya memastikan.
“Iya!”jawabku sambil mengangguk.
“Pake renda tidak?”tanyanya lagi.
    Kembali aku tersentak dan aku karena kau buta tentang itu.Dan aku lihat Ita tanpak tersenyum melihat keterkejutanku.
“Ada banyak macemya!”seru Ita menjelaskan.
    Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasan Ita yang sangat tahu taeaaaantang hal itu.Dimulai dari yang pake kawat atau tidak,bisa dilepas talinya atau tidak.Sesaat aku berfikit Ita memiliki niat mempermalikanku didepan pelayan itu,tapi satu sisi lain berkata ,Ita hanya benberikaan yang tebaik yang bis ai berikan sebagai wanita pada wanita lain.
     Setelah membeli beberapa potong pakaian dalam aku dan Ita pergi menuju ketempat lain yang belum dituju.Mungkinkarena dia seorang wanita sebelum ia pergi ia membuat perjanjian denhan pelayan toko,kalau barang uyang dibelinya tidak pas bisa ditukar.Bahkan aku sendiri tak memikirkannya.Aku berharap itu akan pas,karena hari esok pasti akan berbeda denga hari ini.Saat ini dengan Ita,esok hari entah dengan siapa.
     Aku dan itu berkeliling dan mengobrol tentang beberapa hal yang ternyata hal yang ia sering aku lakukan dari tempatku bekerja.
“Aku sering lihat kamu memandang kearah tempat kerjaku,tapi entah apa yang kamu lihat!”serunya yang mungkin sekalian bertanya.
“Kapan?”tanyaku berkelit.
“Hampir tiap hari!”jawabnya.
“Sebelum jam makan siang!,kalau itu biasanya aku melihat untuk mengecek kira kira makan siangku maunya apa!”jawabku beralasan.
“Tapi sepertinya hampir tiap hari menu makan siang kamu sama!”
     Aku terdiam dan sepertinya akan terbuka semua kebiasaanku ini!”
“Perasaan kamu aja kali!”seruku.
“mau beli apa lagi?”tanyanya yang mengalihkan pembicaraan kami.
     Dan aku terselamatkan oleh tindakannya.
     Karena merasa tak adalagi yang ingin kubeli akhirnyakamu memutuskan untuk keluar pasar,dan dengan spontanitas kuajak  Ita makan siang.
     Dan untunglah dia mau menerima ajakanku.Sungguh aku sangat bahagia,selama beberapa jam ini aku bisa bersamanya dekat dengannya.Dekat dengannya sangat dekat.
       Aku dan Ita membicarakan banyak hal tapi samasekali aku tak berfikir untuk menggunakan waktu ini sebagai waktu yang tepat untuk mengutarakan semua isi hatiku.Ketakutan terbesarku adalah setelah aku mengatakan semua ini,keadaan akan berubah.Dan perubahan yang menuju ke hal yang buruk itu yang aku tak mau.Dan akhirnya obrolan kami berakhir tanpa ada sesuatu yang seharusnya sangat berarti untuku.
     Mungkin perubahan yang paling aku takutkan,aku takut Ita akan berubah sikap padaku,aku takut Ita akan membenciku,Aku takut Ita akan menjauhuku.Dan semua ketakutan yang akan membuatku kehilangan Ita.
      Selesai makan hal yang aku takutkan datang,Ita berpamitan pulang.Dan saat itulah aku benar benar merasa takut,sangat takut,takut aku tak dapat melihatnya lagi.
“ Kamu ingin mengatakan sesutu sebelum kita berpisah?”tanya Ita tiba tiba padaku ketika ia mengantri untuk naik bis menuju rumahnya.
     Aku terdiam dan mencoba berfikir.
“Hati hati dijalan!”seruku singkat.
      Kulihat wajah Ita tanpak berubah,seperti ada sesuatu yang ia simpan.
“Baiklah,kamu juga hati hati,dan semoga apa yang aku pilihkan dia menyukainya!”seru Ita sambil melirik tas plastik yang aku tenteng.
“Aku yakin Dia suka!”jawabku mantap.
      Dan Ita masuk kedalam bis,kukihat ia duduk di dekat jendela,sebelum bis berjalan Ita sempatkan diri untuk tersenyum kepadaku dan melambaikan tangan kepadaku,Dan dengan perasaan mengganjal kubalas lambaian tangannya.Mungkin ini akan jadi pertemuanku yang terakhir dengannya.
      Seandainy arah rumahku searah dengannya mungkin takan kubiarkan dia pergi sendirian.Tapi sayang itu hanya keinginanku saja,dan tak ada alasan untuku menaiki bis yang sama dengannya sementara aku tak memiliki tujuan,hanya mempermalukan diri sendiri saja!.
     Dengan perasaan yang terasa sakit aku pulang,rasanya ada sesuatu yang tertahan dalam hatiku,yang membuatku terasa sesak dan sulit bernafas,Terasa sangat sakit sekali.
     Apa yang aku lakukan!mengapa aku menyia nyiakan kesempatan kedua yang datang!,kenapa aku menjadi pengecut,manusia bodoh,sangat bodoh.
      Seharusnya pertanyaannya tadi kujawab dengan semua isi hatiku yang kusimpan untuknya.
     Aku sampai dirumah hampir mendekati malam dan sesampainya dirumah aku menyibukan diri dengan membongkar tempat tempat yang perlu dibongkar.danmerapikan yang perlu dirapikan.Karena akan ada orang baru yang akan datang,dan sekaligus kegiatanku untuk melupakan kejadian tadi siang yang seharusnya menjadi moment indah yang tak perlu aku lupakan,Tapi karena kebodohanku dan ketakutanku,aku harus melupakannya,dan menganggapnya tak pernah terjadi,Walau sebenarnya tak semua kenangan itu menyakitkan jika diingat.
                                         ***
     Pagi ini aku kembali meminta izin untuk tidak masuk kerja,karena hari ini Dwi akan keluar dari rumah sakit,setelah beberapa hari semenjak aku temukan ia belum pernah keluar dari rumah sakit.Dan lagi pula ia juga tak tahu siapa dan dimana keluarganya berada,karena amnesia yang dialaminya.Menurut dokter Amnesia yang dialami Dwi disebabkan oleh luka benturan yang dialaminya,yang terdapat dikepala bagian samping kepalanya.Dan amnesia itu juga akan sembuh dengan sendirinya tapi dokter tak dapat memperediksi kapan waktu itu akan datang.Dokter hanya memberitahuku agar aku menjaganya seperti keluarganya,agar pasien tidak merasa asing dan tidak merasa sendirian di tempat yang terasa baru yang benar benar hilang dari memorinya.
     Mungkin karena saran dokter itulah kini aku tidak merasa begitu csnggung pada Dwi,aku benar benar sudah menganggap Dwi sebagai adiku yang harus aku lindungi dan aku jaga.Memang diawal awal pertemuanku dengannya mendatangkan rasa canggung dan beban padaku,tapi lama kelamaan aku mulai memahaminya,dia sosok seorang gadis yang ceria dan mudah akrab dengan lingkungannya,bertolak belakang sekali denganku yang sangat sulut untuk menyesuaikan dengan lingkungan.Mungkin aku harus berterima kasihpada oranag tuaku yang telah membangun rumah yang jauh dari lingkungan warga,karena aku sangat enggan harus berinteraksi langsung dengan warga jika tidak ada hal yang mendadak,Terdengar egois memang tapi aku nyaman dengan keadaanku yang seperti ini.Lagipula akupun jarang dirumah,waktuku habis untuk bekerja berangkat pagi pulang sore atau malam.Dan berinteraksi dengan warga hanya untuk menyapa ketika bertemu ataupun jika sedang membutuhkan bantuan.
    Dwi,dia seorang yang sangat ceria,sepertinya ia tak malu dan minder dengan keadaan wajahnya yang bisa dikatakan cacat karena beberapa bekas luka benda tajam di wajahnya,yang membuatnya tampak sangat menyeramkan.Dan jika ingin menghilangkannya Dwi harus menjalani operasi plastik untuk mengembalikan wajahnya seperti semula,yang mungkin sangat cantik.
     Karena walaupun wajahnya saat ini terlihat mengerikan tapi ia masih sangat terlihat cantik,dengan kulit putihnya yang mulus tanpa bekas jerawat dan matanya yang kecil.Satu hal yang unik dari dwi jika ia tersenyum matanya akan menyipit dan hampir tertutup,dan jika ia tertawa semua matanya akan hilang dan mungkin jika ia bersana teman temannya ia akan ditinggal kabur jika ia tertawa terlalalu keras,karena ia tak akan melihat kapan teman temannya meningalkannya.Jika kulihat dari warna kulit dan pembawaanya aku yakin ia bukan orang pribumi tapi campuran.Dan tentu saja jika suatu saat ada orang yang bertanya apa ia benar benar adiku aku akan menjawab bukan.Dan orang yang tidak  berfikir lewat akal jika menganggapu dan Dwi benar benar adik dan kakak.
    Dan aku tak tahu berapa usianya yang sebenarnya,tapi aku merasa ia lebih muda dibandingkan denganku,jadi mungkin aku tidak salah jika aku menganggapnya adik,dan ia menganggapku kakak.
    Mungkin suatu saat Dwi akan bertanya benarkah aku adalah adiknya.dan akuan menjelaskanya jika waktu itu tiba.
    Kulihat Dwi sedang tertawa bersama pasien lain,tertawa dengan sangat lepas.Semenjak beberapa hari setelah ia siuman aku memutuskan untuk memindahkannya kekamar yang harganya lebih murah agar aku tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk biaya sewa kamarnya dirumah sakit.
     Dan ternyata keputusanku untuk memindahkan kamarnya benar karena sejak itu ia menjadi memiliki teman bicara,dan iapun pernah mengatakan padaku hal yang membuatnya tak mau tinggal ditempat yang sangat sedikit orangnya,karena menurutnya itu membuatnya mengingat hal hal yang membuatnya ketakutan walau ia sendiri tak tahu hal apa itu,tapi baginya hal itu adalah sebuah ingatan dari masalalunya yang harus dilupakannya yang menurutnya sangat kelam dan mengerikan.
     Sesampainya aku dikamarnya Dwi menyambutku dengan pelukan hangat dan bberapa pasng mata memperhatikan kami yang menurutku terlalu vulgar.
 “Kamu siap untuk pulang hari ini???”tanyaku memastikan.
“Ya!aku rindu denhgan rumah!”jawabnya mantap.
    Aku hanya tersenyum tanpa memberitahunya apa yang sebebarnya terjadi,aku bukanlah siapa siapa untuknya,aku hanya orang yang tertimpa tanggung jawab untuk menolongmu,sampai ingatanmu pulih.
      Sesaat kemudian aku memberikan bungkusan kecil pada Dwi yang berisi pakaian baru untuk dipakainya sebelum ia pulang,karena selama dirumah sakit Dwi hanya menggunakan piyama yang dipinjamkan rumah sakit untuknya.
“Apa ini!”                  
      Dwi langsung mengmbil bungkusan yang kuberikan kepadanya.
“Pakaian buatmu,ayo dicoba cocok tidak!”seruku sedikit was was karena itu pakaian pilihanku,sementara aku tak tahu seberapa ukutannya.
“Aku coba ya!”seru Dwi tampak senang.
      Dwi segera berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tertatih.Aku inin membantu tapi tidak mungkin aku melakukannya.
     Setelah beberapa lama Dwi keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang aku berikan,sebuah kaos warna biru langit dengan motif kupu kupu kecil menempel disudut bahunya.Sementara bagian bawahnya ia menggunakan celana bahan ukuran ¾ warna hitam.
 “Apakah cocok denganmu???”tanyaku ragu.
     Dwi tak menjawab ia masih memperhatikan langkahnya menuju kearahku.
“Cocok kak!sampai kedalam dalamnya!”serunya sambil berbisik.
    Aku terdiam dan sepertinya warna merah tampak di pipiku karena malu.
“Syukurlah jadi aku tak perlu menukarkannya lagi!”seruku
   Setelah berkemas aku dan Dwi pergi,meninggalkan rumah sakit yang telah menjadi rumah untuk Dwi.
   Kulihat Dwi sangat senang,ia sepeti menemukan kembali kebebasannya.Apakah dia memang seorang yang bebas???.Entahlah aku tak tahu.Ia begitu menikmati perjalanan kami menuju rumahku yang memerlukan waktu setengah jam untyk sampai.
“Apa kau mengingat sesuatu di tempat ini?”tanyaku mencoba membantunya menemukan kembali  ingatannya.
“Aku tak ingat apa apa!,semua terasa begitu baru,dan akupun merasa kakak juga adalah orang yang baru untuku.Tapi hatiku berkata kakak adalah penyelamatku,walaupun seandainya kakak hanya berbohong untuk menyelamatkanku.!”
     Aku terdiam dan mendengarkannya,walaupun dalam hatiku masih teras was was.apakah ia sudah tahu aku bukan saudara darinya.
“Bagaimana kalau aku memang benar benar bukan saudaramu?”tanyaku sambil menatap Dwi yang sejak tadi memandangi pemandangan diluar bus.
    Kulihat Dwi menoleh padaku tatapan matanya tersirat ketakutan seperti seorang anak kecil yang akan ditinggalkan oleh orang tuanya.
     Tiba tiba Dwi menarik tanganku dan dipeluknya erat seperti sedang memeluk guling.
“Apapun yang terjadi,aku mohon ajangan pernah tinggalkan aku!”pintanya memohon dengan pandangan memelas seprti anak kecil.
    Perlahan kutarik tangannya dan kugenggam jemarinya kupeluk tiap buku buku jari jari tangannya erat.,agar ia percaya padaku.
“Apapun yang terjadi,aku takan membiarkanmu untuk pergi.Karena kau adalah tanggung jawabku saat ini!”seruku meyakinkannya.
    Kulihat senyum tipis mengembang diwajah putih Dwi yang terluka.
     Setelah beberapa menit aku membangunkan Dwi yang tertidur bersandar lengan tanganku.Ia tampak enggan untuk bangaun tapi kuyakinkan dia bahwa ia tertitdur bukan ditempat yang tepat.
     Dengaban menggunakan ojek aku membawa pulang Dwi,aku taktahu apa yang dipikirkan orang orang terhadap kedatangan Dwi dirumahku nanti,mungkin untuk sementara mereka tak akan curiga tapi aku tak mau memikirkan jangka waktunya nanti.
    Sampainya dirumah kutunjukan kamar Untuknya,yang kemarin masih menjadi kamarku,dan hari ini kusulap menjadi kamarnya.Semua sudah kuganti mulai dari kunci dan tak lupa kuganti slotnya dengan yang baru,Karena biar bagaiamanapun aku adalah laki laki normal ayng bisa saja menuruti apa yang dibisikan setan.
    Sementara diriku aku relakan kamar sebelah yang biasa kujsdiksn Gudang kini kusulap menjadi kamarku dengan hanya berisi kasur lipat yang lapuk satu bantal yang selalu menemaniku.
“Kakak ini kamarku!”seru Dwi yang melihat seluruh sudut ruangan yang tidak terlalu lebar.
“Ya!,apa kau suka?”tanyaku sambil menaruh tas kecil diatas tempat tidurnya yang hanya kasur busa ukuran single.
“Tentu!”jawabnya singkat sambil duduk diatas tempat tidurnya.
“Kamu mau mandi?atau mau makan?”tanyaku menawari sesuatu.
“Aku ingin jalan jalan!”
    Mendengar itu aku terkejut bukan kepalang dan tak tahu alasan apa yang harus aku katakan pada tetanagga jika mereka menanyaiku nanti.
“Sebaiknya jangan hari ini!karen akamau masih baru jadi sebaiknya kamua istirahat,karena aku jiga akan istirahat,aku sangat lelah dan ingin tidur!”seruku beralasan agar ia tidak meminta macam macam lagi.
“Baiklah,tapi aku ingin mandi,tubuhku tersa sangat lengket dan aku tak nyaman!”serunya sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Baiklah,kamar mandi ada dikamarmu,dan handukmu yang berwarna pink,ada di kamar mandi!”seruku sambil pergi dari kamarnya.
    Saat Dwi masuk kamar mandi aku masuk kedalam kamarku dan mencoba untuk membaringkan tubuh lelahku dan mencoba untuk tidur dan beristirahat.
     Aku tak dapat memejamkan mataku,suara deburan air dari kamar mandi mengusik telingaku dan pikiranku walau aku mencoba untuk tak memdengarkannya.Dan aku sadar kini aku tinggal satu rumah,satu atap dengan seorang wanita yang aku sendiri tak tahu datanganya,Mampukah aku tetap mempertahankan pendirianku yang sudah kubuat sejak semula?,Aku takut akan terjadi sesuatu pada kami!.
    Aku membolak balikan badanku agar bisa tidur tapi tetap saja tak bisa,sampai akhirnya aku benar benar tak bisa tidur karena denga pelan Dwi melewati kamarku hanya dengan mengenakan handuk sebagai penutup bawah,sementara ia menggunakan kaos yang kubelikan sebagai atasanya.
   Otaku melayang entah kemana,tapi cepat cepat kututup wajahku dengan bantal dan berusaha tidur siang.
                                          ***
      Malam ini untuk pertama kalinya aku bermalam satu atap dengan wanita selain almarhum ibuku.Perasaan canggung menghinggapi perasaanku,dan entahlah dengan Dwi.tetapi sejak tadi kulihat ia banyak diam dan ia begitu rajin membaca buku-buku dan majalah bekas yang aku kumpulkan.Aku hanya bisa menyetelkan lagu lagu dari hpku sebagai penghilang jenih dari kediamaan kami berdua.
    Kami memang dua orang asing yang tiba tiba dipertemukan dan aku bertugas untuk memnantunya dan menolongnya selama ia tak ingat dengan apa yang telah terjadi.
“Kakak!”
   Kudengar Dwi memanggilku dan aku menghentikan pekerjaanku yang sedang melamun.
“Ada apa?”tanyaku sambil membenarkan letak duduku.
“Bolehkan aku bertanya sesuatu!”
     Dengan refleks aku menelan air liurku yang ada dimulutku,dan perasaanku tiba tiba menjadi tegang,seolah olag Dwi akan menanyakan macam macam padaku.
“Apa?”tanyaku mencoba untuk tenang.
    Kulihat Dwi beranjak dari tempatnya dan menghampiriku.Ia duduk tepat dihadapanku dan menatapku dalam dari balik matanya yang kecil.
“Apa?”tanyaku yang benar benar tegang.
    Aku mencoba untuk tidak menatap wajahnya yang penuh dengan tempelan plester.tapi hatiku menyuruhku untuk terus menatapnya.
“Benarkah aku saudaramu?”
    Kembali aku menelan air liurku dan suaranya terdengar sangat keras ditelingaku.Dan pertanyaan yang selalu aku takutkan untuk kujawab akhirnya ia tanyakan juga padaku.
“Kenapa kau tanyakan itu!”seruku ngeles.
“Aku hanya ingin tahu saja,karena aku merasa berbeda denagnmu!”
“Apa yang harus aku jawab?jawaban apa yang ingin kau dengar?”tantaku memberi pilihan.
    Kulihat Dwi menundukan wajahnya dan sebagian rambutnya menutupi sebagian wajahnya.Dan kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatapku.
“Saat pertama kali aku membuka mataku dirumah sakit,aku seperti seseorang yang tak dapat mengenali diriku sendiri,aku merasa asing dan merasa sendiri,tak ada satu orangpun yang bisa aku kenali,aku hanya tahu mereka hanyalah orang orang yang tak mengenalku juga.Sampai pada akhirnya kakak datang dan menjawab pertanyaan terbesarku!”
“Apakah kau merasa puas dengan jawabanku?”tanyaku.
“Jawaban kakak memberiku semangat!,walau belakangan aku menyadari banyak garis besar yang menghalangiku untuk percaya,kalau kakak memang benar benar saudaraku.
“Apa garis itu?”tanyaku yang lebih banyak diam untuk mendengarkan.
“Mungkin kakak tahu apa garis itu,yang membuta kita sangat berbeda.
    Aku menghela nafas dan kudapatkan jawaban itu.
“Kenapa kau tak tanyakan hal itu padaku!,tidakah kau berfikir aku melakukan itu untuk karena aku menginginkan sesuatu darimu!’seruku.
“Sempat aku memikirkannya,tapi aku mencoba berfikir positif,selalu menjadikan kakak adalah orang yang baik,yang tidak akan memanfaatkan kelemahan yang dimiliki orang lain!”serunya optimis,yang membuatku lega.
“Bagaiman jika seandainya apa yang kamu pikirkan bukanlah hal yang sebenarnya terjadi,aku hanya memanfaatkanmu saja!”seruku memberinya gambaran yang terburuk.
“Aku tidak pernah memikirkan hal negatif tentang kakak,aku selalu berfikir tiap kali kakak datang kerumah sakit,itu adalah bentuk tanggung jawab kakak terhadapku!”
“Lalu apa yang kan kau lakukan sekarang!,setelah semua ini kau ketahui!”tanyaku dengan perasaan sedikit was was.
“Ijinkan aku untuk tinggal disini!”serunya dengan nada memelas.
“Ijinkan aku untuk tetap menjadi adikmu!”lanjutnya.
“Tanpa kau minta akupun sudah memberikannyan!”seruku sambil tersenyum.
    Perlahan aku mendekatinya,dan kutatap wajahnya yang masih terlihat menyeramkan.
“Walaupun ‘kakak’hanya sebagai status,aku akan selalu melindungimu sebagai adiku!”seruku meyakinkannya.
    Tiba tiba Dwi memeluku dan sepertinya ia menangis,Aku membiarkan moment itu terjadi untuk beberapa saat,perlahan kuangkat tanganku dan kuusap rambutnya yang halus.
“Kamu lapar!”tanyaku mengganti topik.
   Dwi melepaskan pelukannya dan menatapku.
“Ayo kita cari makanan!”seruku sambil bangkit dari tempatku.
    Malam itu kuajak Dwi jalan jalan menikmati udara segar yang berhembus lumayan kencang.
“Kamu mau makan apa?”tanyaku ketika kami berjalan tanpa ada tujuan.
“Sepertinya aku menyukai nasi goreng!”serunya sambil tersenyum tipis.
   Aku ikut tersenyum dan senyumnya sangat manis walau wajahnya sangat menyeramkan.
    Aku dan Dwi terus berjalan sampai pada sebuah gang yang gelap kami berhenti.Seandainya Dwi tak menghentikan langkahnya mungkin aku takan berhenti,tapi tiba tiba Dwi menghentikan langkahnya dan kurasakan tangannya mencengkram lenganku erat membuatku terkejut.
“Ada apa?”tanyaku sambil menatap wajah Dwi dalam kegelapan.
“Aku takut gelap!”serunya dengan suara terdengar bergetar.
   Cepat cepat aku mengambil HP dari kantong celanaku dan kunyalakan,untuk kujadikan senter.
“Bagaimana?”tanyaku sambil mengarahkan senter kearah Dwi.
   Dwi mengambil senterku dan mengarahkan sinarnya kejalan yang akan dilaluinya.
“Seharusnya disini ada lampu jalannya,mungkin mati!”seruku sambil melanjutkan jalan kami.
   Belum sempat kami menemukan tukang nasi goreng,langkah kami harus kembali terhenti,kali ini aku yang menghentikannya.
     Dari kejauhan kulihat dua orang yang sepertinya pernah kulihat berjalan merlawanan arah dengan kami.Entah apa yang ada dibenaku tapi perasaan tak enak tiba tiba datang dalam hatiku.
    Segera aku memotong jalan agar tak berpapasan dengan mereka.Dan Dwi hanya menurut saja.
“Ada apa kak?”bisik Dwi kemudian ketika kami bersembunyi disamping tembok rumah orang.
“Jangan bersuara!”seruku berbisik.
   Kami saling diam dan menunggu kedua orang itu lewat,Mungkin karena suasana sedikit tenang dan hanya ada suara jangkrik yang bunyi,sedikit aku bisa mendengar percakapan mereka yanga tidak terlalu aku mengerti.
“Seharusnya kau jangan tinggalkan,karena sekarang kita harus membayarnya!”
“Bos sendiri yang perintah!”
“Harunya kau pastikan dulu,dia sudah mati atau belum!”
“Mungkin kini dia ada di salah satu rumah warga!”
    Dan setelah itu aku tak begitu jelas mendengarkan apa ucapan mereka lagi.
   Setelah keadaan terasa aman aku dan Dwi keluar dari persembunyian kami dan melanjutkan pencarian kami.
“Siapa mereka?”tanya Dwi ingin tahu.
“Entahlah akupun tak tahu,yang aku tahu mereka sangat mencurigakan dan membuatku perfikir negatif pada mereka!”sambil melanjutkan langkah kami.
                                      ***
     Setelah mencari nasi goreng dan memakannya kami pulang dan sampainya dirumah,kami masuk kamar masing masing setelah malam makin larut,banyak hal yang kami bicarakan,banyak hal yang ia tanyakan dan aku hanya mampu menjawab sesuai yang aku tahu.

    Tapi sampai saat ini,aku belum juga bisa memejamkan mata walau malam sudah hampir mejelang subuh,pertanyaan pertanyaan Dwi masih menumpuk dalam otaku,walaupun hal itu ia tanyakan hanya sebagai rasa keingin tahuannya saja.

...........

Tidak ada komentar :

Posting Komentar