........
Setelah
menginap beberapa hari dirumah sakit akhirnya Dwi sudah bisa pulang.Dengan catatan
dia harus kontrol memgenai luka luka yang dialaminya untuk mendapatkan
perawatan agar tidak terlalu mengerikan.
Mengenai biaya,sempat aku dibuat kalang kabut karena jumlahnya yang
melebihi jumlah serengah dari tabunganku.Tapi untungkah Dokter Reno membantukau
setengah,untuk membayar biaya rumah sakit.
Setelah biaya rumah sakit selesai ternyata masalahku tak selesai sampai
disitu,Aku harus menyiapkan sesuatu untuk Dwi,dia yang asing membuat rumahku
harus diisi dengan perabotan yang baru,mulai dari kasur,perlengkapan makan
minum,pakaian ,dan keperluan yang seperti yang aku miliki.
Besok adalah hari dimana Dwi akan pulang kerumahku,semua kebutuhan rumah sudah
aku beli walau bukan yang berkualitas bagus tapi paling tidak layak untuk
digunakan.
Semua telah selesai ada satu kagi ayng penting tapi belum aku laksanakan yaitu
membelikan Dwi baju.Ia tidak mempunyai sehelai bajupun kecuali piyama yang ia
gunakan di rumah sakit,Selain baju aku juga harus membelikan pakaina dalam
untuknya ,yang sama sekali tak aku ketahui ukurannya.
Aku bingung harus bertanya pada siapa,selain bingung aku juga malu jika harus
menanyakan hal itu karena aku seorang lelaki,yang tahu ukuran tapi tidak
terlalu mendetail.
Suah satu jam aku mondar mandir didalam pasar mencari sesuatu yang aku sendiri
tak tahu,Ditentengan tanganku baru hanya ada kantong berisi Handuk dan masih
banyak lagi daftar yang kutulis,tapi belum aku belikan dan salah satunya adalah
pakaian dalam wanita.
Mungkin para pelayan toko yang kulalui bingung melihatku yang hanya mondar
mandir tanpa membeli barang dagangan mereka.Dan yang aku tahu pakaian wanita
ternyata bagus bagus dan bermacam macam,tak seperti pakaian pria yang monoton
hanya celana panjang atau pendek,kaos ataupun oblong.
“Eka!!!!!”
Seseorang memanggilku dan aku segera mencari asal suara.Yang memanggilku dalam
keramaian Pasar itu.
“Ita!”seruku
terkejut.
Cepat cepat ia memnghampiriku dan memperhatikanku,seperti ada yang aneah
denganku.
“Kamu lagi
ngapain di sini?”tanyaku gugup.
“Aku lagi
nyari kerjaan!’Serunya yang membuatky terkejut.
Seketika aku terkejut,sangat terkejut dan seperti ada sesuatu yang mengenai
kepalaku.
“Kamu kenapa
Ka?”tanya Ita yang ternyata setelah mendengar ucapannya aku terdiam
“Kenapa
pindah????”tanyaku ingin tahu,sangat sangat ingin tahu.
“Aku ga bisa
ngejelasin tapi intinya aku pengen keluar!’serunya yang tak mau memberi alasan
keluarnya Ita.
“Oke!aku ga
akan nanya!’seruku yang menandakan ku tak akan mengungkit lagi hal itu.
“Kamu ga
kerja??tanyanya mengganti topik pembicaraan.
“Aku
ijin libur hari ini!”seruku pasti.
“Ijin mau
belanja!!!!”serunyadengan nada meledek.
Aku terdiam sejenak dan berfikir keras untuk memberikan alasan yang pasti pada
Ita,agar tidak terdengar memalukan.
“Ada sesuatu
ayng ingin aku beli!”seruku beralasan.
“Apa?,mungkin
aku bisa bantuin memilih!”seru Ita menawarkan diri.
Aku terkejut bukan main bagaimana mungkin aku akan melakukan hal konyol
ini.Mencari pakaian dalam wanita bersama wanita yang disukai.Membeli pakaian
dalam sendiri dengan wanita yang disukaipun kadang masih malu.ini harus dengan
penggunanya.
“Mau beli
apa?”tanyanya yang menyadarkanku yanag beberapa detik lalu kembali terdiam.
“Aku bilang
tapi kamu jangan ketawa!”seruku ragu.
“OKE!”serunya
sambil tersenyum.senyum yang sangat aku suka.
“ Pakaian
dalam wanita!”jawabku hati hati.
Dapat kulihat raut wajah Ita langsung berubah ketika mengatakan hal itu,tapi
lebih malu lagi dalah aku.Aku yang mengatakan hal itu,aku yang seorang pria.
“Buat
siapa?”tanyanya yanag benar benar menepati janjinya untuk tidak tertawa.
“Kamu ingat
saudaraku yang dirawat tempo hari!dia memintaku untuk membelikan pakaian dalam
untuknya.Dan bodohnya aku,aku tidak menanyakan berapa ukurannya!’seruku panjang
.
“Boleh aku
bantu!’serunya menawarkan diri.
Aku terkejut bukan main,bagaimana tidak,aku berharap Ita akan meninggalkanku
untuk memcari sendiri.tapi tanpa dugaan ia malah menawarkan diri untuk
membantuku.
“Apa tidak
merepotkan?”tanyaku.
“Tidak,aku kan
lagi free,lagi pula kamu kan ga tahu ukuranya kan!,mungkinaku bisa bantu!”seru
Ita menjelaskan.
Aku berfikir sejenak dan memang ucapan Ita ada benernya sih,di lebih tahu
segalanya tentang wanita,dan bukankah ini kesempatan untuku,untuk lebih dekat
dengannya,paling tidak aku bisa ngobrol dengannya.Hal yang sulit aku lakukan
tapi sangat ingin aku lakukan.
“Bagaimana?”tanya
Ita yang kembali mengejutkanku.
“Boleh
juga!’seruku pada akhirnya.
Aku dan Ita berkeliling pasar untk mencari penjual pakaian dalam yang lumayang
banyak,selama mencari aku lebih banyak diam sementara Ita fokus pada pencarian
tokonya.
Sebenarnya banyak yang ingin kau bicarakan denganya,terutama tentang
hatiku,tapi mengapa semua terasa sangat sulit,ketakutanku yang terus bersuara.
Bagaimana kalau setelah aku mengatakan isi hatiku hubungan kami jadi tak
sedekat saat ini,dan pasti akan terganggu dan rasa canggunglah yang akan
berdiri diantara kami.
Akhirnya setelah beberapa lama berkeliling kami memasuki toko pakaian dalam
yang cukup besar,pertama tama Ita mencari cari BH yang mungkin ia cari untuknya
sendiri ditemani oleh pelayan toko,sedangkan aku masih berdiri didekat pintu
masuk.Seperti menanti para wnita berdiskusi tentang pakaian dalam mereka.
“Eka!,sini!”panggil
Ita mengejutkanku.
Seketika panas dingin mrnyapa tubuhku,dan tentu perasaan mali apalagi pelayan
itu memendangiku dengan pandangan yang tak bias.Mungkin wajahku sudah seperti
Udang rebus yang memerah.
Dengan langkah berat aku berjalan menghampiri Ita dan pelayan itu,yang
memandangiku penuh curiga atau mungkin rasa geli.
“Kira kira
ukurannya seberapa?”tanya Ita sesampainya disampingnya.
Perlaha aku berbisik didekat telinganya.
“Maaf,tapi
orangngnya kurang lebih seperti kamu!’bisiku malu malu,takut menyinggungnya.
Seketika Ita mengalihkan pandanganya padaku dengan tatapan aneh dan membuatku
tak enak.
“Tapi kan
ukurannya beda!seru Ita yang tampaknya tak tersinggung denga ucapanku tadi.
“Aku ga
tahu tapi postur tubuhnya kayak kamu!”seruku meyakinkannya.
“Jadi ambil
ukuranku aja!’serunya memastikan.
“Iya!”jawabku
sambil mengangguk.
“Pake renda
tidak?”tanyanya lagi.
Kembali aku tersentak dan aku karena kau buta tentang itu.Dan aku lihat Ita
tanpak tersenyum melihat keterkejutanku.
“Ada banyak
macemya!”seru Ita menjelaskan.
Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasan Ita yang sangat tahu taeaaaantang hal
itu.Dimulai dari yang pake kawat atau tidak,bisa dilepas talinya atau
tidak.Sesaat aku berfikit Ita memiliki niat mempermalikanku didepan pelayan
itu,tapi satu sisi lain berkata ,Ita hanya benberikaan yang tebaik yang bis ai
berikan sebagai wanita pada wanita lain.
Setelah membeli beberapa potong pakaian dalam aku dan Ita pergi menuju ketempat
lain yang belum dituju.Mungkinkarena dia seorang wanita sebelum ia pergi ia
membuat perjanjian denhan pelayan toko,kalau barang uyang dibelinya tidak pas
bisa ditukar.Bahkan aku sendiri tak memikirkannya.Aku berharap itu akan
pas,karena hari esok pasti akan berbeda denga hari ini.Saat ini dengan Ita,esok
hari entah dengan siapa.
Aku dan itu berkeliling dan mengobrol tentang beberapa hal yang ternyata hal
yang ia sering aku lakukan dari tempatku bekerja.
“Aku sering
lihat kamu memandang kearah tempat kerjaku,tapi entah apa yang kamu
lihat!”serunya yang mungkin sekalian bertanya.
“Kapan?”tanyaku
berkelit.
“Hampir tiap
hari!”jawabnya.
“Sebelum jam
makan siang!,kalau itu biasanya aku melihat untuk mengecek kira kira makan
siangku maunya apa!”jawabku beralasan.
“Tapi
sepertinya hampir tiap hari menu makan siang kamu sama!”
Aku terdiam dan sepertinya akan terbuka semua kebiasaanku ini!”
“Perasaan kamu
aja kali!”seruku.
“mau beli apa
lagi?”tanyanya yang mengalihkan pembicaraan kami.
Dan aku terselamatkan oleh tindakannya.
Karena merasa tak adalagi yang ingin kubeli akhirnyakamu memutuskan untuk
keluar pasar,dan dengan spontanitas kuajak Ita makan siang.
Dan untunglah dia mau menerima ajakanku.Sungguh aku sangat bahagia,selama beberapa
jam ini aku bisa bersamanya dekat dengannya.Dekat dengannya sangat dekat.
Aku dan Ita membicarakan banyak hal tapi samasekali aku tak berfikir untuk
menggunakan waktu ini sebagai waktu yang tepat untuk mengutarakan semua isi
hatiku.Ketakutan terbesarku adalah setelah aku mengatakan semua ini,keadaan
akan berubah.Dan perubahan yang menuju ke hal yang buruk itu yang aku tak
mau.Dan akhirnya obrolan kami berakhir tanpa ada sesuatu yang seharusnya sangat
berarti untuku.
Mungkin perubahan yang paling aku takutkan,aku takut Ita akan berubah sikap
padaku,aku takut Ita akan membenciku,Aku takut Ita akan menjauhuku.Dan semua
ketakutan yang akan membuatku kehilangan Ita.
Selesai makan hal yang aku takutkan datang,Ita berpamitan pulang.Dan saat
itulah aku benar benar merasa takut,sangat takut,takut aku tak dapat melihatnya
lagi.
“ Kamu ingin
mengatakan sesutu sebelum kita berpisah?”tanya Ita tiba tiba padaku ketika ia
mengantri untuk naik bis menuju rumahnya.
Aku terdiam dan mencoba berfikir.
“Hati hati
dijalan!”seruku singkat.
Kulihat wajah Ita tanpak berubah,seperti ada sesuatu yang ia simpan.
“Baiklah,kamu
juga hati hati,dan semoga apa yang aku pilihkan dia menyukainya!”seru Ita
sambil melirik tas plastik yang aku tenteng.
“Aku yakin Dia
suka!”jawabku mantap.
Dan Ita masuk kedalam bis,kukihat ia duduk di dekat jendela,sebelum bis
berjalan Ita sempatkan diri untuk tersenyum kepadaku dan melambaikan tangan
kepadaku,Dan dengan perasaan mengganjal kubalas lambaian tangannya.Mungkin ini
akan jadi pertemuanku yang terakhir dengannya.
Seandainy arah rumahku searah dengannya mungkin takan kubiarkan dia pergi
sendirian.Tapi sayang itu hanya keinginanku saja,dan tak ada alasan untuku
menaiki bis yang sama dengannya sementara aku tak memiliki tujuan,hanya
mempermalukan diri sendiri saja!.
Dengan perasaan yang terasa sakit aku pulang,rasanya ada sesuatu yang tertahan
dalam hatiku,yang membuatku terasa sesak dan sulit bernafas,Terasa sangat sakit
sekali.
Apa yang aku lakukan!mengapa aku menyia nyiakan kesempatan kedua yang
datang!,kenapa aku menjadi pengecut,manusia bodoh,sangat bodoh.
Seharusnya pertanyaannya tadi kujawab dengan semua isi hatiku yang kusimpan
untuknya.
Aku sampai dirumah hampir mendekati malam dan sesampainya dirumah aku
menyibukan diri dengan membongkar tempat tempat yang perlu
dibongkar.danmerapikan yang perlu dirapikan.Karena akan ada orang baru yang
akan datang,dan sekaligus kegiatanku untuk melupakan kejadian tadi siang yang
seharusnya menjadi moment indah yang tak perlu aku lupakan,Tapi karena
kebodohanku dan ketakutanku,aku harus melupakannya,dan menganggapnya tak pernah
terjadi,Walau sebenarnya tak semua kenangan itu menyakitkan jika diingat.
***
Pagi ini aku kembali meminta izin untuk tidak masuk kerja,karena hari ini Dwi
akan keluar dari rumah sakit,setelah beberapa hari semenjak aku temukan ia
belum pernah keluar dari rumah sakit.Dan lagi pula ia juga tak tahu siapa dan
dimana keluarganya berada,karena amnesia yang dialaminya.Menurut dokter Amnesia
yang dialami Dwi disebabkan oleh luka benturan yang dialaminya,yang terdapat
dikepala bagian samping kepalanya.Dan amnesia itu juga akan sembuh dengan
sendirinya tapi dokter tak dapat memperediksi kapan waktu itu akan
datang.Dokter hanya memberitahuku agar aku menjaganya seperti keluarganya,agar
pasien tidak merasa asing dan tidak merasa sendirian di tempat yang terasa baru
yang benar benar hilang dari memorinya.
Mungkin karena saran dokter itulah kini aku tidak merasa begitu csnggung pada
Dwi,aku benar benar sudah menganggap Dwi sebagai adiku yang harus aku lindungi
dan aku jaga.Memang diawal awal pertemuanku dengannya mendatangkan rasa
canggung dan beban padaku,tapi lama kelamaan aku mulai memahaminya,dia sosok
seorang gadis yang ceria dan mudah akrab dengan lingkungannya,bertolak belakang
sekali denganku yang sangat sulut untuk menyesuaikan dengan lingkungan.Mungkin
aku harus berterima kasihpada oranag tuaku yang telah membangun rumah yang jauh
dari lingkungan warga,karena aku sangat enggan harus berinteraksi langsung
dengan warga jika tidak ada hal yang mendadak,Terdengar egois memang tapi aku
nyaman dengan keadaanku yang seperti ini.Lagipula akupun jarang dirumah,waktuku
habis untuk bekerja berangkat pagi pulang sore atau malam.Dan berinteraksi
dengan warga hanya untuk menyapa ketika bertemu ataupun jika sedang membutuhkan
bantuan.
Dwi,dia seorang yang sangat ceria,sepertinya ia tak malu dan minder dengan
keadaan wajahnya yang bisa dikatakan cacat karena beberapa bekas luka benda
tajam di wajahnya,yang membuatnya tampak sangat menyeramkan.Dan jika ingin
menghilangkannya Dwi harus menjalani operasi plastik untuk mengembalikan
wajahnya seperti semula,yang mungkin sangat cantik.
Karena walaupun wajahnya saat ini terlihat mengerikan tapi ia masih sangat
terlihat cantik,dengan kulit putihnya yang mulus tanpa bekas jerawat dan
matanya yang kecil.Satu hal yang unik dari dwi jika ia tersenyum matanya akan
menyipit dan hampir tertutup,dan jika ia tertawa semua matanya akan hilang dan
mungkin jika ia bersana teman temannya ia akan ditinggal kabur jika ia tertawa
terlalalu keras,karena ia tak akan melihat kapan teman temannya
meningalkannya.Jika kulihat dari warna kulit dan pembawaanya aku yakin ia bukan
orang pribumi tapi campuran.Dan tentu saja jika suatu saat ada orang yang
bertanya apa ia benar benar adiku aku akan menjawab bukan.Dan orang yang
tidak berfikir lewat akal jika menganggapu dan Dwi benar benar adik dan
kakak.
Dan aku tak tahu berapa usianya yang sebenarnya,tapi aku merasa ia lebih muda
dibandingkan denganku,jadi mungkin aku tidak salah jika aku menganggapnya
adik,dan ia menganggapku kakak.
Mungkin suatu saat Dwi akan bertanya benarkah aku adalah adiknya.dan akuan
menjelaskanya jika waktu itu tiba.
Kulihat Dwi sedang tertawa bersama pasien lain,tertawa dengan sangat
lepas.Semenjak beberapa hari setelah ia siuman aku memutuskan untuk
memindahkannya kekamar yang harganya lebih murah agar aku tidak terlalu banyak
mengeluarkan biaya untuk biaya sewa kamarnya dirumah sakit.
Dan ternyata keputusanku untuk memindahkan kamarnya benar karena sejak itu ia
menjadi memiliki teman bicara,dan iapun pernah mengatakan padaku hal yang
membuatnya tak mau tinggal ditempat yang sangat sedikit orangnya,karena
menurutnya itu membuatnya mengingat hal hal yang membuatnya ketakutan walau ia
sendiri tak tahu hal apa itu,tapi baginya hal itu adalah sebuah ingatan dari
masalalunya yang harus dilupakannya yang menurutnya sangat kelam dan mengerikan.
Sesampainya aku dikamarnya Dwi menyambutku dengan pelukan hangat dan bberapa
pasng mata memperhatikan kami yang menurutku terlalu vulgar.
“Kamu
siap untuk pulang hari ini???”tanyaku memastikan.
“Ya!aku rindu
denhgan rumah!”jawabnya mantap.
Aku hanya tersenyum tanpa memberitahunya apa yang sebebarnya terjadi,aku
bukanlah siapa siapa untuknya,aku hanya orang yang tertimpa tanggung jawab
untuk menolongmu,sampai ingatanmu pulih.
Sesaat kemudian aku memberikan bungkusan kecil pada Dwi yang berisi pakaian
baru untuk dipakainya sebelum ia pulang,karena selama dirumah sakit Dwi hanya
menggunakan piyama yang dipinjamkan rumah sakit untuknya.
“Apa
ini!”
Dwi langsung mengmbil bungkusan yang kuberikan kepadanya.
“Pakaian buatmu,ayo
dicoba cocok tidak!”seruku sedikit was was karena itu pakaian
pilihanku,sementara aku tak tahu seberapa ukutannya.
“Aku coba
ya!”seru Dwi tampak senang.
Dwi segera berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tertatih.Aku inin
membantu tapi tidak mungkin aku melakukannya.
Setelah beberapa lama Dwi keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian
yang aku berikan,sebuah kaos warna biru langit dengan motif kupu kupu kecil
menempel disudut bahunya.Sementara bagian bawahnya ia menggunakan celana bahan
ukuran ¾ warna hitam.
“Apakah
cocok denganmu???”tanyaku ragu.
Dwi tak menjawab ia masih memperhatikan langkahnya menuju kearahku.
“Cocok
kak!sampai kedalam dalamnya!”serunya sambil berbisik.
Aku terdiam dan sepertinya warna merah tampak di pipiku karena malu.
“Syukurlah
jadi aku tak perlu menukarkannya lagi!”seruku
Setelah berkemas aku dan Dwi pergi,meninggalkan rumah sakit yang telah menjadi
rumah untuk Dwi.
Kulihat Dwi sangat senang,ia sepeti menemukan kembali kebebasannya.Apakah dia
memang seorang yang bebas???.Entahlah aku tak tahu.Ia begitu menikmati
perjalanan kami menuju rumahku yang memerlukan waktu setengah jam untyk sampai.
“Apa kau
mengingat sesuatu di tempat ini?”tanyaku mencoba membantunya menemukan
kembali ingatannya.
“Aku tak ingat
apa apa!,semua terasa begitu baru,dan akupun merasa kakak juga adalah orang
yang baru untuku.Tapi hatiku berkata kakak adalah penyelamatku,walaupun
seandainya kakak hanya berbohong untuk menyelamatkanku.!”
Aku terdiam dan mendengarkannya,walaupun dalam hatiku masih teras was
was.apakah ia sudah tahu aku bukan saudara darinya.
“Bagaimana
kalau aku memang benar benar bukan saudaramu?”tanyaku sambil menatap Dwi yang
sejak tadi memandangi pemandangan diluar bus.
Kulihat Dwi menoleh padaku tatapan matanya tersirat ketakutan seperti seorang
anak kecil yang akan ditinggalkan oleh orang tuanya.
Tiba tiba Dwi menarik tanganku dan dipeluknya erat seperti sedang memeluk
guling.
“Apapun yang terjadi,aku
mohon ajangan pernah tinggalkan aku!”pintanya memohon dengan pandangan memelas
seprti anak kecil.
Perlahan kutarik tangannya dan kugenggam jemarinya kupeluk tiap buku buku jari
jari tangannya erat.,agar ia percaya padaku.
“Apapun yang
terjadi,aku takan membiarkanmu untuk pergi.Karena kau adalah tanggung jawabku
saat ini!”seruku meyakinkannya.
Kulihat senyum tipis mengembang diwajah putih Dwi yang terluka.
Setelah beberapa menit aku membangunkan Dwi yang tertidur bersandar lengan tanganku.Ia
tampak enggan untuk bangaun tapi kuyakinkan dia bahwa ia tertitdur bukan
ditempat yang tepat.
Dengaban menggunakan ojek aku membawa pulang Dwi,aku taktahu apa yang
dipikirkan orang orang terhadap kedatangan Dwi dirumahku nanti,mungkin untuk sementara
mereka tak akan curiga tapi aku tak mau memikirkan jangka waktunya nanti.
Sampainya dirumah kutunjukan kamar Untuknya,yang kemarin masih menjadi
kamarku,dan hari ini kusulap menjadi kamarnya.Semua sudah kuganti mulai dari
kunci dan tak lupa kuganti slotnya dengan yang baru,Karena biar bagaiamanapun
aku adalah laki laki normal ayng bisa saja menuruti apa yang dibisikan setan.
Sementara diriku aku relakan kamar sebelah yang biasa kujsdiksn Gudang kini
kusulap menjadi kamarku dengan hanya berisi kasur lipat yang lapuk satu bantal
yang selalu menemaniku.
“Kakak ini
kamarku!”seru Dwi yang melihat seluruh sudut ruangan yang tidak terlalu lebar.
“Ya!,apa kau
suka?”tanyaku sambil menaruh tas kecil diatas tempat tidurnya yang hanya kasur
busa ukuran single.
“Tentu!”jawabnya
singkat sambil duduk diatas tempat tidurnya.
“Kamu mau mandi?atau
mau makan?”tanyaku menawari sesuatu.
“Aku ingin
jalan jalan!”
Mendengar itu aku terkejut bukan kepalang dan tak tahu alasan apa yang harus
aku katakan pada tetanagga jika mereka menanyaiku nanti.
“Sebaiknya
jangan hari ini!karen akamau masih baru jadi sebaiknya kamua istirahat,karena
aku jiga akan istirahat,aku sangat lelah dan ingin tidur!”seruku beralasan agar
ia tidak meminta macam macam lagi.
“Baiklah,tapi
aku ingin mandi,tubuhku tersa sangat lengket dan aku tak nyaman!”serunya sambil
bangkit dari tempat duduknya.
“Baiklah,kamar
mandi ada dikamarmu,dan handukmu yang berwarna pink,ada di kamar mandi!”seruku
sambil pergi dari kamarnya.
Saat Dwi masuk kamar mandi aku masuk kedalam kamarku dan mencoba untuk
membaringkan tubuh lelahku dan mencoba untuk tidur dan beristirahat.
Aku tak dapat memejamkan mataku,suara deburan air dari kamar mandi mengusik
telingaku dan pikiranku walau aku mencoba untuk tak memdengarkannya.Dan aku
sadar kini aku tinggal satu rumah,satu atap dengan seorang wanita yang aku
sendiri tak tahu datanganya,Mampukah aku tetap mempertahankan pendirianku yang
sudah kubuat sejak semula?,Aku takut akan terjadi sesuatu pada kami!.
Aku membolak balikan badanku agar bisa tidur tapi tetap saja tak bisa,sampai
akhirnya aku benar benar tak bisa tidur karena denga pelan Dwi melewati kamarku
hanya dengan mengenakan handuk sebagai penutup bawah,sementara ia menggunakan kaos
yang kubelikan sebagai atasanya.
Otaku melayang entah kemana,tapi cepat cepat kututup wajahku dengan bantal dan
berusaha tidur siang.
***
Malam ini untuk pertama kalinya aku bermalam satu atap dengan wanita selain almarhum
ibuku.Perasaan canggung menghinggapi perasaanku,dan entahlah dengan Dwi.tetapi
sejak tadi kulihat ia banyak diam dan ia begitu rajin membaca buku-buku dan
majalah bekas yang aku kumpulkan.Aku hanya bisa menyetelkan lagu lagu dari hpku
sebagai penghilang jenih dari kediamaan kami berdua.
Kami memang dua orang asing yang tiba tiba dipertemukan dan aku bertugas untuk
memnantunya dan menolongnya selama ia tak ingat dengan apa yang telah terjadi.
“Kakak!”
Kudengar Dwi memanggilku dan aku menghentikan pekerjaanku yang sedang melamun.
“Ada
apa?”tanyaku sambil membenarkan letak duduku.
“Bolehkan aku
bertanya sesuatu!”
Dengan refleks aku menelan air liurku yang ada dimulutku,dan perasaanku tiba
tiba menjadi tegang,seolah olag Dwi akan menanyakan macam macam padaku.
“Apa?”tanyaku
mencoba untuk tenang.
Kulihat Dwi beranjak dari tempatnya dan menghampiriku.Ia duduk tepat
dihadapanku dan menatapku dalam dari balik matanya yang kecil.
“Apa?”tanyaku
yang benar benar tegang.
Aku mencoba untuk tidak menatap wajahnya yang penuh dengan tempelan
plester.tapi hatiku menyuruhku untuk terus menatapnya.
“Benarkah aku
saudaramu?”
Kembali aku menelan air liurku dan suaranya terdengar sangat keras
ditelingaku.Dan pertanyaan yang selalu aku takutkan untuk kujawab akhirnya ia
tanyakan juga padaku.
“Kenapa kau
tanyakan itu!”seruku ngeles.
“Aku hanya
ingin tahu saja,karena aku merasa berbeda denagnmu!”
“Apa yang
harus aku jawab?jawaban apa yang ingin kau dengar?”tantaku memberi pilihan.
Kulihat Dwi menundukan wajahnya dan sebagian rambutnya menutupi sebagian
wajahnya.Dan kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatapku.
“Saat pertama
kali aku membuka mataku dirumah sakit,aku seperti seseorang yang tak dapat
mengenali diriku sendiri,aku merasa asing dan merasa sendiri,tak ada satu
orangpun yang bisa aku kenali,aku hanya tahu mereka hanyalah orang orang yang
tak mengenalku juga.Sampai pada akhirnya kakak datang dan menjawab pertanyaan
terbesarku!”
“Apakah kau
merasa puas dengan jawabanku?”tanyaku.
“Jawaban kakak
memberiku semangat!,walau belakangan aku menyadari banyak garis besar yang
menghalangiku untuk percaya,kalau kakak memang benar benar saudaraku.
“Apa garis
itu?”tanyaku yang lebih banyak diam untuk mendengarkan.
“Mungkin kakak
tahu apa garis itu,yang membuta kita sangat berbeda.
Aku menghela nafas dan kudapatkan jawaban itu.
“Kenapa kau
tak tanyakan hal itu padaku!,tidakah kau berfikir aku melakukan itu untuk
karena aku menginginkan sesuatu darimu!’seruku.
“Sempat aku
memikirkannya,tapi aku mencoba berfikir positif,selalu menjadikan kakak adalah
orang yang baik,yang tidak akan memanfaatkan kelemahan yang dimiliki orang
lain!”serunya optimis,yang membuatku lega.
“Bagaiman jika
seandainya apa yang kamu pikirkan bukanlah hal yang sebenarnya terjadi,aku
hanya memanfaatkanmu saja!”seruku memberinya gambaran yang terburuk.
“Aku tidak
pernah memikirkan hal negatif tentang kakak,aku selalu berfikir tiap kali kakak
datang kerumah sakit,itu adalah bentuk tanggung jawab kakak terhadapku!”
“Lalu apa yang
kan kau lakukan sekarang!,setelah semua ini kau ketahui!”tanyaku dengan
perasaan sedikit was was.
“Ijinkan aku
untuk tinggal disini!”serunya dengan nada memelas.
“Ijinkan aku
untuk tetap menjadi adikmu!”lanjutnya.
“Tanpa kau
minta akupun sudah memberikannyan!”seruku sambil tersenyum.
Perlahan aku mendekatinya,dan kutatap wajahnya yang masih terlihat menyeramkan.
“Walaupun
‘kakak’hanya sebagai status,aku akan selalu melindungimu sebagai adiku!”seruku
meyakinkannya.
Tiba tiba Dwi memeluku dan sepertinya ia menangis,Aku membiarkan moment itu
terjadi untuk beberapa saat,perlahan kuangkat tanganku dan kuusap rambutnya
yang halus.
“Kamu
lapar!”tanyaku mengganti topik.
Dwi melepaskan pelukannya dan menatapku.
“Ayo kita cari
makanan!”seruku sambil bangkit dari tempatku.
Malam itu kuajak Dwi jalan jalan menikmati udara segar yang berhembus lumayan
kencang.
“Kamu mau
makan apa?”tanyaku ketika kami berjalan tanpa ada tujuan.
“Sepertinya
aku menyukai nasi goreng!”serunya sambil tersenyum tipis.
Aku ikut tersenyum dan senyumnya sangat manis walau wajahnya sangat menyeramkan.
Aku dan Dwi terus berjalan sampai pada sebuah gang yang gelap kami
berhenti.Seandainya Dwi tak menghentikan langkahnya mungkin aku takan berhenti,tapi
tiba tiba Dwi menghentikan langkahnya dan kurasakan tangannya mencengkram
lenganku erat membuatku terkejut.
“Ada
apa?”tanyaku sambil menatap wajah Dwi dalam kegelapan.
“Aku takut
gelap!”serunya dengan suara terdengar bergetar.
Cepat cepat aku mengambil HP dari kantong celanaku dan kunyalakan,untuk
kujadikan senter.
“Bagaimana?”tanyaku
sambil mengarahkan senter kearah Dwi.
Dwi mengambil senterku dan mengarahkan sinarnya kejalan yang akan dilaluinya.
“Seharusnya
disini ada lampu jalannya,mungkin mati!”seruku sambil melanjutkan jalan kami.
Belum sempat kami menemukan tukang nasi goreng,langkah kami harus kembali
terhenti,kali ini aku yang menghentikannya.
Dari kejauhan kulihat dua orang yang sepertinya pernah kulihat berjalan
merlawanan arah dengan kami.Entah apa yang ada dibenaku tapi perasaan tak enak
tiba tiba datang dalam hatiku.
Segera aku memotong jalan agar tak berpapasan dengan mereka.Dan Dwi hanya
menurut saja.
“Ada apa
kak?”bisik Dwi kemudian ketika kami bersembunyi disamping tembok rumah orang.
“Jangan
bersuara!”seruku berbisik.
Kami saling diam dan menunggu kedua orang itu lewat,Mungkin karena suasana
sedikit tenang dan hanya ada suara jangkrik yang bunyi,sedikit aku bisa
mendengar percakapan mereka yanga tidak terlalu aku mengerti.
“Seharusnya
kau jangan tinggalkan,karena sekarang kita harus membayarnya!”
“Bos sendiri
yang perintah!”
“Harunya kau
pastikan dulu,dia sudah mati atau belum!”
“Mungkin kini
dia ada di salah satu rumah warga!”
Dan setelah itu aku tak begitu jelas mendengarkan apa ucapan mereka lagi.
Setelah keadaan terasa aman aku dan Dwi keluar dari persembunyian kami dan
melanjutkan pencarian kami.
“Siapa
mereka?”tanya Dwi ingin tahu.
“Entahlah
akupun tak tahu,yang aku tahu mereka sangat mencurigakan dan membuatku perfikir
negatif pada mereka!”sambil melanjutkan langkah kami.
***
Setelah mencari nasi goreng dan memakannya kami pulang dan
sampainya dirumah,kami masuk kamar masing masing setelah malam makin
larut,banyak hal yang kami bicarakan,banyak hal yang ia tanyakan dan aku hanya
mampu menjawab sesuai yang aku tahu.
Tapi sampai saat ini,aku belum juga bisa memejamkan mata walau malam sudah
hampir mejelang subuh,pertanyaan pertanyaan Dwi masih menumpuk dalam
otaku,walaupun hal itu ia tanyakan hanya sebagai rasa keingin tahuannya saja.
...........
Tidak ada komentar :
Posting Komentar