.........
Citra mencoba untuk kuat,agar
dapat melangkah kedepan,agar dapat menemui Irene dan suaminya.Tapi entah
mengapa hatinya terasa hilang,tak berada didalam dadanya,begitupun
jantungnya.terus berpacu dengan nafasnya yang tiba tiba makin kencang menarik
udara yang ada diluar.
"kamu baik baik saja Citra?"tanya Restu yang melihat Citra
tampak gugup dan keringat keluar dari dahinya dan hampir menetes.
Cepat cepat Restu mengambil sapu tangan dari dalam kantongnya
“Pakai ini,kamu tampak berkeringat!.atau kamu merasa belum siap untuk
hari ini?"tanya Restu lagi.
"Aku siap.kalau tidak hari ini aku tidak tahu lagi kapan lagi akan
berani menghadapi mereka."jelas Citra.
"Oke kalau begitu."seru Restu yang langsung menyambar tangan
Citra.
"Tangan kamu dingin sekali!"seru Restu.
"Aku ga papa!"seru Citra sambil menarik tangannya dari
genggaman Restu.
"Maaf!"seru Restu.
Dan suasana canggung kembali menyelimuti mereka.Citra menarik nafas
panjang saat ia melihat Iren dan Andika dari kejauhan.
"Aku baik baik saja!"seru Citra saat melihat Restu menoleh
kearahnya.
"Emmm....!oke"jawab Restu yang terlalu khawatir.
"Jangan khawatirkan aku yang sedang tak berdaya ini!"gumam
Citra yang merasakan seperti ada lubang baru menganga dalam hatinya.
Dari kejauhan tampak Irene melambai padanya.dan begitu pula dengan
Andika ia tampak melambaikan tangan tapi sepertinya bukan kepadanya,dan
sepertinya ia melambai pada Restu.
Langkah Citra dan Restu makin mendekat dan rasanya tenaga dalam tubuh
Citra makin turun.
Raut keterkejutan Andika mulai tampak.
"Citra,kenapa kamu baru datang!"seru Irene yang langsung
memeluk sahabatnya.
"Kamu kok ga bilang bilang kalau punya gandengan baru!"bisik
Irene.
Citra tersenyum kecut yang kemudian ditimpali dengan ucapan.
"Kita ketemu di depan.dia temen suamimu!"seru Citra menahan
perasaan sakitnya dan tak mau menatap ataupun menoleh pada suami Irene yang
hanya berjarak beberapa senti.
"Oh iya aku kenalin ke suamiku!"seru Irene.
Dan saat saat yang ditakutkan itu akhirnya datang tiba.
"Sayang,kenalin ini sahabat terbaik aku!"seru Irene.
Seketika mata Citra dan Andika bertemu.Ada banyak pertanyaan yang muncul
dari keduanya.
"A...ndika!"seru Andika tampak gugup tapi mencoba untuk biasa
saja.
"Citra!"jawab Citra sambil menjabat tangan Andika dan sekilas
melirik Restu yang sedang berjabat tangan dengan Iren.
Ternyata Restu memperhatikannya.Benar benar memperhatikannya.
"Kalian sudah makan!.ayo makan!."Ajak Iren.
"Oh ya!"jawab Restu yang langsung menghampiri Citra dan
mengajaknya untuk duduk.
.............
Sepanjang perjalanan pulang kembali Citra dan Restu dihadapkan pada
kediaman yang panjang sampai Citra keluar dari mobil dan menutup pintu
rumahnya.
Hanya ucapan trima kasih dan baik baik dijalan yang diucapkan Citra pada
Restu sebelum mereka berpisah.
Sampainya dirumah Citra mengunci diri dikamar dan menangis dalam
kediaman.Tiba tiba suara ringtone hpnya berbunyi dan nomor baru muncul dilayar
hpnya.
Citra menghentikan tangisanya dan mengangkat telepon yang masuk.
"Halo!"sapa Citra dengan suara parau.
"Halo Citra,apa kamu baik baik saja malam ini?"tanya pemilik
nomor baru itu.
"Ya!ini siapa?"tanya Citra menebak nebak dari suaranya.
"Ini aku Restu!"jawab pemilik nomor baru itu.
"Bapak dapat nomor saya dari mana?"tanya Citra terkejut.
"Kamu lupa saya atasan kamu?"seru Restu mengingatkan.
"Sebenarnya sudah lama aku memiliki nomermu,tapi tak ada moment
yang tepat untuk menghubungimu,dan aku pikir ini adalah waktu yang tepat.Bagaimana
kabarmu?"tanya Restu.
"Rku baik baik saja!"jawab Citra bohong.
"Kamu menangis?"tanya Restu.
"Enggak!"elak Citra.
"Suaramu ga bisa bohong.Citra!"seru Restu.
"Hah iya!"jawab Citra akhirnya mengaku.
"Apa aku mengganggu acara menangismu?"tanya Restu yang membuat
Citra sedikit tertawa.
"Tidak!?aku malah terhibur.aku kesepian semenjak tadi!"seru
Citra keceplosan.
"Apa aku bisa membantumu?".
"Tetaplah ajak aku berbicara!"pinta Citra tulus dari dalam
hati.
Mereka mengobrol semalaman.dan Citra merasakan kenyamanan pada diri
Restu.Ternya a dari diri Restu yang menyebalkan terdapat banyak sisi yang
begitu menyenangkan.
..............
Kini sepertinya tampak berbeda,semalaman tadi Citra dan Restu saling
berbicara,bertukar pikiran secara lepas.Tapi kini,ketika mereka dihadapkan
dalam satu waktu,mereka tampak seperti orang asing,canggung untuk
menyapa,bahkan untuk sekedar berbasa basi.
"Umm...bagaimana malamu?"tanya Restu mencoba memecahkan
suasana canggung diantara mereka.
"Aku,baik.hanya kurang tidur!"jawab Citra.
"Oh,maafkan aku!"seru Restu.
Citra mengangkat kepalanya dan menatap Restu.
"Untuk apa?"Tanya Citra.
"Hal yang terjadi kemarin!"jelas Restu.
"Lupakan!"seru Citra yang sepertinya tak mau mengungkit
kembali tentang hal yang terjadi kemarin.Bahkan Citrapun ingin melupakan
tentang pengakuan Restu tentang perasaannya.
............
Dika datang ketika Citra sedang asyik menyantap makan siangnya sendiri
dimeja paling sudut.Citra terkejut,dan ia hampir tersedak oleh makanannya
sendiri.
"Apa aku mengganggu makan siangmu?"tanya Dika tenang.
"Sedang apa kamu disini?dimana istrimu?"tanya Citra,yang
rasanya ingin pergi dari situasi itu.
"Dia tak tahu aku menemuimu!"jelas Dika.
Citra menarik nafas,dan hatinya makin tak karuan tiap melihat wajah Dika
yang terus memperhatikannya.
"Untuk apa kamu menemuiku?"tanya Citra.
"Banyak hal yang ingin aku jelaskan padamu!"seru Dika.
"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi.Semua sudah jelas.dan aku sudah
menerimanya semua".seru Citra.
"Apakah kau mau kembali padaku jika situasinya tak seperti
ini?"tanya Dika yang seolah olah masih memiliki harapan.
"Maksud kamu apa?"tanya Citra.
"Aku akan menceraikannya.pernikahan ini bukan keinginanku,semua
karena orang tuaku".
"Kamu gila,aku ga akan senekad itu....".
Citra masih memiliki kesadaran dan akal sehat untuk tak memikirkan
kebahagiaannya!.
Tiba tiba Restu muncul dengan nampan berisi makan siangnya diantara
Citra dan Dika.Citra dan Dika terkejut dan mereka berdiri hampir bersamaan.Melihat
Restu Dika langsung naik darah dan ingin mengajaknya berkelahi.
"Restu!"restu Citra yang langsung mendekat.
"Kamu memang licik Restu"seru Dika penuh amarah.
"Kamu sudah taku keberadaan Citra dan kamu tahu seperti apa
hubunganku dengannya,tapi kenapa kamu diam saja dan membiarkan pernikahan ini
terjadi!"seru Dika kesal.
"Karena aku mencintainya!"seru Restu singkat.
Tanpa memberi penjelasan lagi tiba tiba saja Dika memberikan tinjuan
kearah wajah Restu,tapi sayang pukulan itu meleset dan tepat mengenai wajah Citra
yang mencoba menghalangi.
Seketika suasana menjadi ramai,seorang satpam menahan Dika.Sementara
Restu membawa Citra kerumah sakit untuk mengobati wajahnya yang bengkak,dan
mengeluarkan darah dari hidungnya.
.............
Selesai mendapatkan perawatan dari dokter,Restu menemui Citra yang duduk
diatas tempat tidur,tak ada luka serius yang dialaminya,tapi pukulan itu
membuat wajah Citra tampak membiru dan tembam.
"Kamu baik baik saja?"tanya Restu yang merasa bersalah.
Citra mencoba tersenyum walau terasa sakit.
"Aku baik,hanya saja aku merasa wajahku terasa tebal"jelas
citra.
"Itu akan sembuh,"seru Restu menghibur.
"Pasti"."kenapa kamu menyelamatkanku?"tanya Restu
kemudian.
"Aku tak tahu,aku hanya merasa dan naluriku bekerja aku harus
melindungimu dan ternyata sangat kuat dan menyakitkan".jelas Citra.
"Maafkan aku!"seru Restu yang mendekati Citra lebih dekat.
"Its ok,ga papa.semua sudah terjadi".seru citra sambil
tersenyum.
"Seharusnya aku yang menjagamu"seru Restu menyesal.
Mereka berdua terdiam dan suasana hening.Sesaat citra mengangkat
wajahnya dan menatap restu yang ternyata sedang memperhatikannya.
"Maukah kau menjagaku mulai saat ini?"seru citra tiba tiba.
Restu tampak terkejut dengan ucapan citra,tapi ia mencoba untuk
mengerti.
"Sudah tak ada gunanya untuku menanti cinta yang aku anggap akan
kembali padaku.dan aku harus move on.Masih banyak hal yang baru dan belum aku
coba.dan kamu salah satunya.Mungkin kita bisa mencobanya dari
sekarang?".seru Citra yang secara tak langsung membalas perasaan Restu.
Restu mendekati citra,dekat dan makin dekat.
"Apa mulai saat ini aku yang akan menjagamu?".seru Restu.
"Bolehkah aku memelukmu?"tanya Restu.
Citra menarik tangan Restu dan memeluknya duluan.Restu memeluk Citra erat.
...........
Tidak ada komentar :
Posting Komentar