Citra duduk terdiam mengadahkan wajahnya kearah langit.menikmati
hembusan angin pantai yang dengan lembut menampar wajahnya.perlahan Citra
membuka matanya yang tertutup dan menatap langit.kini langit berwarna kuning
jingga.sekejap memori masa lalunya datang menghampiri.waktu itu,5 tahun yang
lalu perasaannya campur aduk menjadi 1.
Dimana hari itu Citra mendapatkan surat kelulusannya.dan saat itu
juga Dika mendapatkan Tiket untuk menyusul orang tuanya ke luar negri.dan
melanjutkan sekolah disana.
Entah apa perasaan yang harus ia tunjukan,bahagiakah atau
kesedihan yang melanda,ditinggalkan orang yang selalu memberi warna pelangi
diharinya.
"Jadi kamu akan pergi?"tanya Citra yang melihat tiket
pesawat ditangannya.
"ya!"jawab Dika singkat.
"Oke kalau begitu!"seru Citra mencoba tegar Walau
dalam hatinya rapuh.
"Apakah kau akan kembali?"gumam Citra dalam hati.
"Kamu ga papa?"tanya Dika memastikan.belum sempat Citra
menjawab tiba tiba Dika mendapatkan telepon dan Dikapun langsung mengangkatnya
dan seperti kebiasaannya Dika mengabaikan Citra.
Citra tersadar itu sudah 5 tahun yang lalu.waktu itu sudah
berlalu.tak perlu menyesali dengan apa yang telah terjadi.tak perlu membongkar
kenangan yang sudah terkubur.
Tapi ada 1 hal yang membuat Citra sampai kini penasaran.selama itu
Citra masih berharap hubungannya dengan Dika masih sama,tak ada yang
berubah.mereka masih memiliki hubungan.
Hal yang bodoh memang jika Citra masih mengharapkannya.tapi
hatinya terus menguatkannya untuk bertahan dengan keyakinannya.
.............
Lamunan Citra buyar karena kedatangan iren teman yang sudah
menemaninya sejak bangku SMP. "Maaf ya,nunggunya lama ya??"seru Iren
dengan suara cemrengnya.
"Lumayan."jawab Citra datar.
"Ada apa?ada yang penting?sampai sampai kamu ngajak aku
ketemuan disini?"tanya Citra.
Iren duduk disamping Citra dan merangkul bahu Citra dan kemudian
menyenderkan kepalanya dibahu Citra.
"Cit,kamu udah denger kan kalau aku dijodohin sama anaknya
temen papaku yang dari luar negri??".tanya Iren.
"Ya!,kenapa?"tanya Citra yang juga merebahkan kepalanya
dikepala Iren.
"Dia udah dateng ke Indonesia,dan aku udah ketemu
dengannya!"jelas Iren.
"Oh ya?bagaimana orangnya?"tanya Citra yang tampak
antusias dengan mengangkat kepalanya dan menatap wajah Lren yang tampak Ceria.
"Dia ganteng sekali.dan aku ga niat nolak kalau harus menikah
dengannya.emm...aku punya fotonya,kamu mau liat?".tanya Iren sambil
mengambil ponselnya.
"Em...kayaknya ga perlu.aku harus segera mengangkat telepon
ini dan pergi!"seru Citra sambil bangkit dari tempatnya dan meninggalkan
Iren.sementara Iren masih di tempatnya dan memandangi layar ponselnya.
............
Dengan perasaan campur aduk Citra menemui manager barunya yang
super nyebelin.gayanya sok cool tapi nyebelin.ke coolannya yang membuat semua
bawahan serba salah.dengan langkah sedikit berlari Citra menghampiri managernya
yang bernama Restu yang sedang berdiri didepan pintu "Mungkin dia
mau menjadi patung selamat datang!"gumam Citra dalam hati,dan
menyungingkan senyum tipis diwajahnya.
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri?.seperti orang....tidak
waras!"seru Restu dengan nada agak ketus.
"Maaf pak!"seru Citra sambil mengangguk.
"Kamu tidak sopan ya,tidak mau menatap lawan bicara
kamu!"seru Restu.
"Maaf pak!"seru Citra sambil mendongakan kepala dan
menatap wajah Restu lekat lekat.
Sejenak suasana hening antara Citra dan Restu.tampak Restu memperhatikan
Citra dari atas kebawah,dan Citrapun memperhatikan Restu yang memperhatikannya
dengan tatapan aneh.
"Senyum kamu manis juga!"seru Restu dengan suara
berbisik.
Seketika Citra menjadi ilfil melihat atasannya sambil
menyerengitkan hidungnya yang mancung seperti burung Beo.
"Jadi sepertinya kamu pantas jadi patung selamat datang
disini!"lanjut Restu dengan nada normal.
Dengan seketika hati Citra menjadi dongkol dan ingin meledak.tapi
hanya dia wakilkan dengan tatapan sinis pada Restu managernya.
"Citra!"panggil Restu.
"Ya pak!"jawab Citra cepat.
"Apa ada yang salah dengan wajah saya?"tanya Restu.
"Tidak pak!"jawab Citra sambil menggeleng polos seperti
anak kecil tak berdosa.
"Lalu kenapa kamu terus menatap saya dengan tatapan seperti
itu pada saya!"jelas Restu.
"Kan bapak sendiri yang bilang.harus menatap lawan
bicara,jika sedang bicara!"jelas Citra tak mau kalah.
"Kamu ini!"seru Restu dengan nada gemas.
"Susi!kamu gantikan tempat Citra.Hari ini Citra menggantikan
tempat Adit!"seru Restu dengan nada sedikit berteriak.
Sementara dari kejauhan Citra dan Susi saling melempar pertanyaan
dengan bahasa tubuh dan tatapan mata.dan wajah cemberut yang terpasang diwajah
Citra.
.............
Akhirnya jam jam yang melelahkan telah berakhir dengan langkah
kaku Citra berjalan menuju pangkalan ojek,tempat biasa ia tuju tiap pulang
kerja,karena disana telah menunggu dengan setia tukang ojek langganannya pak
Bagyo.
Belum sampai ditempat tukang ojek mangkal tiba tiba sebuah mobil
Kijang berwarna biru dongker mencegatnya.dan kemudian kaca mobil terbuka.
"Citra!masuk biar saya antarkan kamu!"seru pemilik mobil
agak jadul itu.seketika raut wajah Citra berubah,ketika melihat pemilik mobil
itu.
"Pak Restu!ga salah nawarin gua tumpangan!"pikir Citra
tak percaya.
"Terima kasih pak,tapi saya sudah ada jemputan!"tolak
Citra dengan alasan yang lumayan halus.
"Tukang ojek itu?"tanya Restu dengan pandangan menatap
kearah tukang ojek yang tak jauh ditepi jalan.
"Iya!"jawab Citra sambil cengar cengir.
"Cepat masuk,saya tahu kamu pasti lelah berdiri beberapa jam
dengan memakai sepatu hak setinggi itu,ayo naik,kamu akan nyaman duduk di jok
mobil dibandingkan jok motor tukang ojek itu!"seru Restu panjang agar
Citra mau naik mobilnya.
"Kalo udah tahu aku pake hak setinggi ini kenapa anda tetap
menyuruh saya untuk jadi patung selamat datang!"gerutu Citra dalam hati.
"Ayo naik,apa perlu saya membukakan pintu mobil dan
mendorongmu untuk masuk?"tanya Restu masih memaksa.
Tanpa berpikir panjang Citra langsung masuk mobil dan duduk dengan
patuh.dan seketika kenikmatan duduk dirasakan Citra.
"Bagaimana cukup enakan kalau duduk lurus!dibandingkan harus
duduk menyamping di jok motor tukang ojek!"seru Restu.
"Iya pak!"jawab Citra dengan senyum terpaksanya.
"kamu bisa lepas sepatu kamu sebelum kamu turun dari mobil
ini.pakai sabuk pengaman,biar bagaimanapun keselamatan jadi nomor 1.dan 1
lagi.jangan panggil saya pak,karena ini bukan lagi jam kerja!"oceh Restu
panjang lebar,membuat Citra panas mendengarnya.
Mobil Restu berjalan dan kemudian berhenti tepat didepan pangkalan
ojek langganan Citra.
"Kok kita berhenti P...!".suara Citra terhenti ketika ia
bingung harus memanggil Restu apa kecuali pak.
"Restu.cukup panggil saya Restu diluar jam kerja.ojek langganan
kamu mana?panggil!"seru Restu.
Citra terkejut dan penasaran apa yang akan Restu lakukan pada pak
Bagyo.dan Citra patuh dengan memanggil pak Bagyo.
"Mba Citra,sudah ada yang mengantar?"tanya laki laki
setengah baya itu dengan nada agak kecewa.
"Iya pak,mumpung ada tumpangan gratis!"seru Citra dengan
nada agak menyindir.
"Pak ini buat bapak,karena malam ini langganan bapak tidak
naik ojek bapak!"seru Restu yang tiba tiba memberikan uang pada Ojek
langganan Citra.
"Pak apa apaan ini!"seru Citra terkejut."itu rejeki
beliau!"seru Restu yang kemudian menjalankan mobilnya.
.............
Mobil Restu telah lama berhenti ditepian jalan yang terbagi
menjadi 3 bagian.ia bingung harus mengarahkan kemana mobilnya.karena ada 3 arah
jalan didepannya,sementara Citra orang yang tahu persis jalan menuju rumahnya
sedan terpulas karena kelelahan yang melandanya.
Restu tak tega membangunkannya karena ia tampak sangat
kelelahan.maka Restu memutuskan untuk menunggu Citra sampai ia bangun.sesekali
Restu mencuri pandang kearah wajah Citra yang terlelap.dan diam diam Restu
mencuri gambar wajah Citra dengan menggunakan kamera hapenya.tapi sial untuk
Restu,baru selesai mengambil 1 gambar,Citra terbangun karena suara efek dari
kamera hapenya yang tidak di silence.
"Pak Restu,sedang apa?"tanya Citra yang terbangun.
"Oh,tidak,saya sedang mencoba kamera hape saya!"seru
Restu beralasan dan tampak salah tingkah.
"Oh kita dimana?"tanya Citra sambil melihat keluar
mobil.
"Didepan ada 3 jalan.dan saya tidak tahu,jalan manya yang menuju
rumahmu!"seru Restu menjelaskan.
"Kenapa bapak tak bangunkan saya!"seru Citra kesal.
"Kita ga usah bahas itu?sekarang kasih tahu saya,mana jalan
menuju rumah kamu?"tanya Restu sambil menyalakan mesin.
"Ni orang berbuat baik tapi tetep bikin kesel."gumam
Citra dalam hati.
.............
Tidak ada komentar :
Posting Komentar