...............
Malam malam Raisha menemui Rendra yang sedang bermain gitar di teras rumahnya.
Malam malam Raisha menemui Rendra yang sedang bermain gitar di teras rumahnya.
"Belum tidur Ren?"tanya Raisha sambil duduk dihadapan Rendra.
"Ga bisa tidur,mbak!"seru Rendra menyudahi permainannya.
"Mikirin Shinta ya?"tanya Raisha meledek.
"Ah enggak.Ga bisa tidur aja.Mbak sendiri bagaimana?belum tidur juga.Besok
kerja kan?"tanya Rendra.
"Ren,kamu serius akan menikah 2 bulan lagi"tanya Raisha berat.
"Beban ya buat mbak Raisha?"tanya Rendra.
"Menurut kamu bagaimana Rendra?"tanya Raisha menggantung.
"Aku ga tahu mbak!."seru Rendra bangun dari duduknya.
"Kamu ngertiin,mbak dong!"seru Raisha dengan nada memohon.
"Kalau begitu Rendra mau mbak Raisha menikah secepatnya."pinta
Rendra.
"Tidak semudah itu Ren!.untuk menikah butuh mental,butuh persiapan dan
tentu butuh calonnya!"jelas Raisha Dengan kalimat merendah di akhir
kalimatnya.
"Sementara semenjak setahun lalu mbak Raisha tak ada teman dekat.dan
pernikahan tidak boleh dilakukan 2 kali dalam 1 tahun dalam satu
keluarga!"lanjut Raisha.
"kalau begitu mbak Raisha mau tidak mau Rendra langkahi!"seru
Rendra.
mendengar ucapan Rendra.Raisha seperti tertampar oleh benda keras dengan
sangat keras diwajahnya.
"sebenarnya apa yang telah terjadi.Ren?Shinta hamil?dan kalian harus
cepat menikah?"tanya Raisha dengan nada merendah.
"Ya ampun jauh sekali kakak berfikirnya."seru Rendra memprotes.
"Itu yang ada dalam otak mbak sejak kamu memutuskan untuk cepat
menikah!"jelas Raisha.
"Yang mbak perlu tahu.aku menikahi Shinta karena aku mencintai dia.Bukan
karena apa yang mbak Raisha pikirkan!"seru Rendra tampak kesal dan
kemudian masuk kedalam rumahnya meninggalkan Raisha sendiri di luar.
"Ren.Maafin mbak kalau omongan mbak nyinggung kamu!"seru Raisha
sambil mengejar Rendra yang meninggalkannya di luar.
Rendra masuk kedalam kamarnya dan dengan kasar menutup pintu kamarnya.
"Ren,mbak minta maaf kalau ucapan mbak tadi nyinggung kamu!"seru
Raisha dari luar kamar.
"Rendra ngantuk mau tidur!"teriak Rendra.Dari dalam kamarnya.
................
Beberapa hari berlalu walau masalahnya dengan Rendra telah clear tapi Raisha masih penasaran apa motivasi Rendra dan Shinta untuk cepat cepat menikah.
................
Beberapa hari berlalu walau masalahnya dengan Rendra telah clear tapi Raisha masih penasaran apa motivasi Rendra dan Shinta untuk cepat cepat menikah.
Bukan hal yang aneh memang jika sepasang kekasih memutuskan untuk menikah.Tapi
yang menjadi masalah untuk dirinya.
Cepat menikah atau dilangkahi.Dan Raisha tak siap untuk keduanya.Tak siap
karena belum memiliki calon.Tak siap juga untuk dilangkahi oleh adik laki
lakinya.
"Aku ga siap,benar benar ga siap!"keluh Raisha pada diri sendiri.
"Kenapa sih Sha?.Masalah kamu dan Rendra udah selesai kan!.Apa
lagi?"tanya Dewi.
"Aku harus menemui Shinta dan menanyakan hal yang sebenarnya langsung
padanya!"seru Raisha kukuh.
"Kan udah jelas mereka menikah karena mereka siap.Bukan karena
terpaksa!"seru Dewi menjelaskan.
"Tapi hati aku masih penuh tanda tanya besar!"seru Raisha.
"Lalu rencana kamu apa?"tanya Dewi.
"Nanti saat lunch aku mau ajak Shinta makan bareng."
Dewi terdiam memandangi sahabatnya yang begitu ngotot.
"Oke lah kalau begitu.aku ikut aja."seru Dewi pasrah.
"Aduh yang mau nikah getol amat kejar setorannya!"ledek Indah.
"Aduh yang mau nikah getol amat kejar setorannya!"ledek Indah.
"Ah mbak indah bisa aja!"seru Shinta malu malu.
"Indah godain aja.Jangan jangan kamu ngiri ya?karena Izy belom juga
ngajak kamu nikah!"seru Rama meledek Indah.
"Ga papa daripada kamu! belom juga ada pasangannya!"ledek Indah.
"Kalau aku mau,aku bisa ngelamar salah satu dari kalian!"seru
Rama dengan PDnya.
"Kepedean mas!"seloroh Shinta.
"Ya tapi sayang 2 wanita di ujung sana sudah menikah dan memiliki
anak.Lalu 2 wanita di sini sudah memiliki tunangan dan,pria di ujung sana
kayaknya tidak mungkin!,saya masih normal"seketika orang orang didalam
ruangan tertawa terbahak bahak setelah mendengar celotehan Rama yang lumayan
menghibur menjelang jam makan siang.
Rama dengan mudahnya membuat lelucon yang bisa mengocok perut rekan
kerjanya.Berbeda dengan Rama beberapa tahun lalu yang begitu kaku dan tak
bersosialisasi.
Jam makan siang tiba.Rama dan beberapa rekan seruangan kerjanya.
"Mau makan dimana?"tanya Indah pada shinta Rama dan Adit.
"Bagaimana kalau kalian makan di tempat yang akan aku datangi.Ada
teman aku yang ngajak aku makan bareng siang ini!"
“Boleh juga,Daripada makan di kantin terus bosen!"seru Adit.
"Dimana?"tanya Rama.
"Udah ikut ada Drivernya udah tahu!"seru Shinta.
"Siapa?"tanya Indah.
"Gue dong dengan menggunakan Limosin aku siap mengantar nona nona dan
bapak kemana saja!"seru Adit dengan nada bangga.
"Limosin bapak loe!"seru Rama.
"Oplet kali!"lanjut Indah.
"Jangan menghina dong.Biar begitu juga masih muat menaikan kalian.Daripada
motor butut Rama.!"seru Adit tak terima,sekaligus meledek.
"Udah kalau debat terus kapan kita makannya,Biar begitu dapetnya
ngeridit tuh!"seru Rama tak mau kalah.
Dan merekapun berjalan menuju parkiran mobil menuju mobil carry milik Adit.
...............
Rama terkejut karena ternyata Shinta sebagai navigator mengarahkan Adit selaku Driver ketempat yang biasa Rama singgahi.Sekaligus tempat pertama kalinya ia bertemu kembali dengan Cinta pertamanya yang pernah hilang yaitu Raisha.
...............
Rama terkejut karena ternyata Shinta sebagai navigator mengarahkan Adit selaku Driver ketempat yang biasa Rama singgahi.Sekaligus tempat pertama kalinya ia bertemu kembali dengan Cinta pertamanya yang pernah hilang yaitu Raisha.
"Kalian cari tempat ya.aku mau menemui temanku dulu."seru Shinta
yang melihat suasana tempat itu sepi.
"Tumben sepi.Kemarin rame banget."gumam Rama dalam hati.
"Eh itu temen aku!"seru Shinta.
Mata Rama langsung menoleh pada orang yang dipanggil teman oleh Shinta.
Dengan tiba tiba Rama terdiam.Ia merasa tubuhnya kaku,Tak ada sendi yang
bergerak dan digerakan,Kepalanya terasa berat dan kosong,Jantungnya berdetak
lebih kencang dari biasanya,detakan seperti orang habis berlari maraton,terasa
sesak dalam paru parunya seperti udara yang telah masuk tak menemukan jalan
keluar,darahnya terasa mendidih seperti tempratur 100 drajat celcius.Semua tak
normal seketika.
"Ram,ayo!"panggil Indah terdengar sangat jelas.
"Raisha!"pekik Rama lirih.
"Siapa Raisha?"tanya Indah yang mendengar ucapan Rama.
Terlihat Shinta mengajak ke 2 temannya mendekati rombongannya.
"Eh kamu.Ketemu lagi!"seru teman Shinta.
"Raisha ya?"tanya Rama terdengar ragu.
"Ya.kamu Rama kan?"tebak Raisha.
"kalian sudah saling kenal?"tanya Shinta.
"em dia teman SMA aku!"jelas Rama singkat.
"oh!"gumam Shinta.
"Shinta,kita bisa bicara 4 mata berdua?"tanya Raisha.
"Bisa!"jawab Shinta terkejut.
"mbak Dewi gabung sama temen Shinta aja!"seru Shinta kemudian.
"Emm...oke!"jawab Dewi kemudian.
Shinta dan Raisha mencari tempat lain untuk berdua.sementara yang lainnya
bergabung.Rama terus memperhatikan kepergian kedua wanita itu.Sampai semuanya
yang ia rasakan didalam tubuhnya terasa normal.
.................
.................
Mulut Rama mengunyah makanan,tetapi matanya
terus menatap dan memperhatikan kearah meja Raisha dan Shinta.Rama
memperhatikan mereka,tingkah mereka,seperti sedang berdebat dan sangat sengit.
"Jadi kamu yang namanya Rama?"seru
Dewi yang duduk semeja dengan Rama.
Rama mengangguk dan tampak bingung.
"Ya kenapa?"tanya Rama menunggu.
"Oh.Enggak cuma penasaran aja.Soalnya
beberapa hari ini,Raisha selalu mengatakan Rama teman SMAnya berbeda.Katanya
lebih Cool berwibawa dan tak cupu seperti waktu SMA!"Jelas Shinta.
Mata Rama berbinar binar mendengar cerita
Shinta.dan senyum tipis melingkar di bibirnya.
"Saya tidak tahu seperti apa anda dulu
tapi kalau liat sekarang memang anda.....ya lumayan."seru Dewi sambil
tersenyum.
"Kalau boleh tahu ada masalah apa antara
Raisha dan Shinta?.Mereka tampak serius banget.Dan sangat rahasia."tanya
Rama mengalihkan pembicaraan.
Dewi menoleh kearah Meja Shinta dan Raisha.
"Mereka,mereka calon ipar!"seru Dewi
singkat.
Dan dengan perlahan Dewi menceritakan masalah
Raisha dan Shinta pada Rama.
"Kok saya jadi ember begini ya!"seru
Dewi kemudian.
Rama tersenyum dan kemudian menatap Dewi.
"Tenang,Rahasia ini aman!"seru Rama
meyakinkan.
"Bukan Rahasia!"protes Dewi.
................
"Jadi Rama teman kantor kamu?"tanya Raisha sambil sekilas melirik meja Rama dan Dewi yang tampak begitu nyaman mengobrol.
................
"Jadi Rama teman kantor kamu?"tanya Raisha sambil sekilas melirik meja Rama dan Dewi yang tampak begitu nyaman mengobrol.
"Oh iya mbak,dia orang paling bijaksana di
kantor.Paling enggak di kelompok kita.Omongannya lebih dewasa dari umurnya,Ya
walaupun umurnya udah ga muda lagi."seru Shinta bercerita.
"Rama masih single?"tanya Raisha Hati
hati.
"Ya,mas Rama pernah cerita kalau dia dulu
pernah suka sama satu cewek,Tapi ga kesampean dan sampai saat ini mas Rama
masih belum bisa suka sama perempuan lain."cerita Shinta.
"Siapa cewek itu?"tanya Raisha
penasaran.
"Mas Rama ga pernah cerita.Emmm....Mungkin
mbak Raisha tahu?.katanya teman SMA."seru Shinta.
"Coba aku inget inget."seru Raisha
sambil menggaruk garuk keningnya.
"Oh ya.Mbak Raisha mau ngomongin tentang
apa?"tanya Shinta mengalihkan pembicaraan.
"Oh,Aku mau tanya tapi aku harap kamu
tidak berfikir macam macam tentang ini!"seru Raisha.
"Apa?ini menyangkut rencana pernikahan aku
dan Rendra?"tanya Shinta.
"Ya!"seru Raisha lirih.
"Mbak,aku mau cerita.Tapi Rendra melarang
saya,dan sekarang saya akan bercerita dan berharap mbak Raisha mau menerima dan
mau mengerti."seru Shinta.
"Oke.dan aku harap aku bisa
mengerti!"seru Raisha berusaha tenang.
"Ayah aku sekarang ini sedang sakit
parah.Dokter bilang umur ayah sudah tidak lama lagi,an beliau memintaku untuk
cepat menikah......!!".
"Kenapa kamu ga bilang?"seru Raisha
merasa bersalah karena telah berperasangka buruk pada Rendra dan Shinta.
"Maaf mbak,Rendra yang
memintanya."seru Shinta.
"Dasar Rendra.kebiasaan buruknya tak mau
hilang."grutu Raisha.
"Mbak Raisha ga keberatan kan kalau aku
langkahi?!"tanya Shinta.
"Ya bagaimana lagi"seru Raisha pasrah.
"Maafin kita ya mbak,aku doakan semoga
mbak Raisha cepat mendapatkan pasangan yang baik"seru Shinta sambil
memegang erat tangan Raisha.
"Terima kasih ya!"ucap Raisha hampir
menangis.
...............
...............
Tidak ada komentar :
Posting Komentar