..........
Hari ini ia tak berbeda dengan hari hari yang lalu.yang beda hanya pada waktu semalam.ia sangat berbeda.semalam ia sangat ramah,banyak bicara,dan ia mau menceritakan tentang hidupnya.tentangnya yang tak mengenal ibu kandungnya.dan mungkin itu juga yang membuatnya tak tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita.lalu kalau begitu apa dia belum pernah jatuh cinta.pacaran.atau sejenisnya.pasti orang yang menjadi pacarnya harus siap dengan sifat dan sikapnya.
Hari ini aku mencoba mengakrabkan diri dengannya.sepertinya ia sedang banyak masalah dan sebagai teman yang baik aku mau mendengarkan semua keluhannya.jika dia menganggapku teman!.disudut ruangan perpustakaan kulihat dia menyendiri,membaca buku.dengan langkah hati hati aku mendekati mejanya.ia tampak tak tak mengetahui kedatanganku.
"Siapa yang nyuruh loe duduk disitu?"serunya ketus.
Seperti biasanya
"Ini tempat umum kan?"seruku.
"Ada tempat lain kan selain disini?".serunya lagi.
"Aku ingin mengenal kamu"seruku to the point.
Dia mendekatkan wajahnya padaku.menatapku dan kemudian berbicara dengan nada pelan
"Jangan mentang mentang semalam gua curhat sama loe.loe bisa seenaknya"jelasnya panjang
"Aku cuma ingin kita berteman.ga lebih."jelasku.
"Kita ga akan pernah bisa jadi teman.Ga akan!"serunya pasti dan menjamin.sambil bangkit dari tempatnya.
Aku terdiam tapi aku cepat cepat bangkit dari tempatku dan mengejarnya.
"Kamu pikir ga sakit diketusin terus kayak gini.Capek tahu.seolah olah aku salah!."cerocosku kesal.
"Itu alasan kenapa kita ga bisa berteman.kita ga bisa sama.".dia pergi meninggalkan perpustakaan.dan aku terus mengejarnya.
"Tentu aja ga akan ada anak yang mau jadi teman kamu.karena kamu ga tahu bagaimana menghargai teman.sebenarnya kamu bisa berubah.asal kamu mau.dan dimulai dari cara kamu ngommg ke cewek.bisa ga lebih lembut.".seruku geram.
"Eh!loe tahu rahasia gua.tapi bukan berarti loe boleh menghina gua!"dia pergi meninggalkan aku yang masih menahan emosi.
...........
Aku tak tahu kenapa aku memikirkan kejadian tadi pagi diperpustakaan.bukankah itu hal yang biasa.dia ketus padaku tiap kali kita bertemu.tiap kami bertatap muka.tapi ini aneh.aku tak rela.ia terus ketus padaku aku ingin dia berubah.berubah sedikit lembut seperti semalam.aku ingin melihat sisi lembut itu sekarang.hari ini.
"Dhea!"aku mendengar suara memangilku dari belalang.kutolehkan kepalaku dan kulihat sosok di hadapanku
"Kamu!"seruku terkejut.
"Ada apa?"tanyaku.
"Gua minta maaf soal yang tadi di perpustakaan!"
"Kudengar suara dimalam itu di siang ini.terasa lembut.
"Oke aku udah ga mikirin."seruku terasa senang.
"Dhea!,sebaiknya kita tidak hanya berteman!"serunya kemudian masih dalam nada ketus tapi yang diperhalus.
Aku terkejut dan menatapnya.
"Maksud kamu apa?"tanyaku tak mengerti
"Kita tak akan bisa berteman.gua pengen yang lain"serunya memaksa.
"Ga ada 5 menit kamu minta maaf.sekarang udah bikin aku kesal lagi!"keluhku.
"Kita memang ga akan bisa berteman.bahkan untuk lebih!!!!!"serunya yang kemudian pergi meninggalkanku.aku terdia ditempatku.memikirkan ucapannya.dia memang memilih perang dingin denganku.
...........
Aku sengaja duduk didepan rumah.tepatnya diteras dekat gerbang.menunggu datangnya tukang jagung dan kacang rebus.pedagang yang selalu datang tiap malam.
"Kacang bang!".teriaku sambil bangkit dari dudukku.ku datangi pedagang itu dan memesan beberapa ribu kacang dan beberapa batang Jagung.
"Hai,dhea!"sapa seseorang.aku menoleh dan kulihat Dimas berdiri dibelakangku.
"Dimas!lagi ngapain disini?"tanyaku sambil pergi dari tempatku.
"Mau?"tanyaku sambil menyodorkan kacang dan jagung.Dimas langsung mengambil dan memakannya.
"Kamu ada acara ga?".
"Ga ada.kenapa?".tanyaku sambil duduk didepan teras.
"Aku minta maaf soal yang kemarin!".seru Dimas sambil duduk disampingku.
"Soal itu.aku udah ga mikirin kok!"seruku sambil membuka kulit Jagung.
"Boleh nanya kan?"tanya Dimas yang tak perlu dijawab.
"Apa?"tanyaku.
"Sebenernya kamu masih sayang ga sih sama aku??"tanya Dimas tampak berat.
Aku terdiam dan berfikir.
"Aku harus jawab apa?".
"Aku ingin kita baikan!".
"Kita akan jadi teman baik.Dimas!"seruku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu udah ga sayang lagi sama aku?"tanya Dimas sambil berlutut dihadapanku.
"Dimas,apaan sih.malu tahu?"seruku.
"Aku ga peduli aku cuma pengen tahu,kamu masih sayang sama aku!?".
"A...Aku!"seruku gugup.entah mengapa pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab.
Aku masih sayang padanya.Tapi kenapa bibirku sulit berucap.dan entah mengapa tiba tiba cowok itu muncul diotaku.
"Jawab aku .Dhe!!!"paksa Dimas.
"Aku ga bisa!"jawabku sambil bangkit dari duduku.
"Kenapa?.apa ada yang lain dihati kamu sekarang?"tanya Dimas sambil berdiri dihadapanku.
"Enggak!aku cuma pengen nenangin diri.aku capek Dimas!.berapa kali kamu minta putus ke aku??.aku selalu nolak.dan sekarang disaat aku udah kuat buat keilangan kamu.tiba tiba kamu datang dan minta baikan.enggak Dimas!enggak.ini ga adil buat aku dan hati aku.aku ga mau sakiti lagi!"jelasku panjang lebar.
Dimas tampak tersenyum menatapku.
"Kamu masih cinta aku,Dhea!!".
"Enggak dimas!"jelasku menjamin.
"Kalo ga mau jangan dipaksa!"seru seseorang.yang menjadi pihak ketiga antara perdebatan aku dan Dimas.
"Loe lagi!"seru Dimas pada cowok itu.
"Ya!kenapa?.ga suka liat gua?"seru cowok itu dengan nada ketus dan mendekati dimas.
"Udah!udah!"seruku melerai.
Aku mendekati cowok itu dan memandangnya
"Ini masalah aku dan Dimas.jadi please jangan ikut campur!"pintaku padanya.
Cowok itu tak menjawab.ia hanya menatapku.
"Loe denger sendiri?"seru Dimas emosi.sambil menariku menjauh dari cowok itu.
"Lepasin aku,Dimas!"seruku mencoba melepaskan pegangan Dimas.
Aku tak tahu apa yang telah cowok itu lakukan.tiba tiba saja ia menyerang Dimas.dan membuat aku terhempas jauh dari tempatku.aku tersungkur ditanah.dan sialnya kakiku masuk kedalam parit yang sempit dan terasa sangat sakit.
"Dhea?"kudengar mereka memangilku.
.........
Dimas menggendongku menuju klinik terdekat.kakiku sobek dan mengeluarkan banyak darah dan mungkin tulang kering kakiku entah retak atau kemungkinan terburuk adalah patah.kulihat cowok itu dibelakang kami.
Dimas membawaku ke klinik yang ada didekat rumah.Dan disana aku ditangani oleh dokter.sementara cowok itu dan Dimas menunggu didepan.
"Kaki aku ga papa kan dok?"tanyaku pada dokter yang sedang memperban kakiku setelah menjahitnya.
"Ga papa kok tapi saya akan memeriksa lagi.takutnya ada yang retak!"jelas dokter.
".Oke!"jawabku.
"Pasti gara gara cowok 2 didepan ya?"tanya dokter itu dengan nada meledek.
"Pure kecelakaan!"jelasku.
"Kecelakaan karen ngerebutin kamu!"ledek dokter lagi.
Setelah selesai.suster membantuku keluar dari ruangan dokter.dan dibalik pintu kulihat cowok itu,mas Robby dan Dimas menunggu.
"Kamu ga papa,Dhe?"tanya Dimas pertama kali.
"Aku baik baik aja!"jawabku.
"Aku antar pulang!"seru Dimas.
"Ga usah makasih!"tolaku.
"Minum ini!"tiba tiba cowok itu menyodorkan susu kotak berukuran besar,dengan rasa vanilla.
Sejujurnya aku ga kuat kalau harus minum susu rasa vanila.bisa keluar lagi.
"Mas Robby aku pengen pulang!"seruku pada mas Robby yang datang.
"Mau digendong apa di tuntun?"tanya mas Robby menggoda.
"Digendong sampai rumah mau ga?"tanyaku balik.
"Kalau buat kamu apa aja boleh!"dan benar saja mas Robby langsung menggendongku dan pergi dari kelinik itu.kulihat cowok itu berjalan dibelakang kami.
.......
Hari ini ia tak berbeda dengan hari hari yang lalu.yang beda hanya pada waktu semalam.ia sangat berbeda.semalam ia sangat ramah,banyak bicara,dan ia mau menceritakan tentang hidupnya.tentangnya yang tak mengenal ibu kandungnya.dan mungkin itu juga yang membuatnya tak tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita.lalu kalau begitu apa dia belum pernah jatuh cinta.pacaran.atau sejenisnya.pasti orang yang menjadi pacarnya harus siap dengan sifat dan sikapnya.
Hari ini aku mencoba mengakrabkan diri dengannya.sepertinya ia sedang banyak masalah dan sebagai teman yang baik aku mau mendengarkan semua keluhannya.jika dia menganggapku teman!.disudut ruangan perpustakaan kulihat dia menyendiri,membaca buku.dengan langkah hati hati aku mendekati mejanya.ia tampak tak tak mengetahui kedatanganku.
"Siapa yang nyuruh loe duduk disitu?"serunya ketus.
Seperti biasanya
"Ini tempat umum kan?"seruku.
"Ada tempat lain kan selain disini?".serunya lagi.
"Aku ingin mengenal kamu"seruku to the point.
Dia mendekatkan wajahnya padaku.menatapku dan kemudian berbicara dengan nada pelan
"Jangan mentang mentang semalam gua curhat sama loe.loe bisa seenaknya"jelasnya panjang
"Aku cuma ingin kita berteman.ga lebih."jelasku.
"Kita ga akan pernah bisa jadi teman.Ga akan!"serunya pasti dan menjamin.sambil bangkit dari tempatnya.
Aku terdiam tapi aku cepat cepat bangkit dari tempatku dan mengejarnya.
"Kamu pikir ga sakit diketusin terus kayak gini.Capek tahu.seolah olah aku salah!."cerocosku kesal.
"Itu alasan kenapa kita ga bisa berteman.kita ga bisa sama.".dia pergi meninggalkan perpustakaan.dan aku terus mengejarnya.
"Tentu aja ga akan ada anak yang mau jadi teman kamu.karena kamu ga tahu bagaimana menghargai teman.sebenarnya kamu bisa berubah.asal kamu mau.dan dimulai dari cara kamu ngommg ke cewek.bisa ga lebih lembut.".seruku geram.
"Eh!loe tahu rahasia gua.tapi bukan berarti loe boleh menghina gua!"dia pergi meninggalkan aku yang masih menahan emosi.
...........
Aku tak tahu kenapa aku memikirkan kejadian tadi pagi diperpustakaan.bukankah itu hal yang biasa.dia ketus padaku tiap kali kita bertemu.tiap kami bertatap muka.tapi ini aneh.aku tak rela.ia terus ketus padaku aku ingin dia berubah.berubah sedikit lembut seperti semalam.aku ingin melihat sisi lembut itu sekarang.hari ini.
"Dhea!"aku mendengar suara memangilku dari belalang.kutolehkan kepalaku dan kulihat sosok di hadapanku
"Kamu!"seruku terkejut.
"Ada apa?"tanyaku.
"Gua minta maaf soal yang tadi di perpustakaan!"
"Kudengar suara dimalam itu di siang ini.terasa lembut.
"Oke aku udah ga mikirin."seruku terasa senang.
"Dhea!,sebaiknya kita tidak hanya berteman!"serunya kemudian masih dalam nada ketus tapi yang diperhalus.
Aku terkejut dan menatapnya.
"Maksud kamu apa?"tanyaku tak mengerti
"Kita tak akan bisa berteman.gua pengen yang lain"serunya memaksa.
"Ga ada 5 menit kamu minta maaf.sekarang udah bikin aku kesal lagi!"keluhku.
"Kita memang ga akan bisa berteman.bahkan untuk lebih!!!!!"serunya yang kemudian pergi meninggalkanku.aku terdia ditempatku.memikirkan ucapannya.dia memang memilih perang dingin denganku.
...........
Aku sengaja duduk didepan rumah.tepatnya diteras dekat gerbang.menunggu datangnya tukang jagung dan kacang rebus.pedagang yang selalu datang tiap malam.
"Kacang bang!".teriaku sambil bangkit dari dudukku.ku datangi pedagang itu dan memesan beberapa ribu kacang dan beberapa batang Jagung.
"Hai,dhea!"sapa seseorang.aku menoleh dan kulihat Dimas berdiri dibelakangku.
"Dimas!lagi ngapain disini?"tanyaku sambil pergi dari tempatku.
"Mau?"tanyaku sambil menyodorkan kacang dan jagung.Dimas langsung mengambil dan memakannya.
"Kamu ada acara ga?".
"Ga ada.kenapa?".tanyaku sambil duduk didepan teras.
"Aku minta maaf soal yang kemarin!".seru Dimas sambil duduk disampingku.
"Soal itu.aku udah ga mikirin kok!"seruku sambil membuka kulit Jagung.
"Boleh nanya kan?"tanya Dimas yang tak perlu dijawab.
"Apa?"tanyaku.
"Sebenernya kamu masih sayang ga sih sama aku??"tanya Dimas tampak berat.
Aku terdiam dan berfikir.
"Aku harus jawab apa?".
"Aku ingin kita baikan!".
"Kita akan jadi teman baik.Dimas!"seruku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu udah ga sayang lagi sama aku?"tanya Dimas sambil berlutut dihadapanku.
"Dimas,apaan sih.malu tahu?"seruku.
"Aku ga peduli aku cuma pengen tahu,kamu masih sayang sama aku!?".
"A...Aku!"seruku gugup.entah mengapa pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab.
Aku masih sayang padanya.Tapi kenapa bibirku sulit berucap.dan entah mengapa tiba tiba cowok itu muncul diotaku.
"Jawab aku .Dhe!!!"paksa Dimas.
"Aku ga bisa!"jawabku sambil bangkit dari duduku.
"Kenapa?.apa ada yang lain dihati kamu sekarang?"tanya Dimas sambil berdiri dihadapanku.
"Enggak!aku cuma pengen nenangin diri.aku capek Dimas!.berapa kali kamu minta putus ke aku??.aku selalu nolak.dan sekarang disaat aku udah kuat buat keilangan kamu.tiba tiba kamu datang dan minta baikan.enggak Dimas!enggak.ini ga adil buat aku dan hati aku.aku ga mau sakiti lagi!"jelasku panjang lebar.
Dimas tampak tersenyum menatapku.
"Kamu masih cinta aku,Dhea!!".
"Enggak dimas!"jelasku menjamin.
"Kalo ga mau jangan dipaksa!"seru seseorang.yang menjadi pihak ketiga antara perdebatan aku dan Dimas.
"Loe lagi!"seru Dimas pada cowok itu.
"Ya!kenapa?.ga suka liat gua?"seru cowok itu dengan nada ketus dan mendekati dimas.
"Udah!udah!"seruku melerai.
Aku mendekati cowok itu dan memandangnya
"Ini masalah aku dan Dimas.jadi please jangan ikut campur!"pintaku padanya.
Cowok itu tak menjawab.ia hanya menatapku.
"Loe denger sendiri?"seru Dimas emosi.sambil menariku menjauh dari cowok itu.
"Lepasin aku,Dimas!"seruku mencoba melepaskan pegangan Dimas.
Aku tak tahu apa yang telah cowok itu lakukan.tiba tiba saja ia menyerang Dimas.dan membuat aku terhempas jauh dari tempatku.aku tersungkur ditanah.dan sialnya kakiku masuk kedalam parit yang sempit dan terasa sangat sakit.
"Dhea?"kudengar mereka memangilku.
.........
Dimas menggendongku menuju klinik terdekat.kakiku sobek dan mengeluarkan banyak darah dan mungkin tulang kering kakiku entah retak atau kemungkinan terburuk adalah patah.kulihat cowok itu dibelakang kami.
Dimas membawaku ke klinik yang ada didekat rumah.Dan disana aku ditangani oleh dokter.sementara cowok itu dan Dimas menunggu didepan.
"Kaki aku ga papa kan dok?"tanyaku pada dokter yang sedang memperban kakiku setelah menjahitnya.
"Ga papa kok tapi saya akan memeriksa lagi.takutnya ada yang retak!"jelas dokter.
".Oke!"jawabku.
"Pasti gara gara cowok 2 didepan ya?"tanya dokter itu dengan nada meledek.
"Pure kecelakaan!"jelasku.
"Kecelakaan karen ngerebutin kamu!"ledek dokter lagi.
Setelah selesai.suster membantuku keluar dari ruangan dokter.dan dibalik pintu kulihat cowok itu,mas Robby dan Dimas menunggu.
"Kamu ga papa,Dhe?"tanya Dimas pertama kali.
"Aku baik baik aja!"jawabku.
"Aku antar pulang!"seru Dimas.
"Ga usah makasih!"tolaku.
"Minum ini!"tiba tiba cowok itu menyodorkan susu kotak berukuran besar,dengan rasa vanilla.
Sejujurnya aku ga kuat kalau harus minum susu rasa vanila.bisa keluar lagi.
"Mas Robby aku pengen pulang!"seruku pada mas Robby yang datang.
"Mau digendong apa di tuntun?"tanya mas Robby menggoda.
"Digendong sampai rumah mau ga?"tanyaku balik.
"Kalau buat kamu apa aja boleh!"dan benar saja mas Robby langsung menggendongku dan pergi dari kelinik itu.kulihat cowok itu berjalan dibelakang kami.
.......
Tidak ada komentar :
Posting Komentar