.......
Secara mendadak irene mengabarkan pernikahannya kepada
Citra.alasanya cukup simple calon suami Irene yang bernama Andi hendak bertolak
kembali ke tempat asalnya diluar negri.dan semenjak kedatangan calon suami
sahabatnya itu.
Tak pernah sekalipun Citra bertemu,bicara via phone ataupun
melihat fotonya.yang ia tahu hanya nama calon suami sahabatnya itu adalah
lulusan luar negri dan sedang belajar bisnis dan akan melanjutkan sekolah lagi.
Cukup merepotkan tampaknya.tapi menurut orang tua Irene,jika ada
istri yang mendampingi hidup Andi akan teratur,karena ada yang akan
mengurusnya.
"Oh benarkah itu?"tanya Citra via phone kepada Irene.
"Tapi kok aku mikirnya negatif ya!"seru Citra
berseloroh.
"Aku tahu,semua orang pasti mikirnya begitu,akan gua buktiin
gua tuh masih virgin think think!"seru Irene meyakinkan.
"Ya aku percaya!"dukung Citra.
"Tra,kapan kamu mau ketemu ama calon aku?"tanya Irene
menagih.
"Sorry dah,aku ga sempet,manager yang sekarang rada
nyebelin,ga ada waktu buat jalan jalan.semua serba mepet.di acara nikah aja
ya!"Seru Citra berjanji.
"Oke!,aku tunggu kedatanganmu!"seru Irene sambil
mematikan ponselnya.Citra menaruh phonselnya kedalam tas dan melanjutkan makan
siang yang agak tersendat.
Citra yang sedang makan siang dengan serius tiba tiba terkejut
dengan gebrakan meja dihadapannya.
"Pak Restu!"seru Citra sambil menelan makanannya yang
baru beberapa kali dikunyahnya.
"Mejanya penuh semua,maaf kalau kamu harus berbagi meja
dengan Saya!"seru Restu.
"Tidak papa, yang penting tidak berbagi suami!"seru
Citra.dan Restu tersenyum geli.
"Saya masih normal Citra!"seru Restu kemudian.
"Ngomong ngomong semenjak saya ditempat ini,saya belum pernah
lihat pacar kamu!"tanya Restu.
"Punya pacar tidak harus diumbar kan?"seru Citra dengan
nada sedikit ketus.
"Oh!"gumam Restu.
"Maaf pak saya duluan!"seru Citra sambil bangkit dari
duduknya.
"Oh ya,silahkan!"seru Restu dengan nada berat,dengan
tatapan terus menatap keergian Citra yang pergi entah menghindarinya ataupun
karena ia sudah selesai dengan makannya.
.............
Pulang kerja Citra menemui tukang ojek langganannya.dan pak
Bagyopun sudah siap ditempatnya.
"Tidak diantar lagi mba?"tanya pak Bagyo sambil
menyerahkan helm dan menghidupkan mesin.
"Enggak pak,nanti ke enakan.ga mau naik ojek lagi!"canda
Citra.
"Oh ya pak,kemarin dia baik banget ya kasih bapak
uang."kata Citra hampir memuji atasanya itu.
"Oh itu,dianya hutang pada saya.beberapa waktu lalu dia naik
ojek tapi lupa bawa dompet.katanya dompetnya ketinggalan di mobil dan mobilnya
mogok dan ada dibengkel.".jelas pak Bagyo panjang.
"Oh!,kirain beneran kalau dia itu baik,ternyata kalo ada
maunya doang!"gumam Citra tak jadi bersimpati.
............
"Citra,kamu diamana?sebentar lagi acara ijab kabulnya dimulai,aku
butuh kamu disini!"teriak Irene via telepon pada sahabatnya.
"Maaf Ren,aku dijebak macet nih".seru Citra beralasan.
"Kamu dimana?bukan di jalan Tol kan!"seru Irene.
"Kamu!udah panik masih bisa ngelawak ya!"seru Citra yang
merasa sangat kepanasan dengan Kebaya yang dipakainya.
"Udah kamu lari aja,atau naik ojek,aku butuh kamu
sekarang!".
"Gila kamu.aku pake hak tinggi.kebaya pula.".seru Citra
terkejut dengan kegilaan ide Irene.
"Pokoknya aku ga mau tahu,aku mau kamu nyampe sebelum acara
ijab kabulnya dimulai."Perintah Irene dengan nada sangat serius.
"Aku usahain"janji Citra.
............
Beberapa menit berlalu akhirnya Citra terbebas dari kemacetan
yang menjebaknya.
"Sepertinya acara udah dimulai!"seru Citra.dengan
langkah tertatih berjalan menuju rumah Irene yang hanya berjarak beberapa
meter.
Dari kejauhan Citra tampak melihat sebuah mobil yang dikenalnya
dan benar saja.ia memang benar benar mengenal mobil itu bahkan pemiliknya.
"Pak Restu!"seru Citra yang melihat Restu keluar dari
mobilnya dengan memakai kemeja batik.
"Citra,kamu kenal sama yang punya acara?"tanya Restu.
"Iya,kalau Bapak?".
"Sama"
Akhirnya Restu dan Citra masuk kedalam rumah bersama sama dan
sepertinya acara ijab kabulnya sudah dimulai.
"Kok aku deg degan ya!"gumam Citra.
"Mungkin kamu berniat mengikuti jejaknya!"jawab Restu.
"Please deh jangan ngajak debat"seru Citra dalam hati
dengan menatak dalam wajah Restu.
"Itu pengantinnya!"seru Citra.Citra menoleh dan tiba
tiba tubuh Citra menjadi lemas seketika dan hampir jatuh.
"Citra,kamu tidak papa?"tanya Restu yang hampir
menangkap tubuh Citra yang tampak oleng.
"T...tidak papa!"jawab Citra.
"Ayo kita cari tempat duduk,tiba tiba wajah kamu
pucat."ajak Restu sambil membantu Citra berjalan.sementara Citra hanya
menurut.
............
Restu membawa Citra menjauh dari tempat itu.sepertinya Restu tahu
apa yang telah terjadi,dan ia tahu apa yang harus dilakukannya.
"Ada apa denganmu?"tanya Restu dengan lembut,jauh dari
nada bicaranya sehari hari jika sedang berbicara pada Citra.
Citra tak menjawab ia menatap wajah Restu.kini dihadapannya bukan
sosok menyebalkan seperti biasanya.
Kini dihadapannya hanya ada wajah seorang laki laki yang
dikenalnya dan menunjukan wajah khawatir dan ingin tahu.
"A...aku ga papa."jawab Citra yang tiba tiba kondisi
tubuhnya menjadi tak imbang.
"Kamu ingin pergi dari tempat ini?"tanya Restu dengan
pandangan menatap wajah Citra tajam.
Lagi lagi Citra tak langsung menjawab,ia terdiam
sejenak."emmm...mungkin itu akan lebih baik,"jawab Citra.
.............
Restu membawa Citra entah kemana,dan dalam keadaan itupun Mereka
tak saling bicara Citra hanyut dalam pikirannya,dan Restu hanya mampu mencuri
pandang tanpa bertanya.
"Kita mau kemana?"tanya Restu sambil terus mengemudi.
"Terserah Pak Restu saja!"jawab Citra malas menjawab.
"Oke akan kubawa kamu ke suatu tempat tapi jangan protes
sesampainya kita disana."seru Restu.tak ada respon dari Citra antara
menjawab iya atau tidak.
Beberapa waktu berlalu dan mobil Restu berhenti tepat didepan
sebuah bangunan kosong yang sudah setengah jadi.
"Dimana kita?"tanya Citra setelah sekian lama terdiam.
"Ayo kita keluar dan akan aku tunjukan tempat yang
nyaman."ajak Restu sambil membuka pintu mobilnya yang diikuti oleh Citra.
Restu mengajak Citra masuk kedalam gedung yang baru berdiri tiang
tiangnya saja itu.Restu menuntun Citra menaiki anak tangga yang dibuat seadanya
sampainya menuju puncak tertinggi bangunan itu.diatas tumpukan batu bata yang
tertumpuk Restu mengajak Citra duduk.
.............
"Mempelai laki lakinya adalah temanku dulu,dia yang
mengundangku!"kata Restu membuka obrolan.
Tampak terlihat Citra terkejut yang menatapnya tiba tiba.
"Maksud kamu apa?"tanya Citra memastikan.
"Aku tahu siapa kamu dan apa hubunganmu dengan
dia!"jelas Restu.
"Ga ada yang tahu!"tolak Citra."aku tahu semuanya
dan kamu ga bisa menolaknya!"seru Restu dengan nada galaknya yang
menyebalkan itu keluar.
"Lalu apa urusanmu?"tanya Citra."aku tahu tentang
kalian,aku tahu Andika masih menyimpan harapan padamu dan begitu juga
sebaliknya,tapi sekarang kenyataannya sekarang adalah kalian sudah
bersebrangan,kamu sudah tak memiliki hak untuk menunggunya!"jelas Restu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"tanya Citra yang
menatap Restu dengan mata berkaca kaca.
"k\Kamu harus move on!,jangan terpenjara dengan masa
lalu!".seru Restu sambil berdiri dan mendekati Citra lebih dekat.
"Pak boleh saya melakukan 1 hal?"tanya Citra.
"Apa?"tanya Restu tak mengerti.tiba tiba Citra menangis
dan memeluk pinggang Restu yang berdiri.tangan Restu meraih punggung Citra dan
memeluknya erat.
"Menangislah,sampai kamu lega!"seru Restu kemudian yang
terus diam mematung.
.............
Tidak ada komentar :
Posting Komentar