Jumat, 14 Februari 2014

14 FEBRUARI.....


“Pernahkah kau berfikir untuk sejenak,bahwa aku.Yang kini ada di hadapanmu adalah salah satu orang yang berharap bisa menempati sat sisi di hatimu???”
Anya berjalan meninggalkan Dimas setelah mengucapkan kalimat itu dalm hati sambil menatap Dimas yang sedang sibuk dengan teman wanitanya,yang bisa disebut sebagai penggemarnya,karena kemanapun Dimas pergi,mereka selalu ada di sekitar Dimas untuk mengekorinya.
“Hemmm...!,apa ada yang salah denganku??”tanya Anya pada diri sendiri sambil menatap langit biru yang ada di hadapannya.
“Apa kau melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuranimu?”tanya Panji tiba tiba yang kini berdiri dihadapannya.
Anya memanyunkan bibirnya menatap wajah orang yang ada di hadapannya,seolah olah ia tidak mengharapkan kehadirannya saat ini.
Panji menghampiri Anya sambil menyunggingkan senyumannya yang khas,dengan gigi ngingsul miliknya.
Tanpa meminta izin pada Anya Panji menarik tangan Anya dan mengajaknya untuk duduk di trotoar,seperti seorang pengemis.
“Kau tidak memiliki kesempatan untuk dilirik Dimas tadi?”tanya Panji yang seolah olah tahu apa yang telah terjadi beberapa saat sebelum saat ini.
“Apa cerita di dongeng itu benar benar bisa terjadi di dunia nyata?”tanya Anya sambil melirik Panji penuh arti.
“Dongeng yang mana?”tanya Panji tidak mengerti.
“Handsome and the Beast!”guman Anya.
“Siapa maksudmu?,apa aku si handsome  itu?,dan kau adalah si Beast itu?”tanya Panji dengan nada meledek.
“Apa yang akan kau lakukan jika Dimas memiliki saudara kembar identik,apakah kau akan mengincar saudara kembarnya karena kau tidak bisa mendapatkan Dimas?”tanya Panji berandai andai,sambil menatap Anya yang sepertinya tidak memperhatikan ucapannya.
Panji mendesah,karena sepertinya Anya benar benar tidak mendengarkan kalimat yang diucapkannya.
Anya memalingkan wajahny,untuk melihat Wajah Panji dengan mata berbingkai kacamata.
Dengan tanpa meminta izin dari Panji tiba tiba Anya mengambil kacamata milik Panji dan sesaat memperhatikannya wajahnya,masuk kedalam matanya.
Dengan cepat Panji mengambil kacamatanya dan memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Anya.
“Kau memiliki mata yang indah!”seru Anya kemudian.
“Mataku bagus?”tanya Panji yang kembali memakai kacamatanya.
“Mungkin karena itulah Minus betah bersarang dimataku,hingga aku harus menggunakan kacamata!”seru Panji dengan nada serius.
Anya tersenyum dan tiba tiba ia menyandarkan kepalanya pada bahu Panji yang tinggi.
Dengan perlahan Panji menarik nafas,dan menghembuskannya perlahan,perasaannya tiba tiba menjadi kacau,karena hal itu,dan Anya tidak mengetahuinya.
“Apa kau tidak ingin pulang?”tanya Panji sambil mendorong kepala Anya dengan telunjuknya.
“Apa kita harus pulang sekarang?,aku masih ingin seperti ini untuk beberapa waktu lagi!”seru Anya sambil kembali menyandarkan kepalanya pada lengan Panji.
Panji hanya menarik nafas lagi dan menghembuskannya dengan kencang.
“Apa kau sedang mengeluh?”tanya Anya sambil mendongakan kepalanya untuk menatap Panji.
Untuk sesaat wajah mereka bertemu,dan mata pandangan mereka saling bertemu di udara.
“Sepertinya wajahnu tidak asing!”seru Anya mencairkan suasana.
“Benarkah?,apa aku seperti artis?”tanya Panji dengan nada gugup dan berusaha mengalihkan pandnagannya.
Dan tanpa sadar ia telah berpindah posisi,hingga membuat Anya hampir jatuh karena posisinya masih bersandar pada bahu Panji.
Dengan refleks Panji menarik Anya yang hampir terjatuh,dengan mengorbankan kacamatanya terjatuh.
“Apa kau baik baik saja?”tanya Panji dengan terus menatap Anya.
“Kau benar benar mirip dengan seseorang!”seru Anya yang menjadi begitu penasaran.
“Dengan siapa!”seru Panji yang langsung bangkit dari duduknya dan tak menatap Anya.
“Seseorang yang aku kenal!”seru Anya masih penasaran.
Dan tanpa meminta izin tiba tiba Anya mengacak ngacak rambut Panji yang tertata rapi.
“Apa yang kau lakukan?”tanya Panji sambil menepis tangan Anya agar tidak semakin lancang terhadap rambutnya.
“Aku akan pulang sekarang,kau mau ikut atau tidak itu terserah pada dirimu!”seru Panji yang terlihat kesal.
Panji meninggalkan Anya yang masih terdiam di tempatnya menatap punggung Panji,sambil berfikir keras mengingat pada siapa Panji mirip.
....
Di dalam kamarnya Anya belum bisa memejamkan matanya,ia masih memikirkan Dimas,seseorang yang sudah 6 bukan lamanya membuat hatinya berdebar,karena perasan suka dan juga perasaan tidak suka,suka karena banyak alasan untuknya jatuh hati pada Dimas,dan perasaan tidak suka karena ia harus bersaing untuk mendapatkan perhatian Dimas dari para wanita yang terus mencari perhatiannya Dimas.
Anya kembali mengingat awal mula ia bertemu dengan Dimas,dimana saat itu Dengan mudahnya Dimas memberikan bantuan padanya,padahal Dimas dikenal sebagai seorang yang tampan,tapi begitu sombong,karena ia hanya mau bergaul dengan orang orang yang sepadan dengannya,orang yang memiliki derajat sejajar denagnnya sebagai orang yang tampan,dan mungkin sedikit pntar,karena sampai saat itu kepintaraannya belum bisa di sejajarkan dengan Panji,seorang kutu buku yang hanya mengenal dirinya sebagai temannya.
“Panji!”tiba tiba Anya teringat dengan nama itu,orang itu,dan mata itu.
“Panji!,apa dia masih marah padaku karen aaku menyentuh mahkota di kepalanya?”tanya Anya.
Tanpa pikir panjang Anya langsung mengambil jaketnya dan segera berlari meninggalkan kamarnya.
Dengan menggunakan sepeda gunung milik ayahnya Anya mengayuh sepeda untuk menghamiri rumah Panji yang jaraknya cukup lumayan jauh dar tempat tinggalnya.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh akhirnya Anya sampai di depan rumah Panji yang ternyata sangat megah setelah dipandang dari jarak dekat,karena sebelumnya Panji selalu menolah untuk mengajak Anya kerumahnya,walaupun Anya selalu memaksa untuk mampir kerumahnya.
Sambil memandikan keringat Anya sedikir ragu untuk memencet bel rumah Panji.
“Dia sudah dewasa.Dia tidak mungkin akan mudah marah hanya karena aku mengacak ngacak rambutnya,tapi pasti Panji sangat marah padaku karen aia pernah berkata padaku jika ia akan sangat marah jika ada yang menyentuh rambutnya,karena itu sangat sangat sangat tidaklah sopan!”seru Anya sambil melamun sebelum benar benar menekan tombol bel yang hanya berjarak beberapa cm dari jari telunjuknya.
“Anya!,apa yang sedang kau lakukan disini?”tanya seseorang yang berisi di samping Anya yang tanpak baru keluar dari pintu gerbang samping.
“Dimas!,kau tahu namaku?’tanya Anya tak percaya dengan apa yang di dengarnya,dan dengan apa yangd dilihatnya.
“Kau berada di rumah Panji?”tanya Anya penasaran sambil melirik pintu samping yang baru saja tertutup.
Sesaat kemudian terlihat tingkah Dimas menjadi berubah,seperti menyembunyikan sesuatu.
“Aku!,aku tidak tinggal disini,aku hanya kebetulan lewat dan aku melihat seseorang yang sepertinya pernah aku lihat!”seru Dimas dengan nada gugup dan seperti menyusun kalimat.
“Benarkah?”tanya Anya tak percaya dan seperti mencurigai sesuatu.
“Emmmmm....,apa yang sedang kau lakukan disini?”tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan menemui seseorang!”jawab Anya sambil melihat kearah rumah itu.
“Siapa?”tanya Dimas penasaran.
“Kau mengenal Panji?”tanya Anya ragu.
“Kutu buku itu!”seru Dimas bergumam,Dengan sedikit nada merendahkan.
“Dia bukan hanya kutu buku,tapi orang hebat!”seru Anya tang tidak setuju dengan nada bicara Dimas.
“Hebat?”tanya Dimas tak percaya.
“Ya dia hebat,bagaimana tidak,waktunya selalu dihabiskan untuk membaca,bisa dibayangkan berapa banyak informasi yang bisa ia dapatkan dan tentu saja kita harus menyebutnya sebagai orang yang hebat!”seru Anya membela.
“Jadi seperti itu menurutmu.
“Tapi dia tidak menarik!”
“Siapa bilang dia tidak menarik,dia memiliki wajah yang....(mungkin) tampan,da mata yang indah,tapi ia selalu menutupinya,dan hanya orang orang tertentu yang isa melihat hal itu!”seru Anya yang tanpa sengaja sudah memuji orang lain di depan orang yang disukainya.
“Jadi menurutmu Panji seorang yang seperi itu?”tanya Dimas menegaskan.
“Ya!”jawab Anya sedikit ragu.
Dan Anya baru tersadar jika ia malah memuji laki laki lain di depan laki laki yang disukainya.
“Lalu bagaimana dengan aku?”tanya Dimas tiba tiba.
“Apa?”tanya Anya tidak percaya.
“Ya!,bagaimana dengan aku?”tanya Dimas menunggu.
“Kau terlalu tampan,dan sulit untuk di gapai!”seru Anya tanpa sadar.
Anya membulatkan matanya dan tersadar ia baru saja mengungkapkan sedikit tentang perasaannya pada orang yang disukainya.
“Apa maksudmu?”tanya Dimas tak mengerti.
“Lupakan!”Seru Anya sedikit lega.karena Ternya Dimas tak mengerti.
“Apa itu sebuah pujian terselubung darimu?”tanya Dimas kemudian.
Kembali Anya membulatkan matanya dan cepat cepat membalikan wajahnya untuk menutupi rasa malunya.
Dan betapa terkejutnya saat ia berbalik,ia melihat orany yang tadi ada di hadapannya kini kembali ada di hadapannya waaupun ia sudah membalikan badannya.
“Dimas!”Seru Anya tidak percaya dengan apa yang dilihtanya.
Sesaat Anya terdiam,tercengan,dengan sedikit rasa sadarnya Anya mengamati orang yang kini ada di hadapannya sedikit berbeda dengan orang yang tadi dilihtanya.
“Cepat sekali kau berganti pakaian?”tanya Anya belum bisa mengerti.
Tapi dengan cepat ia mencoba untuk sadar dna mencari akal sehatnya,Anya kembali berbalik,dan ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Dimas di belakangnya dengan palaian yang berbeda pula.
“Tidak mungkin!”Seru Anya sambil memegangi kepalanya tidak percaya.
Perlahan Dimas yang ada dibelakang Anya berjalan dan menghampiri Dimas yang ada di hadapan Anya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?,apa otaku mulai tidak waras?,apa karen aaku terlalu kelelahan?”tanya Anya pada diri sendiri,yang maish tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Apa maksudmu?,apa kau belum pernah melihat kami berdua?”tanya Dimas yang baru datang.
Sementara Dimas yang diajaknya mengobrol tadi hanya terdiam dan mencoba untuk menyembunyikan wajahnya.
“Ada yang bisa menjelaskan padaku,apa arti dari semua ini?”tanya Anya yang masih tidak percaya.
“Dia saudara kembarku!”seru Dimas yang baru datang.
Rasa tidak percaya Anya sedikit hilang digantikan dengan rasa sedikit senang.
“Kalian lanjutkan saja obrolan kalian!”seru Dimas yang langsung masuk kedalam rumah melalui pintu samping dan kembali membuat Anya terkejut.
“Kenapa Dimas masuk kerumah Panji?”tanya Anya pada kembaran Dimas yang masih mencona untuk menutupi wajahnya.
“Panji!”Seru Anya.
Dan dengan refleks orang yanga da dihadpannya menjawab dan menatap orang yang adadi hadapannya.
Tanpa meminta izin untuk kesekian kalinya Anya kembali mengacak acak rambut kembaran Dimas.dan orang yang diperlakukan seperti itu hnaya diam saja,karena merasa sudah tertangkap basah.
“Panji!”seru Anya setelah merapikan rambut Kembaran Dimasmenjadi gaya rambut milik Panji,dan di sana ia melihat Panji tanpa menggunakan kacamata.
“Panji!,bisa kau jelaskan ini padaku?tanya Anya  hampir menangis karena mersa selama ini telah dipermainkan.
“Apa yang harus aku jelaskan?”tanya Panji polos.
“Semuanya!,sejak kapan kau melakukan ini?”tanya Anya sedikit marah.
“Sudah lama!,sebelum aku mengenalmu!”Jawab Panji tegas.
“Lalu kenapa kau lakukan ini padaku?”tanya Anya yang masih belum puas dengan jawaban Panji.
“Aku tidak melakukan apapun padamu,dan aku sudah biasa melakukannya,karena aku memang seperti ini,aku dan Dimas adalah saudara kembar identik yang selalu mencoba untuk membedakan satu sama lain,walaupun kadang gayaku bukanlah gaya sebenarnya.
“Jadi seperti apa gayamu sebenarnya?”
“Seperti sekarang!”jawab Panji tanpa melihat pada Anya.
“Lalu siapa orang yang aku temui waktu itu?”
“Aku!”
“Kenapa kau tidak langsung mengatakan hal itu langsung padaku?,apa kau menunggu aku mempermalukan diriku terlebih dahulu?”tanya Anya yang sudah sangat malu.
“Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku tentang apapun!”seru Panji mencoba untuk menenangkan Anya.
“Kau terlalu pintar untuk bersandiwara!”seru Anya yang sudah benar benar malu,Anya langsung pergi meninggalkan Panji mendekati sepedanya dan mengayuhnya meninggalkan Panji yang terdiam menatapnya pergi.
Sepanjang jalan Anya menangis menahan malu,malu akan curhatannya pada Panji yang selama ini ternyata orang yang disukainya,bahkan Dimas orang yang selamai ini yang dianggapnya sebagai orang yang disukainya sama sekali tidak mengenalnya.
....
Didalam kamar Panji tampa terlihat lesu,sambil menatap langit langit kamarnya ia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu,saat Dengan gigihnya Anya membelanya dihadapannya yang dianggap Dimas.
Sesekali Panji tersenyum,dan sesekali ia terlihat muram jika melihat kejadian saat Anya hampir menangis dihaapannya.
“Apa yang sesang kau lakukan?,siapa gadis itu?”tanya Dimas yang baru datang sambil membawa beberapa tumpuk buku.
“Temanku!,apa kau tidak mengenalnya?”tanya Panji yang langsung mengubah posisinya.
“Tidak.untuk apa aku mengenalnya?,kau ingin aku dekat dengannya,seperti gadis gadis lainya?”tanya Dimas sambil mmebuka halaman buku yang dibawanya.
“Tidak!”seru Panji yang langsung kembali pada posisinya semula.
“Atau jangan jangan gadis itu datang malam malam kesini,karena ingin menemuiki,tapi pertemu denganku?,kalau iya,katakan padanya sebaiknya jangan atau ia akan sakit hati karena aku sudah memiliki kekasih!”seru Dimas dengan nada bijak.
“Benarkah?”tanya Panji.
“Apa aku pernah mengatakan omong kosong pada sudaraku?”tanya Dimas balik.
“Siapa gadis beruntung itu?”tanya Panji.
“Artika!”Seru Dimas bangga,sambil mengambil foto yang menjadi pembatas buku dan kemudian ditunjukannya pada Panji sambil tersenyum,tapi kali ini tanpa gigi gingsul yang mmebedakannya dengan Panji.
“Kakak kelas kita!”seru Panji meyakinkan.
“Ya!”jawab Dimas mantap.
“Aku kira itu hanya gosip!”
“Sejak kapan laki laki suka bergosip?”
“.....”
Anya belum bisa memejamkan matanya ia masih mengalng memori yang baru saja terjadi,mengingat hal memalukan dalam hidupnya.
“Kenapa?,kenapa?kenapa?kenapa?tanya Anya terus menerus,sambil memukul mukul bantal yang ada di hadapannya.
“Jadi siapa yang sebenarnya aku suka selama ini?”tanya Anya pada diri sendiri.
“Berapa kali aku berbicara dengan Dimas?,baru sekali!”Seru Anya tidak percaya.
“Berapa kali aku bicara dengan Panji?.Berkali kali,dan itu selalu hal tentang Dimas.

Dalam kebimbangannya tiba tiba Suara hp Anya bunyi pertanda pesan masuk,dan pesan itu dari Panji.
“Apa kau sudah tidur malam ini?”
“Belum!”balas Anya
Happy B’day!”
“Apa aku berulang tahun hari ini?,bukankah besok!”
“Lihat jam!”
“12.09 tanggal 14 FEBRUARI!”
“Apa aku salah?”
“Tidak!,tidak ada yang salah dengan orang pintar!”
“Tidurlah,sudah malam!”
“Kau melupakan sesuatu!”
“?”
“Kau mengucapkan selamat ulang tahun,tanpa memberikan aku hadiah!”
“Aku ingin memberikannya,tapi au takut kau tidak mau menerimanya!”
“Memangnya apa hadiah yang ingin kau berikan?”
“Aku ingin memberikan hatiku,tapi aku takut kau akan akan menolaknya,dan kau tahu jika dimanapun di dunia ini tidak ada toko yang mau menerima barang Reject karena kecewa!”
“kau bilang itu adalah hadiah,bukankah seperti apapun hadiah itu aku harus menerimanya dengan senang,karena itu adalah sebuah hadiah!”
“Apa karena sebah hadiah kau mau menerimanya?,dan setelah itu kau akan menyimpannya tanpa mau kau lihat lagi?karena kau tidak suka?”
“Kenapa kau mengatakan hal itu?”
“Entahlah!,aku mersa ada yang mengganjal di hatiku!”
“Aku menyukai Dimas!,tapi Dimas yang membantuku saat di perpustakaan,Dimas yang begitu hangat,dan Dimas yang tidak di buntuti oleh gadis gadis.
“Gadis gadis itu hanya melakukan hal yang sia sia,karena Dimas yang merka kejar telah menentukan hatinya untuk orang lain!”
“Siapa Dia?,apa aku?”
“Sepertinya kau adalah gadis yang kesekian yang mungkin akan kecewa!”
“Sepertinya aku tidak akan kecewa,karena sepertinya aku bukan menyukai Dimas,tapi aku menyukai saudaranya Dimas?”
“Aku sepertinya merasa kecewa denganmu!”
“Kenapa?”
“Karena kau mudah sekali berpindah hati!”
“Aku buakan orang yang seperti itu,karena ternyata selama aku menyukai Diams,selama itu pula aku terus memikirkanmu!”
“Aku bukan anak kecil!”
“Jika kau bukan anak kecil,bisakah kau memneriku kesempatan untuku untuk benar benar bisa mempercayaiku,untuk menerima ‘hadiah’ darimu itu?”
“Bisakah aku menjawabnya besok?,karenaini adalah pulsaku yang terakhir untuk membalas pesanmu ini!”
Anya  tersenyum membaca sms terakhir Panji,dan ia mencoba untuk memantapkan hatinya,jika memang selama ini ia menyukai Panji,bukanlah Dimas,orang yang selama ini ia kira.
Apa dari semua smsmu itu bertanda kita bisa memulainya sejak saat ini?,oh ya,sejak kapan kau benar benar menyukaiku?,ups,mungkin aku terlalu dini untuk mengatakan jika kau sedang memintaku untuk menjadi kekasihmu,tapi dengan kau memberikan hatimu padaku,itu bertanpa kau menyukaiku!”
“sebelum kau menyadarinya!”
Jawban Panji yang kali ini dengan nomor baru.
Nomor siapa ini?”
“Dimas!”
Anya memelototkan matanya,hal yang sejak lama ia inginkan kini terjadi pada hari ulang tahunnya,yaitu mendapatkan nomor Dimas,tapi sepertinya hal itu kini tidak lagi menjadi istimewa.
Kenapa kau baru memberikannya sekarang!,sudah lama aku ingin memilikinya!hehehehe....!
Nomor Dimas?”
Siapa lagi?”
Kau sudah membuatku cemburu!,karena kau masih menyukai Dimas”
“Sudah malam,dan hapus sms terakhirmu!”
....






Tidak ada komentar :

Posting Komentar