“Pernahkah
kau berfikir untuk sejenak,bahwa aku.Yang kini ada di hadapanmu adalah salah
satu orang yang berharap bisa menempati sat sisi di hatimu???”
Anya berjalan
meninggalkan Dimas setelah mengucapkan kalimat itu dalm hati sambil menatap
Dimas yang sedang sibuk dengan teman wanitanya,yang bisa disebut sebagai
penggemarnya,karena kemanapun Dimas pergi,mereka selalu ada di sekitar Dimas
untuk mengekorinya.
“Hemmm...!,apa
ada yang salah denganku??”tanya Anya pada diri sendiri sambil menatap langit biru
yang ada di hadapannya.
“Apa kau
melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuranimu?”tanya Panji tiba tiba
yang kini berdiri dihadapannya.
Anya memanyunkan
bibirnya menatap wajah orang yang ada di hadapannya,seolah olah ia tidak
mengharapkan kehadirannya saat ini.
Panji menghampiri
Anya sambil menyunggingkan senyumannya yang khas,dengan gigi ngingsul miliknya.
Tanpa
meminta izin pada Anya Panji menarik tangan Anya dan mengajaknya untuk duduk di
trotoar,seperti seorang pengemis.
“Kau
tidak memiliki kesempatan untuk dilirik Dimas tadi?”tanya Panji yang seolah
olah tahu apa yang telah terjadi beberapa saat sebelum saat ini.
“Apa
cerita di dongeng itu benar benar bisa terjadi di dunia nyata?”tanya Anya
sambil melirik Panji penuh arti.
“Dongeng
yang mana?”tanya Panji tidak mengerti.
“Handsome
and the Beast!”guman Anya.
“Siapa
maksudmu?,apa aku si handsome itu?,dan
kau adalah si Beast itu?”tanya Panji dengan nada meledek.
“Apa yang
akan kau lakukan jika Dimas memiliki saudara kembar identik,apakah kau akan
mengincar saudara kembarnya karena kau tidak bisa mendapatkan Dimas?”tanya
Panji berandai andai,sambil menatap Anya yang sepertinya tidak memperhatikan
ucapannya.
Panji
mendesah,karena sepertinya Anya benar benar tidak mendengarkan kalimat yang
diucapkannya.
Anya
memalingkan wajahny,untuk melihat Wajah Panji dengan mata berbingkai kacamata.
Dengan tanpa
meminta izin dari Panji tiba tiba Anya mengambil kacamata milik Panji dan
sesaat memperhatikannya wajahnya,masuk kedalam matanya.
Dengan cepat
Panji mengambil kacamatanya dan memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan
dengan Anya.
“Kau
memiliki mata yang indah!”seru Anya kemudian.
“Mataku
bagus?”tanya Panji yang kembali memakai kacamatanya.
“Mungkin
karena itulah Minus betah bersarang dimataku,hingga aku harus menggunakan
kacamata!”seru Panji dengan nada serius.
Anya
tersenyum dan tiba tiba ia menyandarkan kepalanya pada bahu Panji yang tinggi.
Dengan
perlahan Panji menarik nafas,dan menghembuskannya perlahan,perasaannya tiba
tiba menjadi kacau,karena hal itu,dan Anya tidak mengetahuinya.
“Apa kau
tidak ingin pulang?”tanya Panji sambil mendorong kepala Anya dengan telunjuknya.
“Apa kita
harus pulang sekarang?,aku masih ingin seperti ini untuk beberapa waktu lagi!”seru
Anya sambil kembali menyandarkan kepalanya pada lengan Panji.
Panji hanya
menarik nafas lagi dan menghembuskannya dengan kencang.
“Apa kau
sedang mengeluh?”tanya Anya sambil mendongakan kepalanya untuk menatap Panji.
Untuk sesaat
wajah mereka bertemu,dan mata pandangan mereka saling bertemu di udara.
“Sepertinya
wajahnu tidak asing!”seru Anya mencairkan suasana.
“Benarkah?,apa
aku seperti artis?”tanya Panji dengan nada gugup dan berusaha mengalihkan
pandnagannya.
Dan tanpa
sadar ia telah berpindah posisi,hingga membuat Anya hampir jatuh karena
posisinya masih bersandar pada bahu Panji.
Dengan
refleks Panji menarik Anya yang hampir terjatuh,dengan mengorbankan kacamatanya
terjatuh.
“Apa kau
baik baik saja?”tanya Panji dengan terus menatap Anya.
“Kau
benar benar mirip dengan seseorang!”seru Anya yang menjadi begitu penasaran.
“Dengan
siapa!”seru Panji yang langsung bangkit dari duduknya dan tak menatap Anya.
“Seseorang
yang aku kenal!”seru Anya masih penasaran.
Dan tanpa
meminta izin tiba tiba Anya mengacak ngacak rambut Panji yang tertata rapi.
“Apa yang
kau lakukan?”tanya Panji sambil menepis tangan Anya agar tidak semakin lancang terhadap
rambutnya.
“Aku akan
pulang sekarang,kau mau ikut atau tidak itu terserah pada dirimu!”seru Panji
yang terlihat kesal.
Panji
meninggalkan Anya yang masih terdiam di tempatnya menatap punggung Panji,sambil
berfikir keras mengingat pada siapa Panji mirip.
....
Di dalam kamarnya
Anya belum bisa memejamkan matanya,ia masih memikirkan Dimas,seseorang yang
sudah 6 bukan lamanya membuat hatinya berdebar,karena perasan suka dan juga
perasaan tidak suka,suka karena banyak alasan untuknya jatuh hati pada
Dimas,dan perasaan tidak suka karena ia harus bersaing untuk mendapatkan
perhatian Dimas dari para wanita yang terus mencari perhatiannya Dimas.
Anya
kembali mengingat awal mula ia bertemu dengan Dimas,dimana saat itu Dengan
mudahnya Dimas memberikan bantuan padanya,padahal Dimas dikenal sebagai seorang
yang tampan,tapi begitu sombong,karena ia hanya mau bergaul dengan orang orang
yang sepadan dengannya,orang yang memiliki derajat sejajar denagnnya sebagai
orang yang tampan,dan mungkin sedikit pntar,karena sampai saat itu
kepintaraannya belum bisa di sejajarkan dengan Panji,seorang kutu buku yang
hanya mengenal dirinya sebagai temannya.
“Panji!”tiba
tiba Anya teringat dengan nama itu,orang itu,dan mata itu.
“Panji!,apa
dia masih marah padaku karen aaku menyentuh mahkota di kepalanya?”tanya Anya.
Tanpa
pikir panjang Anya langsung mengambil jaketnya dan segera berlari meninggalkan
kamarnya.
Dengan menggunakan
sepeda gunung milik ayahnya Anya mengayuh sepeda untuk menghamiri rumah Panji
yang jaraknya cukup lumayan jauh dar tempat tinggalnya.
Setelah menempuh
jarak yang lumayan jauh akhirnya Anya sampai di depan rumah Panji yang ternyata
sangat megah setelah dipandang dari jarak dekat,karena sebelumnya Panji selalu
menolah untuk mengajak Anya kerumahnya,walaupun Anya selalu memaksa untuk
mampir kerumahnya.
Sambil memandikan
keringat Anya sedikir ragu untuk memencet bel rumah Panji.
“Dia
sudah dewasa.Dia tidak mungkin akan mudah marah hanya karena aku mengacak
ngacak rambutnya,tapi pasti Panji sangat marah padaku karen aia pernah berkata
padaku jika ia akan sangat marah jika ada yang menyentuh rambutnya,karena itu
sangat sangat sangat tidaklah sopan!”seru Anya sambil melamun sebelum benar
benar menekan tombol bel yang hanya berjarak beberapa cm dari jari telunjuknya.
“Anya!,apa
yang sedang kau lakukan disini?”tanya seseorang yang berisi di samping Anya
yang tanpak baru keluar dari pintu gerbang samping.
“Dimas!,kau
tahu namaku?’tanya Anya tak percaya dengan apa yang di dengarnya,dan dengan apa
yangd dilihatnya.
“Kau
berada di rumah Panji?”tanya Anya penasaran sambil melirik pintu samping yang
baru saja tertutup.
Sesaat kemudian
terlihat tingkah Dimas menjadi berubah,seperti menyembunyikan sesuatu.
“Aku!,aku
tidak tinggal disini,aku hanya kebetulan lewat dan aku melihat seseorang yang
sepertinya pernah aku lihat!”seru Dimas dengan nada gugup dan seperti menyusun
kalimat.
“Benarkah?”tanya
Anya tak percaya dan seperti mencurigai sesuatu.
“Emmmmm....,apa
yang sedang kau lakukan disini?”tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
“Aku akan
menemui seseorang!”jawab Anya sambil melihat kearah rumah itu.
“Siapa?”tanya
Dimas penasaran.
“Kau
mengenal Panji?”tanya Anya ragu.
“Kutu
buku itu!”seru Dimas bergumam,Dengan sedikit nada merendahkan.
“Dia
bukan hanya kutu buku,tapi orang hebat!”seru Anya tang tidak setuju dengan nada
bicara Dimas.
“Hebat?”tanya
Dimas tak percaya.
“Ya dia
hebat,bagaimana tidak,waktunya selalu dihabiskan untuk membaca,bisa dibayangkan
berapa banyak informasi yang bisa ia dapatkan dan tentu saja kita harus
menyebutnya sebagai orang yang hebat!”seru Anya membela.
“Jadi
seperti itu menurutmu.
“Tapi dia
tidak menarik!”
“Siapa
bilang dia tidak menarik,dia memiliki wajah yang....(mungkin) tampan,da mata
yang indah,tapi ia selalu menutupinya,dan hanya orang orang tertentu yang isa
melihat hal itu!”seru Anya yang tanpa sengaja sudah memuji orang lain di depan
orang yang disukainya.
“Jadi
menurutmu Panji seorang yang seperi itu?”tanya Dimas menegaskan.
“Ya!”jawab
Anya sedikit ragu.
Dan Anya
baru tersadar jika ia malah memuji laki laki lain di depan laki laki yang disukainya.
“Lalu
bagaimana dengan aku?”tanya Dimas tiba tiba.
“Apa?”tanya
Anya tidak percaya.
“Ya!,bagaimana
dengan aku?”tanya Dimas menunggu.
“Kau
terlalu tampan,dan sulit untuk di gapai!”seru Anya tanpa sadar.
Anya membulatkan
matanya dan tersadar ia baru saja mengungkapkan sedikit tentang perasaannya
pada orang yang disukainya.
“Apa
maksudmu?”tanya Dimas tak mengerti.
“Lupakan!”Seru
Anya sedikit lega.karena Ternya Dimas tak mengerti.
“Apa itu
sebuah pujian terselubung darimu?”tanya Dimas kemudian.
Kembali
Anya membulatkan matanya dan cepat cepat membalikan wajahnya untuk menutupi
rasa malunya.
Dan betapa
terkejutnya saat ia berbalik,ia melihat orany yang tadi ada di hadapannya kini
kembali ada di hadapannya waaupun ia sudah membalikan badannya.
“Dimas!”Seru
Anya tidak percaya dengan apa yang dilihtanya.
Sesaat Anya
terdiam,tercengan,dengan sedikit rasa sadarnya Anya mengamati orang yang kini
ada di hadapannya sedikit berbeda dengan orang yang tadi dilihtanya.
“Cepat
sekali kau berganti pakaian?”tanya Anya belum bisa mengerti.
Tapi
dengan cepat ia mencoba untuk sadar dna mencari akal sehatnya,Anya kembali
berbalik,dan ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Dimas di belakangnya dengan
palaian yang berbeda pula.
“Tidak
mungkin!”Seru Anya sambil memegangi kepalanya tidak percaya.
Perlahan Dimas
yang ada dibelakang Anya berjalan dan menghampiri Dimas yang ada di hadapan
Anya.
“Apa yang
sebenarnya terjadi?,apa otaku mulai tidak waras?,apa karen aaku terlalu kelelahan?”tanya
Anya pada diri sendiri,yang maish tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Apa
maksudmu?,apa kau belum pernah melihat kami berdua?”tanya Dimas yang baru
datang.
Sementara
Dimas yang diajaknya mengobrol tadi hanya terdiam dan mencoba untuk
menyembunyikan wajahnya.
“Ada yang
bisa menjelaskan padaku,apa arti dari semua ini?”tanya Anya yang masih tidak
percaya.
“Dia
saudara kembarku!”seru Dimas yang baru datang.
Rasa
tidak percaya Anya sedikit hilang digantikan dengan rasa sedikit senang.
“Kalian
lanjutkan saja obrolan kalian!”seru Dimas yang langsung masuk kedalam rumah
melalui pintu samping dan kembali membuat Anya terkejut.
“Kenapa
Dimas masuk kerumah Panji?”tanya Anya pada kembaran Dimas yang masih mencona
untuk menutupi wajahnya.
“Panji!”Seru
Anya.
Dan dengan
refleks orang yanga da dihadpannya menjawab dan menatap orang yang adadi
hadapannya.
Tanpa meminta
izin untuk kesekian kalinya Anya kembali mengacak acak rambut kembaran
Dimas.dan orang yang diperlakukan seperti itu hnaya diam saja,karena merasa
sudah tertangkap basah.
“Panji!”seru
Anya setelah merapikan rambut Kembaran Dimasmenjadi gaya rambut milik Panji,dan
di sana ia melihat Panji tanpa menggunakan kacamata.
“Panji!,bisa
kau jelaskan ini padaku?tanya Anya hampir
menangis karena mersa selama ini telah dipermainkan.
“Apa yang
harus aku jelaskan?”tanya Panji polos.
“Semuanya!,sejak
kapan kau melakukan ini?”tanya Anya sedikit marah.
“Sudah
lama!,sebelum aku mengenalmu!”Jawab Panji tegas.
“Lalu
kenapa kau lakukan ini padaku?”tanya Anya yang masih belum puas dengan jawaban
Panji.
“Aku tidak
melakukan apapun padamu,dan aku sudah biasa melakukannya,karena aku memang
seperti ini,aku dan Dimas adalah saudara kembar identik yang selalu mencoba
untuk membedakan satu sama lain,walaupun kadang gayaku bukanlah gaya
sebenarnya.
“Jadi
seperti apa gayamu sebenarnya?”
“Seperti
sekarang!”jawab Panji tanpa melihat pada Anya.
“Lalu
siapa orang yang aku temui waktu itu?”
“Aku!”
“Kenapa
kau tidak langsung mengatakan hal itu langsung padaku?,apa kau menunggu aku
mempermalukan diriku terlebih dahulu?”tanya Anya yang sudah sangat malu.
“Kau
tidak pernah mengatakan apapun padaku tentang apapun!”seru Panji mencoba untuk
menenangkan Anya.
“Kau
terlalu pintar untuk bersandiwara!”seru Anya yang sudah benar benar malu,Anya
langsung pergi meninggalkan Panji mendekati sepedanya dan mengayuhnya
meninggalkan Panji yang terdiam menatapnya pergi.
Sepanjang
jalan Anya menangis menahan malu,malu akan curhatannya pada Panji yang selama
ini ternyata orang yang disukainya,bahkan Dimas orang yang selamai ini yang
dianggapnya sebagai orang yang disukainya sama sekali tidak mengenalnya.
....
Didalam
kamar Panji tampa terlihat lesu,sambil menatap langit langit kamarnya ia
kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu,saat Dengan gigihnya Anya
membelanya dihadapannya yang dianggap Dimas.
Sesekali Panji
tersenyum,dan sesekali ia terlihat muram jika melihat kejadian saat Anya hampir
menangis dihaapannya.
“Apa yang
sesang kau lakukan?,siapa gadis itu?”tanya Dimas yang baru datang sambil
membawa beberapa tumpuk buku.
“Temanku!,apa
kau tidak mengenalnya?”tanya Panji yang langsung mengubah posisinya.
“Tidak.untuk
apa aku mengenalnya?,kau ingin aku dekat dengannya,seperti gadis gadis lainya?”tanya
Dimas sambil mmebuka halaman buku yang dibawanya.
“Tidak!”seru
Panji yang langsung kembali pada posisinya semula.
“Atau
jangan jangan gadis itu datang malam malam kesini,karena ingin menemuiki,tapi
pertemu denganku?,kalau iya,katakan padanya sebaiknya jangan atau ia akan sakit
hati karena aku sudah memiliki kekasih!”seru Dimas dengan nada bijak.
“Benarkah?”tanya
Panji.
“Apa aku
pernah mengatakan omong kosong pada sudaraku?”tanya Dimas balik.
“Siapa
gadis beruntung itu?”tanya Panji.
“Artika!”Seru
Dimas bangga,sambil mengambil foto yang menjadi pembatas buku dan kemudian ditunjukannya
pada Panji sambil tersenyum,tapi kali ini tanpa gigi gingsul yang mmebedakannya
dengan Panji.
“Kakak
kelas kita!”seru Panji meyakinkan.
“Ya!”jawab
Dimas mantap.
“Aku kira
itu hanya gosip!”
“Sejak
kapan laki laki suka bergosip?”
“.....”
Anya
belum bisa memejamkan matanya ia masih mengalng memori yang baru saja
terjadi,mengingat hal memalukan dalam hidupnya.
“Kenapa?,kenapa?kenapa?kenapa?tanya
Anya terus menerus,sambil memukul mukul bantal yang ada di hadapannya.
“Jadi
siapa yang sebenarnya aku suka selama ini?”tanya Anya pada diri sendiri.
“Berapa
kali aku berbicara dengan Dimas?,baru sekali!”Seru Anya tidak percaya.
“Berapa
kali aku bicara dengan Panji?.Berkali kali,dan itu selalu hal tentang Dimas.
Dalam
kebimbangannya tiba tiba Suara hp Anya bunyi pertanda pesan masuk,dan pesan itu
dari Panji.
“Apa kau sudah tidur malam ini?”
“Belum!”balas Anya
“Happy B’day!”
“Apa aku berulang tahun hari ini?,bukankah
besok!”
“Lihat jam!”
“12.09 tanggal 14 FEBRUARI!”
“Apa aku salah?”
“Tidak!,tidak ada yang salah dengan orang
pintar!”
“Tidurlah,sudah malam!”
“Kau melupakan sesuatu!”
“?”
“Kau mengucapkan selamat ulang tahun,tanpa
memberikan aku hadiah!”
“Aku ingin memberikannya,tapi au takut kau
tidak mau menerimanya!”
“Memangnya apa hadiah yang ingin kau berikan?”
“Aku ingin memberikan hatiku,tapi aku takut
kau akan akan menolaknya,dan kau tahu jika dimanapun di dunia ini tidak ada
toko yang mau menerima barang Reject karena kecewa!”
“kau bilang itu adalah hadiah,bukankah
seperti apapun hadiah itu aku harus menerimanya dengan senang,karena itu adalah
sebuah hadiah!”
“Apa karena sebah hadiah kau mau
menerimanya?,dan setelah itu kau akan menyimpannya tanpa mau kau lihat lagi?karena
kau tidak suka?”
“Kenapa kau mengatakan hal itu?”
“Entahlah!,aku mersa ada yang mengganjal di
hatiku!”
“Aku menyukai Dimas!,tapi Dimas yang
membantuku saat di perpustakaan,Dimas yang begitu hangat,dan Dimas yang tidak
di buntuti oleh gadis gadis.
“Gadis gadis itu hanya melakukan hal yang sia
sia,karena Dimas yang merka kejar telah menentukan hatinya untuk orang lain!”
“Siapa Dia?,apa aku?”
“Sepertinya kau adalah gadis yang kesekian
yang mungkin akan kecewa!”
“Sepertinya aku tidak akan kecewa,karena
sepertinya aku bukan menyukai Dimas,tapi aku menyukai saudaranya Dimas?”
“Aku sepertinya merasa kecewa denganmu!”
“Kenapa?”
“Karena kau mudah sekali berpindah hati!”
“Aku buakan orang yang seperti itu,karena
ternyata selama aku menyukai Diams,selama itu pula aku terus memikirkanmu!”
“Aku bukan anak kecil!”
“Jika kau bukan anak kecil,bisakah kau
memneriku kesempatan untuku untuk benar benar bisa mempercayaiku,untuk menerima
‘hadiah’ darimu itu?”
“Bisakah aku menjawabnya besok?,karenaini
adalah pulsaku yang terakhir untuk membalas pesanmu ini!”
Anya tersenyum membaca sms terakhir Panji,dan ia
mencoba untuk memantapkan hatinya,jika memang selama ini ia menyukai
Panji,bukanlah Dimas,orang yang selama ini ia kira.
“Apa dari semua smsmu itu bertanda kita bisa
memulainya sejak saat ini?,oh ya,sejak kapan kau benar benar
menyukaiku?,ups,mungkin aku terlalu dini untuk mengatakan jika kau sedang
memintaku untuk menjadi kekasihmu,tapi dengan kau memberikan hatimu padaku,itu
bertanpa kau menyukaiku!”
“sebelum kau menyadarinya!”
Jawban
Panji yang kali ini dengan nomor baru.
“Nomor siapa ini?”
“Dimas!”
Anya
memelototkan matanya,hal yang sejak lama ia inginkan kini terjadi pada hari
ulang tahunnya,yaitu mendapatkan nomor Dimas,tapi sepertinya hal itu kini tidak
lagi menjadi istimewa.
“Kenapa kau baru memberikannya sekarang!,sudah
lama aku ingin memilikinya!hehehehe....!”
“Nomor Dimas?”
“Siapa lagi?”
“Kau sudah membuatku cemburu!,karena kau masih menyukai Dimas”
“Sudah malam,dan hapus sms terakhirmu!”
....
Tidak ada komentar :
Posting Komentar