.......
Jujur aku masih sangat sayang pada Dimas.keputusanku untuk berpisah dengan Dimas.adalah keputusan yang terpaksa.Dimas terus memintaku untuk putus.sudah beberapa kali Dimas memintaku untuk putus,tapi aku selalu menolaknya.sampai akhirnya aku jenuh dan kuputuskan kita berpisah.walau berat tetap aku menerimanya.dan sekarang setelah 3 bulan berpisah tiba tiba Dimas mengajaku untuk baikan.
Tapi entah mengapa hal yang selalu aku harapkan itu datang.tiba tiba menjadi biasa.atau aku sudah terbiasa menjalani waktuku tanpa Dimas.atau memang rasa cintaku untuknya sudah tak ada.walau ada tetapi tinggal sedikit.atau aku telah memiliki seseorang yang aku inginkan.
........
Aku berjalan menelusuri trotoar berjalan sendiri diteriknya matahari sore.panas sekali sore ini tak seperti biasanya.sayup sayup kulihat cowok itu masuk kedalam rumah yang aku tahu itu rumah pak Andi,Guru olahragaku.yang kebetulan dekat dengan rumahku.hanya berbeda 4 rumah.
Dengan langkah hati hati aku mendekati rumah itu dan tepat didepan rumah itu aku melihat cowok itu sedang mengobrol dengan pak Andi.penasaran.hal pertama yang membuat aku melakukan hal ini.diam diam aku mengendap endap masuk kedalam pekarangan rumah pak andi.
Hal yang tak biasa aku lakukan.dari balik jendela kuintip kedalam.kulihat cowok itu bercerita.terlihat dari mulutnya yang tak henti hentinya bergerak.dan beberapa hal yang janggal.matanya tampak merah seperti menangis dengan luka lebam dipipi kirinya.apa yang terjadi padanya?.apa dia baru berkelahi?.cemen amat.baru terluka dikit udah ngadu!.
Terlalu asyik menguping aku tak sadar.ibu Rima,istri pak Andi datang dan aku tak mengetahuinya.
"Dhea!kenapa diluar ayo masuk!"seru ibu Rima dengan nada tinggi yang mungkin mengganggu pak Andi dan cowok itu.
"Emmm...anu....mas Robbynya ada?"tanyaku cepat dalam mencari alasan.
"Oh Robby.Robby belum pulang.dia kan kuliah siang.mungkin nanti agak sore baru pulang!"jelas ibu Rima.
"Oh!"seruku sambil cengar cengir.
"Ada apa ini?ada tamu kok ga diajak masuk!"seru pak Andi yang sudah ada didepan pintu bersama cowok itu.
"Sore pak!"sapaku cengengesan.
"Ini loh pak Dhea mencari Robby!"seru ibu Rima.
"Iya pak tapi mas Robbynya belom pulang."jelasku.
"Pak!bu! saya pamit pulang."seru cowok itu memotong.
"Kok cepat cepat tidak nunggu Robby juga?"tanya ibu Rima.
"lain kali saja Bu!".jawabnya.
"Saya juga pamit bu!,bilangin ke mas Robby.aku pinjem bukunya!"celetuku asal.
Cowok itu meninggalkan rumah pak Andi lebih dulu dan aku menyusul di belakang.ternyata kami searah.tapi kok kita ga pernah ketemu ya.
"Hey!,tunggu!"panggilku sambil berjalan cepat untuk menyusul.cowok itu hanya menoleh dan kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
"Abis nangis ya?"tanyaku yang berhasil menyamai langkahnya.dengan cepat cowok itu berhenti dan menatapku marah.
"Bisa diem ga?.dan jangan nyebarin fitnah!"
"Kenyataannya.begitu kok fitnah".seruku.
"Oke!,gua jujur gua abis nangis.puas!"serunya yang kemudian melangkah pergi.
"Oke!diterima"seruku yang kembali mengejar cowok itu.
"Lalu luka itu?"tanyaku lagi.
"Gua udah jawab pertanyaan loe.jadi jangan tanya lagi!".serunya yang masih dan selalu ketus.
"Oke,depan rumahku.mau mampir?lukanya bakal tambah parah kalo ga diobatin.jadi tambah jelek tuh muka!"seruku panjang.
"Gua ga tahu maksud loe apa.tapi thanks dah.".katanya masih ketus.
"Jadi kasarnya kamu nolak!"tanyaku.
"Masuk gih itu rumah lne kan?"tanyanya ketus.
"Iya.mau mampir?"tanyaku.
"Thanks aja"serunya selalu ketus.aku tak menanyainya lagi dan melangkah menuju gerbang rumahku.
Tapi tiba tiba aku terhenti dan berbalik.dan kulihat dia masih berdiri ditempatnya.
"Tunggu sebentar disini aku ga akan lama!"seruku sambil cepat cepat masuk kedalam rumah.
Kulempar tas sembarang.aku segera berlari menuju dapur.kuambil beberapa balok es batu yang kecil.kumasukan kedalam kantong plastik.setelah itu kuambil kotak p3k.sebisa mungkin aku cepat.berharap dia tak pergi.dan untunglah dia tak pergi selama kedalam.dia memang benar benar tak pergi,bahkan berpindah dari tempatnyapun tidak.
"Ada apaan sih lama banget!".serunya ketus.
"Nih es batu biar ga bengkak.dan ini plester!"seruku sambil menyerahkan semua yang ku bawa padanya.dengan cepat dia mengambil yang kuberikan dan dengan cepat pergi.
"Thanks!"serunya.dan baru kali ini suaranya terdengar lembut.
"Oh ya thanks juga buat yang tadi,kamu udah nyelametin aku dari dimas!"seruku.dia tak menjawab tapi tersenyum.senyum yang baru aku lihat dari wajahnya yang selalu datar dan ketus.
........
Mas robby mendapatkan pesanku dari mamanya.hal itu terbukti dengan telepon mas Robby yang menyuruhku untuk datang ke rumahnya,untuk memilih sendiri buku yang aku inginkan.
Karena mas Robby tak tahu buku apa yang aku cari.jangankan mas Robby.akupun bingung buku apa yang ingin kupinjam.buku mas Robby kan punyanya buku pelajaran kuliah.malam malam aku harus joging menuju rumah mas Robby.
Dan benar saja.memang tak ada buku yang bisa aku pinjam dari mas Robby.karena bukunya yang tebal tebal adalah buku kuliahnya.aku memang tidak berniat untuk meminjam.jadi tanpa basa basi lagi aku pulang.dalam perjalanan pulang aku sengaja berjalan santai,agar tidak terlalu mengeluarkan keringat.kan ga enak malam malam kulit terasa lengket.aku berjalan santai menelusuri jalan yang sepi dan dari kejauhan aku melihat pedagang makanan.tanpa pikir panjang aku berlari menuju pedagang itu.kudekati pedagang itu dan ternyata itu pedagang jagung rebus dan kacang rebus.aku membeli beberapa ribu kacang.dan beberapa batang jagung.lumayan bisa untuk menemani membaca nanti.
Aku berjalan berbalik arah karena pedagang jagung itu berjualan jauh dari rumah.sepanjang perjalanan aku memakan kacang rebus itu sambil membuang kulitnya sembarang.
"Ga pernah diajarin buang sampah ya???"teriak seseorang dari belalang.aku menoleh dan kulihat cowok itu berdiri tak jauh dari tempatku berdiri.
"Maaf!"seruku.
.........
Aku mendekati cowok itu.entah darimana ia datang tiba tiba ada dibelakangku
"Eh kamu lagi ngapai sendirian malem malem?"tanyaku.
"Seharusnya gua yang tanya ngapain cewek jalan sendirian malam malam pake buang sampah sembarangan!"serunya ketus.
"biasa aja kali!seruku.
"Mau"tanyaku kemudian sambil mengarahkan kantong hitam yang ada ditanganku.yang berisi kacang dan jagung..
"Perlu loe tahu ya.yang loe makan itu lemak!"jelas dia
"So???"tanyaku.
"Ga papa!"serunya sambil mengambil mengambil segenggam kacang yang aku sodorkan.
"Thanks,mending sekarang loe pulang udah malem"serunya sambil pergi meninggalkanku dan duduk di trotoar.aku masih berdiri ditempatku kulihat dia duduk disana dan kemudian aku mendekatinya.
"Boleh gabung ga?"tanyaku sambil duduk tak jauh dari tempatnya.
"Loe rese ya!pulang ga?"serunya ketus dengan nada tinggi dan bangkit dari duduknya.
"Santai aja kali!"seruku dengan penekanan diakhir kalimat.
"Udah kita bisa ngobrol baik baik kan?"tanyaku lirih.
"Oke!loe mau ngobrol apa sama gua?"tanya cowok itu sambil duduk lagi ditempatnya.
"Sambil makan jagung dan kacang ya!"seruku sambil menyodorkan jagung,kacang diantara kami.
Awal awal aku tak tahu harus memulainya bagaimana.cowok itu terlalu pendiam diam dalam pikirannya karena ia tak memiliki apapun untuk menarik perhatiannya.
"Maaf sebelumnya tapi boleh tahu ga lebam itu karena apa?"tanyaku yang melihat pipinya diplester oleh plester yang aku berikan tadi siang.
Plester berwarna coklat dengan gambar kecil diujungnya.
"Ini urusan gua!"
"Aku kan cuma nanya?"seruku selembut mungkin.
"Aku tahu kamu pasti punya masalah dan asal kamu tahu.masalah itu jangan dipendam.karena bisa jadi penyakit.dan kalau kamu mau cerita aku bisa ngedengerin cerita kamu"jelasku mencoba terus membujuknya.untuk beberapa saat.
Suasana hening.cowok itu tak bersuara dan aku tak menanyakan apa apa lagi padanya.
"Gua lahir tanpa tahu kasih seperti apa ibu gua.seperti apa kasih sayang seorang ibu!.sementara dengan tiba tiba ayah saya memutuskan untuk menikah lagi.".
"Lalu??.kamu ga setuju dan kamu mendapatkan bogem mentah itu?"tanyaku sambil membuka kulit jagung.
"Mau aku kasih taht seperti apa seorang ibu itu?"tanyaku mencoba menghibur.
Cowok itu menatapku aneh membuatku risih."kayak apa dia?apa seperti di film film yang cuma akting.atau ibu tiri yang selalu kejam.seperti apa sosok ibu itu.gua ga pernah dapet kasih sayang seorang ibu.yang gua tahu cuma bapak yang selalu keras dalam mendidik"tanyanya penasaran dan seperti benar benar tak tahu sosok seperti apa ibu itu.
"Ibu itu adalah wanita paling sempurna dengan segala kekurangannya.seorang wanita merasa telah sempurna jika ia sudah mampu membangun rumah tangganya dan menjadi seorang ibu untuk anak anak yang dilahirkannya.seorang ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya.ibu adalah segalanya ibu tempat paling tepat untuk berbagi.tempat terbaik untuk menangis"jelasku yang hampir menangis.karena tiba tiba saja teringat dan rindu pada almarhum ibu.
"Kok loe nangis?"tanya cowok itu
"Aku sedih.aku keingetan almarhum ibuku!"seruku sesenggukan.
"Jangan nangis dong.malu tahu diliat orang.dikiranya gua ngapa ngapain loe lagi!".serunya dengan nada agak lembut.
"Apa ibu itu sempurna banget ya?"tanyanya.
"Sangat sempurna tapi juga rapuh!jadi sering kita denger, kebanyakan seorang perempuan disakiti secara fisik maupun perasaan.jangan bilang kalo kamu ga tahu cara memperlakukan seorang wanita?."tanyaku.
"Jujur gua ga tahu bagaimana sosok ibu!"serunya.
"Hargai perempuan jangan terlalu ketus sama perempuan."seruku sekaligus menyindir.sepanjang malam kami mengobrol menghabiskan jagung dan kacang rebus bersama.semalam itu aku itu aku menjadi tahu sisi lain seorang Yang tampak angkuh ketus itu ternyata ada sisi lembut dan juga rapuh.ia tak tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita jadi diapun tak tahu bagaimana nanti jadinya jika benar benar ia memiliki ibu tiri
".Ibu tiri ga semuanya kejam seperti di film film ataupu sinetron.paling engak ibu tiri tak sekejam ibu kota.
.........
Jujur aku masih sangat sayang pada Dimas.keputusanku untuk berpisah dengan Dimas.adalah keputusan yang terpaksa.Dimas terus memintaku untuk putus.sudah beberapa kali Dimas memintaku untuk putus,tapi aku selalu menolaknya.sampai akhirnya aku jenuh dan kuputuskan kita berpisah.walau berat tetap aku menerimanya.dan sekarang setelah 3 bulan berpisah tiba tiba Dimas mengajaku untuk baikan.
Tapi entah mengapa hal yang selalu aku harapkan itu datang.tiba tiba menjadi biasa.atau aku sudah terbiasa menjalani waktuku tanpa Dimas.atau memang rasa cintaku untuknya sudah tak ada.walau ada tetapi tinggal sedikit.atau aku telah memiliki seseorang yang aku inginkan.
........
Aku berjalan menelusuri trotoar berjalan sendiri diteriknya matahari sore.panas sekali sore ini tak seperti biasanya.sayup sayup kulihat cowok itu masuk kedalam rumah yang aku tahu itu rumah pak Andi,Guru olahragaku.yang kebetulan dekat dengan rumahku.hanya berbeda 4 rumah.
Dengan langkah hati hati aku mendekati rumah itu dan tepat didepan rumah itu aku melihat cowok itu sedang mengobrol dengan pak Andi.penasaran.hal pertama yang membuat aku melakukan hal ini.diam diam aku mengendap endap masuk kedalam pekarangan rumah pak andi.
Hal yang tak biasa aku lakukan.dari balik jendela kuintip kedalam.kulihat cowok itu bercerita.terlihat dari mulutnya yang tak henti hentinya bergerak.dan beberapa hal yang janggal.matanya tampak merah seperti menangis dengan luka lebam dipipi kirinya.apa yang terjadi padanya?.apa dia baru berkelahi?.cemen amat.baru terluka dikit udah ngadu!.
Terlalu asyik menguping aku tak sadar.ibu Rima,istri pak Andi datang dan aku tak mengetahuinya.
"Dhea!kenapa diluar ayo masuk!"seru ibu Rima dengan nada tinggi yang mungkin mengganggu pak Andi dan cowok itu.
"Emmm...anu....mas Robbynya ada?"tanyaku cepat dalam mencari alasan.
"Oh Robby.Robby belum pulang.dia kan kuliah siang.mungkin nanti agak sore baru pulang!"jelas ibu Rima.
"Oh!"seruku sambil cengar cengir.
"Ada apa ini?ada tamu kok ga diajak masuk!"seru pak Andi yang sudah ada didepan pintu bersama cowok itu.
"Sore pak!"sapaku cengengesan.
"Ini loh pak Dhea mencari Robby!"seru ibu Rima.
"Iya pak tapi mas Robbynya belom pulang."jelasku.
"Pak!bu! saya pamit pulang."seru cowok itu memotong.
"Kok cepat cepat tidak nunggu Robby juga?"tanya ibu Rima.
"lain kali saja Bu!".jawabnya.
"Saya juga pamit bu!,bilangin ke mas Robby.aku pinjem bukunya!"celetuku asal.
Cowok itu meninggalkan rumah pak Andi lebih dulu dan aku menyusul di belakang.ternyata kami searah.tapi kok kita ga pernah ketemu ya.
"Hey!,tunggu!"panggilku sambil berjalan cepat untuk menyusul.cowok itu hanya menoleh dan kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
"Abis nangis ya?"tanyaku yang berhasil menyamai langkahnya.dengan cepat cowok itu berhenti dan menatapku marah.
"Bisa diem ga?.dan jangan nyebarin fitnah!"
"Kenyataannya.begitu kok fitnah".seruku.
"Oke!,gua jujur gua abis nangis.puas!"serunya yang kemudian melangkah pergi.
"Oke!diterima"seruku yang kembali mengejar cowok itu.
"Lalu luka itu?"tanyaku lagi.
"Gua udah jawab pertanyaan loe.jadi jangan tanya lagi!".serunya yang masih dan selalu ketus.
"Oke,depan rumahku.mau mampir?lukanya bakal tambah parah kalo ga diobatin.jadi tambah jelek tuh muka!"seruku panjang.
"Gua ga tahu maksud loe apa.tapi thanks dah.".katanya masih ketus.
"Jadi kasarnya kamu nolak!"tanyaku.
"Masuk gih itu rumah lne kan?"tanyanya ketus.
"Iya.mau mampir?"tanyaku.
"Thanks aja"serunya selalu ketus.aku tak menanyainya lagi dan melangkah menuju gerbang rumahku.
Tapi tiba tiba aku terhenti dan berbalik.dan kulihat dia masih berdiri ditempatnya.
"Tunggu sebentar disini aku ga akan lama!"seruku sambil cepat cepat masuk kedalam rumah.
Kulempar tas sembarang.aku segera berlari menuju dapur.kuambil beberapa balok es batu yang kecil.kumasukan kedalam kantong plastik.setelah itu kuambil kotak p3k.sebisa mungkin aku cepat.berharap dia tak pergi.dan untunglah dia tak pergi selama kedalam.dia memang benar benar tak pergi,bahkan berpindah dari tempatnyapun tidak.
"Ada apaan sih lama banget!".serunya ketus.
"Nih es batu biar ga bengkak.dan ini plester!"seruku sambil menyerahkan semua yang ku bawa padanya.dengan cepat dia mengambil yang kuberikan dan dengan cepat pergi.
"Thanks!"serunya.dan baru kali ini suaranya terdengar lembut.
"Oh ya thanks juga buat yang tadi,kamu udah nyelametin aku dari dimas!"seruku.dia tak menjawab tapi tersenyum.senyum yang baru aku lihat dari wajahnya yang selalu datar dan ketus.
........
Mas robby mendapatkan pesanku dari mamanya.hal itu terbukti dengan telepon mas Robby yang menyuruhku untuk datang ke rumahnya,untuk memilih sendiri buku yang aku inginkan.
Karena mas Robby tak tahu buku apa yang aku cari.jangankan mas Robby.akupun bingung buku apa yang ingin kupinjam.buku mas Robby kan punyanya buku pelajaran kuliah.malam malam aku harus joging menuju rumah mas Robby.
Dan benar saja.memang tak ada buku yang bisa aku pinjam dari mas Robby.karena bukunya yang tebal tebal adalah buku kuliahnya.aku memang tidak berniat untuk meminjam.jadi tanpa basa basi lagi aku pulang.dalam perjalanan pulang aku sengaja berjalan santai,agar tidak terlalu mengeluarkan keringat.kan ga enak malam malam kulit terasa lengket.aku berjalan santai menelusuri jalan yang sepi dan dari kejauhan aku melihat pedagang makanan.tanpa pikir panjang aku berlari menuju pedagang itu.kudekati pedagang itu dan ternyata itu pedagang jagung rebus dan kacang rebus.aku membeli beberapa ribu kacang.dan beberapa batang jagung.lumayan bisa untuk menemani membaca nanti.
Aku berjalan berbalik arah karena pedagang jagung itu berjualan jauh dari rumah.sepanjang perjalanan aku memakan kacang rebus itu sambil membuang kulitnya sembarang.
"Ga pernah diajarin buang sampah ya???"teriak seseorang dari belalang.aku menoleh dan kulihat cowok itu berdiri tak jauh dari tempatku berdiri.
"Maaf!"seruku.
.........
Aku mendekati cowok itu.entah darimana ia datang tiba tiba ada dibelakangku
"Eh kamu lagi ngapai sendirian malem malem?"tanyaku.
"Seharusnya gua yang tanya ngapain cewek jalan sendirian malam malam pake buang sampah sembarangan!"serunya ketus.
"biasa aja kali!seruku.
"Mau"tanyaku kemudian sambil mengarahkan kantong hitam yang ada ditanganku.yang berisi kacang dan jagung..
"Perlu loe tahu ya.yang loe makan itu lemak!"jelas dia
"So???"tanyaku.
"Ga papa!"serunya sambil mengambil mengambil segenggam kacang yang aku sodorkan.
"Thanks,mending sekarang loe pulang udah malem"serunya sambil pergi meninggalkanku dan duduk di trotoar.aku masih berdiri ditempatku kulihat dia duduk disana dan kemudian aku mendekatinya.
"Boleh gabung ga?"tanyaku sambil duduk tak jauh dari tempatnya.
"Loe rese ya!pulang ga?"serunya ketus dengan nada tinggi dan bangkit dari duduknya.
"Santai aja kali!"seruku dengan penekanan diakhir kalimat.
"Udah kita bisa ngobrol baik baik kan?"tanyaku lirih.
"Oke!loe mau ngobrol apa sama gua?"tanya cowok itu sambil duduk lagi ditempatnya.
"Sambil makan jagung dan kacang ya!"seruku sambil menyodorkan jagung,kacang diantara kami.
Awal awal aku tak tahu harus memulainya bagaimana.cowok itu terlalu pendiam diam dalam pikirannya karena ia tak memiliki apapun untuk menarik perhatiannya.
"Maaf sebelumnya tapi boleh tahu ga lebam itu karena apa?"tanyaku yang melihat pipinya diplester oleh plester yang aku berikan tadi siang.
Plester berwarna coklat dengan gambar kecil diujungnya.
"Ini urusan gua!"
"Aku kan cuma nanya?"seruku selembut mungkin.
"Aku tahu kamu pasti punya masalah dan asal kamu tahu.masalah itu jangan dipendam.karena bisa jadi penyakit.dan kalau kamu mau cerita aku bisa ngedengerin cerita kamu"jelasku mencoba terus membujuknya.untuk beberapa saat.
Suasana hening.cowok itu tak bersuara dan aku tak menanyakan apa apa lagi padanya.
"Gua lahir tanpa tahu kasih seperti apa ibu gua.seperti apa kasih sayang seorang ibu!.sementara dengan tiba tiba ayah saya memutuskan untuk menikah lagi.".
"Lalu??.kamu ga setuju dan kamu mendapatkan bogem mentah itu?"tanyaku sambil membuka kulit jagung.
"Mau aku kasih taht seperti apa seorang ibu itu?"tanyaku mencoba menghibur.
Cowok itu menatapku aneh membuatku risih."kayak apa dia?apa seperti di film film yang cuma akting.atau ibu tiri yang selalu kejam.seperti apa sosok ibu itu.gua ga pernah dapet kasih sayang seorang ibu.yang gua tahu cuma bapak yang selalu keras dalam mendidik"tanyanya penasaran dan seperti benar benar tak tahu sosok seperti apa ibu itu.
"Ibu itu adalah wanita paling sempurna dengan segala kekurangannya.seorang wanita merasa telah sempurna jika ia sudah mampu membangun rumah tangganya dan menjadi seorang ibu untuk anak anak yang dilahirkannya.seorang ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya.ibu adalah segalanya ibu tempat paling tepat untuk berbagi.tempat terbaik untuk menangis"jelasku yang hampir menangis.karena tiba tiba saja teringat dan rindu pada almarhum ibu.
"Kok loe nangis?"tanya cowok itu
"Aku sedih.aku keingetan almarhum ibuku!"seruku sesenggukan.
"Jangan nangis dong.malu tahu diliat orang.dikiranya gua ngapa ngapain loe lagi!".serunya dengan nada agak lembut.
"Apa ibu itu sempurna banget ya?"tanyanya.
"Sangat sempurna tapi juga rapuh!jadi sering kita denger, kebanyakan seorang perempuan disakiti secara fisik maupun perasaan.jangan bilang kalo kamu ga tahu cara memperlakukan seorang wanita?."tanyaku.
"Jujur gua ga tahu bagaimana sosok ibu!"serunya.
"Hargai perempuan jangan terlalu ketus sama perempuan."seruku sekaligus menyindir.sepanjang malam kami mengobrol menghabiskan jagung dan kacang rebus bersama.semalam itu aku itu aku menjadi tahu sisi lain seorang Yang tampak angkuh ketus itu ternyata ada sisi lembut dan juga rapuh.ia tak tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita jadi diapun tak tahu bagaimana nanti jadinya jika benar benar ia memiliki ibu tiri
".Ibu tiri ga semuanya kejam seperti di film film ataupu sinetron.paling engak ibu tiri tak sekejam ibu kota.
.........