...........
Menjelang malam hujan turun rintik rintik dan kemudian menjadi besar.dirumah Bian hanya bertiga antara Bian,Rere dan Brunie.sementara ibu Dian belum pulang dari kantornya..
"Halo!,mama?udah malam kok belum pulang?"tanya Bian yang menghubungi mamanya via telepon.
"Maaf Bian mama lagi meeting di kantor"jelas ibu Dian.
"Jadi mama pulang kapan?"tanya Bian tampak emosi.
"Sepertinya agak malam.kamu kan biasa dirumah sendiri.ga perlu nunggu mama.!"jelas ibu Dian.
"Masalahnya mbak Rere belum pulang.disini ujan!"seru Bian dengan nada berbisik.
"Ya kamu anterin dong,Ian!"seru ibu Dian."males ma.diluar ujan.Bian ga mau ujan ujanan."seru Bian beralasan.
"Kalau begitu telepon taksi!"perintah ibu Dian.
"Ya ya!"seru Bian sewot.
Bian mematikan teleponnya.dan kemudian ia keluar dari kamarnya.dilihatnya Brunie tergeletak didepan pintu keluar.dan Rere duduk manis diruang tamu.
"Bian saya harus pulang!"seru Rere yang langsung bangkit ketika Bian keluar dari kamarnya.
"Ga liat diluar masih ujan?"seru Bian.
"Brunie...Brunie...!"panggil Bian maja.dengan cepat Brunie berlari menuju Bian dan Bian segera menggendongnya.
Kemudian Bian duduk tak jauh dari Rere duduk.dan dengan seketika Rere menjauhkan diri.
"Maaf mbak Rere takut Brunie ya?"seru Bian.
"Cuma geli!"jawab Rere meralat.
"Kenapa mbak Rere takut kucing?"tanya Bian membuka obrolan.
"Saya geli dengan bulunya.!"jawab Rere.
Bian mengobrol dengan Rere panjang lebar tak hanya soal kucing.teman teman keluarga dan hal yang lainnya
."Kalau boleh tahu Brunie itu jantan apa betina?"tanya Rere.
Mata Bian terbelalak dan berfikir.
"Ga tahu belom pernah liat!"seru Bian yang mengundang tawa.
"Kalau begitu Brunie berarti banget buat kamu?"tanya Rere.
"Tentu.kalau seandainya aku disuruh milih untuk pisah dari Brunie atau mutusin pacar.aku mending mutusin pacar."seru Bian.
"Walaupun perempuan yang kamu sayang ga suka kucing?"tanya Rere.
"Apapun!"seru Bian tegas.
"Siapa yang memberikan Brunie sama kamu?".
"Aku kasih tahu,mbak Rere ga akan tahu!".
"oh!".
.............
Saat hujan mulai surut Bian mau tidak mau harus mengantarkan Rere pulang walau Rere menolak.tapi Btak menghiraukan.hal itu disebabkan karena telepon ibu Dian yang memaksanya.
"Aku lapar!kita makan dulu ya!"seru Bian sambil menepikan motornya di dekat tukang nasi goreng.
Rere turun dan kemudian Bian.
"Mau makan ga?"tanya Bian sebelum masuk kedalam kedai.
"Tidak terima kasih!"jawab Rere.
"Masa sih ga laper?"ledek Bian.
Bian tahu pasti Rere lapar seperti halnya dia yang sejak tadi siang hanya minum.
"Bener nih ga mau?"tanya Bian lagi
"Mas dua dibungkus ya!"seru Bian pada tukang nasi goreng.
"Kamu ga jadi makan?"tanya Rere.
"Ga enak bawa temen tapi makan sendirian."jawab Bian.
"Saya punya alasan untuk menolak ajakan kamu!"seru Rere.
"Saya tahu alasannya.mbak Rere menolak karena takut traktiran ini dipotong gaji mbak Rere mengajar saya!"jelas Bian.
Rere tersenyum
"Bukan itu Bian!"seru Rere yang masih tersenyum.
"Lalu apa?"tanya Bian ingin tahu.
"Nanti kamu juga tahu!"seru Rere.
"Siapa yang mau tahu urusan situ!"gumam Bian dalam hati.
Setelah pesanannya datang Bian kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Rere.
Reberapa saat berlalu dan motor Bian sampai di gang menuju rumah Rere.
"Rumah mbak Rere dimana?"tanya Bian.
"Ada didekan sini!.kamu mau mampir Bian?"tanya Rere menawarkan.
"Ga deh makasih udah malam juga.nih nasi gorengnya!"seru Bian sambil memberikan bungkusan nasi gorengnya pada Rere.
"Inikan buat kamu!"seru Rere.
"Saya bisa beli lagi"seru Bian yang cepat cepat menggas motornya dan pergi.
...........
Sampainya dirumah Bian bertemu dengan ibunya yang sudah pulang.
"Mama udah pulang?.udah lama,ma?"tanya Bian.
"Baru aja.kamu udah makan,Ian?".tanya ibu Dian perhatian.
"Belom,tadi Bian beli nasi goreng.Rere aku ajak makan ga mau.aku bungkusin tapi males makan jadi aku kasih ke Rere semua."jelas Bian.
"Pake mbak kalau panggil Rere.dia lebih tua dari kamu."seru ibu Dian menjelaskan.
"Kamu beli nasi goreng cuma 2 bungkus?"tanya ibu Dian kemudian.
"Iya.emang kenapa?mama marah ya.ini Bian yang beliin kok.pake duit Bian.jangan marah ya!"seru Bian mewanti wanti.
"Bukan itu Bian.kamu ga tahu.Rere itu tinggal dipanti asuhan.masa kamu beli cuma 2 bungkus.kurang atuh."seru ibu Dian menjelaskan.
"Panti asuhan?.kurang dong?.jadi itu alasan kenapa Rere ga mau makan."gumam Bian dalam hati.
"Bian,kamu jadi mau makan apa?"tanya ibu Dian.
"Apa aja!"seru Bian yang kemudian duduk dan dengan cepat Brunie duduk pangkuan Bian.
"Brunie,kamu cewek apa cowok sih aku kok ga tahu?"seru Bian sambil memperhatikan Brunie.
..........
Bian duduk merenung diatas gedung tertinggi sekolah.ditatapnya kebawah beberapa anak masih bersliweran hilir mudik masuk dan keluar gedung sekolah.untuk mengikuti ekskul sekolah.sambil memeluk kakinya Bian duduk diujung gedung.matanya menyipit memandang sembarang.
"Kenapa harus seperti ini?.apa salah kalau cowok setia?apa aku sangat membosankan?.sampai sampai harus mereka yang mutusin aku?"seru Bian dalam hati yang meratapi nasibnya yang baru diputusin Aulia.
"Males pulang.nginep disini aja kali ya??"seru Bian sambil merebahkan tubuhnya dan membiarkan terterpa angin.
"Aku ga mau pulang."seru Bian yang kemudian memejamkan mata.
............
"Bian kemana sih,tumben tumbenannya ga ikut basket!"keluh Bias ketus.
"Biasanya paling semangat.malahan kalo perlu ampe malem,biar ga ketemu guru lesnya!"sambung Arif.
"Lagi menyendiri kali.diakan baru patah hati!"seru Toro yang membuat mata tertuju padanya.
"Maksud kamu apa,Tor?tanya Dias penasaran.
"Kalian ga tahu.kenapa kemaren Bian pulang ga bilang bilang karena apa?."tanya Toro.
Arif dan Dias menggeleng hampir bersamaan.
"Emang kenapa?."tanya Dias kemudian.
"Aulia mutusin Bian!"seru Toro tegas.
"Mampus kita!"seru Arif sambil mengepalkan tangannya.
"Kalian ingetkan waktu Bian putus dari Vina.sensitifnya setengah mampus.bawaannya marah melulu.kayak cewek lagi dateng bulan.!"cerita Arif.
"Wah PR buat kita nih.kalian tahu kan si Bian itu gimana?.cowok kayak cewek.manja,lembut.untung aja gayanya ga alay kayak bencong.hey boo.eke cuco ga?"seru Dias menirukan gaya bencong.
"Jangan begitu dong.biar bagaimanapun dia temen baik kita.tanpa dia kita ga dapet gratisan."seru Toro
"Jadi kita harus apa nih?"tanya Arif.memandang kedua temannya.
"Cariin pacar baru buat Bian.paling enggak supaya dia ga jadi pemarah aja!"seru Dias memberi saran.
"Kok seolah olah Bian ga bisa idup tanpa cewek ya?"celetuk Toro.
"Dan untuk kali ini kita harus buat Bian sendiri yang nyatain cinta.jangan ceweknya terus.emansipasi si emansipasi.tapi kalo kayak gitu terus harga diri kita sebagai cowok bisa turun!"tambah Toro.
"Setuju 1000 % aku setuju banget.masa pacaran 2 kali ceweknya terus yang nembak.untung Bian cakep,banyak penggemarnya."seru Dias.
"Ya itukan karena Vina dan Aulia emang ceweknya rada agresif dan emang mereka sama sama suka.nah kalau seandainya next ceweknya kalem.Biannya kalem.kapan mereka jadiannya.apa perlu kita bantuin nembaknya?"tanya Dias.
"Udah maen yuk.bian ga ikut kali!!"seru Arif sambil mengdribel bola dan menggiring bola ketengah lapangan menemui teman yang lainnya.
.............
Bian terbangun saat titik titik hujan jatuh diatas wajahnya.Bian terkejut saat melihat langit yang ada diatasnya telah berubah warna menjadi hitam,gelap
.Bian cepat cepat bangun dan mencari tempat untuk berteduh,saat titik titik hujan itu menjadi besar.
"Gila gua ketiduran.jam berapa nih?"seru Bian sambil menilik jam tangannya.
"Apa jam delapan!"teriak Bian terkejut.
Bian menunggu sampai hujan mereda.namun tetap saja tubuhnya terkena hujan karena hujan datang bersama angin.
"Aku harus pulang!"seru Bian yang kemudian berlari menuju pintu keluar.sambil berbasah basahan.
Bian menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan hampir berlari.beberapa menit kemudian Bian sudah sampai di parkiran dan suasana sudah sangat sepi.hanya penjaga sekolah dan satpam yang menjaga motornya.
"Mas kirain mau dititipin!"teriak satpam sekolah dari posnya.
"Ga pak!,makasih ya!"seru Bian sambil mengegas motornya dan pergi.spido meter yang ditunjukan oleh motor Bian diatas rata rata.
Bian mengebut menebus derasnya hujan agar cepat sampai kerumah.
"Mudah mudahan dia masih ada!"gumam Bian dalam hati.
Motor Bian sedikit melambat saat memasuki ga rumahnya.dari kejauhan dilihatnya sayup sayup sebuah payung terbuka dan seseorang berdiri di dalamnya.Bian menghentikan motornya tepat disamping orang yang berpayung itu.
"mbak Rere belum pulang?"tanya Bian setelah membuka helmnya.
"Iya,Bian ini sudah malam.toh kamu juga ga ada semangat untuk belajar.
"saya minta maaf!.saya lupa!"seru Bian memelas.
"Kamu udah sering minta maaf Bian atas keterlambatanmu itu!"seru Rere.
"Tapi yang ini bener.dan lagipula sekarang masih ujan!"seru Bian mengingatkan.
"Sebaiknya kamu masuk dan ganti baju supaya kamu tidak sakit dan membuat mama kamu cemas!"seru Rere lagi.
"Mama belum pulang?"tanya Bian tampak terkejut.
"Jadi dari tadi sore mbak Rere nungguin diluar?"tanya Bian memastikan.
"Kenapa mbak Rere ga telepon aku?.dan mama juga ga telepon aku!"seru Bian tampak kesal
"Seperti biasa saya menghubungi kamu.bukan jaringan sibuk seperti biasanya.tapi nomor kamu tidak dapat dihubungi"jelas Rere
"Bian cepat cepat mengambil hpnya dari dalam kantong celananya yang basah.
"Hpku mati"seru Bian.
"Mbak,aku minta waktu sebentar nanti aku antar pulang.paling tidak aku punya alasan ke mama kalau aku bertemu mbak Rere hari ini"seru Bian sambil turun dari motornya.
"Rere menuruti permintaan bian dan mereka kembali kerumah Bian.
............
Menjelang malam hujan turun rintik rintik dan kemudian menjadi besar.dirumah Bian hanya bertiga antara Bian,Rere dan Brunie.sementara ibu Dian belum pulang dari kantornya..
"Halo!,mama?udah malam kok belum pulang?"tanya Bian yang menghubungi mamanya via telepon.
"Maaf Bian mama lagi meeting di kantor"jelas ibu Dian.
"Jadi mama pulang kapan?"tanya Bian tampak emosi.
"Sepertinya agak malam.kamu kan biasa dirumah sendiri.ga perlu nunggu mama.!"jelas ibu Dian.
"Masalahnya mbak Rere belum pulang.disini ujan!"seru Bian dengan nada berbisik.
"Ya kamu anterin dong,Ian!"seru ibu Dian."males ma.diluar ujan.Bian ga mau ujan ujanan."seru Bian beralasan.
"Kalau begitu telepon taksi!"perintah ibu Dian.
"Ya ya!"seru Bian sewot.
Bian mematikan teleponnya.dan kemudian ia keluar dari kamarnya.dilihatnya Brunie tergeletak didepan pintu keluar.dan Rere duduk manis diruang tamu.
"Bian saya harus pulang!"seru Rere yang langsung bangkit ketika Bian keluar dari kamarnya.
"Ga liat diluar masih ujan?"seru Bian.
"Brunie...Brunie...!"panggil Bian maja.dengan cepat Brunie berlari menuju Bian dan Bian segera menggendongnya.
Kemudian Bian duduk tak jauh dari Rere duduk.dan dengan seketika Rere menjauhkan diri.
"Maaf mbak Rere takut Brunie ya?"seru Bian.
"Cuma geli!"jawab Rere meralat.
"Kenapa mbak Rere takut kucing?"tanya Bian membuka obrolan.
"Saya geli dengan bulunya.!"jawab Rere.
Bian mengobrol dengan Rere panjang lebar tak hanya soal kucing.teman teman keluarga dan hal yang lainnya
."Kalau boleh tahu Brunie itu jantan apa betina?"tanya Rere.
Mata Bian terbelalak dan berfikir.
"Ga tahu belom pernah liat!"seru Bian yang mengundang tawa.
"Kalau begitu Brunie berarti banget buat kamu?"tanya Rere.
"Tentu.kalau seandainya aku disuruh milih untuk pisah dari Brunie atau mutusin pacar.aku mending mutusin pacar."seru Bian.
"Walaupun perempuan yang kamu sayang ga suka kucing?"tanya Rere.
"Apapun!"seru Bian tegas.
"Siapa yang memberikan Brunie sama kamu?".
"Aku kasih tahu,mbak Rere ga akan tahu!".
"oh!".
.............
Saat hujan mulai surut Bian mau tidak mau harus mengantarkan Rere pulang walau Rere menolak.tapi Btak menghiraukan.hal itu disebabkan karena telepon ibu Dian yang memaksanya.
"Aku lapar!kita makan dulu ya!"seru Bian sambil menepikan motornya di dekat tukang nasi goreng.
Rere turun dan kemudian Bian.
"Mau makan ga?"tanya Bian sebelum masuk kedalam kedai.
"Tidak terima kasih!"jawab Rere.
"Masa sih ga laper?"ledek Bian.
Bian tahu pasti Rere lapar seperti halnya dia yang sejak tadi siang hanya minum.
"Bener nih ga mau?"tanya Bian lagi
"Mas dua dibungkus ya!"seru Bian pada tukang nasi goreng.
"Kamu ga jadi makan?"tanya Rere.
"Ga enak bawa temen tapi makan sendirian."jawab Bian.
"Saya punya alasan untuk menolak ajakan kamu!"seru Rere.
"Saya tahu alasannya.mbak Rere menolak karena takut traktiran ini dipotong gaji mbak Rere mengajar saya!"jelas Bian.
Rere tersenyum
"Bukan itu Bian!"seru Rere yang masih tersenyum.
"Lalu apa?"tanya Bian ingin tahu.
"Nanti kamu juga tahu!"seru Rere.
"Siapa yang mau tahu urusan situ!"gumam Bian dalam hati.
Setelah pesanannya datang Bian kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Rere.
Reberapa saat berlalu dan motor Bian sampai di gang menuju rumah Rere.
"Rumah mbak Rere dimana?"tanya Bian.
"Ada didekan sini!.kamu mau mampir Bian?"tanya Rere menawarkan.
"Ga deh makasih udah malam juga.nih nasi gorengnya!"seru Bian sambil memberikan bungkusan nasi gorengnya pada Rere.
"Inikan buat kamu!"seru Rere.
"Saya bisa beli lagi"seru Bian yang cepat cepat menggas motornya dan pergi.
...........
Sampainya dirumah Bian bertemu dengan ibunya yang sudah pulang.
"Mama udah pulang?.udah lama,ma?"tanya Bian.
"Baru aja.kamu udah makan,Ian?".tanya ibu Dian perhatian.
"Belom,tadi Bian beli nasi goreng.Rere aku ajak makan ga mau.aku bungkusin tapi males makan jadi aku kasih ke Rere semua."jelas Bian.
"Pake mbak kalau panggil Rere.dia lebih tua dari kamu."seru ibu Dian menjelaskan.
"Kamu beli nasi goreng cuma 2 bungkus?"tanya ibu Dian kemudian.
"Iya.emang kenapa?mama marah ya.ini Bian yang beliin kok.pake duit Bian.jangan marah ya!"seru Bian mewanti wanti.
"Bukan itu Bian.kamu ga tahu.Rere itu tinggal dipanti asuhan.masa kamu beli cuma 2 bungkus.kurang atuh."seru ibu Dian menjelaskan.
"Panti asuhan?.kurang dong?.jadi itu alasan kenapa Rere ga mau makan."gumam Bian dalam hati.
"Bian,kamu jadi mau makan apa?"tanya ibu Dian.
"Apa aja!"seru Bian yang kemudian duduk dan dengan cepat Brunie duduk pangkuan Bian.
"Brunie,kamu cewek apa cowok sih aku kok ga tahu?"seru Bian sambil memperhatikan Brunie.
..........
Bian duduk merenung diatas gedung tertinggi sekolah.ditatapnya kebawah beberapa anak masih bersliweran hilir mudik masuk dan keluar gedung sekolah.untuk mengikuti ekskul sekolah.sambil memeluk kakinya Bian duduk diujung gedung.matanya menyipit memandang sembarang.
"Kenapa harus seperti ini?.apa salah kalau cowok setia?apa aku sangat membosankan?.sampai sampai harus mereka yang mutusin aku?"seru Bian dalam hati yang meratapi nasibnya yang baru diputusin Aulia.
"Males pulang.nginep disini aja kali ya??"seru Bian sambil merebahkan tubuhnya dan membiarkan terterpa angin.
"Aku ga mau pulang."seru Bian yang kemudian memejamkan mata.
............
"Bian kemana sih,tumben tumbenannya ga ikut basket!"keluh Bias ketus.
"Biasanya paling semangat.malahan kalo perlu ampe malem,biar ga ketemu guru lesnya!"sambung Arif.
"Lagi menyendiri kali.diakan baru patah hati!"seru Toro yang membuat mata tertuju padanya.
"Maksud kamu apa,Tor?tanya Dias penasaran.
"Kalian ga tahu.kenapa kemaren Bian pulang ga bilang bilang karena apa?."tanya Toro.
Arif dan Dias menggeleng hampir bersamaan.
"Emang kenapa?."tanya Dias kemudian.
"Aulia mutusin Bian!"seru Toro tegas.
"Mampus kita!"seru Arif sambil mengepalkan tangannya.
"Kalian ingetkan waktu Bian putus dari Vina.sensitifnya setengah mampus.bawaannya marah melulu.kayak cewek lagi dateng bulan.!"cerita Arif.
"Wah PR buat kita nih.kalian tahu kan si Bian itu gimana?.cowok kayak cewek.manja,lembut.untung aja gayanya ga alay kayak bencong.hey boo.eke cuco ga?"seru Dias menirukan gaya bencong.
"Jangan begitu dong.biar bagaimanapun dia temen baik kita.tanpa dia kita ga dapet gratisan."seru Toro
"Jadi kita harus apa nih?"tanya Arif.memandang kedua temannya.
"Cariin pacar baru buat Bian.paling enggak supaya dia ga jadi pemarah aja!"seru Dias memberi saran.
"Kok seolah olah Bian ga bisa idup tanpa cewek ya?"celetuk Toro.
"Dan untuk kali ini kita harus buat Bian sendiri yang nyatain cinta.jangan ceweknya terus.emansipasi si emansipasi.tapi kalo kayak gitu terus harga diri kita sebagai cowok bisa turun!"tambah Toro.
"Setuju 1000 % aku setuju banget.masa pacaran 2 kali ceweknya terus yang nembak.untung Bian cakep,banyak penggemarnya."seru Dias.
"Ya itukan karena Vina dan Aulia emang ceweknya rada agresif dan emang mereka sama sama suka.nah kalau seandainya next ceweknya kalem.Biannya kalem.kapan mereka jadiannya.apa perlu kita bantuin nembaknya?"tanya Dias.
"Udah maen yuk.bian ga ikut kali!!"seru Arif sambil mengdribel bola dan menggiring bola ketengah lapangan menemui teman yang lainnya.
.............
Bian terbangun saat titik titik hujan jatuh diatas wajahnya.Bian terkejut saat melihat langit yang ada diatasnya telah berubah warna menjadi hitam,gelap
.Bian cepat cepat bangun dan mencari tempat untuk berteduh,saat titik titik hujan itu menjadi besar.
"Gila gua ketiduran.jam berapa nih?"seru Bian sambil menilik jam tangannya.
"Apa jam delapan!"teriak Bian terkejut.
Bian menunggu sampai hujan mereda.namun tetap saja tubuhnya terkena hujan karena hujan datang bersama angin.
"Aku harus pulang!"seru Bian yang kemudian berlari menuju pintu keluar.sambil berbasah basahan.
Bian menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan hampir berlari.beberapa menit kemudian Bian sudah sampai di parkiran dan suasana sudah sangat sepi.hanya penjaga sekolah dan satpam yang menjaga motornya.
"Mas kirain mau dititipin!"teriak satpam sekolah dari posnya.
"Ga pak!,makasih ya!"seru Bian sambil mengegas motornya dan pergi.spido meter yang ditunjukan oleh motor Bian diatas rata rata.
Bian mengebut menebus derasnya hujan agar cepat sampai kerumah.
"Mudah mudahan dia masih ada!"gumam Bian dalam hati.
Motor Bian sedikit melambat saat memasuki ga rumahnya.dari kejauhan dilihatnya sayup sayup sebuah payung terbuka dan seseorang berdiri di dalamnya.Bian menghentikan motornya tepat disamping orang yang berpayung itu.
"mbak Rere belum pulang?"tanya Bian setelah membuka helmnya.
"Iya,Bian ini sudah malam.toh kamu juga ga ada semangat untuk belajar.
"saya minta maaf!.saya lupa!"seru Bian memelas.
"Kamu udah sering minta maaf Bian atas keterlambatanmu itu!"seru Rere.
"Tapi yang ini bener.dan lagipula sekarang masih ujan!"seru Bian mengingatkan.
"Sebaiknya kamu masuk dan ganti baju supaya kamu tidak sakit dan membuat mama kamu cemas!"seru Rere lagi.
"Mama belum pulang?"tanya Bian tampak terkejut.
"Jadi dari tadi sore mbak Rere nungguin diluar?"tanya Bian memastikan.
"Kenapa mbak Rere ga telepon aku?.dan mama juga ga telepon aku!"seru Bian tampak kesal
"Seperti biasa saya menghubungi kamu.bukan jaringan sibuk seperti biasanya.tapi nomor kamu tidak dapat dihubungi"jelas Rere
"Bian cepat cepat mengambil hpnya dari dalam kantong celananya yang basah.
"Hpku mati"seru Bian.
"Mbak,aku minta waktu sebentar nanti aku antar pulang.paling tidak aku punya alasan ke mama kalau aku bertemu mbak Rere hari ini"seru Bian sambil turun dari motornya.
"Rere menuruti permintaan bian dan mereka kembali kerumah Bian.
............
Tidak ada komentar :
Posting Komentar