Senin, 04 November 2013

PACARI AKU DONG ,MBAK! Parts 05

.............
    Kedatangan Rere dan Bian disambut para penghuni panti dengan raut beragam,tapi dalam tujuan yang sama.heran dan penasaran.karena Rere datang dengan orang asing yang mengantarnya.bukan seperti biasanya tukang ojek langganan atau tukang becak langganan.dan bisik bisik antar penghuni pantipun terjadi.
"Siapa dia?".
"Pacar baru kak Rere?"
."Penghuni baru panti?".
"Atau tukang ojek yang baru?".
    Pertanyaan itu muncul dibenak masing masing para penghuni panti.sambil mengangkat hampir semua belanjaan Bian berjalan dibelakang Rere yang lebih dulu berjalan sambil membawa tentengan.
"Mereka kok ngeliatinnya aneh banget?"tanya bian sambil berbisik pada Rere.
  Rere tak menghiraukan ucapan Bian.
 "Mereka mungkin kaget liat teman mereka terlalu tua!"seru Rere dengan nada meledek.
 "Paling enggak lebih tua dari mbak Rere!"celetuk Bian tak mau kalah.Rere tak menjawab ledekan Bian tapi wajahnya tampak cemberut tanda tak senang dengan ledekan Bian.
 "Ayo anak anak bantu kakak.ambil belanjaan kalian di mas mas itu!"seru Rere dengan nada datar.dan dengan cepat anak anak mengambil barang belanjaan yang dibawa Bian.
 "Udah biar kaka aja yang bawa!"seru Bian.
 "Udah Bian kasih ke anak anak!"seru Rere dengan nada yang sangat Bian kenal.yang menandakan bahwa dia sedang kesal padanya.seperti saat saat Rere kesal padanya waktu les private.
 "Ya ya!"seru Bian kesal.
 "Kakak namanya siapa?"tanya seorang penghuni panti.seorang anak lelaki yang usianya kira kira 6 tahun
 .Bian berjongkok,menyamakan posisinya dengan anak kecil itu.
 "Nama kakak Bian,nama kamu siapa?"tanya Bian sambil menjabat tangan anak kecil itu.
 "wisnu!". Jawab anak itu polos
...............
    Ditaman belakang Bian berbincang bincang dengan pengurus panti ibu Santika.banya kisah yang ibu santika ceritakan.dan semua mengharukan.membuat mata Bian berkaca kaca.merasa kasihan pada anak anak yang tak seberuntung dirinya.yang tak pernah mensyukuri kehidupannya sekarang.
   Kebanyakan mereka ditinggalkan begitu saja didepan panti.atau yang terang terangan menitipkan buah hatinya ditempat itu karena himpitan ekonomi yang melanda.
  "Bagaimana dengan mbak Rere?"tanya Rian dengan mata masih berkaca kaca dan agak serak.
 "Renata!"seru ibu Santika singkat.
 "Dia dititipkan oleh keluarganya karena mereka tak mampu menghidupi satu anggota keluarga mereka yaitu Renata.jadi itu alasan Renata di sini.tapi keluarganya sering berkunjung kesini.tapi Rere tak tahu jika orang yang selalu berkunjung itu adalah keluarganya.orang tuanya.!.
 "Cerita ibu santika."mbak Rere belum tahu siapa orang tuanya?"tanya Bian.
 "Rtu permintaan orang tuanya!"jelas ibu Santika.
 "Lalu bagaimana dengan Rere?apa dia menanyakan asal usulnya.?"tanya Bian terus.
 "Maaf nak.ibu tidak bisa melanjutkan.!"seru ibu Santika sambil bangkit dari duduknya.Bian terdiam ia memperhatikan kepergian pengurus panti itu dengan mata merahnya.dan kemudian dilihatnya kesekeliling melihat kegembiraan diwajah mereka yang polos tanpa tahu siapa orang tua mereka.
  Sejenak Bian terdiam,merenung dan berfikir.ternyata dari kekurangan yang ia rasakan ada kebahagiaan yang tak terkira yang ada dan tak pernah disadarinya walau itu nyata dihidupnya.Bian selalu merasa tak adil dengan kehidupannya.dari segi materi bian memang terpenuhi.semua yang ia inginkan dengan mudah ia dapatkan.tapi tidak halnya dengan kasih sayang.
  Bian kekurangan kasih sayang.orang tuanya tak ada waktu untuknya.
  Ayah Bian meninggal saat usia bian 8 bulan dalam kandungan karena kecelakaan.dan ibu Bian adalah wanita karier yang sibuk.Tiap hari pekerjaannya hanya mencari materi dan materi untuk mencukupi kebutuhan Bian.anak tunggalnya.tanpa ia tahu Bian merasa sendirian sepi dan tak memiliki teman.
  Apalagi setelah neneknya yang sejak kecil merawatnya telah meninggal 5 tahun lalu.Bian makin merasa sendirian.menurutnya teman teman yang mengenalnya kini hanya memanfaatkan sifatnya yang royal dan tak pernah menaruh curiga..dan kini Bian mengerti dan benar benar sadar.ia hanya tak menyadari keberuntungan yang ia dapatkan.ternyata semua yang ia pikirkan.tentang kehidupannya yang tak adil adalah salah.
  Bian adalah anak yang berununtung dapat merasakan kasih sayang seorang ibu walau tanpa ayah.dibandingkan mereka mereka yang ada dihadapannya.tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tua.ayah ataupun ibu.
 "Mama, maafin bian yang selalu menganggap mama ga adil sama Bian!"bisik Bian sambil menundukan wajahnya.
...........
   Di panti itu Rere melihat Bian tampak tertawa bahagia.bermain dengan anak anak yang tak sebaya dengannya.selama perkenalannya tak pernah Rere melihat Bian seperti itu.yang ia tahu dan ia lihat hanyalah kejenuhan.keterpaksaan selama ia mengikuti les privatnya.
 "Bian apa kamu menyukai tempat ini?"tanya Rere yang datang menghampiri Rian yang sedang asyik duduk diatas rumput Jepang sambil memainkan bola kasti ditangannya.
 "Sangat menyenangkan.mereka sangat polos.menyenangkan dan teman yang paling jujur yang pernah aku temui"jelas Bian serius.
 "Kangen sekolah dasar?,inget loh besok kamu ujian kelulusan SMA!"Seru Rere mengingtkan
 .Bian memandang Rere sekilas dan tersenyum.
 "Ia aku inget!"jawab Bian.
"Bian,kamu termasuk beruntung loh.kamu punya orang tua.yang menyayangi kamu.memberikan kasih sayang yang berlimpah dan materi!"jelas Rere sambil menyunggingkan senyumannya.
"Enggak mbak!,aku merasa kebahagiaan sejati aku baru aku temukan disini.ditempat ini bersama mereka.tertawa bermain.dan bersama mbak Rere!"celetuk Bian yang kemudian tersenyum nakal
 .Rere tersipu wajahnya tampak merah.
 "...dan teman temanku sebelumnya mereka ga tulus mau berteman denganku!".seru Bian kemudian dengan nada ketus.
"Jangan begitu Bian mereka adalah teman teman terbaik yang pernah kamu miliki.jangan berfikiran jelek tentang mereka.".seru Rere menasehati.
"Semoga saja"seru Bian pesimis.
"Kamu mau pulang?"tanya Rere.
"Ngusir?"tanya Bian.
"Ingat kamu sebentar lagi ujian.banya belajar dan kurangi bermain."nasehat Rere lagi.
"Oke boz...!!".Seru Bian mantap.
..............
    Hari dimana para murid sma menaruhkan masa depannya sudah tiba.Sejak pagi subuh Bian mempersiapkan semuanya sesempurna mungkin.Dan berharap apa yang diharapkan dapat terjadi pada hari ini.dan untuk pertama kalinya ibu Dian meliburkan diri dari pekerjaannya di kantor hanya untuk memberi spirite pada anaknya yang akan berjuang dimedan ujian.dengan spesial ibu Dian membuatkan sarapan kesukaan putranya.dan tak lupa doa doa yang mampu beliau panjatkan ia panjatkan.
 "berjuang ya anaku!"seru ibu dian.sebelum bian berangkat sekolah.ibu dian mengecup kening putranya sebelum berangkat.
 "Dah mam!"seru Bian sebelum pergi.
  Diam diam Bian menelepon seseorang dan berharap ia adalah keberuntungan untuknya.
 "Halo!"."Bian.ngapain kamu telepon pagi pagi?.belajar!"seru seseorang dari sebrang telepon.
 "Sudah.boleh minta satu hal?".
 "Apa?".
 "Doakan aku!"."pasti!.karena kamu adalah murid yang paling tua pertamaku".
 "Ya ya,dah"Bian mematikan teleponnya.dan barulah Bian beranjak pergi menuju tempat perangnya.
.............
   Tiga hari lebih Bian tak bertemu dengan Rere.Dia sama sekali tak menemuinya membuat konsentrasinya sedikit terganggu.tapi ia teringat janjinya pada Rere.hingga ia mampu meredamnya dan tinggalah rindu yang terpendam.hari ke 4 Bian akhirnya menghubungi Rere.
 "Halo mbak Rere!"suara Bian tampak tergesa gesa.
 "Ya Bian ada apa?"tanya Rere terdengar tenang.
 "Mbak Rere dimana?"tanya Bian seperti anak kecil yang merengek.
 "Saya sedang sibuk!sebentar lagi anak anak di panti yang kelas 6 akan ujian jadi saya harus mengajari mereka."jelas Rere.
 "Oh.boleh saya main?".
"Ujian kamu sudah selesai?".
"Sudah!".
"Apa kamu yakin nilainya bagus?".
"Aku yakin karena ada sesuatu di balik itu!".
"Apa?"tanya Rere penasaran.
"Masa lupa perjanjian malam itu?".seru Bian mengingatkan.
"Yang mana?".
"Emmm...aku bilang sekarang aja kali ya?"tanya Bian.
"Apanya?"tanya Rere penasaran.
 "Mbak.mau ga jadi pacar aku?"tanya Bian lugas."......!"
."Halo mbak.masih disitu kan?"tanya Bian yang tak dapat jawaban.
"Bian jangan bercanda.ga lucu.".
"Aku serius.bagaimana diterima ga?".tanya Bian menunggu.
"Saya tidak bisa jawab sekarang.".
"Emmm...apa itu artinya ada harapan buat saya.mungkin mbak Rere butuh waktu untuk menerima brondong seperti aku?"seru Bian dengan nada meledek.
"Bian!"seru Rere kesal
"Maaf.mbak jujur.dari sekian kalinya aku pacaran baru kali ini aku nembak duluan.dan memang sih tidak secara langsung.tapi ini adalah semua keberanian saya yang ada."jelas Bian dengan nada serius.
"Bian.akan saya jawab setelah hasil ujian keluar".
"oke!".seru Bian senang.
"......"
.................
    Menunggu hasil ujian rasanya menunggu pergantian tahun.Bian tak peduli dengan hasil ujian.tapi ia penasaran dengan jawaban Rere atas permintaannya.
  Dan waktu itu tiba.Bian menjadi salah tingkah tak tahu harus berbuat apa.ternyata hari ini ada dua hal yang membuat Bian hampir gila.
"Halo mbak Rere".
"Ya Bian ada apa?"tanya Rere acuh.
"Hari ini aku deg degan banget.".
"Kenapa?".
"Mbak Rere ga inget?"tanya Bian terdengar kesal.
"Memangnya ada apa?.hari ini hasil ujian keluar kan?"tanya Rere mengingatkan.
"Ya!".
"Lalu?"tanya Rere.
"Oke ga usah basa basi lagi.aku ga peduli hasil ujian aku nanti.
"Maksud kamu apa,Bian?"tanya Rere."PACARI AKU DONG,MBAK...!!!PLEASE....!"."......."
....................
........THE END.....

Tidak ada komentar :

Posting Komentar